Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air mata kebahagiaan
Enam tahun berlalu....
Gedung auditorium universitas dipenuhi tepuk tangan meriah. Para wisudawan dan wisudawati mengenakan toga hitam dengan selempang biru tua di bahunya. Senyum bahagia menghiasi wajah mereka yang berhasil menyelesaikan perjuangan panjang selama bertahun-tahun.
Di antara ratusan mahasiswa itu, seorang wanita duduk dengan kedua tangan gemetar. Air matanya luruh tanpa dipinta, menatap nanar panggung di depan sana yang belum pernah terpikirkan di dalam otaknya ia akan menaiki panggung itu.
Alisa. Matanya berkaca-kaca saat namanya dipanggil.
"Selanjutnya, lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak dengan predikat Cum Laude..."
"Dr. Alisa Maheswari, Spesialis Anak."
Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Untuk sesaat, Alisa tidak langsung berdiri. Dadanya terasa sesak. Bukan karena gugup. Melainkan karena kenangan yang tiba-tiba berputar di kepalanya.
Ia teringat malam saat dirinya diusir dari rumahnya. Dibilang bahwa dirinya penyakitan dan tidak ingin ada yang tertular akan penyakitnya. Yah, hanya itu, mereka tegas seolah selama bertahun-tahun mereka merawat Alisa tidak berarti apa-apa.
Ia juga teringat koper usang yang dibawanya keluar rumah. Teringat bagaimana suaminya yang kehilangan ingatan memilih wanita lain dan menganggap dirinya orang asing. Teringat keluarganya yang menutup pintu dan berkata bahwa dirinya hanyalah beban.
Dan yang paling menyakitkan...
Ia teringat saat harus mengubur mimpinya menjadi dokter. Mimpi yang sejak kecil selalu ia jaga. Mimpi yang hancur karena hidup tidak pernah memberinya kesempatan. Air mata menetes tanpa bisa dicegah.
"Alisa?"
Suara lembut terdengar dari bangku penonton.
Alisa menoleh.
Di sana berdiri seorang wanita tua dengan mata yang juga sudah basah oleh air mata. Tersenyum haru ke menatapnya, tatapan yang penuh akan rasa bangga dan rasa cinta yang tulus.
Nyonya Zahroh.
Wanita yang dulu tanpa sengaja menabraknya di jalan. Wanita yang mengubah hidupnya. Wanita yang mengulurkan tangan ketika seluruh dunia membuangnya.
Dengan tubuh gemetar, Alisa berjalan menuju panggung. Setelah menerima ijazah dan bunga wisuda, ia menundukkan kepala.
Tangisnya semakin pecah. Selama enam tahun ini ia selalu berusaha kuat. Belajar hingga larut malam. Bekerja paruh waktu demi menambah kebutuhan. Meski uang dari Zefano bisa ia pakai, Alisa memilih tidak memakainya, dan akan mengembalikannya saat suatu saat nanti mereka bisa bertemu lagi. Menjalani koas dengan jadwal yang melelahkan. Berkali-kali hampir menyerah.
Namun hari ini...
Semua perjuangannya terbayar.
Acara belum selesai ketika Alisa turun dari panggung dan berlari ke arah bangku penonton, "Omaa..."
Tangisnya pecah begitu memeluk Nyonya Zahroh. Tangis akan rasa terimakasih yang tidak bisa ia utarakan dengan kata-kata. Wanita tua itu langsung memeluknya erat.
"Kamu berhasil, Nak..."
Alisa menangis semakin keras.
"Bukan karena aku, Oma. Kalau waktu itu Oma tidak menolongku, mungkin aku masih hidup terlunta-lunta."
Nyonya Zahroh menggeleng sambil mengusap rambutnya.
"Tidak. Ini semua karena kerja kerasmu sendiri."
"Tapi Oma yang memberiku rumah."
"Tapi kamu yang belajar."
"Oma yang membiayai kuliahku."
"Tapi kamu yang tidak pernah menyerah."
Tangisan keduanya semakin tak terbendung. Orang-orang di sekitar ikut terharu melihat pemandangan itu. Pemandangan seorang cucu angkat yang berhasil meraih kesuksesannya di tangan seorang wanita yang kepiawaiannya begitu besar.
Nyonya Zahroh menggenggam kedua pipi Alisa lembut. Mengelusnya bak permata yang begitu berharga.
"Dulu saat pertama kali melihatmu, aku melihat seorang anak yang kehilangan segalanya."
Air mata wanita tua itu jatuh.
"Tapi hari ini aku melihat seorang dokter yang berhasil mewujudkan mimpinya."
Alisa terisak.
"Aku sering bertanya kenapa hidupku begitu kejam, Oma."
