NovelToon NovelToon
Melza

Melza

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Horor / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: vifinefianti_033

Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.

*******

"mari bermain"

Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.

Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.

***

Melvin Andrea Micheal.

Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.

****

Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.

Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.

"mine"ucapnya.


+++++

Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Melza

Ting....

Pintu lift langsung terbuka, Elza ber inisiatif untuk keluar lebih awal untuk memastikan jika keadaan di luar aman. Kedua matanya menjelajah kesana kemari, melihat area luar. Setelah di lihat keadaan aman, Elza memberi kode dengan tangannya agar Melvin segera keluar dari sana.

"Kita mau kabur lewat mana si? "Tanya Melvin.

Sendari tadi Melvin hanya mengikuti Elza dari belakang seperti seekor anjing yang sedang mengikuti langkah majikannya.

"Nanti juga lo tau"

Lagi lagi jawaban itu yang di dapatkan oleh Melvin dari pertanyaan, Melvin tidak punya pilihan selain mengikuti langkah Elza yang berada di depannya.

Langkah Elza terhenti ketika di hadapan mereka ada beberapa anak tangga yang menghubungkan ke pintu yang tertutup.

"Lo naik duluan, terus lo buka pintunya. Gue berjaga di sini" Elza memberi perintah kepada Melvin seperti seorang bos yang memberikan perintah kepada bawahannya.

Melvin hanya menganggukan kepalanya, lalu mulai menaiki anak tangga satu persatu. Akhirnya, ia sampai di depan pinti yang tertutup rapat. Ketika Melvin memegang knop pintu dan mencoba untuk membukanya, tapi pintu ini tidak bisa di buka. Melvin menghembuskan napasnya kasar, ia mencoba mencari akal agar pintunya bisa di buka.

Brak...

"Lo lagi ngapain? "Tanya Elza heran ketika ia mendengar suara pintu yang di banting atau di lempar oleh sesuatu yang berat.

"Gue lagi berusaha buka pintunya" Ucap Melvin dengan napas putus putus.

Melvin masih mencoba untuk membuka pintunya dengan menabrakkan bahunya ke badan pintu.

"Shitt" Decak Elza.

Ia langsung naik ke tangga dengan langkah cepatnya.

"Minggir"

Melvin menatap bingung kearah Elza.

"Lo mau ikut dobrak juga? "Tanya Melvin.

Elza tersenyum mengejek, ia langsung mengambil sebuah jepit kawat yang menempel di rambutnya.

Melihat itu Melvin memutuskan untuk menjauh dari pintu memberi ruang kepada Elza agar Elza bisa ber konsentrasi penuh untuk membuka pintu.

Bagi seorang Elza, tidak sulit baginya untuk membuka kunci dengan bermodalan jepit kawat. Lagi pula Elza sudah sering membobol brankar dengan tingkat keamanan yang rumit.

Ceklek..

Pintu langsung terbuka, kedua mata Elza langsung terpejam saat udara di sore hari berhembus menerpa wajah cantiknya. Sungguh, Elza begitu merindukan bau udara segar setelah seharian ini Elza terjebak di dalam gedung mall.

Keduanya langsung keluar dari dalam gedung melalui pintu tersebut, Elza langsung menutup kembali pintu itu.

Sementara Melvin tampak terpukau dengan keindahan panorama dengan langit berwarna orange, terlihat begitu jelas dari kedua matanya yang berbinar menatap keindahan. Gedung gedung berjejer rapih, pepohonan, jalanan yang tampak ramai di penuhi oleh kendaraan dan lampu lampu mulai di nyalakan ketika matahari semakin terbenam.

"Belum saatnya kita menikmati sunset Melvin"

Melvin kembali tersadar dengan situasi yang masih belum aman untuk nyawanya, padahal jarang sekali Melvin bisa menikmati pemandangan itu. Yang selama ini Melvin lihat hanyalah tumpukan dokumen dan layar laptop nya saja.

"Kita harus tutup pintunya, supaya mereka nggak gampang masuk"

Melvin membalas dengan anggukan, tanda kalau dia mengerti apa yang di ucapkan oleh Elza.

