NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 : Satu Jawaban di Ujung Minggu

Sael tertegun mendengar penjelasan panjang Aeros yang begitu tulus. Setiap kata yang mengalir dari bibir pria itu seolah mengetuk pintu hatinya yang terdalam, meruntuhkan sisa-sisa keraguan tentang kesungguhan perasaan Aeros.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mengulas sebuah senyuman.

"Makasih ya, Kak," ucap Sael lembut. "Aku... aku benar-benar nggak menyangka."

Sael menjeda kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat mata cokelat hangat milik Aeros yang masih menanti reaksinya dengan sabar.

"Tapi, sesuai kata Kak Aeros tadi... boleh aku minta waktu?" tanya Sael dengan nada setengah memohon, "Aku nggak mau ngasih jawaban malam ini cuma karena aku lagi terbawa suasana."

Aeros yang mendengar itu tidak bisa menahan senyumnya. Ia mengangguk paham, merasa lega karena kejujurannya tidak membuat Sael merasa tertekan.

"Tentu saja, Sael. Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhin," jawab Aeros santai. "Kan aku sudah bilang, aku siap nunggu. Tujuh tahun aja aku bisa tahan, apalagi cuma nunggu kamu siap."

Sael terkekeh pelan, rona merah di pipinya masih enggan pudar. Ia segera menarik tangannya dari genggaman Aeros untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, lalu buru-buru menyendok kembali 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 es krimnya yang mulai mencair.

"Nah, karena urusan perasaan udah pending, sekarang Kak Aeros mendingan temenin aku habisin ini. Katanya mau ngurusin tamu VIP-mu malam ini?" seloroh Sael, mencoba mengembalikan suasana santai mereka seperti semula.

"Siap, Tuan Putri," sahut Aeros dengan tawa renyah,

Sementara di seberang jalan, di dalam mobilnya, Kael mungkin sudah mulai kehabisan napas karena penasaran melihat adegan demi adegan dari balik jendela kaca.

Setelah menghabiskan 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 dan berbincang sebentar, Sael akhirnya berpamitan. Aeros mengantarnya sampai ke pintu depan kafe, memberikan lambaian hangat yang sukses membuat jantung Sael kembali berdesir.

Sael berjalan menyeberang jalan sambil mendekap kantong kertas berisi pesanan kembarannya. Begitu ia membuka pintu mobil, aroma AC yang dingin langsung menyambutnya, bersamaan dengan seringai usil dari Kael yang sudah duduk rapi di balik kemudi.

"Lama banget, Bu? Itu 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 atau curhatan masa depan yang dihabisin?" sindir Kael langsung, matanya melirik jahil ke arah Sael yang baru saja memasang sabuk pengaman.

Sael tidak menjawab. Ia hanya mendengus, lalu menyodorkan kantong kertas.

"Nih! Dua 𝘤𝘳𝘰𝘪𝘴𝘴𝘢𝘯𝘵 cokelat sama satu 𝘐𝘤𝘦𝘥 𝘈𝘮𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘯𝘰. Puas?" ketus Sael, walau rona merah di pipinya sama sekali tidak bisa menyembunyikan apa yang baru saja terjadi di dalam sana.

Kael langsung berbinar. Ia menerima kantong itu dengan suka cita, ia menghirup aroma kopi hitam yang pekat. "Wah, Kak Aeros emang paling tahu cara menyuap ipar yang baik dan benar. Makasih, adekku sayang."

Kael terkekeh pelan. Ia meletakkan kopi di 𝘤𝘶𝘱 𝘩𝘰𝘭𝘥𝘦𝘳, lalu mulai melajukan mobilnya. Matanya sesekali melirik Sael, Kael tahu persis setiap perubahan ekspresi saudaranya itu.

"Jadi..." Kael sengaja menggantung kalimatnya, memancing. "Gimana? Kapalku udah resmi berlayar belum? Atau aku harus tetap jadi mata-mata gratisan lagi minggu depan?"

Sael menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang hampir lolos. "Nggak ada kapal-kapalan. Aku minta waktu."

Mendengar itu, Kael langsung menoleh sekilas dengan raut wajah terkejut. "Hah? Kamu gantungin Kak Aeros? Sael, kamu tega banget ya. Dia udah nungguin kamu—"

"Dia udah cerita!" potong Sael cepat. "Kak Aeros... udah cerita semuanya. Soal dia yang suka sama aku dari tujuh tahun lalu, sebelum aku ke luar negeri. Soal kamu yang cerita .....Semuanya!"

Mobil mendadak hening sesaat. Kael berdeham pelan, agak salah tingkah karena apa yang ia sembunyikan akhirnya terbongkar.

"Oh... dia cerita soal itu juga?" Kael menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menyengir kuda. "Ya... habisnya aku kasihan sama dia. Waktu kamu mau berangkat dulu, mukanya udah kayak kain jemuran kusut. Pas kamu di luar negeri, tiap kali aku nongkrong di kafenya, yang ditanya cuma 'Sael gimana di sana? Sakitnya udah sembuh? Ada cowok yang deketin nggak?'. Ya sebagai kembaran yang baik, aku bantu lah. Kau kan tahu cowok kulkas itu walaupun udah jelas suka sama kamu tapi nggak mau ngaku"

Sael menoleh, menatap Kael, "Tapi kenapa kamu nggak pernah cerita ke aku dari dulu, Kael?" tanya Sael lirih.

Kael menghela napas panjang, ekspresi jenakanya berubah menjadi sedikit lebih serius. "Karena aku mau kamu fokus berobat dan kuliah di sana tanpa punya beban pikiran di Indonesia."

Kael mengulurkan tangan kirinya, mengacak kepala Sael dengan sayang.

