Elsya seorang mahasiswi cantik di salah satu kota besar di Indonesia. Dia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang menurutnya sangat menyebalkan di suatu mall saat ia dan temannya sedang menonton bioskop
Karena ia telat pulang, ia diberikan hukuman bekerja di kantor teman Papanya. Ternyata bosnya itu adalah orang yang sama dengan dosennya. Yaitu seseorang yang sangat menyebalkan bagi Elsya
Bagaimana Elsya menghadapi perilaku bos sekaligus dosennya itu? Akankah Elsya sanggup untuk bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atanade, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curhatan Elsya
Keesokan paginya, Elsya sudah bersiap untuk pergi ke kampus dengan pakaian yang lebih formal daripada biasanya. Kali ini ia memakai celana panjang dan juga kemeja. Pakaian itu juga cocok untuk dikenakan di kantor karena kemarin ia melihat, karyawan wanita di perusahaan Arlan tidak perlu memakai blazer, cukup memakai kemeja atau blouse saja
"Pagi Pa, Ma" sapa Elsya
"Eh anak Mama sudah turun. Gimana kemarin kerjanya sayang?"
"Baik baik saja. Di hari pertama, aku sudah sibuk Ma. Aku diberikan kerjaan yang lumayan banyak. Ternyata jadi asisten manager ga sesimple yang aku bayangkan. Harus mengurus keperluan Pak Arlan dari awal sampai akhir"
"Gapapa sayang. Hitung hitung latihan kalau kamu nanti sudah menikah" ujar Mama
"Arlan itu baik kan sama kamu Sya?"
"Baik apanya Pa, dia orang yang sangat menyebalkan. Bawaannya berantem terus kalau dekat dia" Elsya langsung menutup mulutnya karena ia melihat reaksi keua orangtuanya yang keheranan
"Eh tapi Pak Arlan itu bos yang melihat karyawan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan. Ia akan bertindak adil dan ga memandang yang mana yang dekat dengannya" terpaksa Elsya memuji Arlan di depan orang tuanya agar mereka tidak khawatir
"Baguslah kalau seperti itu. Setiap pimpinan memang memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Kamu harus bisa mengambil pelajaran dari Arlan. Kamu harus mengambil sisi positifnya agar kelak kamu bisa menjadi pimpinan yang baik"
"Siap Pa"
"Hari ini kamu ke kampus dulu dong?" tanya Mama
"Iya Ma. Kemarin aku sudah izin dengan Pak Arlan juga. Nanti kalau sudah selesai aku langsung ke kantor"
Setelah Elsya selesai sarapan, dia langsung menuju ke kampusnya. Elsya menyetir mobilnya dengan hati hati
"Reeniiiiii" Elsya memanggil sahabatnya
"Eh Elsya, tumben datangnya pagi banget"
"Aku soalnya nanti mau langsung ngantor Ren"
"Kamu kemarin sudah mulai kerja ya?"
"Iya Ren. Dan kamu tebak bosku itu siapa?"
"Siapa? Apa aku kenal?" tanya Reni penasaran
"Iya kamu kenal dengannya. Kita pernah bertemu dengannya diluar kampus"
"Siapa sih? Aku ko jadi penasaran"
"Dosen tamu kita yang jutek itu. Pak Arlan"
"Aaaaaaa kamu serius Sya?" Reni kaget mendengar jawaban Elsya
Elsya mengganggukan kepalanya dengan cepat. "Kamu beruntung banget setiap hari bisa melihat wajah tampannya itu"
"Beruntung apanya. Dia itu perfeksionis banget tau kalau kerja dan dia juga gila kerja"
"Bagus dong. Suatu saat kamu juga akan jadi pimpinan di perusahaan keluargamu kan"
"Huft. Sebetulnya aku ga terlalu berminat menjadi pimpinan Ren. Tapi kamu sendiri kan orang tuaku itu gimana. Mereka sangat mengharapkan aku untuk meneruskan bisnis mereka" curhat Elsya
"Kalau seperti itu sih solusinya gampang"
"Apa itu Ren?"
