NovelToon NovelToon
Married With Dosen

Married With Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen
Popularitas:214k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rosyda19

Ini kisah tentang mahasiswi yang menikah dengan dosen di kampusnya. dosen muda dan tampan tetapi memiliki sikap dingin sekaligus menyebalkan dan sialnya Hamra, nama mahasiswi tersebut, menyukai dosen itu.
Dosen baru yang tanpa permisi telah mengobrak-abrik hati dan pikiran Hamra.
Banyak hal yang tak terduga terjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosyda19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Kumandang azan subuh membangunkan putri tidur yang tak lain adalah Hamra dengan nyaawa yang belum terkumpul sepenuhnya Hamra melangkah menuju kamar mandi untuk wudu. Setelah wudu Hamra tampak lebih segar.

Hamra menuruni tangga untuk menuju mushola yang ada di rumahnya, setiap subuh jika Hamra ada di rumah, Hamra selalu salat berjamaah dengan sang bunda, sedangkan para lelaki salat berjamaah di masjid. Selesai salat di lanjut dengan murojaah hafalan.

"Ca, gimana hubungan kamu sama dosen kamu yang ajak kamu taaruf  itu?" tanya Bunda Hamra tiba-tiba saat Hamra baru saja menyelesaikan murajaahnya.

"Ih... bunda kok tiba-tiba nanya gitu?"

"Ya bunda cuma penasaran. Apa dia serius sama anak gadis bunda satu-satunya ini," ujar Bunda Hamra sembari mencubit gemas hidung Hamra.

"Bunda mah Ica sama Pak Arka baru kemarin taarufnya sama langsung khitbah aja," ujar hamra dengan pipi yang sudah memerah.

"Siapa yang tahu Ica, bisa aja minggu depan dosen kamu itu khitbah kamu," ujar Bunda Hamra yang membuat pipi Hamra bertambah merah.

"Ternyata putri kecil bunda udah besar ya, udah ada yang ajak taaruf, kayaknya sebentar lagi bakal nikah," sambung Bunda Hamra sambil memandang sendu Hamra dan membuat suasana menjadi haru.

"Nanti kalau udah jadi istri harus nurut sama suami ya, jangan suka ngebantah, jangan  pernah meninggikan suara kepada  suami, kemana-mana harus izin dulu meskipun itu ke rumah ini, ya Ca," nasihat bunda sambil mengelus puncak kepala Hamra yang tertutup mukena.

"Walau Ica udah jadi istri tapi Ica bakal tetep jadi putri kecil bunda," ucap Hamra sembari berhambur kepelukan sang bunda.

"Ada yang pelukan gak ajak-ajak nih," ucap seseorang yang tak lain adalah Devan, yang membuat acara haru antara bunda dan Hamra hancur seketika.

"Ih... abang ganggu aja," rajut Hamra sembari melepas pelukannya.

"Abang juga pengen di peluk bunda," ujar Devan sambil memeluk sang bunda. Sedangkan yang diperebutkan hanya terkekeh melihat kedua anaknya yang suka sekali cek cok, tapi begitulah mereka menunjukkan rasa sayang.

"Udah ah Ica mau mandi," ujar Hamra sembari melenggang keluar mushola menuju kamarnya.

***

Zara

Udah siap belum, Ra?

Me

Udah, yuk berangkat sekarang

Zara

Oke tunggu

Hamra mengambil tas laptop dan sling bagnya. Tak lama terdengar suara klakson motor Zara. Hamra segera pamit kepada sang bunda dan langsung berangkat menuju kafe.

Butuh 15 menit mereka sampai di kafe milik Devan. Sebenarnya Devan tadi mengajaknya berangkat bersama tetapi Hamra menolak karena ia akan datang siang, sedangkan Devan harus berangkat pagi.

"Mau duduk dimana?" tanya Zara karena melihat suasana kafe yang ramai padahal hari masih siang, yang biasanya kafe akan ramai menjelang malam.

"Di pojok sana aja, udah aku booking tadi ke Bang Devan, disana juga koneksi wifinya mantap," jawab HAmra sambil menunjuk bangku yang kosong.

