NovelToon NovelToon
Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: HikmahToo

Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.

Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.

Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.

Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.

Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.

Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.

Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.

Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?

Takhtanya...

Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?

up rutin. 06:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raja yang kehilangan Tahta

...Ratusan tahun lalu, berdirilah sebuah kerajaan yang begitu megah hingga namanya dikenal ke seluruh penjuru dunia....

Kerajaan itu bernama Lunaventia.

Sesuai arti namanya, kerajaan tersebut berdiri di bawah cahaya bulan. Anggun, tenang, namun memiliki kekuatan yang mampu membuat kerajaan lain berpikir dua kali sebelum mengusiknya.

Selama puluhan tahun, Lunaventia dipimpin oleh seorang raja yang dihormati sekaligus ditakuti.

Raja Qhilandra Anvincet Hills.

Ia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, dan tidak pernah membiarkan kesalahan sekecil apa pun berlalu begitu saja. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup makmur dan tenteram.

Namun sebesar apa pun sebuah kerajaan, tak ada yang mampu melawan takdir.

Semua berubah ketika sang ratu tercinta, Elvaria Naresta Laviena, meninggal dunia saat melahirkan putri bungsu mereka.

Sejak hari itu, Raja Qhilandra perlahan kehilangan semangat hidupnya.

Tubuhnya semakin lemah.

Pikirannya semakin rapuh.

Hingga bertahun-tahun kemudian, kabar duka kembali mengguncang Lunaventia.

Raja Qhilandra wafat.

Kabar tersebut menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Kerajaan sahabat datang membawa belasungkawa.

Sementara kerajaan musuh mulai bersiap mengangkat senjata.

Mereka mengira Lunaventia telah kehilangan taringnya.

Mereka salah.

Karena Lunaventia masih memiliki seorang putra mahkota.

Leonard Anvincet Hills.

---

Malam itu, suasana istana dipenuhi kesedihan.

Tangisan terdengar di berbagai sudut.

Lilin-lilin duka menyala sepanjang lorong kerajaan.

Para pelayan berjalan dengan kepala tertunduk.

Bahkan angin malam terasa begitu dingin.

Di tengah kesunyian itu, seorang pemuda berdiri seorang diri di tepi kolam teratai.

Rambut cokelat keemasannya bergerak pelan tertiup angin.

Tatapannya kosong.

Dingin.

Seolah seluruh warna dalam hidupnya ikut terkubur bersama sang ayah.

Leonard mengepalkan tangannya erat.

Ia masih ingat hari ketika ibunya meninggal.

Dan kini...

Ayahnya juga pergi meninggalkannya.

Dulu, ketika ibunya wafat, masih ada ayahnya yang menjadi tempat bersandar.

Sekarang?

Ia benar-benar sendiri.

"Yang Mulia Putra Mahkota."

Suara seseorang membuat Leonard menoleh.

Seorang prajurit berlutut hormat di belakangnya.

"Ada apa?"

"Ibu Suri memanggil Yang Mulia."

Leonard mengangguk pelan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meninggalkan taman dan berjalan menuju kediaman neneknya.

---

Pintu besar kediaman permaisuri terbuka perlahan.

Leonard membungkuk hormat.

"Hormat, Yang Mulia Ibu Suri."

Wanita tua itu tersenyum lembut.

Namun Leonard dapat melihat kelelahan yang tersembunyi di balik matanya.

Duka kehilangan putra tercinta jelas belum hilang.

"Duduklah, Leonard."

Leonard menurut.

Beberapa saat, ruangan itu dipenuhi keheningan.

Hingga akhirnya sang permaisuri berbicara.

"Kau tahu alasan aku memanggilmu?"

Leonard menggeleng pelan.

"Kerajaan membutuhkan seorang raja."

Tatapan Leonard langsung menunduk.

Ia sudah menduga pembicaraan ini akan datang.

Cepat atau lambat.

Ia harus naik takhta.

Di usianya yang masih muda.

"Kau adalah pewaris Lunaventia."

Lanjut sang permaisuri.

"Jika penobatanmu ditunda terlalu lama, musuh akan menganggap kita lemah."

Leonard terdiam.

"Dan saat kerajaan terlihat lemah, mereka akan menyerang."

Pemuda itu mengembuskan napas berat.

"Aku mengerti."

"Tidak."

Permaisuri menggeleng.

"Kau belum mengerti."

Wanita tua itu menggenggam tangan cucunya.

"Mulai hari ini, kau tidak lagi hidup untuk dirimu sendiri."

"Kau hidup untuk rakyatmu."

Kalimat itu terasa begitu berat.

Sangat berat.

Namun Leonard hanya mengangguk.

Karena ia tahu.

Ia tidak memiliki pilihan lain.

---

Malam penobatan akhirnya tiba.

Istana yang sejak pagi dipenuhi suasana duka kini berubah menjadi lautan cahaya.

Bendera kerajaan berkibar di setiap sudut.

Para bangsawan memenuhi aula utama.

Prajurit kerajaan berdiri berjajar dengan gagah.

Semua mata tertuju pada satu orang.

Leonard.

Di dalam kamarnya, pemuda itu menatap pakaian kebesaran kerajaan yang dibawa oleh pelayan kepercayaannya.

Arya.

"Yang Mulia."

Arya menundukkan kepala.

"Pakaian penobatan telah disiapkan."

Leonard memandangi jubah tersebut.

Benang emas menghiasi seluruh bagian pakaian.

Lambang kerajaan terukir megah di bagian dada.

Dulu.

Pakaian itu pernah dikenakan oleh ayahnya.

Dan malam ini...

Giliran dirinya.

Untuk pertama kalinya, Leonard merasakan ketakutan.

Bukan takut berperang.

Bukan takut mati.

Melainkan takut gagal.

Takut tidak mampu menjadi pemimpin seperti ayahnya.

"Ayah..."

Gumamnya lirih.

Namun tak ada jawaban.

Hanya keheningan.

---

Prosesi penobatan berlangsung khidmat.

Seluruh aula dipenuhi sorakan ketika Leonard melangkah menuju singgasana.

Mahkota kerajaan dibawa oleh para penjaga istana.

Berat.

Megah.

Dan menjadi simbol kekuasaan tertinggi Lunaventia.

Ketika mahkota itu dipasangkan di atas kepalanya, Leonard perlahan memejamkan mata.

Saat itulah ia menyadari satu hal.

Yang terasa berat bukanlah mahkotanya.

Melainkan tanggung jawab yang menyertainya.

"HIDUP RAJA LEONARD!"

"HIDUP!"

"HIDUP RAJA LEONARD!"

"HIDUP!"

Sorakan menggema memenuhi aula.

Namun di balik senyumnya yang tipis, hati Leonard terasa kosong.

Karena orang yang paling ingin ia lihat saat ini tidak ada di sana.

Ayahnya.

---

Penobatan baru saja selesai ketika suara gaduh tiba-tiba terdengar dari luar ruang kerja kerajaan.

BRAK!

Pintu terbuka keras.

Seorang prajurit jatuh tersungkur ke lantai.

Darah mengalir dari luka tusuk di perutnya.

Leonard langsung berdiri.

Semua orang terkejut.

"Siapa yang melakukan ini?!"

Prajurit itu berusaha berbicara.

Namun darah terus keluar dari mulutnya.

"Ar..."

Napasnya tersengal.

"Arden..."

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya terkulai tak bergerak.

Mati.

Leonard mengepalkan tangannya.

Ardentia.

Musuh mereka.

Mereka menyerang secepat ini.

Leonard langsung melangkah menuju pintu.

Namun seseorang menahan pundaknya.

Dhapne.

Adik perempuannya.

"Kau mau ke mana?"

"Ke medan perang."

"Kau sudah menjadi raja."

Leonard terdiam.

"Kau tidak bisa lagi bertindak sesukamu."

Dhapne menatapnya serius.

"Kesalahan kecil seorang raja bisa menghancurkan seluruh kerajaan."

Kalimat itu membuat langkah Leonard terhenti.

Benar.

Ia bukan lagi seorang ksatria.

Ia seorang raja.

Dan untuk pertama kalinya...

Leonard membenci mahkota yang berada di kepalanya.

---

Alih-alih menghadiri rapat perang, Leonard justru berjalan menuju ruang kerja mendiang ayahnya.

Ruangan itu masih sama.

Meja kerja yang rapi.

Rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Aroma kayu tua yang begitu familiar.

