Tinggal di kota besar yang padat penduduk, membuat kelima orang anak manusia ini menjalin persahabatan sejak kecil, walau keadaan status sosial dan suku berbeda, tapi mereka tetap bersama.
Kelucuan, kepolosan, dan kebahagiaan persahabatan mereka mulai memudar seiring usia yang beranjak remaja. Benih benih cinta muncul di antara persahabatn mereka.
Perbedaan di mulai, ketika mereka duduk di bangku SMA.
Bagaimana akhir persahabatan kelima anak manusia ini? Bagaimana kisah cinta mereka? akankah cita-cita kecil mereka menjadi kenyataan?
baca sampai end ya guys
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawuran
Setelah lama hibernasi, akhirnya saya melanjutkan lagi cerita ini. Mohon maaf harus menunggu lama.
Terima kasih 🙏
_______________________________________________
Seperti biasa, Angga menunggu Nisa di pintu gerbang dengan motor yang jok belakangnya agak sedikit menungging. Motor ini pemberian ayahnya Angga saat dia berhasil masuk ke SMA ini. Karena SMA ini adalah SMA favorit di daerah ini.
“Ngga, gue bareng lo, ya.” Ucap salah satu teman wanita Angga yang satu tingkat.
“Ngga, apaan sih lo, pergi pergi.” Angga mendorong gadis itu agar tak menduduki motornya.
“Pelit lo.”
“Bodo.”
Akhirnya, teman Angga tadi pergi dengan muka merengut. Sedangkan Angga tak henti-hentinya melihat jam di tangan kanannya. Sesekali ia berdecak karena Nisa tak kunjung keluar.
Tak lama kemudian, ia melihat Nisa keluar bersama teman-temannya, ada laki-laki dan perempuan.
“Bagus ya, di tungguin malah asyik cekikikan.” Ujar Angga, saat Nisa sudah berada di depannya.
Nisa tertawa melihat Angga yang sedang kesal.
“Jangan marah-marah mulu, nanti cepet tua loh. Sayang kan ganteng-ganteng kalau cepet tua.” Ledek Nisa.
“Jadi, lo ngakuin kalau gue ganteng?”
“Semua cewek di sekolah ini juga bilang kalau kamu ganteng kok.”
“Asyik.” Jawab Angga tersenyum.
“Ih narsis.” Ucap Nisa dan duduk di bangku belakang motot itu.
Angga menstarter motornya, lalu pergi.
Nisa dan Angga sesekali berbincang di motor. Namun, perjalanan mereka terhenti, karena dua orang teman Angga yang satu angakatan memberhentikan motornya.
“Ga, Stop!” Zacki dan Reza menghalau motor Angga.
“Apaan sih lo?” Tanya angga kesal.
“Anak SMA xxx nyerang kita lagi.” Kata Zacki.
“Di mana?” Tanya Angga antusias.
“Di persimpangan depan, Ga.” Jawab Reza.
“Tapi gue bawa Nisa, gue pulangin anak orang dulu.” Ucap Angga.
“Ah. Kelamaan. Anak-anak udah pada di sana.” Jawab Reza lagi.
Angga menoleh ke arah Nisa.
“Jangan berantem, Ga! Please.” Kata Nisa dengan nada lirih.
Angga menatap Nisa, lalu bergantian menatap kedua temannya.
“Bentar, Za, Ki. Gue bawa Nisa ke tempat yang aman dulu.” Angga menstarter lagi motornya, alu pergi meninggalkan Reza dan Zacki.
“Kita mau kemana?” Tanya Nisa panik.
“Ke rumah temen gue, deket sini kok.”
Tak lama kemudian, Angga menepikan motornya. Mereka masuk ke sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
“Assalamualaikum, Rahma.” Sapa Angga.
Tak lama, Rahma keluar. Dia adalah teman Angga satu kelas.
“Ma, tolong titip pacar gue.” Ucap angga dan langsung pergi meninggalkan Rahma dan Nisa yang masih berdiri di sana.
“Pacar?” Gumam Nisa, ia bertanya dalam hati, mengapa Angga menyebutnya demikian, apdahal tak pernah sekalipun pria kurus itu mengungkapkan perasaannya apda Nisa.
Rahma canggung dengan keadaan ini. Pasalanya ia tak pernah mengenal Nisa sebelumnya, karena Rahma termasuk siswi yang tidak famous dan jarang bergaul.
“Lo pacarnya Angga?” Tanya Rahma, setelah mempersilahkan Nisa masuk ke dalam rumahnya.
“Duduk.”
Nisa, duduk di ruang tamu yang tidak terlalu besar itu.
Nisa menggeleng. “Bukan kok, kita tetanggaan dan emang udah sahabatan dari kecil.”
