"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13 — Pahala Super
Nyeri itu tetap menjadi rahasia yang dibawa Anindya sampai pagi.
Keesokan paginya, perempuan itu sudah kembali menjadi dokter paling tenang di IGD. Tidak ada langkah goyah. Tidak ada keluhan. Ketika mata mereka bertemu, Anindya hanya mengangkat lolipop dan bertanya, "Masih memikirkan rasa permen impor?"
Surya hampir menjatuhkan rekam medis.
"Kalian berdua bisa tidak terlalu jelas?" keluh Rizki. "Orang yang sedang sarapan juga punya hak hidup tenang."
Panggilan dari ICU menyelamatkan Surya dari jawaban.
Pasien operasi Reza yang terlambat sadar membutuhkan evaluasi lanjutan. Pemeriksaan enzim akhirnya keluar dan menunjukkan defisiensi pseudokolinesterase, kondisi langka yang membuat obat pelumpuh otot tertentu diuraikan sangat lambat.
"Jadi dia bukan mengalami mati otak," kata suaminya dengan suara bergetar.
"Dia masih sadar," jawab Anindya. "Tubuhnya belum bisa bergerak dan bernapas mandiri saat obat masih bekerja. Dukungan ventilasi mencegah komplikasi sampai efeknya hilang."
Surya meminta keluarga menyimpan kartu peringatan medis untuk operasi berikutnya dan menganjurkan pemeriksaan keluarga karena kondisi itu dapat diwariskan.
Sang suami menggenggam tangan kedua dokter. Satu persen terakhir masuk ke sistem.
『Nilai Pahala mencapai 100 persen. Undian tersedia.』
Tiga hadiah muncul.
『Poin Atribut ×10 diperoleh.』
『Super Dopamin ×5 diperoleh.』
『Permen Keberuntungan ×1 diperoleh. Efek: keberuntungan meningkat 90 persen untuk waktu terbatas.』
Nilai Pahala kembali ke nol. Jumlah poin Surya kini lima belas, tetapi dia tetap menyimpannya sampai menemukan kebutuhan yang tak bisa diselesaikan dengan keahlian khusus.
Hari itu membawa dua kasus yang menguji ketenangan seluruh IGD.
Seorang anak perempuan berusia empat tahun datang dengan infeksi berulang, berat badan sulit naik, dan demam yang kembali berkali-kali. Tes skrining yang dilakukan rumah sakit perujuk reaktif terhadap HIV.
Ibunya langsung menangis ketika mendengar istilah itu. "Kami bukan keluarga seperti yang orang-orang pikirkan."
Surya menutup tirai dan meminta staf yang tidak berkepentingan keluar. "HIV bukan penilaian moral. Anak Ibu berhak mendapat privasi dan pengobatan seperti pasien lain. Kita belum menyimpulkan jalur penularan sebelum pemeriksaan lengkap."
Tes konfirmasi juga positif. Tim pediatri dan penyakit infeksi dilibatkan. Riwayat medis menunjukkan anak pernah menerima beberapa tindakan invasif di fasilitas berbeda saat bayi; ibunya sendiri negatif. Pelacakan dilakukan tanpa menyebarkan identitas keluarga.
"Dengan terapi antiretroviral teratur, viral load bisa ditekan," jelas Surya. "Dia masih bisa sekolah, bermain, dan tumbuh. Jangan biarkan stigma membuat pengobatannya terlambat."
Ketakutan di wajah ibu itu tidak hilang, tetapi berubah menjadi sesuatu yang dapat diarahkan: rencana kontrol, obat, dan perlindungan anak.
Belum satu jam berlalu, seorang nelayan dibawa masuk setelah kakinya terluka saat membersihkan kerang. Luka kecil di betis berubah menjadi bengkak merah keunguan dalam waktu singkat. Tekanan darahnya jatuh, demam tinggi, dan lepuh berdarah mulai muncul.
"Infeksi Vibrio vulnificus," kata Surya. "Aktifkan protokol sepsis. Antibiotik segera. Konsultasi bedah sekarang."
Keluarga menolak ketika mendengar pilihan amputasi.
"Lukanya baru kemarin!" teriak adik pasien.
Surya menunjukkan batas perubahan warna yang terus naik. "Bakteri ini merusak jaringan sangat cepat, terutama pada pasien dengan gangguan hati. Kalau kita mengejar jaringan mati satu per satu, infeksi masuk lebih jauh ke darah. Kehilangan kaki adalah tragedi. Kehilangan nyawa lebih buruk."
Pasien yang masih sadar meminta keluarganya menandatangani persetujuan.