Semuanya terasa seperti milik Qhilandra.

Dan hal itu menghancurkan sisa pertahanan Leonard.

Ia terduduk lemas.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya...

Ia menangis.

Bukan sebagai raja.

Bukan sebagai putra mahkota.

Melainkan sebagai seorang anak yang kehilangan tempat pulang.

"Kenapa harus Ayah?"

Bisiknya lirih.

Matanya kemudian tertuju pada lukisan besar kedua orang tuanya yang tergantung di dekat jendela.

Leonard bangkit perlahan.

Ia berjalan mendekat.

Mengusap bingkai lukisan tersebut.

Namun...

Jarinya menyentuh sesuatu.

Sebuah tonjolan kecil.

Leonard mengernyit.

Lalu menekannya perlahan.

GGRRRR...

Suara gemuruh terdengar.

Rak buku di belakang meja tiba-tiba bergeser.

Membuka sebuah ruangan rahasia yang selama ini tersembunyi.

Leonard membeku.

Perlahan ia melangkah masuk.

Dan di sana...

Berdiri sebuah cermin raksasa.

Tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan.

Leonard mendekat.

Lalu mengernyit.

Karena cermin itu tidak memantulkan bayangannya.

Yang terlihat hanyalah sebuah ruangan kosong.

Seolah itu bukan cermin.

Melainkan jendela menuju tempat lain.

Napas Leonard mulai memburu.

Ia mengambil sebuah buku dari rak terdekat.

Kemudian mengarahkannya ke depan cermin.

Dan...

Buku itu menghilang.

Leonard refleks melepaskannya.

"Apa ini...?"

Tiba-tiba permukaan cermin berubah.

Lingkaran hitam muncul di tengahnya.

Berputar.

Semakin besar.

Semakin cepat.

Angin dahsyat memenuhi ruangan.

Kertas-kertas beterbangan.

Kursi-kursi bergeser.

Leonard mencoba mundur.

Wajahnya shock.

Namun tubuhnya justru terseret mendekati cermin.

"Tidak!"

Ia mencengkeram kaki meja sekuat tenaga.

Namun kekuatan itu terlalu besar.

Terlalu kuat.

Tubuhnya terus bergerak.

Sedikit demi sedikit.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

BUK!

Sebuah benda menghantam kepalanya.

Pandangan Leonard langsung berkunang-kunang.

Pegangannya terlepas.

Dan dalam hitungan detik—

Tubuhnya terhisap ke dalam cermin.

Gelap.

Tubuhnya seperti terhempas dari ketinggian.

Leonard bangkit dengan susah payah.

Menatap sekeliling.

Hanya kegelapan yang menyambutnya.

Nafasnya memburu.

Leonard berlari.

Tanpa arah.

Tanpa tujuan.

Di sekelilingnya hanya ada kehampaan hitam tak berujung.

Ia mencoba berteriak.

Tak ada jawaban.

Tak ada suara.

Tak ada siapa-siapa.

Ia meraba kepalanya.

Mahkotanya hilang.

Kemudian...

Sebuah cahaya putih muncul di kejauhan.

Awalnya kecil.

Namun perlahan membesar.

Semakin besar.

Semakin dekat.

Tubuh Leonard kembali terseret menuju cahaya itu.

Ia berusaha melawan.

Berusaha berlari.

Namun seolah langkahnya tidak pernah bergerak.

Cahaya tersebut terus mendekat.

Mendekat.

Dan mendekat.

Hingga akhirnya menelan seluruh pandangannya.

Leonard merasa dadanya sesak.

Sangat sesak.

Seolah ada sesuatu yang menghimpitnya dari segala arah.

Kesadarannya mulai memudar.

Perlahan.

Dan sebelum semuanya berubah menjadi gelap...

Satu pertanyaan terakhir terlintas di benaknya.

'Di mana aku...?'

Lalu semuanya menghilang.

Bersambung...

1
gendiz
semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya
HikmahToo: iya kak✨ makasih udah mampir
total 1 replies
MayAyunda
mampir tor
HikmahToo: makasih kak🙏😍
total 1 replies
HikmahToo
guys jangan lupa kasih bintang nya ya, maacih
MayAyunda
lanjut kak
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
semangat buat penulis 💚
HikmahToo: makasih ka✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!