“Oh.”
“Kamu sekelas sama Angga?” Tanya Nisa.
Rahma mengangguk.
“Angga tukan bikin ulah ya?” Tanya Nisa lagi.
“Ya, namanya juga cowok, tapi aslinya dia baik kok.” Jawab Rahma, karena hanya Angga yang mau menyapanya di sekolah. Sedangkan teman yang lainnya cuek karena Rahma merupakan anak dari tukang cuci di daerahnya.
“Iya sih.” Nisa mengangguk.
Rahma membawakan minuman dingin.
“Maaf ya Nis, Cuma ada minum doank, gue ngga punya makanan.” Ucap Rahma.
Nisa tersenyum. “Ngga apa-apa kok, kak. Maaf ya jadi ngerepotin.”
“Ngga repot kok, gue juga lagi ngga ngapa-ngapain.’
Lama Nisa menunggu Angga kembali datang. Namun, pria kurus itu tak kunjung kembali.
“Angga kok belum dateng-dateng ya, Kak?” Tanya Nisa yang semakin cemas.
“Bentar lagi kali , Nis.”
“Dia baik-baik aja kan? Gue jadi khawatir.” Kata Nisa.
“Insyaallah, baik. Natr juga dateng.”
Benar saja, tak lama kemudian suara motor Angga terdengar.
“Tuh kan orangnya nongol.” Kata Rahma, sambil melongok keluar.
Nisa berdiri dan menghampiri Angga yang masih duduk di motornya.
Terlihat beberapa motor juga mengikuti motor Angga. Mereka adalah teman-teman Angga yang kabur saat tawuran sudah di kepung polisi.
“Gila lo, hampir aja gue ketangkep kalau Angga ngga narik gue cepat.” Ucap Zacki.
“Ya. Lo b*go, udah tau bunyi sirine, masih aja mukulin si begeng.” Kata salah satu teman Angga yang lain.
“Ya udah yang penting sekarang kita aman. Udah sana pulang lo kerumah masing-masing. Dan inget jangan lewat jalur situ lagi. Lo tau itu tongkrongannya mereka. Abis lo nanti kalau jalan sendirian di situ.” Ucap Angga panjang lebar.
“Yoi.” Jawab salah satu teman Angga yang lain.
“Nis, thanks ya, gue udah pinjem cowok lo.” Teriak Zacki pada Nisa.
“Udah sekarang balikin anak orang dulu.” Kata Reza menepuk bahu Angga.
“Rese lo. Emang lo di sosor dulu anak orang, baru di pulangin.” Jawab Angga ketus.
“Lah, emang lo engga?” tanya Reza menyeringai.
“Enggak lah.” Jawab Angga.
“Engga salah lagi, Bro.” Sahut Zacki tertawa, yang sudah berada di atas motornya.
“Gue sambit lo pada.” Angga tengah menunduk dan melepas sepatunya, lalu meneggoyangkan ke atas.
“Kabuur..” Kata Reza dan Zacki bersamaan di iringi teman yang lainnya.
“Kampret dasar.” Gumam Angga.
Rahma dan Nisa saling melirik, melihat tingkah pria remaja tanggung yang seenaknya.
“Ma, makasih ya.” Ucap Angga saat Nisa memakai helmnya kembali.
“Iya, santai aja.”
“Makasih ya, kak.” Nisa pun berkata.
“Iya, Nis.’
Lalu Rahma mendekat pada Angga dan berkata, “Nisa, cewek kalem, jangan lo rusak, Ga!”
“Siapa sih yang mau rusak anak orang. lo udah ketularan Reza sama Zacki.”
Kemudian, Angga menjalankan motornya.
“Sorry ya, jadi nunggu lama.” Kata Angga pada Nisa, saat mereka berada di motor.
Nisa terdiam. Ia memang kesal dengan angga yang tak mendengarnya untuk tidak ikut-ikuta tawuran.
Angga pun ikut terdiam dan tak lagi bicara. Ia tahu saat ini Nisa sedang kesal.
Bip.
“Udah sampe tuan puteri.”
Nisa turun dari motor Angga dan memegang pundaknya sebagai sanggahan untuk turun, karena motor Angga yang lumayan tinggi.
“Makasih, lain kali kita tidak usah bareng kalau kamu ada urusan.” Nisa membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam gang rumahnya.
Namun dengan cepat, Angga mencekal lengan Nisa.
“Kamu marah?” Tanya angga lembut.
“Apa hak aku buat marah? Aku bukan pacar kamu.” Jawab Nisa.
Angga langsung melepas cekalan tangannya dan berkata, “ya, lo bener.”
Keduanya berjalan membalikkan tubuh masing-masing dengan arah berlawanan.