Ettan Naraya tak pernah menyangka, jika kepulangannya ke kampung halaman untuk menjenguk adik kembarnya, berubah menjadi pernikahan dadakan untuknya.
"Bu, ngga mungkin aku menikahi Fatmala, aku punya kekasih!" ujar Ettan geram.
"Ibu mohon Ra, demi menjaga nama baik keluarga kita Nara, Fatma ... hamil," lirih Mayang.
Bak petir menyambar, Ettan terkejut mendengar penuturan sang ibu. Ia tak menyangka jika adiknya yang terlihat alim dan pemalu itu berani menghamili seorang gadis, yang tak lain adalah keponakan dari orang kepercayaan keluarga mereka.
Ettan Naraya seorang lelaki berpendirian teguh harus terjebak dalam situasi rumit kisah asmara adiknya. Terlebih lagi dia harus mengusut misteri tentang kematian adik kembarnya.
Mampukah Ettan Naraya memegang teguh prinsipnya sebagai lelaki?
Dan mebongkar kasus kematian adiknya?
Ikuti lika liku kisah mereka, jangan lupa tinggalkan Fav, like dan komen ya untuk dukung saya, terima kasih.
Follow juga
Fb:Vi Redwhite
IG :@vi_redwhite
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihat Para Penguasa Ranjang.
Dua puluh juta bagiku termasuk nominal yang cukup besar untuk sebuah mahar. Aku hanya pekerja kantoran yang di gaji.
Baru saja aku mengirimkan uang untuk Ibuku seratus juta untuk biaya pernikahan palsu ini, sekarang aku harus menggelontorkan uang lagi untuk maharnya.
Mengapa ibu tidak membicarakannya dulu padaku. Apa ibu pikir aku ini punya banyak uang.
"Ibu yang kasih tau kamu?" Fatmala mengangguk.
Aku hanya bisa menghela napas dan tersenyum dengan terpaksa. Aku memilih segera meninggalkannya, bergegas membersihkan diri dan menjalankan kewajibanku sebagai seorang hamba pada Tuhan-Nya
Saat aku melewatinya dia berkata terima kasih. Namun kuurungkan membalik badan dan hanya melambaikan tanganku saja.
Kepalaku terasa sakit. Mungkin bagi orang uang dua puluh juta tidak ada artinya. Tapi bagiku yang seorang pegawai biasa, uang itu cukup besar. Meski jabatanku adalah seorang manajer tapi aku juga perlu memperhitungkan semua pengeluaran.
Setelah membersihkan diri dan beribadah. Kuputuskan untuk menemui Ibu di kamarnya.
"Bu," ucapku sambil mengetuk pintu.
"Masuk Ra."
Setelah di izinkan, aku segera masuk ke kamarnya. Terlihat dia baru saja menyelesaikan ibadah sama sepertiku.
"Kamu laper?"
"Engga Bu, ada yang mau Nara tanya in sama Ibu," ucapku.
"Ada apa?" ucapnya sambil menepuk ranjang, agar aku duduk di sebelahnya.
Kutatap mata ibuku, kerutan sudah terlihat jelas di kedua sudut matanya, tapi bagiku, ibuku tetap wanita tercantik di dunia.
"Bu, apa Ibu janji in Fatmala mahar dua puluh juta?"
Dia tersenyum, seperti tak ada beban. "Iya, soalnya kita kan ngga bisa kasih dia pesta mewah. Jadi buat menghilangkan rasa bersalah Ibu, ya Ibu bilang begitu. Kenapa memangnya?"
"Bu ...," aku mendesah frustrasi, benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi pada ibuku.
"Kenapa Ibu ngga bilang Nara dulu? Nara udah ngeluarin uang cukup besar Bu buat pernikahan gadungan ini—"
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, terlihat Ibu tersentak oleh perkataanku tentang pernikahan gadungan.
"Nara ... bisa ngga Ibu meminta kamu bersikap sedikit lebih baik pada Fatmala? Paling ngga anggap dia adalah adikmu sendiri. Dia sedang mengandung darah keturunan keluarga kita Ra, Ibu mohon."
"Bu, aku pasti bersikap baik sama dia, kalo dia tau posisinya. Ibu tau pernikahan ini haram kita lakukan! Tapi demi bakti dan nama baik keluarga, aku udah rela berkorban, aku harus apa lagi Bu?" jelasku dengan nada sedikit menekan.
Ibu harus sadar, bahwa pernikahan ini hanya sah di mata hukum bukan Agama. Jelas Fatmala wanita yang haram untuk aku nikahi, sebab dia sedang mengandung benih yang jelas-jelas bukan milikku.
Ibu menangis, hari ini aku sudah membuat tiga wanita menangis. Kupeluk tubuhnya, aku benci jika menyakiti ibuku. Tapi Ibu harus sadar tentang status pernikahan ini.
"Maaf in Ibu Ra. Ibu selalu menyusahkan kamu. Ibu hanya ingin ... Fatmala bahagia, karena anak yang di kandungnya adalah pengganti Bara, Nara?" lirihnya.
"Masalah mahar, Ibu ngga minta sama kamu Ra. Itu adalah sebuah ucapan maaf dari Ibu karena kesalahan Bara. Itu bukan harga yang pantas Fatmala terima, karena dia juga menanggung risiko yang cukup besar," jelas ibuku.
