NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Keesokan paginya, London menyambut perpisahan mereka dengan langit yang sangat kelabu. Kabut tipis menyelimuti aspal jalanan saat bus tim meluncur menuju Bandara London Heathrow. Di dalam bus, suasana sangat kontras dengan hiruk-pikuk pesta semalam. Bryan tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka, masih memeluk tas berisi medali emasnya seolah takut benda itu akan menghilang. Kenzie sibuk dengan tabletnya, kemungkinan besar sedang membalas ratusan pesan masuk dari sponsor dan rekan bisnis yang ingin memberikan ucapan selamat. Jasmine duduk di baris kursi paling belakang, menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Di telinganya, earphone memutar musik instrumen yang tenang, namun pikirannya sudah melompat jauh melewati benua Eropa. Ia membayangkan jalan setapak kecil di samping danau, suara gesekan dedaunan pohon ceri, dan tentu saja, aroma kopi yang berpadu dengan wangi bunga dari kafe kaca itu.

"Jasmine, minum ini."

Sebuah botol air mineral dingin disodorkan ke hadapannya. Jasmine menoleh dan mendapati Axel sudah berdiri di samping kursinya. Wajah sang kapten tampak sangat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan oleh kacamata hitam yang ia sangkutkan di kerah kemeja. Kejadian di lounge semalam jelas meninggalkan jejak yang dalam pada diri pria itu.

"Makasih, Kak," ucap Jasmine singkat sambil menerima botol tersebut.

Axel tidak langsung kembali ke kursinya di depan. Ia justru duduk di kursi kosong sebelah Jasmine, sebuah area yang biasanya dihindari anggota tim lain jika sang kapten sedang dalam mode serius. "Kamu gak banyak bicara pagi ini. Masih pusing karena pesta semalam?"

"Hanya ingin cepat sampai rumah, Kak," jawab Jasmine jujur.

Axel terdiam, pandangannya lurus ke depan, menatap punggung kursi di hadapannya. "Rumah. Kata itu terdengar sangat berbeda sekarang, ya? Bagi kamu rumah bukan lagi sekadar tempat kita berlatih bersama tim." Ada nada pahit dalam suara Axel, sebuah pengakuan yang sulit ia ucapkan. "Aku sadar, selama ini aku mungkin terlalu keras. Tapi itu semua karena aku gak ingin kamu mengalami apa yang aku alami dulu, kehilangan segalanya karena lengah."

Jasmine memutar botol di tangannya. "Aku mengerti niat Kakak baik. Tapi Kak, burung yang sayapnya terlalu kuat diikat gak akan pernah tahu cara terbang kalau badai benar-benar datang. Kakak melindungi aku dengan cara mematikan kemampuan aku buat menentukan arahku sendiri."

Axel menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti ban bocor yang kehabisan udara. "Kita akan sampai di Jakarta besok sore. Setelah itu, manajemen memberikan waktu libur dua minggu. Gunakan waktu itu untuk... menjernihkan pikiran kamu. Tapi ingat, Jasmine, kontrak kamu dengan Aether masih berjalan. Kita punya banyak jadwal promosi sebagai juara dunia."

Kalimat terakhir Axel terdengar seperti pengingat halus bahwa meski secara emosional Jasmine ingin bebas, secara profesional ia masih terikat dalam genggaman Axel. Jasmine hanya mengangguk pelan, tidak ingin memperpanjang perdebatan di dalam bus yang sunyi.

Sesampainya di Bandara London Heathrow, proses check in berlangsung sangat cepat karena mereka menggunakan jalur prioritas sebagai tamu VIP. Namun, saat mereka sedang menunggu di executive lounge bandara, Jasmine merasakan getaran di saku mantelnya. Sebuah pesan masuk.

Kak Liam : Kabut di London sedang tebal, ya? Di sini mataharinya sangat terik. Donald baru aja mencoba mencuri stroberi di dapur dan berakhir dengan hidung merah. Hati-hati di jalan, Penembak Jitu. Chamomile kamu udah aku pesan khusus dari perkebunan terbaik pagi ini."

Tanpa sadar, sebuah senyuman kecil merekah di bibir Jasmine. Ia tidak membalas dengan kata-kata, melainkan hanya mengirimkan emoji sebuah pesawat dan setangkai bunga. Sesederhana itu, namun rasanya jauh lebih menghangatkan daripada semua pidato kemenangan yang ia dengar semalam.

