NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13

"Jika kau masih keras kepala dan tidak mau mendengarkan ucapanku---aku akan membawamu masuk ke dalam kamarku malam ini," bisik Juhan dengan tatapan serius.

Kenapa hari ini dia sensitif sekali? Dia mudah marah dua kali lipat, batin Sena.

"Cepat beritahu alamatmu!" ucap Juhan dingin.

"Aku sudah pernah memberitahumu saat kembali dari Cheongdo waktu itu. Coba kau ingat-ingat lagi," jawab Sena seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang dan memejamkan mata.

"Aku lupa dan saat ini kepalaku pusing. Jangan suruh aku untuk mengingatnya!" Juhan memejamkan matanya saat kembali merasakan pusing.

Sena berdecak kesal. "Kepalaku juga pusing. Alamat apartemen Hyemi sangat panjang dan aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas."

"Kalau begitu tunjukkan jalannya." Juhan menatap Sena kesal.

"Di Seongdong ada tong sampah warna warni," jawab Sena.

"Pak supir, tolong pergi ke distrik Seongdong," perintah Juhan.

"Baik, Tuan," jawab supir itu patuh.

Selang 20 menit mobil sampai di Seongdong. Mobil berhenti. Tetapi banyak sekali tong sampah warna warni di pinggir jalan itu.

"Kita sudah sampai di Seongdong. Cepat katakan sebelah mana rumahmu?" tanya Juhan.

Sena melihat luar dari dalam jendela mobil. "Bukan di sini. Aku tidak tahu jalan ini. Mungkin masih lurus terus belok lagi. Tidak-tidak lurus terus. Atau mungkin jalan depan itu langsung belok. Aku sendiri juga tidak yakin."

Ucapan Sena yang bertele-tele membuat Juhan kesal. "Kau orang paling bodoh yang pernah aku temui. Bagaimana bisa kau lupa dengan rumahmu sendiri!"

"Yang aku tempati itu bukan rumahku, tetapi apartemen Hyemi. Kepalaku sekarang pusing, tolong jangan tekan aku! Jika kau keberatan aku menumpang mobilmu, aku bisa turun di sini. Biar aku jalan kaki saja. Mudah, kan?" Sena kesal hendak membuka pintu mobil, tetapi Juhan dengan cepat meraih tangannya.

"Jangan aneh-aneh! Kau mengerti?" tegas Juhan.

"Lepaskan tanganmu! Kau tidak suka aku di dalam mobilmu, kan?" ucap Sena kesal.

"Pak supir, langsung kembali saja ke penthouse," perintah Juhan seraya menatap Sena.

"Baik, Tuan," jawab supir itu seraya melajukan mobilnya.

Sena mendekat ke arah Juhan. "Kau tidak berani menurunkan aku di jalan, ya?"

Pertanyaan Sena membuat Juhan bungkam. Selama beberapa saat, Sena terus mendekati Juhan dan menghirup aroma cologne maskulin yang melekat di kemeja pria itu.

"Sena, berhentilah mendekatiku! Cepat mundur atau kau akan menyesal," ancam Juhan kesal.

"Aroma parfum maskulin CEO Park benar-benar wangi dan membuatku semakin mabuk." Sena berkata lirih hampir seperti berbisik. Wanita itu terus menggoda Juhan tanpa henti.

Juhan mendekati Sena dan berbisik lembut. "Jangan memprovokasiku seperti ini, kau mengerti?"

"Kau takut?" Sena menatap Juhan seraya tersenyum manis. "Aku tahu kau takut."

Juhan memiringkan wajahnya. "Kau.. terlalu banyak ngomong!"

Juhan menarik tubuh Sena kemudian mencium bibirnya. Ia menekan bibir Sena dan memperdalam ciumannya. Sena refleks membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya ke leher Juhan. Mereka berdua berciuman panas di dalam mobil dan mengabaikan supir yang duduk di kursi depan.

Entah efek mabuk atau apa, tetapi mereka terlihat menikmati ciuman itu. Sesampainya di penthouse, mereka melanjutkan ciumannya dan bunyi desah terus keluar dari bibir mereka.

Tubuh Sena bergetar, ciuman Juhan membangkitkan gairahnya.