Surya memimpin amputasi penyelamatan setelah tim memastikan level jaringan sehat. Operasi dilakukan secepat mungkin tanpa mengorbankan kontrol perdarahan. Beberapa jam kemudian, tekanan darah pasien mulai stabil.
Setelah pasien sadar, Surya tidak menyembunyikan kenyataan bahwa masa rehabilitasi akan panjang. Dia mengundang tim rehabilitasi medik dan pekerja sosial untuk membicarakan alat bantu, pekerjaan, serta dukungan BPJS.
"Dokter menyelamatkan saya, tapi laut adalah pekerjaan saya," kata nelayan itu.
"Karena itu rencana kita tidak berhenti pada keluar dari ICU," jawab Surya. "Kita cari cara agar Bapak tetap bisa bekerja dengan aman. Saya tidak menjanjikan hidup yang sama. Saya menjanjikan tim ini tidak meninggalkan Bapak setelah operasi."
Adik pasien yang semula menolak amputasi menundukkan kepala. "Maaf saya tadi berteriak."
"Bapak takut kehilangan kakak. Tidak perlu minta maaf karena takut. Yang penting sekarang kita bergerak bersama."
Rasa terima kasih keluarga hanya menambah satu persen. Ketakutan dan duka mereka masih menutupi sebagian besar rasa lega. Sistem tidak menghukum emosi yang manusiawi.
Malamnya, Sari berlari dari bangsal sambil menangis.
"Dokter Surya! Cahaya menggerakkan jarinya!"
Surya dan Anindya mengikuti ke kamar pasien. Cahaya terbaring dengan mata lebar. Tangan kanannya, yang selama berbulan-bulan tidak dapat digerakkan, bergetar pelan.
MRI ulang menunjukkan sesuatu yang lebih sulit dipercaya.
Sisa massa yang sengaja ditinggalkan untuk melindungi saraf tidak lagi tampak. Edema menurun drastis. Jalur saraf yang sebelumnya tertekan mulai menunjukkan pemulihan. Tim memeriksa kemungkinan kesalahan gambar, pertukaran data, dan perubahan pascaoperasi.
Tidak ada penjelasan tunggal yang cukup.
"Saya belum bisa menyebut ini sembuh total," kata Surya. "Kita tetap butuh rehabilitasi dan pemantauan kanker. Tapi sarafnya punya kesempatan bekerja lagi."
Cahaya menatap jari yang bergerak, lalu istrinya.
"Saya bilang... saya cuma ingin berdiri sekali lagi. Dokter memberi saya kemungkinan untuk hidup lebih lama daripada keinginan itu."
Air mata mengalir ke pelipisnya.
"Terima kasih sudah menganggap hidup saya tetap milik saya, meski semua orang hanya melihat risiko. Saya bahkan belum tahu apakah bisa berjalan lagi."
Cahaya keemasan meledak di pandangan Surya.
Nilai Pahala yang baru satu persen langsung melompat ke seratus.
『Ini Pahala Super!』
Bahkan suara sistem terdengar terkejut.
『Ketulusan dengan kualitas khusus terverifikasi. Undian Pahala Super dibuka.』
Empat hadiah muncul.
『Poin Atribut ×10 diperoleh.』
『Detektor Medis Sekali Pakai ×2 diperoleh.』
『Permen Keberuntungan ×1 diperoleh.』
『Double Super Dopamin ×1 diperoleh. Efek: mempertahankan kehidupan pasien hingga tiga bulan dalam batas kerusakan organ yang ada. Dilarang digunakan demi kepentingan egois.』
Total poin yang belum dibagi menjadi dua puluh lima. Detektor Medis menjadi tiga. Permen Keberuntungan menjadi dua. Super Dopamin berjumlah enam, dan untuk pertama kalinya dia memiliki satu Double Super Dopamin.
Di sisi ranjang, Anindya menatap Surya. Ketika Surya memergokinya, pipinya memerah tipis.
"Kenapa?" tanya Surya.
"Tidak apa-apa."
Rizki menyikut lengan Surya setelah mereka keluar.
"Lo suka dia, kan? Jangan bohong."
Surya melihat Anindya berjalan di depan, membawa rekam medis Cahaya dengan kedua tangan.
"Gue rasa... gue suka dia."
Ponselnya berbunyi sebelum Rizki sempat merayakan pengakuan itu.
Pesan berasal dari nomor Reza.
Ayah saya didiagnosis kanker kandung kemih dengan dugaan metastasis ke lambung. Saya tahu saya tidak berhak meminta. Tapi bisakah lo memeriksa beliau?
Sebuah lampiran CT dan hasil biopsi awal menyusul beberapa detik kemudian.