Melvin dan Elza mulai menutup pintu itu dengan sesuatu yang barang barang yang di tinggalkan oleh pekerja bangunan di atap gedung mall, ada banyak benda yang bisa di gunakan untuk penghalang pintu agar tidak mudah terbuka. Hanya saja benda itu begitu berat, mengangkat berdua saja tidak bisa. Jadi mereka hanya bisa mendorong benda itu hingga mencapai pintu.

Peluh keringat mulai membanjiri wajah mereka, sesekalu keduanya mengelap keringat yang menetes di wajah mereka.

Keduanya langsung membaringkan tubuhnya diatas lantai bersemen, menatap langit yang mulai menghitam tepat di depannya. Udara mulai terasa dingin, bahkan matahari semakin tenggelam.

Dada keduanya naik turun, berusaha menormalkan kembali penasaran mereka yang terasa putus putus bahkan dada Melvin terasa sangat sakit dan sesak. Mungkin karena Melvin tidak sering bekerja menggunakan fisik sehingga Melvin sedikit kesakitan karena tidak terbiasa.

Kedua mata Elza terpejam erat, ia menikmati setiap hembusan udara yang membelai wajah cantiknya. Rambut panjangnya basah karena keringat sehingga Elza melepaskan ikat rambutnya, ia membuka matanya menatap lekat kearah langit yang mulai menghitam dengan tatapan lekatnya.

"Gue harap setelah kejadian ini, kita nggak jadi orang asing lagi Za" Lirih Melvin pelan.

Elza menoleh, ia menatap wajah tampan Melvin yang berada di sampingnya.

"Gue harus apa? "Tanya Melvin, ia menoleh hingga matanya bertemu dengan mata Elza "Apakah gue harus ngasih separuh saham di perusahaan gue, atau gue harus mempertaruhkan nyawa gue buat lo? "

Elza hanya diam.

"Tanpa lo di sana mungkin gue udah mati Za" Melvin menghembuskan napasnya kasar, ia mengalihkan tatalannya lagi kearah langit yang menghitam "Padahal gue pengin banget mati, tapi setelah lo berusaha memperjuangkan hidup gue..." Melvin menarik napasnya dalam "Keinginan hidup gue kembali Za"

Raut wajah dan nada bicara Melvin menyiratakan sebuah kesedihan yang mendalam, Elza tahu apa yang membuat pria ini jadi putus asa. Karena Melvin kehilangan seorang wanita yang paling berharga di hidupnya, padahal Elza ingin sekali mengatakan kalau dirinya adalah Elzabel Gilberth Nicholas wanita berharga Melvin. Tapi mulut Elza seperti di bungkam oleh sesuatu yang sangat kuat, sehingga Elza tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan jati dirinya.

"Apa yang akan lo lakukan kalau Elza yang paling berharga di hidup lo itu masih hidup? "

Hanya kalimat itu lah yang meluncur dari mulut Elsa setelah ia memikirkan banyak hal untuk menanggapi ucapan Melvin barusan.

Melvin langsung menoleh kearah Elza, matanya kembali bertemu. Matanya Melvin menatap mata Elza sengan begitu lekat, entah mengapa Melvin merasa jika Elza yang ada di sampingnya adalah Elza teman masa kecilnya dulu. Apa karena wajah mereka sangat mirip?

"Apa impian lo?"

"Sebuah keluarga "

Tubuh Melvin mendadak kaku ketika mendengar jawaban tidak terduga yang di ucapkan oleh Elza, ya Melvin sangat ingat jika impian Elza nya ingin memilik sebuah keluarga. Apa ini hanyalah kebetulan jika impian Elza di masa lalunya sama dengan Elza yang sekarang.

"Kenapa lo tan.... "

"Kalau begitu, ayok kita wujudkan impian lo" potong Melvin cepat.

****

Entah sudah berapa kali Rio terus mondar mandir tidak jelas di hadapan Calvin dan Vian yang sedang anteng menikmati camilan yang ada di dalam toples besar, kalau sampai Elza tahu jika yang sering menghabiskan camilannya adalah Calvin dan Vian maka habislah mereka.