"Aku ingin lebih..," desah Sena lirih namun terdengar oleh Juhan.

Perlahan, mereka melangkahkan kaki menuju kamar dan jatuh ke ranjang bersama.

Kancing baju satu demi satu mulai terlepas. Namun tak lama setelah itu, Juhan tiba-tiba menghentikan ciumannya. Pikirnya, ini semua tidak benar dan tidak boleh berlanjut. Bagi Juhan, bercinta dengan wanita yang bukan kekasihnya merupakan pantangan. Dia berkomitmen sangat tinggi dalam hal ini.

Dengan kancing baju yang sudah terbuka, Juhan bangkit dari ranjang, lalu melangkahkan kakinya keluar kamar. Sedangkan Sena kini sepertinya sudah mabuk dan lemas. Mungkin wanita itu sebentar lagi akan tidur dengan sendirinya.

Juhan memutuskan untuk tidur di sofa dan tidak menyentuh Sena.

Juhan menepuk-nepuk keningnya. Sepertinya ia menyesal karena telah melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya.

"Dia bukan kekasihku. Aku tidak boleh melakukan ini padanya," gumamnya sembari memejamkan mata.

***

Pagi hari pukul 07.00 pagi. Hyemi bangun dari tidurnya, lalu menuju kamar Sena.

"Sena." Hyemi membuka kamar Sena dan terkejut melihat Sena tidak ada di kamarnya.

"Kemana dia? Apa setelah hwesik kemarin dia tidak pulang?" gumamnya bingung.

Di penthouse, Sena masih bergelung di dalam selimut tebal yang hangat.

"Tidurku nyenyak. Tumben ranjangku terasa empuk hari ini." Sena menggumam seraya tersenyum dalam tidurnya.

Lima belas menit kemudian, Sena menggeliat pelan. Matanya mulai terbuka dan mengerjap. Mata coklatnya menatap kamar dengan dinding putih bersih dan terlihat asing baginya. Beberapa detik kemudian, ingatannya kembali berfungsi seperti semula.

"Semalam aku dan CEO Park Juhan.." Sena menyentuh bibirnya dengan jarinya. Ia mengingat kembali ciumannya bersama Juhan semalam. Benar-benar penuh gairah. Sena terdiam. Ingatan itu selalu muncul, dia bahkan tidak bisa memikirkan hal lain selain lelaki itu.

"Apakah semalam kami..? Setelah ciuman itu aku benar-benar tidak ingat lagi." Sena bergumam pelan, lalu keluar dari kamar untuk mencari Juhan. Tetapi penthouse itu terlihat sepi dan sepertinya Juhan tidak ada di sana. Sena sudah mencari laki-laki itu di semua sudut ruangan, tetapi tidak ada.

Sena mengernyitkan kening bingung. "Kemana dia? Pagi-pagi sudah tidak ada di rumah," ucapnya.

Sena ingat kalau hari ini adalah tanggal merah dan kantor libur. Setelah beberapa menit menunggu Juhan yang tak kunjung datang, Sena pun memutuskan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Selang 20 menit keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Telepon dari siapa lagi kalau bukan dari sahabatnya Hyemi yang mengkhawatirkannya karena Sena tidak pulang semalaman.

"Halo, Hyemi," ucap Sena setelah mengangkat telepon.

"Kau di mana sekarang? Kenapa semalam tidak pulang?"

"Aku.. ada di rumah CEO Park Juhan. Semalam aku pulang bersamanya," jawab Sena jujur.

"Oh, syukurlah kalau kau baik-baik saja. Aku pikir kau diculik orang."

"Tidak, aku...."

Tiba-tiba pintu utama terbuka dan Sena terkejut melihat Juhan masuk ke dalam rumah. "Sudah dulu, ya. Nanti aku telepon lagi." Sena buru-buru mematikan teleponnya.

Juhan masuk ke dalam rumah dengan membawa buket bunga mawar dan kantong plastik berisi makanan. Sena beranjak dari tempatnya, lalu berjalan ke arah pintu utama mendekati Juhan.

"CEO Park, aku mau tanya sesuatu. Apakah semalam kit..."

"Tidak." Juhan memotong dengan cepat. "Semalam kita tidak melakukannya. Tidak terjadi sesuatu diantara kita."

