Season 1 kisah hubungan antara Sita, Agung dan juga Arum.
Season 2 berkisah konflik rumah tangga Aida dan Rama
"Eh, buset bang, panggilan spesial, emang lu pikir gue mau ma elu?" _Sita.
"Itu panggilan spesial buat dinda"_ Agung.
"Emak kawinin kamu Ta! Biar solehah." _emak Sari.
Perjodohan keduanya dilakukan saat Agung masih memiliki rupa yang menurut kebanyakan gadis tidak enak di lihat, meski dahulunya dia tampan.
Sita berusaha merubah lelaki itu kembali agar mau merubah penampilamnya.
Di tengah kebahagiaan mereka, Arum–sang mantan kekasih, kembali mengharapkan dirinya, bahkan dengan terang-terangan rela di jadikan istri kedua.
Apa, Sita dan Agung bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka, akibat mantan yang selalu mengganggu?
Season 2
Aida yang merupakan adik kandung Agung, memiliki suami yang selalu menyusahkan keluarganya.
Konflik keduanya selalu melibatkan keluarga Sita dan Agung.
Sampai ... sebuah kejadian membuat lelaki pilihan Aida itu menyesal.
Apa mereka akan tetap bisa bersama, atau Aida memilih melepaskan sang suami pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devi Sakit
Sinar ceria mentari menyambut riang hari kedua gadis yang tengah bersenandung dengan suara sumbang yang memekakan telinga.
Hari ini Ameliya dan Sita sangat senang setelah mendapat notifikasi dari M-Banking mereka yang memberitahukan nominal pembayaran hasil kerja mereka.
Keduanya sudah memikirkan hal apa saja yang akan mereka lakukan, setelah uang itu di sisihkan untuk keperluan yang sudah pasti tiap bulannya.
Devi berjalan dengan wajah pucatnya saat melewati kedua temannya yang sudah menerima hasil gajian mereka, sedang Devi belum karena biasanya sore atau keesokan harinya baru ia mendapatkan gajinya dari kedua sahabatnya.
"Napa lu Vi, belom gajian?" tebak Sita.
Devi mengangguk membenarkan, namun bukan itu yang tengah ia rasakan, saat ini kepalanya agak sedikit pening, namun dia harus menemui dosennya untuk mengumpulkan tugas yang sudah di janjikan.
"Ya elah Dev, ada kita ini ngapa emang, duit lu abis?" tanya Ameliya, menyerahkan roti bakar yang dia buat tadi.
"Thanks, pueng ala wa," balas Devi dengan mulut tersumpal roti.
"Kalo ngomong di telen dulu tuh roti," cibir Ameliya.
"Kepala gue rada puyeng," ulangnya setelah berhasil menelan seluruh roti di mulutnya.
Devi lantas melihat jam di pergelangan tangannya, hingga dia buru-buru meninggalkan kedua temannya.
"Berangkat gue, Assalammualaikum ..." melambai sebelum berlari kecil melewati gang kontrakan mereka.
"Wa'alaikum salam," jawab Sita.
Sita dan Ameliya sedang berdandan cantik hendak berbelanja kebutuhan mereka, hingga suara dering telepon Sita membuat gadis cantik itu berdecak sebal, sebab dia tengah mengenakan maskara.
Sita lantas melihat nama di balik layar ponselnya, "Devi? ngapa tuh bocah, ada yang ketinggalan apa?" gumam Sita pelan lantas mengangkat panggilan sahabatnya itu.
Namun bukan suara Devi yang berbicara di seberang sana, melainkan suara bass seorang laki-laki.
Sita terkejut dengan ucapan laki-laki yang menelponnya menggunakan ponsel milik Devi, dan Sita menjawab jika dia akan ke sana secepatnya.
"Yuk Mel ke rumah sakit!" ajak Sita menarik tangan Ameliya, namun di tahan sahabatnya itu.
"Bentar, ada apaan sih!" Ameliya meminta penjelasan.
"Devi di UGD, makanya buru ke sana!"
Ameliya lantas mengangguk, mereka segera meninggalkan kontrakan dengan perasaan cemas.
Mereka ingat betul wajah pucat Devi, dan sahabat mereka itu juga mengatakan jika dia sedang tak baik-baik saja.
Dua sahabat yang biasanya selalu ceria dan ada saja obrolan absurd yang keluar dari keduanya, mendadak hening, Sita dan Ameliya berdo'a dalam hati agar sahabat mereka baik-baik saja.
Sita dan Ameliya lantas segera menuju ruang UGD setelah sampai di rumah sakit itu, seorang perawat menunjukan ranjang tempat Devi di rawat.
Sita dan Ameliya lantas menyibak hordeng pemisah di ruang UGD itu, mereka bernapas lega setelah melihat Devi sudah di beri pertolongan pertama, terlihat dari infus yang terpasang di punggung tangannya.
"Elu bikin kita panik aja tau ngga!" omel Sita.
"Ishhh ... gue lagi sakit maen di pukul aja!" sungut Devi bergurau semata, tentu saja pukulan yang ia terima dari Sita di kakinya tak terasa sakit sedikit pun.
Baru akan bertanya sakit yang di derita Devi, seorang dokter masuk ke tempat Devi di rawat, dia lantas memeriksa tubuh Devi, bahkan bagian perut dan ulu hati Devi.