"Mungkin, pilihan kamu buat minta waktu itu udah bener. Kak Aeros itu cowok baik, dia bakal nunggu. Sekarang tugas kamu cuma satu, pastiin hati mu sendiri. Jangan kelamaan digantung, ngetehnya ntar basi," seloroh Kael, kembali merusak suasana haru yang baru saja terbangun.

Sael menepis tangan Kael sambil tertawa kecil.

"Iya, bawel. Jalan yang bener, awas nabrak!" sahut Sael, kini ikut tersenyum lepas sambil menatap lampu-lampu kota dari balik jendela,

 𝐏𝐎𝐕: 𝐒𝐚𝐞𝐥

Ponsel di tanganku terasa dingin, berbanding terbalik dengan pipiku yang mendadak panas setelah mendengar runtutan kalimat dari Kak Aeros. Aku menunduk, menatap mangkuk berisi 𝘸𝘢𝘧𝘧𝘭𝘦 es krim yang mulai meleleh di hadapanku.

Di dalam kepalaku, memori tujuh tahun lalu dan apa yang terjadi sebulan terakhir ini berputar layaknya sebuah rol film.

Jujur, aku sempat merasa takut. Takut kalau kebaikan Kak Aeros selama ini hanyalah bentuk rasa kasihan, atau sekadar sikap ramah seorang kakak kepada adik dari sahabatnya. Tapi, begitu dia menggenggam tanganku dan mengakui perasaannya, jantungku rasanya mau copot. Aku bahagia, sangat bahagia, hingga rasanya sesak.

Namun, rasa nyaman yang kurasakan dari Kak Aeros sebenarnya bukan hal baru.

Sejak kami masih kecil, Kak Aeros selalu punya cara sendiri untuk membuatku merasa aman. Dulu, setiap kali aku merasa lelah atau tertekan karena kondisiku, Kak Aeros adalah orang yang akan diam-diam menyelipkan cokelat di kantongku, atau sekadar duduk di sampingku tanpa banyak bicara dan selalu tahu apa yang kubutuhkan bahkan sebelum aku mengatakannya.

Dan sekarang, setelah tujuh tahun aku berada di negeri orang dan kembali dengan versi diriku yang lebih dewasa, hangatnya perhatian itu ternyata tidak berkurang sedikit pun.

Dulu, dia adalah seorang yang peka dari balik bayang-bayang masa kecil kami.

Sekarang, dia adalah pria dewasa yang dengan lembut mengusap punggung tanganku, tetap mendahulukan senyumanku di atas rasa penatnya.

Cara dia mengingat bahwa aku baru saja sembuh dari sakit beberapa hari lalu, cara dia membuatkan 𝘊𝘢𝘳𝘢𝘮𝘦𝘭 𝘔𝘢𝘤𝘤𝘩𝘪𝘢𝘵𝘰 kesukaanku, hingga refleks tangannya yang mengelus puncak kepalaku... semuanya terasa begitu familiar.

"Aku siap nunggu, sekalian buktiin ke kamu kalau perasaan ini udah bertahan lebih dari tujuh tahun..."

Kata-kata Kak Aeros barusan mengalun lembut. Aku mendongak, memberanikan diri menatap sepasang manik matanya yang menatapku penuh kesungguhan. .

Aku menarik napas dalam-dalam, perlahan membalas genggaman tangannya. Rasa gugupku perlahan mencair. Di dalam hati, aku berbisik pada diriku sendiri, 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘱𝘵𝘢𝘴𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴... 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢.

*****

𝐁𝐞𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐦𝐢𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐤𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧

Sael duduk di kursi kerjanya sambil menatap tumpukan berkas perkara yang belum disentuh, pandangan Sael justru terpaku pada jendela besar di ruangannya.

𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯.

Baginya, angka itu angka yang cepat karena banyak hal datang bertubi-tubi tapi bagi Aeros sepertinya itu waktu yang lama.

Hari Minggu sore, suasana rumah sedang sepi. Kael sedang pergi keluar bersama teman-temannya, Orang tuanya sedang menghadiri acara.

Ia duduk di ayunan halaman belakang dengan secangkir teh hangat di pangkuannya.

Ada beberapa hal yang terus berputar di kepala Sael selama minggu-minggu ini,

Sael tidak bisa membohongi diri lagi. Rasa hangat yang menjalar saat Aeros menggenggam tangannya, rasa aman yang hadir saat berada di dekat pria itu, dan kecemburuan kecil yang samar-samar muncul jika membayangkan ada wanita lain di dekat Aeros—semua itu adalah bukti. Dia tidak hanya menganggap Aeros sebagai seorang Kakak.

> "Aku nggak mau ngasih jawaban cuma karena terbawa suasana..."

>

Sael menggumamkan kembali kalimatnya malam itu. Ia tersenyum tipis, merutuki betapa kakunya ia malam itu. Namun, ia tidak menyesal. Karena ini justru membuatnya sadar bahwa perasaannya pada Aeros bukan sekadar letupan emosi sesaat.

Ia mengambil ponselnya di atas meja. Layarnya menampilkan ruang obrolan dengan Aeros. Pesan terakhir dari pria itu dikirim tadi pagi—hanya sebuah foto cangkir kopi dengan latte art berbentuk kucing lucu, lengkap dengan tulisan, [ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐀𝐞𝐫𝐨𝐬 ]

𝘚𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘔𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘚𝘢𝘦𝘭. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨.

Sael menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan seolah melepaskan sisa-sisa keraguan . Ibu jarinya bergerak di atas layar, mengetik sebuah balasan.

[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐞𝐥 ]

𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘦𝘳𝘰𝘴, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘧𝘦𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬? 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘰𝘣𝘳𝘰𝘭𝘪𝘯.

Ia menekan tombol kirim, detak jantungnya berpacu cepat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!