Lagi-lagi aku harus mengalah pada ibuku. Ingin aku jawab bahwa itu bukan mutlak kesalahan Nathan, tapi juga kesalahan Fatmala yang tidak punya pendirian dalam menjaga kehormatannya.
Mungkin ibu merasa sesama perempuan, jadi jiwa solidaritasnya keluar.
"Simpan aja uang Ibu, biar masalah ini urusan Nara. Ayo kita makan Bu," ajakku berusaha menyudahi pembicaraan ini.
"Nara, tinggal besok aja, tolong kamu beli cincin nikah ya, lusa kan kamu menikah. Ya?" pinta ibuku.
"Iya!" jawabku malas.
.
.
.
Pagi ini rumah sudah di sibukkan dengan banyak orang berlalu lalang.
Ada para pen-dekor yang sedang membuat panggung pernikahan. Ada juga para tetangga yang membantu ibu memasak di dapur.
"Ya ampun, kamu emang beruntung Fatma, bisa dapet dua-duanya," ucap salah seorang perempuan paruh baya yang aku tahu dia tetanggaku juga.
"Iya, ya Bu Ratih, abis adiknya sekarang dapet kakaknya, rahasianya apa sih Fatma. Mana anaknya Bu Mayang ganteng-ganteng semua lagi," sambung ibu-ibu yang lain.
Di kampung halamanku menjadi hal umum jika ada salah satu warga yang akan mengadakan acara hajatan atau syukuran akan saling membantu seperti ini.
Aku yang menjadi obyek obrolan mereka tetap santai menyantap sarapanku. Fatmala sendiri ikut bergabung bersama mereka, duduk tak jauh dari meja makan.
"Jangan lupa, besok cerita-cerita Fatma, gimana malam pertama kamu."
Ucapan ibu-ibu itu membuatku tersedak dan terbatuk, lekas kuminum habis air yang berada di depanku.
"Ya ampun calon manten, ampe batuk-batuk. Tenang aja mas nanti kita ajari Fatmala berbagai gaya supaya dia cepet isi," ucap si ibu sambil mengusap perutnya.
Tanpa harus malam pertama juga sudah isi itu perut Fatmala. Wanita itu hanya senyum-senyum malu saja menanggapi nasihat absurd para ibu-ibu itu.
Membicarakan pernikahan membuat moodku memburuk. Lebih baik aku meninggalkan dapur dari pada harus mendengar obrolan para ibu-ibu yang sudah berpengalaman dengan ranjang.
Aku memilih berjalan menyusuri kebun teh milikku, menyapa semua buruh yang sedang memetik daun teh. Aku belum cukup tahu pengelolaan perkebunan ini, jadi, sementara ibu dan paman Wiralah yang mengurusnya.
Ibu juga harus membuat catatan baru sebelum aku berhasil menemukan kunci brangkas Nathan.
Udara sejuk membuat hatiku sedikit tenang. Hari ini adalah hari terakhir statusku sebagai seorang bujangan, esok aku akan menjadi seorang suami.
Dan tujuh bulan kemudian aku akan menyandang duda perjaka.
Aku terkekeh sendiri membayangkan statusku yang berubah-ubah dalam waktu sesingkat itu.
Aku sedang duduk di sebuah saung di tengah perkebunan. Tempat di mana para buruh tani itu beristirahat melepas lelah dengan memakan bekal dari istri tercinta mereka.
"Mas," suara yang sudah sangat familier ini kembali kudengar dari belakangku.
Kupejamkan mata sebelum aku berbalik menoleh padanya.
'Shiit!'
'Mengapa Kamu selalu berada di sekitarku Fatmala ... ‘
Sudah cukup pernikahan ini membuatku terikat padamu. Tidak bisakah kamu membiarkan aku sejenak sendiri. Gumamku.
"Ada apa Fatmala?" lagi dan lagi aku harus tersenyum bodoh kepadanya.
Dia merona, mungkin bagi sebagian orang Fatmala cantik. Dengan kulit kuning langsatnya, dan pipi mulusnya aku akui dia sedikit manis, tapi maaf aku hanya sekedar memuji.
"Ibu tadi minta Fatma nyari Mas. Kata Ibu kita di suruh pergi ke toko emas," ucapnya. Kali ini dia tidak menunduk tapi menatap ke arahku. Dia menyelipkan rambut ke telinga sambil tersipu malu.
"Ayo segera kita laksanakan perintah ibu suri sebelum di kutuk jadi emas!" kelakarku menyembunyikan rasa kesalku pada ibu.
"Ih Mas kok gitu ngomong in Ibu! Jadi emas enak dong Mas, bisa di jual," balasnya yang berjalan di sampingku.
"Iya kamu aja yang di kutuk ya, nanti aku jual," balasku.
Karena tidak melihat jalan yang kami lewati, atau mungkin juga karena sandalnya yang licin Fatmala tergelincir dan hampir saja terjatuh, sontak aku refleks memeluknya.
"Maka sih Mas," ucapnya setelah kutegakkan kembali tubuhnya.
"Kamu hati-hati, kamu kan ...," hampir saja aku mengatakan jika ia sedang hamil.
"Sudahlah, ayo cepat!" sambungku kemudian memilih jalan di depannya.
.
.
.
Tbc.
itu lh q suka nya klw bc novel yg udh end ...
bisa bc terooosss smpe siapp