Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Pertolongan Kael
Suasana ruang medis kampus Universitas Nusantara biasanya hening, hanya beraroma cairan antiseptik dan debu yang beterbangan. Namun hari ini, ruang itu menjadi saksi bisu kecanggungan yang luar biasa. Naura duduk di tepi tempat tidur lipat, kakinya yang telah diperban tampak kontras dengan lantai keramik putih.
Di sebelahnya, Kaelith—si Ketua BEM yang masih mengenakan almamater—sedang berdiri bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Ia tidak langsung pergi. Ia justru mengamati pergerakan Naura dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Lo nggak ada kerjaan lain, ya?" Naura memecah keheningan, suaranya terdengar lebih ketus dari yang ia maksudkan. Ia masih merasa kesal karena harus berhutang budi pada pria yang—menurutnya—penyebab kekacauan hari ini.
Kaelith tertawa pelan, suara baritonnya bergema di ruang sempit itu. "Ada. Banyak banget malah. Rapat koordinasi, revisi proposal, sampai menghadapi dosen killer. Tapi, sebagai orang yang baru aja menyelamatkan nyawa seorang reporter ceroboh, rasanya nggak sopan kalau gue langsung ninggalin pasien begitu aja."
Naura mendengus. "Gue nggak ceroboh. Tadi itu situasinya force majeure. Massa yang dorong-dorongan, bukan salah gue kalau gue kesenggol."
"Oh, jadi sekarang nyalahin massa?" Kaelith melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Naura. "Reporter pro itu harusnya tahu kapan harus ambil angle foto dan kapan harus menjauh dari kerumunan. Lo tadi terlalu ambisius buat dapet foto gue, kan?"
Muka Naura memerah. Ia ingin menyanggah, tapi Kaelith ada benarnya. Ia memang terlalu fokus mengejar angle terbaik saat Kaelith naik ke atas mobil komando.
"Terserah lo mau bilang apa," ujar Naura sambil mencoba turun dari tempat tidur. Begitu kakinya menyentuh lantai, rasa nyut-nyutan langsung menyerang. Ia terhuyung ke depan.
Dalam sepersekian detik, tangan Kaelith sudah melingkar di pinggangnya, menahan tubuh Naura agar tidak mencium lantai. Jarak mereka menjadi sangat dekat. Naura bisa mencium aroma parfum maskulin dari tubuh pria itu, samar-samar bercampur dengan keringat tipis di pelipisnya.
"Bilang aja kalau mau minta digendong, jangan pakai cara jatuh segala," bisik Kaelith, matanya menatap lekat ke arah mata Naura. Ada kilatan jahil yang membuat Naura salah tingkah.
Naura segera mendorong dada Kaelith, menjauhkan diri secepat mungkin. "Gue nggak minta digendong! Bisa lepas nggak?"
Kaelith melepas rangkulannya sambil mengangkat kedua tangan, ekspresinya tampak seperti tidak bersalah. "Oke, oke. Santai, Mbak Reporter. Gue cuma membantu."
Tiba-tiba pintu ruang medis terbuka. Alyssa, rekan kerja Naura, muncul dengan wajah panik yang berubah menjadi lega saat melihat Naura. "Nau! Ya ampun, gue denger lo dibawa ke sini sama anak BEM? Lo nggak apa-apa?"
Alyssa menghambur ke arah Naura, mengabaikan kehadiran Kaelith yang kini berdiri dengan santai di sudut ruangan.
"Gue nggak apa-apa, Al. Cuma terkilir dikit," jawab Naura berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Alyssa menoleh ke arah Kaelith, matanya menyipit. "Oh, jadi lo kan Ketua BEM-nya? Makasih ya udah nolongin Naura, tapi lain kali demo jangan rusuh-rusuh amat. Gara-gara kalian, rekan kerja gue jadi korban."
Kaelith hanya tersenyum tipis—jenis senyum yang menurut Naura sangat menyebalkan. "Maaf soal itu. Memang kondisi di lapangan tadi agak di luar kendali. Tapi tenang aja, Naura ada di tangan yang tepat kok."
Naura menatap Kaelith tajam. Tangan yang tepat? Kalimat itu terdengar seperti sebuah klaim, dan Naura tidak menyukainya.
"Ayo, Al, kita balik ke kantor," ajak Naura, berusaha mengabaikan Kaelith.
"Eh, mau balik gimana? Kaki lo aja masih bengkak gitu," sahut Alyssa. "Lagian, lo masih harus lapor ke redaksi soal hasil liputan tadi."
"Gue bisa jalan pelan-pelan," kata Naura keras kepala.
"Nggak usah sok kuat," sela Kaelith. Ia berjalan menuju pintu dan memanggil seseorang di koridor. "Arven! Tolong ambilkan kursi roda di gudang medis, ya!"
"Gue bilang nggak perlu!" teriak Naura.
Kaelith berbalik, menatap Naura dengan tatapan intens yang membuat gadis itu terdiam. "Denger ya. Lo reporter, kaki lo aset. Kalau lo paksain jalan sekarang, bisa makin parah. Lo mau gue yang gendong sampai parkiran, atau mau naik kursi roda dengan tenang?"