"Nikah saja dengan pebisnis handal seperti Pak Arlan itu. Dan minta dia untuk mengurus perusahaan keluargamu"
Elsya memukul lengan Reni. "Kamu itu ya, kalau ngomong dipikir dulu, jangan ngasal"
"Loh emang aku salahnya dimana Sya? Aku kan kasih solusi"
"Ya ga Pak Arlan juga kali Ren"
"Ya habisnya kalian berdua cocok tau. Yang satu serius, yang satunya begini"
"Apa sih Ren. Suka ngasal deh kamu itu"
"Lho kalau dia benar jodoh kamu gimana? Lagipula kamu ga ngerasa aneh apa, kalau tiba tiba kamu jadi bawahan dia"
"Ga kali. Lagian Papaku itu sengaja nitipin aku ke perusahaan sahabatnya biar aku bisa belajar banyak. Papa ga tau kalau Pak Arlan itu dosen di sini dan bermasalah sama aku"
"Tuh kan Sya. Eh jangan jangan kalian mau dijodohkan lagi?"
"Nah ini nih. Kamu itu ngaco lagi"
"Lho ngaco gimana sih Sya? Biasanya kan pengusaha itu saling menjodohkan anak anak mereka biar bisnis yang mereka bangun bisa lebih sukses lagi"
"Hei Papaku bukan orang seperti itu kali" protes Elsya
"Ya kita lihat saja nanti. Tapi kalau aku dijodohkan sama Pak Arlan aku bakalan nerima banget dan ga akan pernah menolak deh. Sudah tampan, pintar, kaya, berwibawa, hebat dalam bisnis lagi. Istilahnya nih, kalau perusahaannya dia kenapa napa, dia masih bisa mencari solusi dan meningkatkan perekonomian keluarganya lagi"
"Sudah ah sudah. Stop bahas dia. Nanti kupingnya panas lho"
"Terus kemarin kamu kerja apa aja Sya?"
"Ya macam macam. Kaya buat risalah rapat dan lainnya. Tapi kadang pas weekend aku juga diminta kerja Ren dan mengurus keperluan pribadinya"
"Hahahaha ya gapapa. Selama bisa dekat dengan pria tampan sih nikmati saja Sya. Ga rugi juga ko. Hitung hitung latihan nemenin suami kalau kamu sudah nikah"
"Sudah sudah ga usah diterusin. Aku tau arah pembicaraan kamu kemana"
Reni hanya bisa terkekeh mendengar protes yang dilayangkan Elsya. Tak lama kemudian, dosen mereka datang dan mereka fokus pada mata kuliah yang diberikan
Kring kring
"Eh siapa nih yang telpon aku ya? Ko aku ga tau no nya?" tanya Elsya
"Angkat saja Sya. Siapa tau penting"
"Iya deh. Halo"
Sya kamu sudah selesai kuliah?
"Maaf ini siapa ya?"
Arlan
"Eh sudah pak, baru saja. Ada apa pak?"
Langsung ke restaurant A ya. Ga usah ke kantor dulu. Kita mau makan siang dengan klien
"Baik pak"
"Siapa Sya?" ujar Reni
"Siapa lagi kalau bukan dosenmu itu"
"Pak Arlan? Tau darimana dia no hp kamu?"
"Entahlah. Yang jelas aku harus ke restaurant A Ren. Kalau telat nanti dia marah dan aku malas berdebat dengannya"
"Kamu diajak makan siang bareng?"
"Ga.. Mau ketemu klien"
"Oh kirain. Aku kira hubungan kalian sudah ke tahap selanjutnya"
"Apa sih Ren. Aku jalan dulu ya. Nanti dia ngamuk kalau aku masih di sini"
Elsya dan Reni segera berpisah. Elsya segera mengendarai mobilnya menuju ke restaurant A. Sekitar 30 menit kemudian dia tiba di restaurant A. Di sana Arlan dan Niko sudah sampai lebih dulu
"Siang pak" Arlan hanya menatapnya sekilas
"Siang mas" Elsya menyapa Niko
"Siang. Kamu mau pesan apa?"
"Kita mau makan siang dengan klien ya?"
"Iya tapi tiba tiba dia memundurkan jadwalnya dan meminta kita untuk datang ke kantornya setelah jam makan siang karena dia ada urusan mendadak"
"Oooh"
"Bapak sudah pesan makan? Mas Niko juga sudah?"
"Belum. Kami baru saja sampai"
"Baiklah. Bapak mau makan apa? Biar sekalian aku pesankan. Mas apa?"
"Terserah kamu aja. Saya sedang ga mood makan" jawab Arlan dengan wajah yang terlihat badmood
"Lho kenapa pak?"
"Jadwal kita jadi terhambat karena pertemuannya mundur. Dan itu merusak mood saya"
"Ah baiklah. Aku akan pesankan makanan enak untuk bapak dan mas" Elsya pun melihat lihat makanan yang ada di menu laku dia memesan beberapa makanan, tak lupa dengan dessertnya
pdhal awalnya bagus banget lo