"Lo kenapa si Yo? "Tanya Calvin mulai jengah dengan kelakuan Rio yang sejak tadi membuat dirinya bertanya tanya.

"Gue nggak apa apa" Jawab Rio.

"Kalau lo nggak apa apa, yaudah sonoh pergi! Jangan ngalangin layar TV" Kesal Vian melempar Rio dengan salah satu keripik didalam sana "Lo nggak liat gue lagi serius liat Upin Ipin"

"Iya, ganggu ajah lo. Udah sonoh" Usir Calvin.

Rio menghembuskan napasnya kasar, mereka berdua tidak bisa memamahi apa yang di rasakan olehnya sekarang. Padahal Rio ingin sekali cerita kepada dua makhluk yang kelakuannya seperti anak kembar ini, agar mereka juga bisa merasakan apa yang Rio rasakan sejak tadi.

Sudah mau magrib tapi Elza belum pualng, dan sialnya Elza belum juga memberikan kabar kepadanya.

"Rio"

Panggilan itu berhasil menghentikan Rio yang sedang mondar mandir kesana kemari, Rio menoleh menatap kearah Leo yang baru saja datang.

"Lo udah balik? " Tanya Rio langsung menghampiri Leo yang sedang meletakan tas keatas sofa "Abis dari mana lo? "

"Elza belum balik? "

Sialan!

Padahal Rio sebisa mungkin menghindari topik pembicaraan tentang Elza, tapi sepertinya Leo terlalu peka dengan situasi.

"Belum" Jawab Rio jujur "Lo mau minum apa? Mau gue bikinin ses.... "

"Lo tahu alamat temen lo dimana? "Potong Leo cepat.

Seketika jantung Rio berdebar dengan cepat, Rio itu bukan tife pria yang pandai berbohong jadi Rio bingung mau mengatakan apa.

Drttttt...

Sebuah panggilan berhasil menyelamatkan dirinya dari situasi yang buruk ini, ia melihat sebuah nama disana kuntilanak itulah yang tertulis di layar hp nya, Rio bernapas lega lalu menatap Leo yang juga sedang menatap kearahnya.

"Elza nelepon gue, tunggu sebentar "

Rio pamit pergi, ia melangkahkan kedua kakinya mencari tempat yang aman. Rio memilih masuk kedalam kamarnya, mengunci kamarnya dari dalam.

"ELZA LO DIMANA? " Teriak Rio kesal.

****

"Sialan!! "Umpat Bima melayangkan tendangan ke pintu lift yang tertutup.

"CEPAT SUSUL MEREKA LEWAT TANGGA! GUE MAU MEREKA MATI" Bentak Bima dengan emosi yang sudah meledak ledak.

Anak buah Bima yang hanya tinggal 10 orang langsung bergegas menaiki anak tangga menuju lantai teratas.

Para pengunjung mall bahkan sudah di keluarkan karena percuma mereka masih menahan pengunjung mall, tidak ada gunanya.

Hal penting yang di pikiran oleh Bima hanyalah membunuh Melvin dengan wanita ****** itu.

Mereka sudah membuat Bima emosi, dan berani mempermainkan dirinya. Apalagi ketika Bima melihat tangannya yang di balut oleh perban membuat seringai muncul di wajah Bima, Bima akan membuat orang yang sudah melukai tangannya mati dengan cara yang paling mengerikan.

****

Elza berusaha tetap tenang dan tidak peduli dengan perkataan Melvin beberapa menit yang lalu, ia memilih untuk segera menelepon Rio. Elza mencari kontak bernama Valak .

"ELZA LO DIMANA? "

Elza meringis dan berdecak kesal mendengar teriakan Rio yang membuat telinganya jadi sakit, untungnya Elza sudah menjauhkan telinganya dari HP.

"Valak sialan! Kagak usah teriak teriak"Umpat Elza marah.

