NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari kedamaian

Jam dinding berdetak. Jarumnya menunjukkan pukul 01.05. Udara diluar mulai terasa dingin, anginnya seolah menusuk hingga ke tulang. 

Setelah dari apartemen Adriant, Aurelia tidak langsung pulang. Wanita itu justru menuju tempat yang sudah tidak asing baginya.  Persetan, dengan larangan dan kemarahan dari Giovani.

Ia baru saja turun dari mobil. Langkah jenjangnya membawa dirinya memasuki club yang dipenuhi keramaian. Dentuman musik memekikkan telinga. Bau alkohol terhirup dimana-mana. Ia sudah terbiasa ke tempat ini sendirian, tanpa pengawal, dan tanpa Tyana.

Beberapa penjaga menyapanya. Bukan sekedar sapaan biasa, tapi sapaan terhadap orang yang sudah mereka kenal, langganan club ini.

Aurelia tidak khawatirkan keberadaan media ataupun kamera. Disini, semuanya teratur, tertib dan dibayar mahal. Privasi seseorang menjadi hal utama. Orang-orang di sini, bukan yang suka bergosip lalu mengadu di media. Mereka tidak menghiraukan urusan orang lain. Bedanya, Giovani mengetahui keberadaan Aurelia waktu itu, karena orang suruhannya mengikutinya diam-diam.

Aurelia mendudukkan dirinya di sofa yang tersedia. Ia sedang memesan secangkir kopi dan makanan ringan. Tidak ada alkohol dan semacamnya.

Matanya beredar memandangi sekitar. Pada orang-orang yang sudah tidak sadarkan diri, juga pada mereka yang sedang asik berjoged.

"Permisi, kak." Pelayan wanita datang membawa nampan.

Aurelia tersenyum tipis, tangannya bergerak mempersilahkan, "terimakasih." Lalu menggeser kopi kearahnya.

"Jangan dibiasakan kesini sendiri, kak. Sekali-kali ajak teman atau kekasih." Pelayan tadi sudah sering melihat Aurelia datang seorang diri. Tangannya menarik nampan dan memegangnya.

Mata pelayan itu beredar ke sekitar.

"Kita nggak tahu sifat laki-laki yang ada disini. Apalagi anda terlihat sangat menarik perhatian. Tapi... Semoga hal baik selalu menyertai kakak. Kalau anda butuh sesuatu, langsung kabarin saya." Pelayan wanita itu tersenyum ramah.

Aurelia mengangguk, "iya, saya tahu. Dan saya cukup hati-hati. Terimakasih karena sudah peduli." Tangannya bergerak membuka tas, ia mengambil sesuatu dalam dompet. Tiga lembar uang yang langsung ia sodorkan pada pelayan itu.

"Untuk kamu."

Pupil pelayan itu membesar. Ia terlihat menahan napas sebentar. Kemudian menggelengkan cepat.

"Ambil saja." Aurelia menarik pelan telapak tangan pelayan itu. Lalu menyelipkan uang itu ke telapak tangan pelayan, kemudian menutupnya perlahan.

"Saya akan tersinggung jika ditolak."

Perasaan pelayan itu menghangat, wanita itu tersenyum lebar, matanya terlihat berkaca-kaca.

"Terimakasih banyak, kak. Semoga anda cepat memiliki seorang pria yang begitu menyayangi anda."

Aurelia hanya tersenyum. Kemudian pelayan wanita itu pergi dengan rasa syukur yang tidak bisa diukur. Dalam hatinya, Aurelia tertawa getir mendengar kalimat yang diucapkan pelayan tadi. Pria yang menyayanginya? Rasanya itu terdengar terlalu jauh untuk dirinya.

Jika saja doa itu terwujud. Aurelia akan menjadi perempuan paling beruntung. Tapi... Itu hanya harapan yang kemungkinannya kecil. Ia tidak akan berharap pada siapapun saat ini. Tugasnya hanya bertahan dan menjalankan hidup dengan lapang.

Aurelia menyeruput kopi itu dengan perlahan. Ia mengabaikan ponselnya yang berdering sejak tadi. Ia tebak, kalau tidak Tyana, pasti Papanya. Untuk saat ini, biarkan pikirannya jernih terlebih dahulu, baru ia akan siap menerima konsekuensi setelah ini.

Kakinya ia silangkan. Tubuhnya terlihat duduk tegap. Kepalanya mulai mengangguk kecil menikmatinya irama musik. Sesekali, kaki itu bergerak nengetuk lantai dengan irama.

"Permisi, nona."

Pandangan matanya teralihkan pada pria yang baru saja menghampirinya. Mata Aurelia menyipit tajam, ia bergerak meletakkan secangkir kopi itu dimeja.

Pria itu tersenyum ke arah Aurelia. "Apa saya boleh bergabung?" Tubuhnya sedikit ia bungkukkan, jika dilihat dari penampilan dan gaya bicara, Aurelia yakin, pria itu bukan orang biasa.

Aurelia menatap lurus kearahnya. "Maaf, tapi saya sedang ingin sendiri." Ucapnya pelan.

Pria tadi terlihat terdiam sejenak.

"Tapi saya tidak pernah menerima penolakan sebelumnya, nona." Ia terdengar menekankan setiap kalimat yang keluar.