Lalu sang Dokter melihat kertas yang berisi hasil cek lab darah Devi dari perawat di sampingnya.
"Ada muntah? apa mual aja?" tanya sang Dokter yang malah membuat Sita dan Ameliya memekik bersamaan.
"APA!! MUAL MUNTAH?"
Mereka berdua langsung di tegur sebab suara nyaring mereka yang memekakan telinga, hingga Devi mendelikan mata pada keduanya yang berdiri bersebrangan dengan Dokter dan Perawatnya.
Dokter kembali menatap pasiennya, tak memperdulikan dua mahluk yang membuatnya jengkel tadi.
"Mual aja sih Dok," balas Devi.
"Kamu terkena Tipus, harus di rawat inap beberapa hari, nanti minta walinya untuk mengurus berkas rawat inapnya ya?" pinta sang Dokter lantas segera undur diri, dan segera beralih pada pasien lainnya.
"Kaget gue Dev sumpah, gue kira lu bunting!" ucap Ameliya lantas duduk di ujung ranjang Devi.
"Gila aja, punya cowok aja engga, gimana bisa bunting!!" dumel Devi.
Sita lantas paham mengapa sahabatnya bisa terkena penyakit itu, mungkin karena stres memikirkan skripsinya yang sebentar lagi akan di sidangkan.
"Perasaan gue rajin masak Dev, kok bisa elu kena tipes?" tanya Ameliya.
"Stres dia Gomel," jawab Sita.
"Elah ngga usah stres-stres lu Dev, yang penting sehat, gue yakin lu lulus," ucap Ameliya memberi semangat.
Tak lama seorang suster mendatangi tempat Devi di rawat, meminta tanda tangan untuk proses rawat inap, dan mengatakan bahwa wali dari Devi untuk ke ruang administrasi.
"Ta elu aja gih, Ibu gue baru dikabarin, palingan siangan dia nyampe," pinta Devi pada Sita.
"Elu rajin bayar BPJS kan?" seloroh Sita.
"Sialann!" umpat Devi, lantas menendang Sita yang duduk di ujung ranjangnya.
Sita lantas segera keluar dari ruang rawat inap Devi menuju ruang administrasi.
Sedangkan Ameliya memutuskan untuk membeli makanan dan minuman untuk mereka, menunggu proses pemindahan Devi ke ruangannya.
"Elu mau apa Dev?" tanya Ameliya sebelum beranjak.
"Beliin minyak kayu putih aja lah."
Ameliya lantas segera berlalu dari sana, Devi lantas memejamkan matanya, akibat pusing yang masih di rasanya akibat tekanan darahnya yang melemah.
Sita lantas kembali ke ruangan Devi, dan melihat sahabatnya itu terlelap.
Ponsel Devi berdering Sita lantas mengambilnya, saat tau jika orang tua Devi yang menelpon Sita lantas mengangkatnya, dia tau jika Devi tak akan marah.
Orang tua Devi sedang dalam perjalan ke rumah sakit, mereka bernapas lega setelah tau bahwa sahabat-sahabat anaknya menemani sang putri.
Ameliya lantas datang membawa dua kantung penuh makanan ringan untuk mereka.
"Udah Ta?" tanya Ameliya, Sita hanya mengangguk membalas dan kemudian mengambil botol minuman untuk membasahi kerongkongannya.
Tak lama orang tua Devi datang, mereka langsung menanyakan keadaan Devi kepada sahabat sang putri, sebab Devi masih terlelap.
Sita lantas menjawab jika Devi terkena tipus dan harus menjalani rawat inap, Sita juga menjelaskan mungkin Devi stres memikirkan skripsinya, orang tua Devi mengangguk setuju, mereka berterima kasih kepada Sita dan Ameliya yang senantiasa menjaga anak mereka.
Dan kemudian seorang suster datang menghampiri ruangannya dengan membawa kursi roda, mengatakan Devi akan di pindahkan ke ruang rawat inapnya.
Sita lantas memapah Devi, membantunya menaiki kursi roda tersebut, mereka mengikuti sang perawat dari belakang.
Devi menempati ruang rawat inap kelas tiga, dimana dia akan berbagi dengan empat orang pasien lainnya, beruntungnya baru ada dua pasien di ruangan itu, Devi menempati ranjang pertama di dekat pintu masuk, dan pasien lainnya di ranjang ke tiga.
"Ta, kamar mayat dimana ya?" tanya Ameliya yang masih trauma akan kejadian kemarin di toilet Mall lantai dua.
"Ngapa emangnya, elu mau kenalan sama penghuni sini juga?" sungut Sita.
"Dih amit-amit!" ucapnya mengetuk ranjang dan kepala Sita.
"Elu ngetok pala lu sendiri, ngapa jadi ngetok ke gua!"
Ameliya lantas duduk di ranjang kosong sebelah ranjang milik Devi. "Sini Ta duduk," ajaknya.
"Ogah, entar gue sakit lagi, nidurin ranjang orang sakit," ucap Sita asal yang malah di percaya Ameliya yang segera bangkit dari sana.
.
.
.
tbc
akhir dari aida gimana thor,, bonchap dong