Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Chapter 39: Luka dan Benang Kasar
Gua bawah tanah itu kembali sunyi setelah keberangkatan Zhao Kang. Hanya ada suara desis minyak dari belanga racun dan hembusan napas berat dari dada Mu Jin yang dilapisi jaringan kulit keabu-abuan.
Tetua Du Kang melangkah sendirian mendekati meja pembedahan. Di tangan kanannya yang masih bisa digerakkan, dia membawa sebuah mangkuk perunggu berisi Bisa Kobra Mahkota Hitam. Cairan pekat berwarna ungu kehitaman itu mengepulkan asap berbau asam membakar.
“Hari ini, sumsum tulangmu akan menjadi sarang baru bagi bisaku, Cacing…” terkekeh Du Kang. Iblis tua itu membungkuk sangat dekat, meletakkan mangkuk di tepi meja batu lalu merogoh belati pembedahan yang tipis dan tajam.
Dia menempelkan ujung belatinya tepat di leher Mu Jin, berniat mengiris jalur saraf utama.
Namun di dalam kegelapan jiwa sang tukang kayu yang dianggap telah mati, sebuah remukan insting murni meledak secara mendadak.
CRAP!
Tanpa ada gertakan otot atau getaran qi, Mu Jin menerjang maju sejauh rantai penahannya mengizinkan. Dalam jarak yang teramat dekat itu, mulut Mu Jin terbuka lebar dan menancapkan gigi-giginya lurus ke leher kanan Du Kang.
“AAGGGHHH!”
Jeritan histeris Du Kang melengking menembus dinding batu dungeon. Gigi-gigi Mu Jin yang menajam akibat mutasi racun mengunci urat leher iblis tua itu dengan gigitan brutal. Mu Jin tidak mengunyah. Dia mengatupkan rahangnya dengan seluruh kekuatan fisik masifnya, meremukkan pembuluh darah dan daging leher Du Kang bagai jepitan besi tua.
Darah segar menyembur kencang dari leher Du Kang, membasahi wajah dan mata Mu Jin.
“Anjing liar sialan! Lepaskan! LEPAS!” raung Du Kang dalam kepanikan gila dan rasa sakit yang membakar.
Dengan tangan kirinya yang gemetar dan meraba-raba panik, Du Kang menyambar pisau pembedahan kecil berujung bengkok dari atas meja. Tanpa berpikir panjang, iblis tua itu menghantamkan pisau tersebut lurus ke pipi kiri Mu Jin.
JLEB!
Mata pisau dingin itu menembus daging pipi Mu Jin hingga ke dalam rongga mulut. Namun gigitan Mu Jin tidak mengendur sedikit pun. Rahangnya justru makin rapat, mengoyak jaringan leher Du Kang hingga hampir memutus saluran napasnya.
Dalam kegilaan antara hidup dan mati, Du Kang mencengkeram gagang pisau itu, lalu menariknya secara brutal ke arah luar.
SRET! CRACK!
Daging pipi kiri Mu Jin terbelah paksa dari tengah pipi meluncur lurus hingga merobek sudut bibirnya. Luka robek besar itu terbuka lebar, memamerkan deretan gigi dan gusi Mu Jin yang bersimbah darah. Bibir kirinya kini tampak tertarik sangat lebar ke samping, menciptakan bentuk wajah yang terdistorsi dan mengerikan.
Rasa sakit dahsyat akibat robekan pisau itu akhirnya membuat cengkeraman rahang Mu Jin terlepas.
Du Kang terhuyung mundur, tersungkur ke lantai batu sambil memegangi lehernya yang mengucurkan darah segar. Dengan napas bersiul panik, iblis tua itu menyiramkan bubuk penahan darah ke lehernya sendiri sambil memaki histeris.
Mu Jin tergantung terkulai kembali. Dari luka robek di pipinya yang sampai ke bibir, darah hitam bercampur racun menetes lambat ke atas dadanya. Pandangan matanya yang gelap perlahan meredup, tenggelam kembali dalam pingsan yang pekat akibat kehabisan darah.
Beberapa jam kemudian, ketika kesadaran Mu Jin masih melayang di alam bawah sadar, rasa perih yang menjalar kaku kembali merayap di wajah kirinya.
Du Kang berdiri di sampingnya dengan leher yang telah terbalut perban tebal. Wajah iblis tua itu pucat dan dipenuhi kemarahan yang membatu. Di jarinya terkepit sebatang jarum besi melengkung yang terikat benang sutra kasar berwarna hitam. Benang yang biasa digunakan untuk menjahit kain terpal busuk.
Tanpa pembius, Du Kang menusukkan jarum kasar itu menembus kulit pipi Mu Jin yang terbelah.
SRTTT… SRET…
Du Kang menarik benang itu kencang-kencang, memaksakan dua sisi daging pipi dan bibir Mu Jin yang sobek untuk menyatu kembali secara kasar. Setiap tusukan jarum menimbulkan suara daging yang tertembus, merajut luka itu dalam pola silang yang tidak rapi dan menimbulkan tonjolan bekas jahitan yang mengerikan.
“Kau ingin menggigitku lagi, Cacing?” desis Du Kang serak sambil meretakkan benang sutra hitam itu menggunakan jarinya.
Bibir kiri Mu Jin kini terikat rapat oleh benang kasar, menyisakan garis jahitan tebal yang membentang dari sudut mulut hingga ke dekat telinganya. Sebuah ukiran luka permanen yang makin menghapus sisa-sisa wajah manusianya.