Aurelia tidak suka pria itu, ia tidak suka pada orang yang terlalu memaksa kenal meskipun ia merasa tidak nyaman. Matanya menyapu pada penampilan pria itu, rambutnya tersisir terbelah dua dengan helaian rambut yang sedikit keluar mengenai dahi. Ia mengenakkan kemeja putih dan celana hitam. Terlihat tato di bagian dada karena dua kancing kemejanya atasnya terbuka.

"Kalau begitu...."

".... Biarkan saya menjadi perempuan yang pertama menolakmu." Aurelia beranjak berdiri, tatapan matanya tajam dan terlihat menusuk.

"Itu terdengar... Sangat menarik." Tangannya bergerak ingin memegang ujung rambut Aurelia, namun berhasil ditepis.

Aurelia merapihkan rambutnya. "Saya merasa tidak nyaman dengan kehadiran anda di sini, bisa pergi sekarang?" Tangannya bergerak mempersilahkan. Napas wanita itu terlihat tertahan sejenak.

Seseorang dibelakang pria itu menepuk pundaknya cukup keras. "Apa anda tidak mendengar apa yang dia katakan?" Nada bicara terdengar sangat sinis.

Aurelia berapa lega. Ia melihat Tyana disana.

Pria itu membalikkan badannya. Matanya melihat Tyana dari rambut hingga kakinya.

"Siapa kamu? Wanita culun seperti ini datang dari mana?" Ucapnya dan tersenyum remeh.

Tyana membenarkan letak kaca matanya. Kakinya maju selangkah, ia tersenyum, bukan ramah, melainkan sedang menahan diri. Jari kanan Tyana terangkat seperti sebuah kode. Kemudian, dua pengawal datang dan menarik paksa tubuh pria itu.

"Saya bisa sendiri!" Pria itu menghentakkan tangannya yang sudah dipegang oleh pengawal. Tatapan matanya terlihat memburu. Ia menatap Tyana cukup lama, kemudian beralih ke arah Aurelia.

"Sampai bertemu nanti, nona." Smirk itu muncul. Lalu kakinya melangkah pergi meninggalkan area.

Aurelia mendudukkan dirinya. Ia kembali meminum kopinya yang tersisa setengahnya. Ekor matanya tertuju pada Tyana yang menatap padanya, Aurelia tahu... Tyana akan berkata apa.

Tangan Tyana bergerak menyuruh kedua pengawal itu pergi. Ia menarik secangkir kopi di tangan Aurelia. Ia tersentak, wanita itu melebarkan pupilnya. "Tidak sopan sekali, Tyana." Bibirnya terlihat mengerucut.

"Anda sudah meminum kopi dua cangkir hari ini." Ucapnya pelan,dengan nada yang terdengar tidak menyenangkan.

"Lalu? Aku tidak akan mati, bukan?" Aurelia berusaha mengambil cangkir itu kembali, tapi Tyana lebih dulu menghindar.

"Nanggung Tyana, itu tinggal dua teguk lagi."

"Duduk dengan benar, nona."

Aurelia hanya pasrah, ia menuruti perintah Tyana dan membenarkan posisi duduknya. Helaan napas berat terdengar, ia menyenderkan punggungnya di sofa.

"Anda pergi sendiri."

"Tidak memberitahu siapapun akan pergi kemana,"

"Mengabaikan panggilan saya, dan beberapa pengawal lain."

Aurelia menghembuskan napas panjang. "Iya, aku tahu salah." Pundaknya turun. Ia menatap Tyana meminta dikasihani. Telinganya belum siap jika harus mendengar kalimat panjang selanjutnya..

"Kemudian...."

Aurelia memejamkan mata sejenak karena Tyana mulai melanjutkan kalimat.

"Anda di ganggu pria tidak dikenal. Bagaimana jika saya tidak datang?"

Aurelia membuka matanya, ia menatap nyalang ke arah Tyana. "Aku bisa melawan, Tyana. Jangan pikir aku lemah." Kedua tangannya berkacak pinggang.

"Pria tadi menggoda anda. Dia berusaha menyentuh anda. Bagaimana kalau sesuatu terjadi?"

Hilang sudah wibawa seorang Aurelia jika Tyana sudah mengomel. Wanita itu tidak bisa melawan dan membantah, pasrah, adalah jalan keluar.

"Iya, aku tidak akan mengulanginya."

Tyana menghembuskan napas kasar.

"Saya harap anda bisa menepati janji anda...."

"Tidak seperti... janji anda sebelumnya"

Aurelia melotot. Gadis itu merasa disentil. Bibir mungilnya masih mengerucut, kedua tangannya bertumpu lurus di sofa. Lalu bola matanya beredar ke sekitar. Ia membeku sesaat, matanya sedikit menyipit memastikan sesuatu.

"Apa seorang seperti tuan Nathaniel bisa berada disini?" Aurelia berkata pada Tyana. Wanita berkacamata itu mengikuti arah pandang Aurelia.

Disana, terlihat seorang Nathaniel Alister duduk di depan bar dengan segelas botol ditangan. Tidak, itu terlihat bukan minuman, hanya air putih biasa yang harganya di atas rata-rata.

Detik berikutnya, mata mereka bertemu. Aurelia membeku ia tidak bisa menghindari tatapan itu, seperti baru saja tertangkap basah.

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!