Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pedang Pemabuk dan Perangkap Sang Dewa
"Menjadikan cangkang kura-kura kami sebagai mangkuk arak?!"
Wajah Utusan Ao Hai, yang sebelumnya memancarkan keagungan dewa lautan, kini berubah sehitam dasar palung samudra. Di Alam Atas maupun di lautan timur, tidak ada satu pun makhluk bernapas yang berani berbicara dengan nada menghina seperti itu kepadanya. Apalagi yang merendahkannya hanyalah seorang pria tua kotor di Transformasi Dewa Tingkat 3!
Dua pemuda murid Ao Hai yang baru saja dipermalukan karena serangan tsunami mereka dipatahkan, langsung meledak dalam amarah.
"Guru, biarkan kami berdua yang menguliti anjing tua ini!" teriak pemuda pertama.
Tanpa menunggu persetujuan Ao Hai, kedua pemuda di Transformasi Dewa Tingkat 1 dan 2 itu melesat maju. Trisula di tangan mereka memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, menyedot kelembapan di udara untuk membentuk dua ekor naga air raksasa sepanjang seratus meter.
"Mati kau, Pengemis Tua!" Keduanya menusukkan trisula mereka secara bersamaan, mengarahkan rahang naga air raksasa itu untuk menelan Li Canggong hidup-hidup.
Di udara, Li Canggong bahkan tidak mencabut pedang berkaratnya dari sarung. Ia hanya mengangkat labu araknya, meminum seteguk besar, lalu menggembungkan pipinya.
Saat naga air raksasa itu hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya, Li Canggong menyemburkan arak dari mulutnya.
PFFFT!
Semburan arak itu tidak jatuh ke bumi. Begitu keluar dari mulut sang Penatua, setiap tetes arak bermutasi menjadi ribuan bilah pedang Qi (hawa murni) mikroskopis yang memancarkan niat membunuh yang melampaui batas fana.
"Seni Pedang Tiga Ribu Dunia Mabuk: Hujan Arak Pemotong Karang!"
SRAAAKK! KRAAAAK!
Dua naga air raksasa bertenaga Transformasi Dewa itu langsung terpotong-potong menjadi jutaan kubus air berukuran sama rata dalam sekejap mata. Hujan pedang arak itu tidak berhenti di situ; ia menembus sisa-sisa air dan menghantam kedua pemuda dari Kuil Naga Laut tersebut.
"AARGHHH!"
Keduanya menjerit histeris. Zirah sisik naga tingkat tinggi yang mereka banggakan sobek layaknya kertas basah. Tubuh mereka terpental mundur, berlumuran darah, dan menabrak lambung kereta kura-kura raksasa hingga kereta itu bergetar hebat.
Hanya dengan satu semburan arak, dua ahli Transformasi Dewa dilumpuhkan!
Kaisar Suci yang menonton dari pinggir kereta menelan ludah dengan susah payah. Kakinya bergetar. "Mengerikan! Niat pedang orang tua itu... itu bukan hawa murni biasa. Dia telah menyentuh batas Hukum Pedang itu sendiri!"
Ao Hai menangkap kedua muridnya yang nyaris pingsan. Wajahnya yang arogan kini berkerut karena amarah yang tak tertahankan.
"Bagus... Bagus sekali! Seekor katak daratan berani melukai anggota Kuil Naga Laut!" raung Ao Hai.
BZZZZT!
Hawa murni dari Transformasi Dewa Tingkat 6 meletus sepenuhnya. Langit siang di perbatasan wilayah timur seketika menjadi segelap malam. Badai topan raksasa terbentuk dari kehampaan. Ao Hai melangkah maju, dan dengan setiap langkahnya, ruang di sekitarnya retak seperti cermin yang pecah.
Li Canggong perlahan menurunkan labu araknya. Matanya yang sayu kini setajam elang. Ia perlahan meletakkan tangannya di atas gagang pedang besi berkarat di pinggangnya.
"Akhirnya ikan besarnya keluar," gumam Li Canggong, tersenyum menyeringai.
"Mati, kau sampah!" Ao Hai mengangkat tangan kanannya. Sebuah cakar naga raksasa berwarna biru tua, terbuat dari energi esensi air yang dipadatkan hingga seberat gunung baja, terbentuk di langit dan menyambar ke arah Li Canggong dengan kecepatan cahaya.
"Cakar Naga Laut Penghancur Surga!"
Merasakan tekanan destruktif dari tingkat 6, Li Canggong mendengus keras. Ia langsung menghunus pedang berkaratnya.
SYING!
Saat pedang itu keluar dari sarungnya, karat di permukaannya rontok, memperlihatkan bilah putih salju yang memancarkan cahaya seterang matahari. Li Canggong menebas ke atas, menyatukan seluruh kultivasinya ke dalam satu garis pedang yang membelah kosmos.
BOOOOOOOOM!
Bentrokan antara Cakar Naga Air dan Pedang Cahaya menciptakan ledakan energi melingkar yang merobek awan dalam radius lima ratus mil. Kaisar Suci dan seribu Pasukan Naga Laut terpaksa membentuk perisai raksasa agar tidak terhempas oleh gelombang kejut tersebut.
Di pusat ledakan, Li Canggong mendengus tertahan. Pedangnya berhasil membelah cakar raksasa itu menjadi dua, namun perbedaan tiga ranah budidaya terlalu besar untuk diabaikan. Gaya tolak dari serangan itu membuat dada Li Canggong terasa sesak. Jejak darah merembes dari sudut bibirnya.
"Sialan, tua bangka dari laut ini memang punya tenaga badak," batin Li Canggong. Ia tahu ia bisa menahan orang ini jika ia menggunakan nyawanya untuk bertarung, namun ia teringat perintah Lin Xuan.
Jangan bertarung sampai mati. Pancing mereka masuk.
Dengan senyum licik yang tak terlihat, Li Canggong sengaja membiarkan tubuhnya terlempar ke belakang akibat sisa ledakan. Ia terhuyung-huyung di udara, seolah-olah terluka parah.
"Hahaha! Tenaga yang lumayan untuk seekor ikan!" teriak Li Canggong sambil terbatuk (yang setengahnya hanya akting). "Sayang sekali perutku butuh arak lagi! Jika kau berani, kejar kakek ini ke dalam gunung!"
Li Canggong menggunakan momen lemparan itu untuk melesat mundur. Dengan lambaian tangannya, ia membelah selaput cahaya keemasan (batas Wilayah Mutlak 150 km milik Lin Xuan) untuk masuk ke dalam, menyisakan sebuah 'celah' yang tampaknya belum tertutup sempurna akibat serangannya barusan.
Melihat musuhnya melarikan diri ke dalam formasi dengan tubuh terluka, