Karena terdesak kebutuhan, Putri terpaksa menjadi ibu pengganti. Karena ada sepasang suami istri yang tengah program bayi tabung. Tetapi rahim sang istri tak kuat mengandung si bayi tabung tersebut. Untuk itulah sepasang suami istri itu rela membayar mahal untuk rahim yang mau dipinjamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alternatif Pertama
Esok hari, Dira begitu bersemangat. Ia bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan sarapan.
Ia dan sang suami akan mendatangi tempat pengobatan alternatif pertama. Yang diharapkan bisa mengatasi masalah kesuburan di rahim Dira.
Dan supaya wanita itu kuat dalam mengandung dan melahirkan bayi mereka ke dunia.
"Nanti kita lihat dulu tempatnya seperti apa. Kalau nggak sesuai, kita pindah ke tempat lain." ujar Adnan.
"Iya mas." jawab Dira.
Lalu mereka pun mulai sarapan. Tak lama setelah itu mereka melakukan perjalan.
Tak cukup jauh, namun juga tak begitu dekat. Letaknya berada ditengah-tengah.
Ekspektasi Dira dan Adnan, rumah pengobatan alternatif itu berada di tengah hutan. Atau dikelilingi pekarangan luas yang di tumbuhi banyak pepohonan.
Pokoknya tampak seram, seperti penampakan rumah-rumah dukun dalam film.
Tapi ternyata mereka salah. Rumah pengobatan alternatif itu letaknya di. Dalam sebuah cluster kompleks perumahan.
Model rumahnya memang kecil-kecil tapi lumayan estetik untuk ukuran masa kini.
"Ini bener disini mas rumahnya?" tanya Dira ragu.
"Kog nggak ada mistis-mistisnya sama sekali?" lanjutnya kemudian.
"Tapi alamatnya beneran disini." ucap Adnan.
"Nggak salah kan?" tanya dira lagi.
"Nih kamu lihat sendiri, terus cocokin." ujar Adnan.
Dira lalu melihat alamat tertera dan menilik alamat yang tertempel di muka pintu pagar rumah tersebut.
"Eh, iya bener." ujar Dira.
"Mau berobat ya mas, mbak?"
Seorang warga yang tampaknya baru pulang dari latihan badminton menyapa Adnan dan juga Dira, yang masih tampak bingung di muka rumah tersebut.
"Iya pak, kalau boleh tau penghuni rumah ini kemana ya?. Koq kayak nggak ada orang." tanya Adnan.
"Tempat prakteknya udah pindah ke ujung jalan sana pak. Di blok G10. Dari sini lurus aja, terus belok kiri. Nanti ada plang gede diatasnya.
"Oh, oke. Terima kasih pak." ucap Adnan.
"Sama-sama." ujar orang tersebut kemudian berlalu.
Pantas saja dari tadi ia dan Dira tak melihat plang yang menandakan jika ini semua adalah tempat pengobatan alternatif. Minimal ada orang yang datang untuk berobat.
Mereka kemudian menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata disana ada cukup banyak orang.
Dan benar ada plang nama di depannya. Sehingga memudahkan orang untuk mengenali tempat itu.
Adnan parkir di pinggir jalan. Tak lama ia dan Dira pun keluar dari dalam mobil. Ia dan istrinya itu kemudian masuk.
Seperti klinik pada umumnya, mereka melakukan pendaftaran dan sesi konsultasi. Baru tak lama setelah itu meeka menemui si pakar pengobatan alternatif yang dimaksud.
Ia adalah seorang perempuan setengah tua. Bersahaja dan lumayan ramah. Ia mengatakan jika Dira masih bisa hamil, Dira hanya lemah saja rahimnya.
Ia lalu berjanji akan memberikan ramuan untuk menyuburkan rahim. Dira dan Adnan setuju-setuju saja mengenai hal tersebut.
Asal ramuannya di racik dengan bukan menggunakan bahan berbahaya.
Usai mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Adnan pun mengajak Dira untuk pulang.
***
"Capek kamu ya?"
Adnan bertanya pada Dira, ketika istrinya itu terlihat menguap beberapa kali di dalam perjalanan pulang.
"Lumayan sih, tapi senang mas. Mudah-mudahan obatnya manjur." ucap Dira.
"Iya." jawab Adnan sambil tersenyum.
Ia lalu mengusap perut Dira.
"Mudah-mudahan anak papa bisa berkembang di perut mamanya. Papa mau lihat mama buncit, pasti cantik banget." ujar Adnan.
Dira pun tersenyum sambil membayangkan saat-saat tersebut. Dimana ia akhirnya bisa memakai baju hamil dan kemana-mana berjalan membawa bayi dalam perutnya.
Pas buka kok aq udh baca sampai bab 100an tapi baru liat judulnya ini dan kalo liat komen²-nya sih cerita yg kartu dokternya ketuker itu gegara namanya sama dan dokternya salah melakukan inseminasi. Judulnya kalo ga salah Rahim utk suami orang.
Dibikin cerita dan judul baru lagi ya, say?
ini aq baca ulang dr bab 1 lagi biar jelas, toh tetep ga pernah bosenin karya²-nya Kak Tiwi..