Setelah memesan mereka langsung membuka laptop masing-masing dan mulai masuk kedalam dunia novel yang mereka buat.

Devan keluar dari ruangannya untuk berjalan-jalan sebentar. Namun, niatnya berubah ketika melihat siapa yang bersama adiknya, kebetulan pegawainya akan mengantar pesanan ke meja Hamra dengan segera Devan meminta agar dia saja yang mengantar. Walau dengan sedikit tidak enak karena bosnya yang mengantar pesanan pegawai tersebut memberikan nampan yang berisi pesanan Hamra dan Zara

"Ini pesanannya, selamat menikmati," ujar Devan sembari menaruh pesanan tersebut di atas meja. Hamra yang merasa kenal dengan suara itu langsung mendongkak dan ternyata dugaannya benar bahwa itu Devan, kakaknya.

Sedangkan reaksi berbeda dengan Zara, ia diam mematung, tidaktahu harus melakukan apa, pasalnya sang pujaan hati kini ada di hadapannya, ia memilih izin ke kamar mandi.

"Ra, aku ke toilet dulu sebentar." Setelah mengucapkan itu Zara berlari menuju toilet sampai ia hampir menabrak pelayan disana.

"Abang si ah... temen Ica jadi kaburkan," omel Hamra.

"Kenapa harus kabur coba? Emang abang serem?"

"Iya abang serem, udah ah sana ganggu Ica lagi berkhayal," usir Hamra, sekilas Hamra menyesal mengajak Zara untuk ke kafe ini.

"Ya udah abang mau jalan-jalan dulu, bye."

"Kerja bang buka malah jalan-jalan," teriak Hamra yang malah diabaikan oleh Devan dan membuat Hamra malu.

Tak lama dari Devan keluar Zara kembali dari toilet.

"Katanya mau ketemu tapi pas ada malah kabur," sindir Hamra ketika Zara baru saja duduk di hadapannya.

"Malu aku Ra, gak tahu harus gimana," jelas Zara.

"Yah gimana kalian mau deket kalau gitu," ucap Hamra lesu.

"Untuk sekarang biar aku suka diem-diem dulu aja," ucap Zara.

"Yaudah kita makan dulu, nanti lanjut nulis lagi," lerai Hamra.

Tak terasa sudah dua jam mereka duduk di kafe Hamra yang merasa jenuh pun mengajak Zara untuk pergi ke Mall, dengan semangat 45 Zara mengiyakan ajakan Hamra.

Hamra menghampiri kasir dan memberitahukan bahwa yang akan membayar pesanannya adalah Devan. Tetapi kasir tersebut tidak percaya begitu saja, memang hampir semua tidak mengetahui bahwa Hamra adalah adik dari pemilik kafe tersebut, hingga terjadilah adu mulut antara Hamra dan sang kasir.

"Ya Allah mbak gak percaya banget sih aku adiknya Bang Devan," ucap Hamra gemas.

"Saya diperintahkan oleh Pak Devan untuk tidak percaya dengan orang yang mengaku sebagai adiknya," jelas sang kasir.

Hamra sudah menduganya, kakaknya itu tidak dengan mudah memberinya makanan gratis.

"Dasar kakak laknat," gumam Hamra, Zara yang mendengar gumaman Hamra menahan tawanya, ya Zara sedikit tahu tentang sifat Devan yang suka jahil itu.

"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki yang baru datang sambil menahan tawanya ia berjalan menuju sumber keributan.

"Ini pak, dia gak mau bayar dan mengaku sebagai adik bapak," jelas pegawai kasir. Devan menatap adiknya dari atas sampai bawah.

"Biarin aja, dia orang stres," ucap Devan sambil berlalu menuju ruangannya, dan para pegawai kafe yang menyaksikan menahan tawanya. Hamra yang tidak terima langsung berlalu menuju kakaknya itu dan langsung menyerang Devan dengan pukulan dan cubitan.

"Sakit Astagfirullah."

