~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
****
Matahari pagi menembus celah-celah dedaunan pohon beringin, memancarkan pendar hangat di atas teras Pustu Hulu Rawa. Pagi itu, jadwal pemeriksaan ibu hamil sedang senggang. Namun, teras Pustu tak pernah sunyi. Bau kayu manis dan aroma kertas bekas yang bersih menguar di udara, berpadu dengan gelak tawa renyah anak-anak desa.
Di tengah teras panggung, Melani duduk bersila di atas tikar pandan. Bidan muda itu mengenakan kemeja kain katun sederhana berwarna krem yang bagian lengannya digulung hingga siku. Di sekelilingnya, belasan anak-anak Hulu Rawa duduk melingkar dengan wajah berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
"Nah, anak-anak... coba perhatikan papan kayu kecil ini," ujar Melani lembut, menunjukkan sepotong papan kayu bekas yang dilapisi kertas putih dan tulisan cat merah. "Ini huruf apa, Bimo?"
Bimo—bocah laki-laki lincah yang dulu paling pertama disembuhkan Melani—mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Saya tahu, Bu Bidan! Itu huruf A! A untuk Apel!"
"Pintar sekali Bimo!" puji Melani seraya menepuk pelan bahu sang bocah, memicu tawa gembira anak-anak lainnya. "Kalau yang di sebelahnya ini, berliku-liku seperti ular berenang, huruf apa ayo?"
"Huruf S!" seru seorang anak perempuan berambut ikal di samping Bimo.
"Betul, Ratih! S untuk Sungai," balas Melani, senyum manisnya memancar hangat.
Selain bertugas sebagai bidan, Melani memutuskan untuk mengisi waktu luangnya dengan membuka kelas belajar dan bermain sederhana. Di desa yang terisolasi ini, anak-anak belum memiliki bangunan sekolah resmi. Melani memulainya dari hal terkecil: mengenalkan angka, huruf, warna, hingga berhitung dasar sambil diselingi dongeng dan permainan edukatif.
"Bidan Melani!" panggil Ratih polos seraya menyodorkan sebongkah batu kapur berwarna biru. "Ini warna biru kan, Bu Bidan? Sama seperti warna bunga di tepi hulu sungai?"
Melani menerima batu kapur itu, menatap mata jernih sang bocah dengan binar keharuan. "Iya, Ratih sayang. Ini warna biru. Biru seperti langit di atas desa kita, dan seperti kain tenun yang dibuat oleh Ibu Ratih."
"Nanti kalau Ratih sudah bisa membaca semua huruf, Ratih mau baca buku cerita ksatria yang tebal itu ya, Bu Bidan!" celetuk Ratih bersemangat.
"Tentu saja boleh! Makanya, ayo kita latihan menulis angka dulu. Bimo, coba tulis angka lima di atas tanah ini pakai kayu," bimbing Melani telaten.
Dari sudut jalan setapak, Rangga Wira berdiri memperhatikan pemandangan itu. Sang Ketua Adat bersandar pada tiang pagar kayu, mengawasi bagaimana Bidan muda yang amat dicintainya itu berinteraksi dengan anak-anak warganya. Tatapan mata Rangga yang biasanya tegas dan mengintimidasi, kini menyiratkan kelembutan mendalam yang tak pernah terpancar untuk orang lain.
"Lihat itu, Ki Rangga..." bisik Mbah Baya yang melangkah mendekat, menopang tubuhnya pada tongkat kayu. "Bidan Melani bukan hanya menyembuhkan raga warga kita, tapi dia menanamkan benih kepintaran untuk masa depan anak-anak Hulu Rawa."
Rangga Wira tersenyum tipis, matanya tak beralih dari sosok Melani yang sedang tertawa bersama anak-anak. "Dia adalah berkah terbaik yang pernah menginjakkan kaki di tanah ini, Mbah."
"Lalu, kapan Ki Rangga akan meresmikan hubungan kalian secara adat?" goda Mbah Baya terkekeh pelan. "Warga sudah tak sabar menyambut Bidan Pelindung kita menjadi ibu bagi seluruh rakyat Hulu Rawa."
Rangga berdeham pelan, menutupi rasa canggungnya seraya mengelus garis rahang tegasnya. "Ada waktunya, Mbah. Saya ingin memastikan dia benar-benar merasa aman dan bahagia di sini."
Sore harinya, saat matahari mulai merendah dan melukis garis keemasan di langit, deru suara mesin sepeda motor tua yang langka terdengar batuk-batuk di batas perbatasan desa.