---

Penerbangan belasan jam itu terasa sangat lambat. Di kabin kelas bisnis yang mewah, Jasmine mencoba memejamkan mata, namun bayangan masa lalunya terus berputar. Lima tahun lalu, saat ia bertemu dengan Axel, pria itu seperti pahlawan baginya. Axel memberinya komputer pertama, mengajarinya taktik dasar, dan membangun rasa percaya dirinya yang hancur. Axel adalah dunianya. Namun, seiring berjalannya waktu, dunianya menjadi semakin sempit. Axel mulai menentukan siapa yang boleh ia ajak bicara, kapan ia boleh keluar rumah, bahkan jenis makanan yang boleh ia konsumsi. Perlindungan itu perlahan berubah menjadi pengawasan. Jasmine mulai merasa bahwa ia bukan lagi rekan tim, melainkan trofi milik Axel yang harus dijaga agar tidak retak sedikit pun. Lalu hadir Liam. Pria yang datang tanpa peringatan, membawa bebek putih berisik yang mengacaukan keheningan rumahnya. Liam tidak pernah bertanya tentang rank miliknya di game. Liam tidak pernah memaksanya berlatih aim selama delapan jam sehari. Liam hanya bertanya, "Apakah kamu sudah minum air putih hari ini?" atau "Warna langit hari ini bagus, mau melihatnya sebentar?"

Bersama Liam, Jasmine tidak perlu menjadi "Aether Jasmine". Ia cukup menjadi Jasmine, gadis yang suka melihat permukaan danau yang tenang.

Terbangun dari tidur singkatnya, Jasmine melihat Ilias sedang berjalan di lorong pesawat untuk meregangkan kaki. Ilias berhenti sejenak di dekat kursi Jasmine. "Enggak bisa tidur Dek?"

"Banyak pikiran, Kak Ilias," bisik Jasmine agar tidak membangunkan Axel yang tidur beberapa kursi di depan.

Ilias tersenyum bijak. "Kadang, untuk melihat gambaran besar, kita harus menjauh sedikit dari kanvasnya. London memberi kamu jarak itu, Jasmine. Sekarang kamu udah tahu apa yang sebenarnya ingin kamu lukis dalam hidup kamu, bukan?"

Jasmine tertegun mendengar perkataan Ilias. Pria itu selalu memiliki cara untuk memahami situasi tanpa harus diberi tahu secara detail. "Aku cuma takut mengecewakan tim, Kak."

"Tim akan selalu ada, juara dunia akan selalu berganti. Tapi kalau hidup kamu? Itu hanya ada satu versi. Jangan biarin orang lain yang memegang kendali atas jalan ceritanya," pesan Ilias sebelum kembali ke kursinya.

---

Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian dan pengumuman untuk mendarat di Bandara Soekarno-Hatta berkumandang, jantung Jasmine berdegup kencang. Ia merapikan rambut hitamnya, mengikatnya dengan karet rambut sederhana. Ia melepaskan semua aksesoris mahal pemberian sponsor yang sempat ia kenakan di London, menyisakan hanya dirinya yang polos. Di sisi lain kabin, Axel terbangun dan mulai merapikan jasnya. Ia kembali menjadi sosok pemimpin yang dominan. Ia menoleh ke arah Jasmine, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, ada rasa kepemilikan yang masih tersisa, namun juga ada ketakutan akan kehilangan yang semakin nyata.

"Begitu mendarat, kita akan langsung dijemput bus tim. Ada konferensi pers singkat di bandara, lalu kita pulang ke kompleks," ujar Axel memberikan instruksi terakhir.

Jasmine hanya diam. Ia tahu, di balik pintu kedatangan nanti, akan ada banyak kamera dan penggemar yang menyambut Tim Aether. Namun, matanya hanya akan mencari satu titik. Ia berharap, di antara kerumunan itu, atau mungkin di ujung perjalanan di tepi danau nanti, ada sosok jangkung yang menunggunya dengan senyuman miring yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pesawat menyentuh landasan dengan guncangan halus. Jasmine menarik napas dalam-dalam, menghirup udara tanah air yang mulai terasa. Ia menggenggam erat tas kecilnya, di mana di dalamnya tersimpan kantung aromaterapi biru dari Liam.

’Aku pulang, Kak Liam,’ bisiknya dalam hati.

Perjalanan dari London telah berakhir dengan sebuah piala di tangan timnya. Namun, perjalanan Jasmine untuk merebut kembali hatinya sendiri baru saja dimulai saat pintu pesawat terbuka dan hawa panas Jakarta menyambutnya. Ia melangkah keluar dengan kepala tegak, bukan sebagai penembak jitu yang patuh, melainkan sebagai seorang wanita yang siap menentukan di mana rumahnya yang sesungguhnya berada, dan ia tahu, rumah itu bukan berada di bawah bayang-bayang Axel, melainkan di sebuah tempat yang penuh dengan aroma teh chamomile dan suara bebek yang riang.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!