"Semalam kita telah berciuman," ucap Sena seraya menunduk malu.

"Itu karena efek mabuk. Bukan karena cinta," jawab Juhan, membuat Sena sedikit kecewa.

Tiba-tiba...

Kruk.. Kruk.. Kruk.. !

Sena memegangi perutnya yang berbunyi karena lapar. Sena benar-benar malu saat perutnya berbunyi. Berharap Juhan tidak mendengarnya. Tetapi ketakutan Sena justru menjadi kenyataan. Perutnya berbunyi lagi untuk kedua kalinya. Sena langsung memalingkan wajahnya yang sudah merah karena menahan malu.

"Kau lapar?" tanya Juhan.

"Tidak," jawab Sena bohong.

Juhan berusaha menahan senyumnya saat melihat tingkah wanita di hadapannya itu. Juhan membuka kantong plastiknya, lalu memberikan sebuah ramyeon cup pada Sena.

"Cuma ini yang kau berikan padaku?" tanya Sena, lalu Juhan mengangguk.

"Itu di kantong plastik yang kau bawa banyak sekali makanan enak. Kenapa aku cuma dikasih ini. Bolehkah aku minta makanan itu satu?" pinta Sena dengan senyuman manis.

"Ini bukan untukmu. Cepat makan ramyeon-nya! Setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ujar Juhan.

"Apa kau akan pergi?" tanya Sena yang langsung diangguki oleh Juhan.

Apa dia mau berkencan? Mengapa dia membawa buket bunga dan makanan banyak di kantong plastiknya? batin Sena.

***

Sudah 2 jam berlalu. Setelah mengantar Sena pulang, Juhan langsung menuju ke rumah sakit tempat mamanya dirawat. Aroma obat-obatan langsung tercium di ujung hidungnya ketika ia memasuki rumah sakit itu. Beberapa menit kemudian, Juhan memasuki kamar rawat inap dengan membawa barang-barang yang telah ia beli sebelumnya.

Juhan langsung mengembangkan senyumnya ketika melihat mamanya tengah menatapnya dari atas ranjang.

"Mama, apakah kau sedang menunggu kedatanganku? Hari ini aku bawakan bunga kesukaan mama dan beberapa makanan enak," ucap Juhan ketika sudah berada di dekat mamanya. Misun yang terdiam hanya menatap Juhan datar.

Juhan menaruh buket bunga di atas nakas, lalu membuka kantong plastik yang berisi makanan. Ia mengaduk semangkuk sup, lalu mencoba menyuapkan sup itu ke dalam mulut Misun. Tapi, Misun menghindarinya dan menggelengkan kepala, tanda ia tidak suka.

"Aku akan menyuapi mama. Makan sedikit, ya?" Juhan masih bersikeras mendekatkan sendok ke mulut Misun. Alhasil, Misun menggeleng keras lalu menepis mangkuk yang Juhan bawa sehingga makanan itu jatuh dan tumpah di lantai.

Kejadian itu langsung menarik perhatian nenek tua yang berada di ranjang sebelah.

"Aduh.. makanannya tumpah banyak sekali di lantai. Anak muda, jangan paksa mama-mu kalau memang dia tidak mau makan," ujar Nenek itu memberi nasihat.

"Iya. Aku akan segera membereskankannya," ucap Juhan seraya membereskan makanan yang tumpah di lantai.

Tingkah mamanya berubah drastis semenjak kecelakaan itu. Sosok mama yang baik dan hangat kini tak ada lagi untuknya. Bahkan Juhan sendiri merasa bingung bagaimana cara untuk menyembuhkan mamanya.

***

Hari ini, pekerjaan di kantor kembali seperti biasa. Sepuluh menit sebelum bekerja, Sena menyesap kopi sembari duduk di meja kerjanya.

"Sena, kau waktu hwesik kemarin pulang naik apa?" tanya Bora.

"Aku diantar pulang CEO Park Juhan," jawab Sena, membuat Bora terkejut.

"Oh, benarkah?Apakah dia sudah tidak marah lagi padamu?"

"Iya," jawab Sena singkat.