"Pocong nyariin loh"

"Lo jawab apa? "

"Gue nggak jawab apa apa untungnya lo langsung telepon gue"

"Syukur deh"

"Lo sekarang dimana si? Kok kaya ada suara angin gitu, lo lagi nggak berencana terjun dari ketinggian kan"

"Gue lagi diatap gedung mall yang ada di pusat kota"

"Ngapain lo disana? Mau mati hah"

"Gue terjebak"

"Terjebak?"

"Nggak usah banyak tanya! " Kesalnya "Gue minta bantuan lo"

"Bantuan? Apa? "

"Memanipulasi semua rekaman CCTV di mall ini, nanti juga lo tahu jawabannya"

"Yaudah iya, terus lo kapan baliknya? "

"Gue nggak tau, pokoknya lo bilang ajah sama yang lain kalau gue ada di apartemen "

"Oh, ok. Nanti gue bilangin ke pocong. Lo baik baik ajah kan? "

"Gue baik baik ajah, kalau begitu gue tutup teleponnya"

Elza langsung mematikan sambungan teleponnya, ia memasukan kembali HP nya kedalam saku celana pendek yang ia pakai.

Sebuah senyuman langsung terbit di wajah Elza ketika melihat jalan keluar agat mereka bisa pergi dari sini, ia melihat sebuah gedung yang agak pendek dari gedung mall ini. Bahkan atap gedung yang ada di sebrangnya cukup luas untuk mendarat.

Elza mulai mengukur jarak antara gedung mall dengan gedung sebrang, jika ia melakukan lompatan dari atas sini maka kemungkinan ia bisa mendarat diatas sana. Gila memang, tapi ini jalan satu satunya yang di miliki oleh Elza untuk membawa Melvin kabur.

"Jangan bilang kalau kita mau lompat kesana? "

Elza menoleh kearah samping, ia melihat Melvin berdiri di sampingnya sambil menatap gedung di sebrangnya.

"Nggak ada pilihan lain" Jawabnya santai.

Melvin menghela napas kasar.

"Lo yakin kalau kita bisa mendarat disana? "

"Gue si yakin, yang nggak yakin itu eloh" Elza tersenyum tipis.

"Gue yakin" Ucap Melvin dengan rasa percaya diri "Gue bisa mendarat disana"

"Bagus deh" Elza mengacungkan jempolnya kepada Melvin "Sebaiknya kita harus bergegas, lo duluan"suruh Elza.

"Lady first" Balas Melvin santai.

Elza memutar bola matanya malas.

"Gue ada urusan penting, lo duluan"

"Urusan penting? "

"Lo nggak perlu tahu, lo duluan! "

Melvin menatap wajah Elza setengah kesal.

"Okay"

Melvin akhirnya memilih untuk mengalah, lagi pula ini bukan situasi yang tepat untuk berdebat tentang siapa yang duluan melompat dari atas sini.

Brak..

Brak..

Brak..

Keduanya langsung menoleh kearah pintu ketika mendengar gebrakan yang begitu keras.

"Cepatan! "Bentak Elza ketika melihat Melvin hanya bengong.

Melvin menatap kearah Elza.

"Sebenarnya gue ragu apakah gue bisa mendarat di sana" Melvin menghela napas panjang "Pokoknya ko doain gue, gue nggak mau mati karena jatuh dari sini"

"Iya, cepetan"

"Satu hal lagi... "

"Apa? "

"Kalau gue berhasil kita makan malam"

"Iya, udah cepetan sana"

Melvin tersenyum begitu lebar ketika Elza menyetujui ajakannya itu.

Sebelum Melvin melompat ke seberang gedung, alangkah baiknya kita melakukan tahap pemanasan ringan. Melvin melompat lompat, lalu berlari lari kecil. Setelah selesai melakukan pemanasan, kini Melvin mulai membungkukkan badannya seperti seseorang yang hendak balap lari.

Pada hitungan ketiga, Melvin langsung berlari dengan kencang menuju ujung gedung. Saat sampai di ujung gedung, Melvin menghentakan kakinya dengan kuat lalu melayangkan di udara dengan kedua kaki yang masih bergerak gerak. Tidak hanya kaki yang bergerak, mulut pun ikut berteriak hingga Elza menutup telinganya.

