Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja yang kehilangan Tahta
Ratusan tahun lalu, Kerajaan Lunaventia berdiri megah di bawah cahaya bulan—sesuai arti namanya. Anggun, tenang, namun kuat.
Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang disegani seluruh dunia. Raja yang bijaksana, adil, rendah hati, dan tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup makmur dan damai.
Namanya adalah Raja Qhilandra Anvincet Hills.
Tak hanya dicintai rakyat, ia juga menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Pertahanan militer Lunaventia begitu kuat, terlebih karena dua panglima perang terhebat kerajaan adalah putra-putranya sendiri, dua ksatria yang rela mati demi tanah kelahirannya.
Namun semuanya berubah setelah kepergian sang ratu tercinta.
Ratu Elvaria Naresta Laviena meninggal dunia setelah melahirkan putri ketiga mereka, Arselia Naresta Laviena.
Sejak saat itu, Raja Qhilandra perlahan kehilangan semangat hidupnya. Waktu terus berjalan, tetapi kondisinya semakin melemah. Dan kelemahan itu menjadi kesempatan emas bagi kerajaan-kerajaan musuh untuk menyerang Lunaventia.
Terutama Kerajaan Ardentia.
Musuh bebuyutan yang dipimpin oleh Raja Malvise Cexandria Pandora dan panglima kepercayaannya, Acarya Sukhya Charta.
Ardentia berkali-kali mencoba menaklukkan Lunaventia, namun selalu pulang membawa kekalahan.
Dan ketika kabar kematian Raja Qhilandra menyebar ke seluruh penjuru dunia, Ardentia semakin gencar menyerang.
Mereka mengira Lunaventia telah runtuh.
Mereka salah.
---
Hari kematian Raja Qhilandra dipenuhi lautan duka.
Kerajaan-kerajaan sahabat datang memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan kedamaian.
Di tengah malam yang sunyi, Leonard Anvincet Hills berdiri mematung di tepi kolam teratai istana.
Pantulan cahaya bulan menari di permukaan air, tetapi tatapan pemuda itu tetap dingin dan kosong.
Siapa pun yang melihatnya tahu—
Putra mahkota Lunaventia sedang terluka begitu dalam.
Setelah kehilangan ibundanya, kini ayahandanya juga pergi meninggalkannya seorang diri.
Tangannya terkepal erat di belakang punggung.
Ia sadar.
Cepat atau lambat, dirinya harus naik takhta.
Menjadi raja di usia muda.
Memikul seluruh tanggung jawab kerajaan tanpa lagi ditemani kedua orang tuanya.
Leonard menarik napas panjang.
Ia akan menjaga Lunaventia tetap berdiri, apa pun yang terjadi.
Dengan atau tanpa mereka.
“Hormat, Yang Mulia Putra Mahkota.”
Seorang prajurit datang menghampiri lalu berlutut hormat.
Leonard hanya melirik sekilas.
“Yang Mulia Ibu Suri memanggil Anda ke kediamannya.”
Tanpa berkata apa-apa, Leonard berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.
---
Prajurit penjaga segera membuka pintu kediaman permaisuri ketika Leonard tiba.
Pemuda itu melangkah masuk dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Hormat, Yang Mulia Ibu Suri.”
Wanita tua itu menepuk kursi di sampingnya, meminta Leonard duduk.
Wajah sang permaisuri tampak lelah. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya, tetapi senyuman lembut masih menghiasi bibirnya.
“Kau tahu,” ucapnya pelan, “jika penobatanmu ditunda lebih lama, pertahanan kerajaan akan melemah.”
Leonard diam mendengarkan.
“Musuh di luar istana sudah bergerak. Dan musuh di dalam istana hanya menunggu kesempatan.”
Leonard mengembuskan napas berat.
Sang permaisuri menepuk punggung cucunya lembut.
“Aku tahu ini berat untukmu. Tetapi setelah kepergian ayahmu… semua ini menjadi tanggung jawabmu sekarang.”
Tatapan Leonard sedikit menunduk.
“Kami semua akan mendukungmu.”
---
Malam penobatan pun tiba.
Seluruh istana dihiasi cahaya lampu dan ornamen mewah. Bendera kerajaan berkibar megah di sepanjang aula utama.
Para bangsawan, petinggi kerajaan, hingga panglima perang memenuhi area penobatan.
Namun di tengah kemeriahan itu, Leonard hanya merasakan kehampaan.
Di dalam kamarnya, ia menatap pakaian kebesaran kerajaan yang dibawakan pelayan setianya, Arya.
Jubah emas dengan bordir benang kerajaan.
Pakaian kebanggaan milik ayahnya.
Pakaian yang dulu dikenakan Raja Qhilandra saat pertama kali naik takhta.
“Ini pakaian Yang Mulia,” ujar Arya pelan.
Leonard menatapnya lama.
Itu bukan sekadar pakaian.
Melainkan simbol beban yang akan dipikulnya mulai malam ini.
Ia memejamkan mata sebelum akhirnya mengambil pakaian tersebut.
---
Ritual penobatan berlangsung khidmat.
Saat mahkota kerajaan dipasangkan di atas kepalanya, Leonard menutup mata perlahan.
Mahkota itu terasa berat.
Terlalu berat.
Bukan karena emas dan permata yang menghiasinya…
Tetapi karena tanggung jawab yang menyertainya.
“HIDUP YANG MULIA RAJA LEONARD!”
“HIDUP!”