"Tapi syukurlah ada yang mengantarmu pulang. Aku kira kau tidak bisa pulang dengan keadaanmu yang mabuk saat itu. Aku juga minta maaf telah meninggalkanmu sendirian di sana." Bora merasa bersalah dengan perbuatannya.

"Tidak kok. Jangan minta maaf, kau tidak salah." Sena menatap Bora dengan senyuman.

Tak lama kemudian, mereka berdua mendengar suara langkah sepatu seseorang yang sedang berjalan.

Tuk Tuk Tuk !

Sena tercengang ketika melihat Hayoon masuk ke kantor dengan mengenakan pantsuit hitam rapi dan memakai sepatu high heels seperti hendak berangkat bekerja.

Sena memutar bola matanya malas. Dari sekian banyak orang kenapa harus Hayoon yang muncul di hadapannya?

"Hai, siluman rubah. Kita bertemu lagi," ucap Hayoon sembari berjalan mendekati Sena.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sena bertanya dengan kesal.

"Tentu saja aku datang untuk bekerja. Mulai hari ini aku akan bekerja di Lacoza," jawab Hayoon dengan senyuman sinis.

Bora yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua pun ikut terkejut. Sedangkan di kursinya, Sena mulai muak dengan ucapan Hayoon yang sama sekali tidak membuatnya senang. Namun Sena lebih memilih diam dan mencerna keadaan.

Sesaat kemudian, Jinsu datang menghampiri mereka dengan senyuman merekah.

"Mulai hari ini Hayoon akan bergabung dalam tim desain. Mungkin kalian semua bisa bekerja sama. Hayoon, meja kerjamu ada di sebelah sana." Jinsu menunjuk sebuah meja kerja kosong yang tak jauh dari meja kerja Sena.

"Terima kasih," jawab Hayoon sopan. Pura-pura sopan tepatnya.

"Oke. Semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik," ujar Jinsu, lalu berjalan pergi.

"Akhirnya kita bisa menjadi rekan kerja, wanita rubah," ucap Hayoon lancang dan meremehkan.

Sena berdecak kesal. "Kalau bicara yang sopan, ya. Aku punya nama dan tolong panggil aku sesuai namaku."

"Memangnya kau ini siapa? Beraninya menyuruhku---Suka-suka aku mau memanggilmu apa. Yang jelas mulai hari ini aku tidak akan membiarkanmu mendekati Juhan. Kau telah menggoda Sijin dan sekarang kau ingin menggoda Juhan? Tak akan kubiarkan itu terjadi!" umpat Hayoon dengan penuh emosi.

Bora yang sedari tadi menonton, kini ikut angkat bicara. "Nona Hayoon, maaf kalau aku lancang. Aku hanya ingin mengingatkan sebaiknya jangan membuat keributan di kantor."

"Apa kau bilang? Jadi kau pikir aku membuat keributan?" tanya Hayoon tak terima.

"Bukan begitu maksudku. Aku hanya mengingatkan kalau sekarang sudah waktunya bekerja," jawab Bora ragu sekaligus takut. Bukan takut karena apa, tapi takut kalau wanita itu mengadu ke ayahnya bisa-bisa karir karyawan yang bersangkutan bisa pupus. Oleh karena itu, Bora selalu berhati-hati setiap kali berbicara dengan Hayoon.

"Hayoon, berhentilah menganggu! Aku mau kerja," ucap Sena malas. Sena sadar betul kalau menanggapi dia tidak akan ada habisnya.

Kini, semuanya terdiam di meja kerjanya masing-masing. Hayoon menatap ke arah Sena dengan penuh kebencian. Semakin lama tingkat kebenciannya pada Sena meningkat. Hayoon bersumpah akan benar-benar menghancurkan Sena, bahkan kalau perlu melenyapkannya sekalian.

***

Jam menunjukkan pukul 12.30 siang. Setelah selesai makan di kantin, Sena dan Bora kembali ke ruangannya dan bersantai sejenak. Sembari menunggu jam istirahat berakhir, Sena membuat kopi lalu bermain ponsel di meja kerja.

Beberapa menit kemudian, Sena dikejutkan oleh kedatangan seorang kurir yang tengah membawa buket bunga tulip di tangannya.

"Permisi, apakah benar anda adalah nona Kim Sena?" tanya kurir itu seraya menatap Sena.