Melvin mendarat diatas gedung itu dengan tubuh yang berguling guling, hingga akhirnya punggungnya menabrak pintu yang terbuat dari seng. Melvin meringis, ia langsung bangun dengan cepat lalu mendongkakkan kepalanya agar bisa melihat kearah Elza, ia mengacungkan dua jempolnya pertanda jika ia baik baik saja.

"LO HARUS MAKAM MALEM BARENG GUE! "

Elza hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan Melvin yang tampak menggelikan, padahal hanya melompat keseberang gedung saja. Tapi gayanya udah kaya atlet profesional.

Melihat Melvin yang sudah berada di atap gedung lain, membuat Elza bisa bernapas lega. Ia langsung melangkah pergi dari pinggiran gedung, mengambil tas yang di tinggalkan oleh Melvin. Ia mengambil beberapa magasin disana, lalu menyembunyikan didalam stokingnya. Tidak lupa, ia juga mengganti magasin yang sudah kosong di senjata M4A1 dengan yang baru.

Duarrrrr...

Pintu itu langsung meledak begitu saja, hingga barang barang yang menghalang pintu langsung berserakan kemana mana.

Elza sudah siap berada di posisinya, ia tidak ingin bermain main dengan lawannya karena ia harus segera menyelesaikan ini semua.

"Welcome" Sapa Elza ketika melihat pria bertopeng itu mulai keluar dari pintu.

Tidak mau berlama lama lagi Elza langsung memuntahkan pelurunya kearah mereka.

Dorrr..

Dorr..

Dorrr...

Dorr...

Semua orang yang hendak keluar mendadak kucar kacir ketika Elza menyerang mereka dengan tembakan yang membabi buta.

Mereka langsung berlindung di balik tembok.

Elza yang sudah tahu jika mereka akan melakukan hal itu, membuat seringai muncul di wajah cantiknya. Elza mengambil sisa granat lalu membuka kunci granat, Elza langsung melempar granat itu hingga masuk kedalam pintu.

Suara gaduh mulai terdengar disana, lagi lagi mereka tidak memiliki kesempatan untuk berlari karena granat itu sudah meledak dengan kencang hingga tembok menjadi runtuh.

Elza terkekeh pelan.

Ia langsung melangkah mendekat kearah reruntuhan tembok untuk memastikan jika lawannya sudah mati semua.

Jrassss...

"Aisshhh" Elza meringis ketika saat ada seseorang yang melayangkan pisau kearahnya, untungnya Elza bisa menghindar sehingga pisau itu hanya bisa menggores bahunya saja.

Seringai langsung muncul di wajahnya ketika melihat sosok Bima yang terluka parah masih berusaha bertahan untuk hidup, bahkan Bima bertumpu ke tembok agar ia bisa berdiri.

Elza tertawa kencang.

"****** sialan! "Umpat Bima dengan suara lemahnya, Bima terbatuk batuk mengeluarkan banyak darah di mulutnya.

Elza langsung mendekat kearah Bima, lalu menarik tubuh pria itu dengan kuat hingga Bima terjatuh tepat di hadapan kakinya.

Elza berjongkok di hadapan Bima yang tertelungkup tepat di depannya, Elza mengangkat kepala Bima dengan tangannya mencengkeram kuat rahang pria itu.

"Siapa yang udah nyuruh lo bunuh Melvin? "Tanya Elza dengan nada dingin.

Bima bungkam.

Elza tertawa.

"Keras kepala! "

Bima kembali terbatuk batuk, namun setelah itu Bima tertawa.

"Lo akan mati! "

"Gue tau"

"Lo akan mati karena ikut campur dalam urusan ini"

"Gue nggak takut mati"

"Sebentar lagi mereka akan membalas perbuatan lo kepada kami"

"Gue tunggu"

"Lo akan mati dengan kejam"

"Sebaiknya lo berhenti ngoceh hal yang tidak penting, katakan siapa yang udah nyuruh lo sialan! "Bentak Elza mencengkeram rahang Bima semakin kuat.