"Bodo amat dasar abang laknat."

"Saya gak kenal kamu." Mendengar ucapan itu Hamra semakin membabi-buta memukuli Devan tetapi tidak ada yang berani membantu memisahkan mereka.

"Iya,iya ampun Ca, badan abang sakit semua ini," ucap devan sambil menghindari pukulan dari Hamra.

"Gak mau bilang dulu ke mbak kasirnya Ica adek abang," pinta Hamra tanpa menghentikan pukulannya.

"Makanya berhenti dulu, abang susah bilangnya," pinta Devan. Devan berjalan menuju pegawai kasirnya.

"Num,usir dia ya, orang stres," ucap Devan pada pegawai kasirnya.

"Abang?!" teriak Hamra sedangkan yang diteriaki hanya tertawa karena berhasilmenjahili adiknya dan Zara yang melihat Devan tertawa diam terpaku menikmati pemandangan langka.

"Berisik Ica, haha Num dia adik kandung saya, gak usah bayar juga gak apa-apa, lagi miskin dia," ucap Devan tanpa merasa bersalah telah mengatai adiknya miskin.

"Apa? Mau marah? Daripada marah-marah sana pergi," ucap Devan sambil memberikan Hamra uang. Hamra yang semulanya ingin membalas megatai kakaknya tidak jadi karena Devan memberinya uang.

"Oke makasih abang, sering-sering ya." Seteah mengambil uang dan mengucapkan itu Hamra menarik Zara untuk keluar dari kafe.

Sesampainya di dalam Mall yang pertama mereka tuju adalah Gramedia, lalu rencananya mereka akan menonton dan tentunya Hamra yang menraktir Zara, tetapi sebelum berbelanja mereka menuju mushola terlebih dahulu untuk melaksanakan salat zuhur.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul  17.14 mereka memutuskan untuk pulang, untung saja tadi mereka sempat salat ashar dahulu.

Sesampainya Hamra di rumah langsung direcoki pertanyaan dari Devan.

"Ca itu temen kamu yang dari rw sebelahkan? Namanya siapa? Jomblo gak? Kalau abang deketin dia mau gak? Boleh minta nomernya gak?"

"Astagfirullah abang Ica baru nyampe udah ditanyain kayak gitu. Tanya aja sendiri ke orangnya," ucap Hamra sambil berjalan melewati Devan dan duduk di sofa ruang keluarga.

"Abang malu lah kalau nanya sendiri, kan kamu temennya. Ayo lah Ca bantu abang," mohon Devan.

"Oke. Namanya Zara, dia jomblo dan dia yang kata ica suka sama abang. Cukup sekian sisanya biar abang yang usaha sendiri."

Dalam hati Hamra meminta maaf kepada Zara karena memberitahu rahasianya.

1
teudwrdh
the best thor,senyum2 sendiri
Ninie Zika
ko udhan che
Ninie Zika
baper 😘
Ninie Zika
keren jd baper akut bacanya 😘
Fitri
lanjut 💪 kereeen 😍
KarniaWS09
setelah sekian lama akhirnya up. ampe lupa alurnya jdi ulang baca deh..
Trina Susanti
bibit pelakor tendang aja thor
Egik
lanjut thur jangan lama kalo up
Nuri 73749473729
lanjuut ukhtor
Euis Lindawati
lanjut ukhtor
samitha
lanjut ukhthor
jung je woo
lanjut ini aja ukhthor
Sadboy
seru ih , kenapaa ga dilanjut
Dinia Astuti
maaf maksu saya arka salah tulis
Dinia Astuti
kok tidak diperlihatkan pemeran Aria, hamra dan kawannya hamra, kenapa ga dilanjutkan lagi sih ceritanya
Sarie Sheila Subarkah
aku bacanya senyum2 ndiri.. bagus thorr... semangat!!!
dwihadi
sama Thor ,,aku jg senyum senyum sendiri bacax😊😊
Meivira Dian Pragita
kok ngak up thor
Aila Farhati
lanjut
Apa Siapa
Lanjuuut kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!