Nyonya Zahroh tersenyum lembut.
"Karena Tuhan sedang menyiapkan akhir yang lebih indah."
Kalimat itu membuat Alisa semakin menangis, memendam wajahnya di pelukan sang Oma. Dulu ia pernah berpikir hidupnya sudah berakhir.
Saat keluarga membuangnya. Saat suaminya mengusirnya. Saat mimpinya terkubur begitu dalam.
Namun ternyata...
Yang berakhir bukanlah hidupnya. Melainkan penderitaannya. Alisa memandang toga yang dikenakannya. Lalu memandang ijazah di tangannya. Bibirnya bergetar.
"Ayah... Ibu..."
Meski mereka tidak ada di sana. Meski mereka tidak pernah memperjuangkannya. Meski mereka sendiri tak pernah menganggap Alisa sebagai putri mereka. Wanita itu tak memendam dendam sama sekali. Ia tetap menganggap mereka sebagai orang tua yang melahirkannya.
Alisa tetap menengadah ke langit. Menatap haru langit-langit auditorium yang meriah.
"Aku berhasil."
Tangisnya pecah sekali lagi.
"Aku akhirnya jadi dokter. Mimpi yang sudah ku kubur dalam-dalam kini terwujud."
Hari itu, seorang wanita yang pernah kehilangan segalanya akhirnya mendapatkan kembali mimpinya.
Bukan hanya menjadi dokter. Tetapi juga menemukan keluarga yang benar-benar mencintainya. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Air mata yang jatuh dari mata Alisa bukan lagi karena kesedihan. Melainkan karena kebahagiaan yang akhirnya datang setelah penantian yang sangat panjang.
Ditengah rasa haru itu, Alisa jadi kepikiran Zefano. Tanpa sadar senyum di bibirnya terbit. Ia pandang ijazah dan buket bunga di tangannya.
"Kalo saja Mas Zefano ngga hilang ingatan, akan seperti apa yah melihat diriku sekarang?"
Namun perlahan, senyum itu menjadi tangis yang tak terbendung, ia merunduk, mengusap air matanya dengan tisu. Namun semakin di tahan, hatinya semakin sakit. Meski hanya sebentar, Zefano pernah menjadikan dirinya wanita yang begitu berharga, wanita yang paling dijaga, dan wanita yang begitu dibanggakan.
Namun mengingat Zefano bersama Lora, hatinya semakin sakit. Apa....memang mereka tidak akan berjodoh kembali. Meski rasanya terlalu bodoh jika Alisa mengharapkan Zefano menjadi miliknya lagi.
Namun hati ini, perasaan ini, perasaan yang tidak bisa ia kontrol. Selalu mengingatkannya tentang pria itu. Seolah Zefano menanamkan sesuatu pada hatinya kalau Alisa tidak boleh melupakannya begitu saja.
"Mas....Mungkin sekarang kamu sudah bahagia dengan wanita lain. Mungkin kamu sudah memiliki anak....."
Alisa tak sanggup melanjutkan perkataannya, refleks menutup mulutnya, memejam menahan sakit yang begitu menyesakkan dada.
"Meski begitu aku merasa bahagia, Mas. Semoga aku bisa mengucapkan satu kata untukmu, aku—"
"Kamu bisa, Alisa."
DEG!
Alisa spontan mendongak. Sepasang matanya membulat saat melihat Zefano sudah berdiri tak jauh di depannya, dengan membawa buket bunga yang begitu indah. Begitu besar hingga rasanya Zefano kalah besar dengan bunga itu.
Alisa semakin menutup mulutnya. Menatap sekeliling yang tertawa bahagia dan menepuk tangan untuk Alisa berdiri. Menghampiri Zefano yang tersenyum di depan sana.
"Ma-Mas Zefano....." lirihnya dengan bibir tercekat, "Bagaimana bisa Mas Zefano ada disini?!" serunya syok.
Zefano tersenyum tipis. Lantas menyerahkan buket sebesar payung itu kepada Bima, asistennya. Sebelum akhirnya pria itu berjalan mendekati Alisa yang menatapnya melotot tanpa berkedip.
Zefano mengulum senyum tipis, duduk di samping Alisa yang masih melongo syok.
Pria itu lantas menoel hidup Alisa gemas, "Kamu ini, pintar sekali membuat saya kecarian."
Kenapa langsung ku skip ke 6 tahun ke depan, karena menurutku kelamaan woy😭author gabisa jabarin kuliah Alisa atu atu setiap tahunnya jadi, langsung skip aja, happy reading 🤗♥️♥️ maaf yah kalo misal tidak sesuai ekspektasi pembaca🤗♥️