Suara itu adalah pertanda kedatangan Pak Joko—tukang pos kabupaten yang hanya datang dua bulan sekali ke Hulu Rawa, itu pun jika ada surat dinas resmi dari pemerintah yang harus diantarkan.
"Bidan Melani! Ada surat dari kota!" teriak Seno yang mengantar Pak Joko hingga ke halaman Pustu.
Melani yang sedang menyapu teras Pustu tersentak kaget. Ia meletakkan sapu lidi di tangannya dan bergegas turun dari tangga kayu.
"Surat untuk saya, Pak?" tanya Melani, jantungnya mendadak berdesir aneh.
Pak Joko menyapu keringat di dahinya seraya merogoh tas kulit cokelatnya yang kusam. Ia menyerahkan sebuah amplop putih tebal bermaterai yang sudah sedikit terlipat di ujungnya. "Iya, Bu Bidan. Surat dari kota. Penulisnya atas nama Ibu Rahmi di Surabaya."
Mata Melani membelalak pelan. Ibu!
Melani menerima amplop itu dengan jemari yang mendadak gemetar. Sudah hampir empat bulan sejak ia dipindahtugaskan secara sepihak ke desa terpencil ini akibat penolakannya terhadap niat jahat Pak Pramono, Melani baru kali ini menerima balasan surat dari keluarganya. Akses komunikasi yang sangat terbatas membuat surat menyurat menjadi satu-satunya jembatan penghubung.
"Terima kasih banyak ya, Pak Joko," bisik Melani pelan.
"Sama-sama, Bu Bidan. Saya permisi dulu," balas Pak Joko seraya memutar arah motor tuanya.
Melani melangkah kembali ke atas panggung Pustu, masuk ke dalam ruangan tempat tinggalnya yang sempit. Ia duduk di pinggir dipan kayu, merobek bagian atas amplop putih itu dengan hati-hati. Di dalamnya terlipat dua lembar kertas surat bermotif garis dengan tulisan tangan yang sangat dihafalnya—tulisan tangan ibunya.
Dengan napas tertahan, Melani mulai membaca baris demi baris kata yang tertulis di sana:
Melani, putri Ibu yang sangat Ibu rindukan...
Bagaimana kabarmu di sana, Nak? Ibu dan Bapak di sini tidak pernah bisa tidur tenang sejak menerima kabar bahwa kamu dipindahkan ke desa terasing bernama Hulu Rawa itu. Teman-teman dinas Bapak bilang desa itu berada di tengah hutan belantara, berbahaya, terbelakang, dan warganya sangat membenci orang luar.
Hati Ibu hancur dan menangis setiap malam memikirkanmu tinggal sendirian di mess sempit tanpa listrik dan fasilitas yang memadai. Bapakmu sudah berusaha mengurus kepindahanmu kembali ke kota, bahkan memohon bantuan rekan-rekannya di dinas provinsi.
Melani sayang... dengarkan Ibu. Cukup sudah tugasmu di sana. Tempatmu bukan di dalam hutan terpencil itu. Segera kemasi barang-barangmu. Bulan depan, Bapak dan pamanmu akan menjemputmu ke perbatasan untuk membawamu pulang ke rumah, ke kehidupan yang layak di kota.
Ibu sangat menyayangimu, Nak. Pulanglah...
Setetes air mata hangat menetes dari sudut mata jernih Melani, jatuh membasahi lembaran kertas surat di pangkuannya.
Dada Melani bergemuruh kencang. Gelombang dilema emosional dan rasa cemas yang teramat sangat seketika merayap menghimpit dadanya hingga terasa sesak.
Ia mencintai ibunya. Ia tahu betul betapa orang tuanya sangat mengkhawatirkan keselamatannya berdasarkan desas-desus buruk tentang Hulu Rawa yang beredar di luar sana. Orang tuanya membayangkan Hulu Rawa sebagai tempat buangan yang liar, berbahaya, dan tidak bertuan.
Namun... orang tuanya tidak tahu kebenarannya.
Orang tuanya tidak tahu bahwa Hulu Rawa yang sekarang bukan lagi tempat asing yang dingin. Orang tuanya tidak tahu bahwa warga desa ini telah menerima Melani sebagai keluarga, mengangkatnya sebagai "Bidan Pelindung Generasi", dan merawatnya dengan ketulusan yang tiada tanding.
Dan yang paling membuat dada Melani bergetar hebat... orang tuanya tidak tahu bahwa di tanah terasing ini, Melani telah menemukan belahan jiwanya—Rangga Wira. Sang Ketua Adat tegap yang siap mempertaruhkan seluruh jiwa, darah, dan hukum adatnya demi melindunginya.
