MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~PULANG KE TEMPAT AMAN
Malam semakin larut, angin pantai bertiup semakin dingin menusuk tulang. Jack menatap Disya yang masih memeluk lututnya diam membisu, lalu perlahan menatap gadis itu dengan pandangan yang tak bisa dibantah.
"Disya," ucapnya tegas namun lembut. "Kau tidak boleh tinggal sendirian di tempat asing begini. Pulanglah bersamaku. Tinggallah di apartemenku sementara waktu, sampai hatimu lebih tenang dan kau siap menentukan sikap. Di sana kau aman, kau bisa menghindari siapa pun yang belum ingin kau temui—termasuk Zelo. Aku tidak akan membiarkanmu menginap di tempat yang tidak pasti seperti ini."
Disya tertegun, ingin menolak namun melihat tatapan mata Jack yang tak ingin dibantah, ia akhirnya mengangguk pelan. Ia tahu Jack tak akan tenang jika membiarkannya pergi sendirian.
Sebelum benar-benar pulang, mereka mampir sebentar ke kontrakan kecil yang disewa Disya. Gadis itu hanya mengambil tas berisi barang-barang keperluannya, lalu mengirim pesan singkat pada pemilik toko buku tempatnya bekerja—meminta izin cuti beberapa hari tanpa menjelaskan alasannya lebih jauh.
Perjalanan pulang berlangsung hening. Disya menyandarkan kepalanya dengan nyaman di punggung lebar Jack, melingkarkan kedua lengannya erat di perut pria itu seolah tak ingin terpisah lagi. Rasa lelah dan kantuk perlahan menguasainya, hingga akhirnya ia terlelap pulas di atas jok belakang.
Merasakan gerakan tubuh Disya yang mulai melorot karena tertidur, Jack segera menepikan motornya di sisi jalan yang sepi. Ia turun, lalu membuka jaket kulit tebal yang ia kenakan. Dengan hati-hati, ia melilitkan jaket itu ke tubuh Disya, lalu mengikat ujungnya di bagian perut agar gadis itu tetap hangat dan tidak terjatuh saat ia menyetir. Disya sudah memakai masker penutup wajah dan topi yang ditarik rendah, jadi wajahnya tak terlihat jelas sama sekali.
Sementara itu, Jack hanya mengenakan kaos lengan pendek, helm, kacamata hitam, dan penutup mulut. Namun bagi siapa pun yang mengenalnya, tak perlu melihat wajahnya pun sudah tahu siapa dia—tato khas yang melukai lengannya adalah ciri yang tak bisa disembunyikan. Ia sadar betul risiko ini, ia sadar bisa saja ada kamera atau paparazzi yang memotretnya saat ini. Tapi ia tak peduli. Yang penting malam ini ia bisa membawa Disya pulang ke tempat yang aman.
Sesampainya di halaman apartemen, Jack menurunkan standar motornya. Ia menatap Disya yang masih tertidur lelap, tersenyum tipis melihat wajah damai di balik masker itu. Dengan susah payah ia melepas ikatan jaketnya, lalu menggendong tubuh mungil itu dengan hati-hati seolah Disya adalah benda paling rapuh di dunia. Ia berjalan masuk, naik lift menuju lantai unitnya, lalu membaringkan Disya di kasur kamar tidurnya sendiri. Ia menutupinya dengan selimut hangat, memastikan gadis itu tidur nyenyak tanpa gangguan.
Malam itu, Jack memilih tidur di sofa ruang tamu, merasa lega karena akhirnya Disya sudah berada di bawah perlindungannya.
Keesokan paginya, suara ponsel yang terus berdering berulang kali membangunkan Jack. Ia mengucek matanya yang masih berat, lalu melihat layar ponselnya penuh dengan notifikasi berita dan puluhan panggilan tak terjawab dari manajernya. Jantungnya seketika berdegup kencang karena firasat buruk. Ia segera menekan tombol panggil balik ke nomor manajernya.
"Halo! Akhirnya kau angkat juga!" Suara manajer terdengar panik dan berteriak dari seberang sana. "Jack, kau tahu tidak berita apa yang sedang viral sekarang? Foto kau sedang menggendong seseorang di depan apartemen tersebar di mana-mana! Semua media bertanya siapa wanita misterius itu!"
Napas Jack tertahan sejenak, lalu ia segera bertanya dengan nada tegas dan cemas: "Pak, dengarkan saya baik-baik. Yang paling penting: apakah wajah orang itu terlihat jelas di foto atau berita manapun? Tolong katakan yang sebenarnya!"
"Tenang dulu, tenang! Wajahnya sama sekali tidak terlihat, tertutup masker dan topi," jawab manajer segera menjelaskan. "Hanya siluet tubuh dan jaketmu yang terlihat jelas, ditambah tato di lenganmu saat kau memegang pintu gerbang. Itu sebabnya mereka tahu itu kamu. Tapi tidak ada satu pun foto yang bisa memperlihatkan identitasnya."
Jack menghela napas panjang, rasa lega seketika menyelimuti dadanya. "Syukurlah... terima kasih Pak. Tolong pastikan juga ke semua media dan pihak yang menangani kasus ini: jangan sampai ada yang berusaha mengedit atau menebak-nebak identitasnya. Lindungi privasi dia sekuat tenaga saya. Saya akan jelaskan sisanya nanti, tapi yang terpenting nama dia tidak boleh terlibat."
"Baik, saya sudah bergerak cepat mengamankan jalurnya," jawab manajer. "Tapi ingat Jack, kau harus siap menghadapi pertanyaan pers nanti."
"Saya paham. Terima kasih atas bantuannya," tutup Jack, lalu meletakkan ponselnya di meja. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak. Selama wajah Disya aman, ia siap menanggung semua desas-desus itu sendiri.
Belum sempat ia tenang sepenuhnya, ponselnya berdering lagi. Kali ini nama yang tertera di layar membuatnya tersenyum getir—Jessica, kakak kandungnya yang merupakan desainer terkenal dan sudah lama menetap di Paris.
"Halo, Kak?"
"Jack! Kau benar-benar bikin heboh dunia hiburan pagi ini!" seru Jessica dengan nada antusias. "Apa kau sudah melupakan gadis kecilku demi kekasih baru?"
Jack mengerutkan kening. "Kak, jangan asal tuduh. Dia hanya teman yang sedang butuh tempat berlindung."
"Teman biasa?" Jessica tertawa pelan. "Teman biasa mana yang kau gendong seperti itu di tengah malam? Dan jangan kira aku tidak tahu siapa dia. Meski wajahnya tertutup, aku hafal sekali cara kau melindungi orang yang kau sayangi. Dan aku yakin... itu Disya kan?"
Jack terdiam sejenak, akhirnya mengangguk pelan meski kakaknya tak bisa melihatnya. "Iya Kak, itu Disya. Tolong jangan buat dia cemas ya. Dia sedang tidak baik-baik saja."
"Dasar kau ini," ucap Jessica lembut, nada bercandanya hilang berganti rasa khawatir. "Sudah kubilang, jaga dia baik-baik. Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Aku akan segera pulang kalau perlu."
"Terima kasih, Kak. Aku janji akan menjaganya," jawab Jack mantap.
Setelah sambungan terputus, Jack melangkah pelan menuju pintu kamar. Ia mengintip sedikit dari celah pintu—Disya masih terlelap dengan tenang. Ia berharap gadis itu tak akan mendengar berita buruk ini dulu, dan berharap perlindungannya cukup untuk menjaga Disya dari tatapan dunia yang terlalu bising.