Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Di dalam dadanya, sesuatu yang sudah lima tahun ia paksa mati mulai mengetuk pelan.
Keesokan sorenya, ketukan itu masih ada.
Keira berdiri di depan kamar Engkong Hartono dengan kotak jarum perak di tangan, berusaha terlihat seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Ia sudah mengganti lipstik dua kali sebelum datang, lalu membenci dirinya karena menyadari hal sekecil itu.
Engkong berbaring setengah duduk, wajahnya jauh lebih segar.
"Keira," katanya puas, "kalau kamu datang setiap hari, mungkin jantungku sembuh lebih cepat."
"Kalau Engkong mengikuti aturan dokter, jantung Engkong juga bisa sembuh lebih cepat."
"Aturan dokter tidak semenarik melihat cucuku gugup."
Kevin, yang berdiri di dekat jendela, langsung menatap ke luar seolah pemandangan taman sangat penting.
Keira tidak melihatnya.
Tidak secara langsung.
Ia hanya melihat pantulan pria itu di kaca. Pipi Kevin sudah tidak merah, tetapi ingatan tentang suara tamparan semalam masih menempel di antara mereka.
Kevin tidak menyentuhnya. Tidak meminta penjelasan. Bahkan ketika ia masuk tadi, ia hanya berkata, "Terima kasih sudah datang," dengan jarak yang sangat sopan.
Jarak itu seharusnya membuat Keira lega.
Anehnya, justru membuatnya gelisah.
Terapi berlangsung tiga puluh menit. Jarum-jarum perak masuk dan keluar dengan presisi. Engkong beberapa kali mengeluh hanya agar Keira tetap bicara dengannya. Naomi duduk di sofa sambil pura-pura membaca majalah, padahal matanya terus bergerak dari Keira ke Kevin seperti penonton drama terbaik.
Darren, Ethan, dan Tiffany berada di kamar bermain sebelah.
Secara resmi, Ethan dan Tiffany datang karena Keira tidak ingin meninggalkan mereka di rumah setelah malam panjang. Secara tidak resmi, Tiffany sudah berbisik kepada Naomi sejak sore.
"Ci Naomi, Mommy gampang lari kalau tidak dikurung."
Naomi menatap anak kecil itu dengan hormat baru. "Tiffi, kamu calon ahli strategi."
Setelah terapi selesai, hujan turun deras.
Sangat deras.
Terlalu kebetulan.
Keira menatap jendela. "Rio bisa mengantar."
Naomi langsung berdiri. "Tidak bisa, Ci. Jalan keluar belakang banjir kecil. Pak Hadi bilang mobil harus tunggu sebentar. Lagi pula Engkong butuh dipantau malam ini setelah terapi. Ci tidur di sini saja."
"Tidak perlu."
Engkong batuk pelan. "Perlu."
Keira menoleh.
Lelaki tua itu memejamkan mata dengan dramatis. "Jantungku baru diselamatkan. Kalau malam ini kambuh, siapa yang menusukku dengan jarum?"
Kevin memijat pangkal hidung. "Engkong, jangan pura-pura sekarat."
"Aku tidak pura-pura. Aku hanya membantu masa depanmu."
Keira benar-benar tidak tahu harus marah kepada siapa.
Akhirnya, setelah dokter keluarga juga menyarankan pemantauan satu malam, Keira setuju tinggal. Anak-anak bersorak terlalu pelan untuk disebut tidak sengaja.
Naomi mengantar Keira ke kamar tamu di lantai dua.
"Ci, kamarnya sudah siap. Ini sayap keluarga, aman."
Keira menatap pintu kayu gelap di ujung koridor. "Ini kamar tamu?"
"Iya."
Naomi tersenyum terlalu manis.
Keira curiga. "Naomi."
"Aku bersumpah atas nama koleksi tas favoritku, ini kamar yang paling nyaman."
Itu bukan jawaban.
Tetapi Pak Hadi sudah muncul membawa selimut tambahan, dan Tiffany dari jauh melambaikan tangan dengan wajah polos. Keira masuk.
Kamar itu luas, rapi, beraroma cedar dan sabun laki-laki yang terlalu familiar.
Keira berhenti.
Sebelum ia sempat keluar, pintu di belakangnya berbunyi klik.
Ia memutar kenop.
Tidak bergerak.
"Naomi."
Tidak ada jawaban.
Keira menekan panel elektronik di samping pintu. Layar kecil menampilkan tulisan: sistem dalam pemeliharaan.
Dari luar terdengar suara Tiffany yang sangat pelan, "Semangat, Mommy."
Keira memejamkan mata.
Pada saat yang sama, pintu kamar mandi terbuka.
Kevin keluar hanya dengan handuk putih di pinggang dan handuk kecil di leher. Rambutnya basah, tetes air turun dari garis rahang ke dada. Ia berhenti di tempat.
Keira juga berhenti.
Satu detik.
Dua detik.
Wajah Keira memanas sampai leher.