Naura terdiam. Pilihan Kaelith sangat menjengkelkan, tapi masuk akal. Ia mendesis pelan, lalu melipat tangan di dada. "Lo emang hobinya ngatur orang, ya?"
"Cuma orang-orang tertentu yang bikin gue tertarik buat diatur," jawab Kaelith enteng. Ia kembali menatap Naura dengan senyum miring yang khas.
Beberapa menit kemudian, Arven datang membawa kursi roda. Kaelith dengan cekatan membantu Naura duduk, lalu mendorongnya keluar dari ruang medis menuju parkiran. Sepanjang koridor, banyak mahasiswa yang menoleh ke arah mereka. Beberapa berbisik-bisik, mungkin bertanya-tanya mengapa Ketua BEM yang populer itu sedang mendorong seorang reporter.
"Lo jadi tontonan satu kampus gara-gara ini," gumam Naura sambil menutupi wajahnya dengan tas.
"Biarin. Sekali-kali orang tahu kalau Ketua BEM juga bisa jadi gentleman," balas Kaelith santai.
Sesampainya di mobil Naura yang terparkir, Kaelith membantu Naura masuk. Saat Kaelith menutup pintu mobil, ia membungkuk sedikit ke arah jendela yang terbuka.
"Besok-besok, kalau mau ketemu gue, nggak usah pakai aksi drama demo dulu. Cukup telepon aja, nanti gue yang samperin," ucap Kaelith sebelum akhirnya ia menjauh dari mobil.
Naura mematung di dalam mobil. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ia menatap kepergian Kaelith lewat kaca spion. "Berondong kurang ajar," umpatnya dalam hati, meski sudut bibirnya tanpa sadar tertarik membentuk senyuman tipis yang ia sendiri tidak mengerti alasannya.
"Nau, lo kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Alyssa yang sudah duduk di kursi pengemudi.
"Siapa yang senyum? Gue cuma... cuma kesel sama tuh anak!" bantah Naura cepat, berusaha menghilangkan raut wajahnya yang tampak mencurigakan.
Alyssa tertawa. "Kesel atau naksir? Lagian, tadi dia kayaknya perhatian banget sama lo. Jarang-jarang lho, Ketua BEM yang sok dingin itu ngurusin orang sampe segitunya."
Naura tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya ke jendela, membiarkan pikirannya berputar pada sosok Kaelith. Kaelith Atharrazka. Namanya sudah terukir di benaknya, bukan lagi sebagai narasumber berita, melainkan sebagai sosok yang mulai mengusik ketenangannya.
Di sisi lain, di pelataran kampus, Kaelith berdiri memperhatikan mobil Naura yang perlahan meninggalkan area parkir. Ia mengeluarkan ponsel, lalu mengetik pesan singkat.
"Ternyata Mbak Reporter itu lucu juga kalau lagi marah."
Ia tidak mengirimkannya, hanya sekadar mengetik lalu menghapusnya kembali. Kaelith tersenyum, lalu berbalik menuju ruang BEM. Hari ini demo mungkin berantakan, tapi ia merasa hari ini adalah awal dari sesuatu yang sangat menarik.
"Gue bakal bikin lo sering-sering ketemu gue, Naura," gumamnya pelan, lalu melangkah pergi dengan aura percaya diri yang membuat siapa pun yang berpapasan dengannya menoleh dua kali.
Tugas liputan Naura mungkin sudah selesai untuk hari ini, tapi bagi Kaelith, permainan baru saja dimulai. Ia bukan hanya ketua BEM yang ambisius; ia adalah pemburu yang sudah menemukan targetnya. Dan Naura, tanpa ia sadari, baru saja melangkah masuk ke dalam jebakan yang Kaelith pasang dengan penuh pesona.
Malam itu, di kamar kostnya, Naura masih memikirkan pergelangan kakinya yang kini sudah terbalut perban rapi. Ia menatap catatan liputannya, namun fokusnya tetap pada bayangan wajah Kaelith yang tadi menatapnya dengan tatapan "sok tahu" itu.
"Kenapa gue harus ketemu cowok kayak dia?" gumam Naura pada diri sendiri.
Di luar, hujan turun rintik-rintik, menemani malam yang terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi Naura, ini bukan sekadar cedera kaki, ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya. Dan ia tahu, sekali ia terjebak, akan sangat sulit untuk keluar dari pengaruh Kaelith Atharrazka.
Tapi mungkin, jauh di lubuk hatinya, Naura tidak ingin benar-benar keluar. Ia justru ingin melihat seberapa jauh Kaelith akan bertindak. Berondong BEM itu memang menyebalkan, tapi ia adalah satu-satunya orang yang mampu membuat seorang reporter tangguh seperti Naura merasa... berbeda.
"Oke, Kaelith. Mari kita lihat apa lagi yang bisa lo lakuin," tantang Naura dalam hati sebelum akhirnya ia memejamkan mata, membiarkan kantuk menjemputnya dalam mimpi yang dihiasi oleh bayangan ketua BEM yang angkuh itu.