“HIDUP RAJA LEONARD!”
“HIDUP!”
Sorakan menggema memenuhi aula kerajaan.
Di sisi kirinya, Daphne Anvincet Hills menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan selalu mendukungmu, Kak…”
Sementara di sisi kanan Leonard, Arselia kecil menatap kakaknya dengan binar kagum.
Gadis berusia enam tahun itu selalu ingin dekat dengannya.
Namun Leonard terlalu dingin untuk didekati.
---
Acara penobatan baru saja selesai ketika pintu ruang kerja kerajaan tiba-tiba terbuka keras.
BRAK!
Seorang prajurit jatuh tersungkur dengan luka tusuk di perutnya.
Leonard langsung berdiri. Menatap prajurit itu tajam.
“Siapa yang melakukan ini?”
Prajurit itu berusaha bicara dengan napas tersengal.
“Ar… den…”
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ia mengembuskan napas terakhir.
Tatapan Leonard berubah tajam. Dia mengepalkan tangannya, menatap jendela dengan tatapan menusuk.
Ardentia.
Mereka menyerang secepat ini.
Leonard langsung berjalan keluar, tetapi Daphne menahannya.
“Kau mau ke mana?”
“Berperang.”
Daphne memegang pundaknya kuat-kuat.
“Kau seorang raja sekarang!”
Leonard terdiam.
“Kau tidak bisa lagi bertindak sesukamu. Kesalahan kecil seorang raja bisa menghancurkan seluruh kerajaan.”
Kalimat itu membuat Leonard membeku.
Benar.
Dirinya bukan lagi seorang ksatria biasa.
Sekarang ia adalah Raja Lunaventia.
Dan kenyataan itu terasa seperti rantai yang mengikat dirinya.
Karena sejak awal…
Menjadi raja bukanlah impiannya.
---
Alih-alih menghadiri rapat perang, Leonard justru masuk ke ruang kerja mendiang ayahnya.
Ruangan itu masih sama.
Meja kerja.
Rak buku.
Aroma kayu dan kertas lama.
Semua masih terasa seperti milik Qhilandra.
Dan itu membuat pertahanan Leonard runtuh sepenuhnya.
Ia menangis.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raja muda itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat pulang.
Ia marah pada takdir.
Kenapa ayahnya?
Kenapa bukan dirinya?
Apa tuhan sedang menghukumnya?
Tatapannya lalu berhenti pada lukisan kedua orang tuanya yang tergantung rapi di dekat jendela,
Leonard mendekati lukisan itu, menatapnya lama, dia mengusap bingkai foto itu pelan.
Namun saat jemarinya menyentuh bagian kiri bawah bingkai, ia merasakan sesuatu yang aneh.
Sebuah tombol kecil.
Leonard mengerutkan dahinya, menekannya perlahan.
GGRRRR…
Rak buku di belakang meja kerja tiba-tiba bergeser.
Membuka sebuah ruangan rahasia.
Dan di sana…
Berdiri sebuah cermin besar setinggi tubuh manusia.
Leonard mengernyit bingung.
Ia mendekat perlahan.
Namun sesuatu membuat tubuhnya membeku.
Cermin itu tidak memantulkan dirinya.
Seolah itu bukan seperti cermin, melainkan seperti lukisan ruangan kosong biasa.
Tapi itu terlalu jelas untuk sebuah lukisan, Yang terlihat hanya ruangan kosong di belakangnya.
Napas Leonard mulai memburu.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuah buku lalu mengarahkannya ke depan cermin.
Dan buku itu tampak melayang sendiri.
Leonard refleks melempar buku tersebut.
“Apa ini…?”
Tiba-tiba, lingkaran hitam muncul di permukaan cermin.
Angin besar berputar memenuhi ruangan.
Barang-barang mulai beterbangan.
Tubuh Leonard terseret mendekati cermin.
Ia mencengkeram kaki kursi sekuat tenaga.
“Tolong!”
Namun suaranya tenggelam oleh suara angin yang memekakkan telinga.
Leonard berusaha merangkak menjauh.
Tetapi—
BUK!
Sebuah benda menghantam kepalanya keras.
Pandangan Leonard berkunang-kunang.
Dan dalam hitungan detik,
Tubuhnya terhisap masuk ke dalam cermin.
Gelap.
Hanya itu yang bisa ia lihat.
Dia memegangi kepalanya yang pusing, dia bangkit.
Leonard berlari tanpa arah di tengah kehampaan hitam yang tak berujung.
Ia mencoba berteriak.
Tak ada jawaban.
Tak ada siapa-siapa.
Ia meraba kepalanya.
Mahkotanya hilang.
Tiba-tiba, cahaya putih menyilaukan muncul di hadapannya.
Tubuh Leonard kembali terseret paksa menuju cahaya itu.
Dia berusaha berlari, namu seolah langkahnya tidak pernah bergerak karena, cahaya itu semakin besar.
Dan sebelum semuanya menghilang
Ia merasa dirinya terjatuh ke dalam kekosongan yang lebih dalam.
Leonard merasa sesak yang luar biasa di dadanya.
Seolah ada batu besar yang menindih, membuatnya hilang kesadaran sepenuhnya.
Bersambung…
main2 ke krya lu juga ya kalen🙏
klo nnti smpai rmh joddy mnta ajarin pke hp buat komunikasi, ajarin google map juga sama belajar mengenal dunia modern biar cpt adaptasi , untung leon bsa beladiri