Kevin menatapnya, lalu pintu terkunci, lalu kembali ke wajahnya.
"Kamu kenapa di kamarku?"
Keira menarik napas setenang mungkin. "Karya adikmu."
Kevin diam.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, pria itu tertawa.
Bukan senyum tipis. Bukan suara pendek mengejek. Tawa sungguhan, rendah dan hangat, keluar begitu saja sampai membuat Keira lupa sejenak bahwa ia sedang terkurung di kamar pria setengah telanjang.
"Naomi," katanya sambil mengambil jubah mandi, "kali ini kerja bagus."
"Kevin."
Ia langsung mengangkat satu tangan. "Aku bercanda. Aku akan panggil Feng."
Keira menatapnya memakai jubah dengan cepat. Hatinya yang tadi hampir melompat perlahan turun, meski tidak sepenuhnya.
Kevin mengambil ponsel. "Feng bilang teknisi butuh empat puluh menit karena panel sayap ini sedang di-reset. Kalau kamu ingin keluar sekarang, aku bisa minta orang buka manual."
Keira melihat hujan di jendela, lalu mendengar suara Engkong batuk di kejauhan, entah asli atau akting.
"Tidak perlu membangunkan semua orang."
Kevin menatapnya. "Kamu yakin?"
"Aku bisa menunggu."
"Di sini?"
"Di sini ada sofa."
Kevin melihat sofa kecil di sudut. Terlalu kecil bahkan untuk satu orang tidur nyaman.
"Aku tidur di sofa."
"Tidak." Keira menunjuk tempat tidur besar. "Kita bagi. Jangan membuat drama."
Kevin mengangkat alis.
"Tapi ada aturan," kata Keira cepat.
"Sebutkan."
Keira mengambil empat bantal dari lemari dan menaruhnya berjajar di tengah ranjang seperti tembok putih.
"Ini batas."
Kevin menatap barisan bantal itu. "Tembok lebih rendah dari pagar rumahmu."
"Jangan menguji."
"Aku tidak akan melewati batas."
Kalimat itu membuat Keira terdiam sebentar, karena ia tahu pria itu bukan hanya bicara soal bantal.
Mereka berbaring di sisi masing-masing. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya kecil dari nakas. Hujan mengetuk kaca. Dari kamar sebelah, samar-samar terdengar suara Tiffany berbisik terlalu semangat, lalu Ethan menyuruhnya diam.
Keira menatap langit-langit.
Kevin juga.
"Pipimu masih sakit?" tanya Keira tiba-tiba.
Kevin menoleh sedikit. "Tidak."
"Bagus."
"Tapi kalau kamu merasa bersalah, aku menerima kompensasi."
Keira langsung menoleh tajam.
Kevin menutup mata. "Bercanda."
Anehnya, Keira hampir tertawa.
Malam bergerak lambat. Pada suatu titik, kelelahan setelah dua hari penuh emosi mengalahkan kewaspadaan Keira. Napasnya mulai teratur. Ia tertidur miring, satu tangan tanpa sadar melewati celah antara dua bantal.
Kevin membuka mata ketika jari Keira menyentuh dadanya.
Seluruh tubuhnya kaku.
Keira tidak sadar. Wajahnya sangat dekat, lebih lembut saat tidur, tanpa semua lapisan dingin yang ia pakai untuk bertahan.
Kevin menatap tangan itu lama.
Ia tidak menggenggam kuat.
Hanya menaruh telapak tangannya di bawah jari Keira agar tangan itu tidak jatuh. Kalau Keira menarik, ia akan melepas.
Keira bergerak sedikit, tetapi tidak menjauh. Bibirnya menggumam pelan, hampir tidak terdengar.
"Jangan ambil anakku..."
Napas Kevin tertahan.
Semua keinginan untuk menggoda hilang.
Ia menatap perempuan di depannya dan akhirnya mengerti bahwa di balik setiap penolakan, ada luka yang masih berjaga.
"Tidak akan," bisiknya sangat pelan. "Aku tidak akan mengambil apa pun darimu."
Keira tidak terbangun.
Di kamar sebelah, pukul tiga dini hari, Ethan membuka laptop kecilnya di balik selimut.
Darren duduk di sampingnya, Tiffany menunggu dengan mata mengantuk tetapi penuh misi.
"Koko Eth, bisa lihat?"
"Hanya kamera koridor. Aku tidak masuk kamera kamar. Privasi."
Tiffany mengangguk serius. "Privasi penting."
Di layar, indikator pintu kamar Kevin menyala merah: terkunci dari dalam. Tidak ada yang keluar.
Ethan mengambil tangkapan layar status pintu dan mengirimkannya ke grup rahasia tiga bersaudara.
Misi berhasil. Daddy dan Mommy satu kamar.
Tiffany membalas dengan deretan hati sampai layar hampir penuh.
Darren menatap pesan itu lama, lalu mengetik dengan sangat pelan.
Semoga Mommy tidak pergi pagi-pagi.