"Bagaimana... bagaimana cara saya menjelaskan semua ini pada Ibu dan Bapak?" bisik Melani lirih pada keheningan kamarnya, suaranya tercekik oleh Isak tangis.
Melani meremas kain gaunnya, memegangi batu hitam pada kalung tenun di dadanya. Ketakutan dan kecemasan merayapi pikirannya: Bagaimana jika Bapak dan Ibu tetap memaksaku pulang? Bagaimana jika keluargaku menolak Rangga karena prasangka mereka terhadap orang dalam hutan? Haruskah aku memilih antara keluarga yang melahirkanku... atau pria yang menjadi tempat pulangnya hatiku?
Pikiran-pikiran itu berputar hebat di kepalanya, membuat napas Melani kian memburu dalam kesedihan yang mendalam.
Malam harinya, pendar cahaya keemasan dari lampu minyak Pustu memantul redup. Melani duduk melamun di tepi teras panggung Pustu, memandangi kegelapan hutan di hadapannya dengan tatapan kosong. Kertas surat dari ibunya terlipat rapi di dalam genggamannya.
Langkah kaki tegap yang berat perlahan terdengar mendekat.
Rangga Wira melangkah menaiki tangga kayu Pustu. Sang Ketua Adat yang peka itu menangkap aura kesedihan dan keheningan yang tak biasa dari sosok Melani.
"Melani..." panggil Rangga dengan suara baritonnya yang berat namun bernada sangat lembut.
Melani tersentak dari lamunannya, buru-buru mengusap sudut matanya yang basah dan menyembunyikan surat di balik lipatan sarungnya. "E-eh... Rangga. Kamu belum istirahat?"
Rangga Wira tidak langsung menjawab. Manik mata hitamnya yang tajam menatap lekat pada wajah ayu Melani yang tampak pucat, menangkap sisa-sisa jejak air mata di pipi mulus sang bidan.
Rangga melangkah mendekat, lalu berlutut pelan di hadapan Melani hingga tinggi mata mereka sejajar. Udara malam yang dingin mendadak terasa hangat oleh kehadiran pria itu.
"Ada apa, Melani?" tanya Rangga tulus, jemari besarnya mengulur pelan, mengusap lembut bekas air mata di pipi Melani. "Siapa yang membuat Bidan Pelindung kita menangis malam-malam begini?"
Sentuhan hangat jemari Rangga justru membuat benteng pertahanan emosi Melani runtuh seketika. Air mata baru kembali merembes keluar dari pelupuk matanya.
"Rangga..." bisik Melani dengan suara bergetar menahan tangis. "Ibu saya... Ibu dan Bapak di kota... mereka mengirim surat."
Dahi Rangga Wira berkerut tipis, namun matanya tetap memancarkan ketenangan yang menguatkan. "Apa yang dikatakan orang tuamu di dalam surat itu?"
Melani menyerahkan lembaran kertas surat yang sudah agak teremas itu kepada Rangga. Dengan tenang, Rangga menerima dan membaca setiap bait kata tulisan tangan Ibu Rahmi di bawah pendar redup lampu minyak.
Saat membacanya, tidak ada raut amarah di wajah tegas Rangga. Hanya ada kesadaran mendalam dan rasa simpati atas ketakutan seorang ibu dari kota.
Rangga melipat kembali surat itu, lalu menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Melani yang berkaca-kaca.
"Orang tuamu mencintaimu, Melani," tutur Rangga pelan namun sangat berbobot. "Mereka cemas karena mereka hanya mendengar cerita buruk tentang tanah ini. Mereka tidak tahu bahwa putri mereka di sini sangat dihormati dan dicintai oleh seluruh warga."
"Tapi Rangga..." tangis Melani pecah pelan, jemari lentiknya memegangi kemeja kain kasar yang dikenakan Rangga. "Ibu meminta saya pulang bulan depan... Bapak mau menjemput saya ke perbatasan. Saya... saya takut, Rangga... Saya cemas sekali."
Rangga Wira memegang kedua tangan Melani yang gemetar, menggenggamnya erat di dalam telapak tangannya yang kekar dan hangat.
"Apa yang membuatmu takut dan cemas, Melani-ku?" bisik Rangga dengan nada yang amat lembut, mengunci pandangan gadis di depannya. "Apakah kamu takut harus meninggalkan desa ini... atau kamu takut harus berpisah dariku?"
Melani menatap kedalaman mata hitam Rangga yang tajam namun dipenuhi kelembutan mutlak. Rasa aman yang hangat merayap pelan menyiram gejolak ketakutan di dadanya.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