Sena langsung mengangguk. "Iya, benar. Ada apa, ya?"

"Ada kiriman bunga dari seseorang," ucap kurir itu seraya menyerahkan buket itu pada Sena.

"Terima kasih," jawab Sena setelah menerima buket itu. Sebenarnya Sena penasaran. Siapa yang mengirimkan bunga itu? Setelah kurir itu pergi, Sena langsung membaca note kecil yang ada di dalam buket itu.

Note.

Sena, maukah kau berkencan denganku? By. Park Sijin.

"Park Sijin," gumam Sena pelan.

"Sena, bunga dari siapa itu?" tanya Bora penasaran.

"Ini dari Park Sijin," jawab Sena, membuat Bora terkejut.

"Park Sijin? Saudara sepupu dari CEO Park Juhan?" tanya Bora sedikit keheranan.

"Iya." Sena mengangguk.

"Sena, kau hebat bisa membuatnya menyukaimu. Setahuku, keluarga CEO Park Juhan semuanya adalah pengusaha. Aku tidak menyangka kalau Park Sijin ternyata menyukaimu," ucap Bora kagum.

"Tentu saja, dia kan wanita penggoda," sahut Hayoon yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Hayoon mendekati Sena, lalu merampas buket itu darinya.

"Berikan padaku!" paksanya.

"Ambil saja bunga itu. Aku juga tidak membutuhkannya," ucap Sena namun tidak ditanggapi oleh Hayoon.

Wanita itu sibuk membaca catatan yang ada di dalam buket. "Ouu.. kalian akan berkencan ya? Kau memang wanita penggoda. Dasar wanita murahan!" tukas Hayoon. Tiba-tiba, wanita itu marah lalu mengambil kopi di meja dan menyiramkannya ke baju Sena.

Sejujurnya, Hayoon masih marah kalau membahas Sijin karena penolakan laki-laki itu kepadanya.

"Akh!" Sena tersentak kaget dengan kopi hangat yang mengguyur bajunya. "Hayoon, kau sudah gila!"

Hayoon tertawa hambar. "Ini balasan untuk wanita yang suka mengambil laki-laki orang," ucapnya, lalu melenggang pergi.

Bora terkejut dengan kejadian barusan. "Sena, kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir," jawab Sena seraya membersihkan bajunya dengan tangan.

"Aku punya tisu. Ini coba bersihkan dengan tisu." Bora menyodorkan beberapa lembar tisu.

"Terima kasih, Bora." Sena langsung mengelap bajunya dengan tisu yang Bora berikan. Tapi tampaknya, noda hitam kopi itu tidak bisa hilang dan tetap membekas di kemeja putihnya.

Bora yang melihatnya pun ikut kesal. Dia tidak menyangka putri komisaris yang berpendidikan tinggi sanggup melakukan hal rendahan semacam itu.

"Sena, lain kali kalau dia membuat gara-gara lagi jauhi saja. Aku takut dia akan berbuat hal-hal buruk padamu," ujar Bora khawatir.

Sena tersenyum menatap Bora. "Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku sekarang mau melaporkan dokumen dulu kepada CEO Park," ucapnya, lalu bangkit dari kursinya pergi.

Sampai di ruangan CEO, Juhan menyuruh Sena untuk masuk ke dalam.

Sena melangkah masuk lalu berdiri di dekat Juhan. "CEO Park, ini sketsa yang kau minta kemarin."

"Taruh di meja," jawab Juhan. Tapi tak lama kemudian, penampilan Sena mampu membuat Juhan mengerutkan kening.

"Kenapa bajumu?" tanya Juhan.

"Ini tadi kena kopi," jawab Sena.

"Bagaimana itu bisa terjadi? Separah itukah perilakumu?" tanya Juhan pelan, tidak menekan.

"Tadi tidak sengaja kesenggol oleh nona Hayoon. Tidak masalah. Sampai rumah aku langsung mencucinya."

"Buka bajumu!" perintah Juhan.

Mata Sena membulat. "Ya?" Sena memastikan sekali lagi kalau yang didengarnya itu salah.

Juhan mendekati Sena dengan jarak sangat dekat. "Buka bajumu di depanku," perintahnya, membuat wajah Sena langsung memerah.

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!