Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
...Author POV...
“Pak Juna,” Aryo sekretaris pribadi Juna di perusahaan, mencoba membangunkan lelaki muda itu. Sejak malam tadi, Juna menginap di ruangannya. Sudah enam bulan ini Juna di beri kepercayaan menjadi salah satu direktur di perusahaan property milik ayahnya, dengan alasan ia harus belajar. Juna menurut apalagi itu sesuai dengan bidang kuliahnya.
“Pak Juna, bangun! Anda di tunggu Pak Pranaja sekarang,” lagi, Aryo dengan takut-takut membangunkan atasannya itu. Kali ini dengan sentuhan di bahunya. Juna tengah tidur dengan posisi telungkup di sofa ruangannya, dan masih mengenakan kemeja nya sama. Kemarin, Juna benar-benar merasa kacau, ia memilih minum obat tidur dengan dosis tinggi untuk menenangkan pikirannya dan melupakan semuanya.
Lima belas menit sudah Aryo berdiri tepat di sampingnya hanya untuk membangunkan lelaki itu, Aryo menurut perintah bos besarnya, Pak Pranaja. Namun yang di bangunkan tidak bergerak sama sekali.
“Apa jangan-jangan, bos muda... mati lagi,” celetuk Aryo, ia mulai panik dan bertindak lebih jauh, Aryo berusaha membalikkan tubuh Juna dengan sedikit kesusahan, dan akhirnya berhasil.
“Lyra...” ucap Juna lirih, dengan matanya masih tertutup rapat. Ia mencoba melemaskan tangan kirinya yang terasa kebas.
“Ini Aryo Tuan, bukan Non Lyra,” sahut Aryo dengan suara nya yang cukup lantang. Aryo juga sudah cukup hafal dengan sosok Lyra, anak magang di perusahaan itu. Dan Juna juga pernah mengingatkan pada Aryo dan kepada siapapun yang berkaitan dengan Lyra untuk tidak mengatakan pada Lyra bahwa dia adalah direktur marketing. Juna hanya ingin Lyra melihatnya juga sebagai anak magang yang sama dengannya.
“Oh kamu? ada apa?” akhirnya Juna membuka mata setelah tertidur kurang lebih sepuluh jam.
“Tuan muda di tunggu Tuan besar sekarang, di resepsinya kakaknya Tuan,” ucap Aryo, berniat hanya menyampaikan pesan yang ia dapatkan.
“Sialann!” lantas Juna meremaas rambutnya sendiri, benar-benar merasa frustasi atas hal luar biasa yang menimpanya ini.
Lagi-lagi, Juna hanya bisa menurut meski hatinya terus ingin mengumpat, ini ia lakukan semata-mata demi Ayah yang berangsur sehat. Ia pergi menuju kamar mandi di ruangannya.
...Lyra POV...
Sudah setengah jam kami kembali berdiri di pelaminan, sesekali aku duduk ketika tidak ada tamu yang hendak menyapa. Aku resah, Juna benar-benar tidak ada, apa yang membuatnya begitu marah dan benci dengan pesta pernikahan ini? apa dia tidak sudi aku menjadi kakak iparnya?
Aku masih menyapu pandanganku ke depan, sesekali ke kiri, ke kanan, tengah dan setiap sudut di ballroom itu, sungguh aku berharap Juna hadir.
Dan mataku menangkap seorang laki-laki yang cukup ku kenal, mengenakan setelan jas berwarna senada dengan warna baju pengantin kami dan juga warna seragam keluarga. Juna datang! tanpa sadar aku tersenyum tiga jari saat melihat kehadirannya, namun ada yang berbeda darinya. Sejak masuk dari pintu utama, ia sama sekali tak melirik ke arahku?
“Ngeliatin siapa kamu senyum-senyum?” ternyata tingkahku sejak tadi di perhatikan oleh Wira, aku ketahuan.
“Bukan siapa-siapa, mirip seorang yang aku kenal, tapi ternyata bukan,” ucapku berbohong, dan Wira mengikuti arah pandangku. Gawat!
“Kamu kenal Juna?” sudah ku duga dia pasti bertanya, ya tapi aku tetap santai saja, tidak perlu panik.
“Kenal, dia teman dekatku, kami satu kampus,” arah pandang Wira masih belum berubah, masih menatap Juna yang duduk di tengah-tengah Ibu, Ayah dan juga dua orang tua lain yang pasti tamu.
“Dekat?” lalu ku lihat Wira menatapku dalam.
“Iya, dari semester satu sampe sekarang, dia banyak banget bantu aku, nyari tempat magang sekarang susah banget, walaupun cuma demi nilai akhir, tapi Juna bisa bantu aku. Kalau nggak karena dia aku pasti nggak bisa magang di perusahaan itu.” Aku menjelaslan cukup detil, ku lihat Wira tampak tidak peduli.
“Kamu tau Juna siapa?” lantas aku mendapatkan pertanyaan semacam itu.
“Tau, adik kamu.” jawabku santai.
“Kalian pacaran?” oke, pertanyaannya mulai detil, ku pikir dia benar tak peduli, namun justru semakin kepo.
“Nggak, cuma dekat, setelah jadi keluarga seperti ini, pasti jadi makin dekat, aku harap Juna dapat jodoh yang baik sama seperti dia.”
Aku mulai lelah, ini kapan selesainya? tapi rasa cemas justru datang semakin hebat saat waktu terus berjalan, acara selesai. Aku takut, takut Wira bertindak yang tidak-tidak.
“Kamu pikir, Juna sebaik itu? kamu salah. Dia itu juga pemicu sakitnya Ayah selama ini, kamu dekat sama dia? kamu tau kalau dia gay?”
Aku tercengang, menutup mulut dengan kedua tanganku. Apa kata Wira? Juna gay? tapi aku tak boleh percaya mentah-mentah, ya meski selama kenal dengan Juna aku tak pernah melihatnya dekat dengan perempuan manapun selain aku. Kepada yang lain, Juna hanya sekedar saja.
“Aku nggak percaya, Juna nggak gitu. Dia masih selera sama cewek kok,” jelas aku membela Juna. Karena ku rasa dia masih normal, saat kami duduk berdua, sesekali aku pernah memergokinya melihat foto-foto cewek seksi di sosial media, artis artis muda Indonesia yang cantik-cantik. Jadi, aku rasa Juna masih ingin menikmati perempuan.
“Sama kamu? kamu pernah di apain sama dia?” Lagi, pertanyaan merendahkan keluar dari mulutnya. Ingin sekali aku menamparnya lagi, tapi tak mungkin kami sedang di hadapan khalayak ramai yang menjadi pusat perhatian.
Lantas yang aku lakukan adalah, mengusap pipinya sambil tersenyum seolah sedang bersikap mesra padanya. “Kalau ngomong jangan sembarangan ya, mau aku tampar lagi disini? hm?”
Dan sialnya saat aku bersikap demikian pada Wira, Juna sedang menatap kami, lalu saat aku membalas tatapannya, dia justru menghindar.
Tanganku masih berada di pipi Wira, dia meraih tanganku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menarik pinggangku, merapat padanya hingga kami tak berjarak.
“Dari pada tamparan, gimana kalau ciuman?” aku terkesiap mendengar kalimatnya belum sempat menjawab, Wira langsung mendaratkan bibirnya di bibirku. Terdengar sorak dari para tamu undangan.
Ini gila dan... memalukan!
...Dikit dulu, dikit ini dikit. ...
...Nanti lagi kalau sempat 🥱...
duh bakal kangen ntar