"Walau lo bunuh gue sekali pun, gue nggak akan kasih tahu"

Elza memutar bola matanya malas.

"Baiklah gue udah bosen" Elza mengarahkan moncong senjata mililnya kearah wajah Bima "Welcome to the hell"

Tanpa menunggu lagi Elza langsung membunuh Bima, Elza menghembuskan napasnya kasar lalu kedua tangannya meraba tubuh Bima yang penuh darah. Ia menemukan benda pipih didalam kantung celana Bima, ia membuka layar ponsel itu setelah menggunakan jari Bima.

Elza mencari riwayat panggilan di hp Bima, hingga akhirnya ia menemukan nama kontak berinisial A yang paling sering di hubungi oleh Bima.

Elza langsung menekan panggilan.

"Apakah kamu berhasil membunuhnya? "

Diam, itulah yang di lakukan oleh Elza untuk mendengar suara berat seorang pria yang tidak ia kenal. Suaranya tampak sangat asing sekali.

"Bima! Apakah kau berada disana? Bagaimana? Apakah kamu berhasil membunuhnya? "

"Bima! "

Sambungan langsung di putuskan oleh Elza begitu saja, ia langsung memotret layar hp Bima menampilkan deretan nomer A. Setelah itu ia mengirimkan kepada Rio untuk mencari tahu siapa pemilik nomer itu.

Semuanya sudah beres, kini tinggal Elza menyeberangi gedung ini menuju Melvin yang sudah pasti menunggu kedatangannya.

"Elza" Pekik Melvin panik ketika melihat darah di bahu Elza, Melvin dengan cepat berlari mendekat kearah Elza yang wajahnya sudah agak pucat "Lo terluka"

Elza tersenyum tipis.

"Ini hanya luka kecil"

Elza melangkahkan kakinya melewati Melvin yang menghadang jalannya.

Melvin berdecak kesal, ia benci jika berhadapan dengan Elza yang sok kuat. Melvin langsung berjongkok dihadapan Elza setelah menyusul langkah wanita itu, Melvin menoleh sedikit kearah Elza.

"Naik ke punggung hamba ratu, hamba tidak mau melihat ratu pingsan"

Elza terkekeh pelan mendengar ucapan Melviin barusan.

Melvin ikut terkekeh, setidaknya ia melihat Elza tertawa karena kelakuan konyolnya itu.

"Ratu menerima penawaran anda"

Elza langsung naik ke punggung Melvin, melingkarkan tangannya di leher Melvin. Ketika Melvin bangun dari posisi jongkoknya menjadi berdiri, Elza langsung menyenderkan wajahnya disana.

"Gue lelah"

"Tidurlah" Balas Melvin dengan suara yang lembut.

1
adelia azni
Kecewa
adelia azni
Buruk
adelia azni
Dri banyak nya novel yg sya baca,, ini cerita yg paling bgus sih menurut sya,,, best lah pokok nya
Rkeane
novel ter teh best lah,btw ada yang mau kasih rekomen lagi novel aksi aksi gitu kaya misi buat ajen ajen
Hasnah Siti
uffft bagus vin...aku lega mereka berdua ada yg menolong...😓
Hasnah Siti
🤣🤣🤣🤣🤣
Hasnah Siti
di lanjut lagi ...aku suka
Hasnah Siti
nexts
Hasnah Siti
awalan yg bagusss...🤩
pacarjuhoon🐢
ngaku hamil gk tuhh🤣🤣
pacarjuhoon🐢
kirain nonton apaan🤣hadehhh😭😭
Elly Adisusetyo
karya yg bagus thorr
imam zulkifli
aku golongan darah O dokk hehehe
🌻Ruby Kejora
Salam kenal dan sukses kk❤️❤️❤️
imam zulkifli
o o oh author teh tiasa sunda
Jaka Gd
kalo bisa kata" nya jangan ada hwanya thor
Bundane Aurel
opik penghianat
Bundane Aurel
keren, keren😁
Bundane Aurel
keren, keren walau tlat baca nx😁
Ninik Suprapti
ceritanya seru banget 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!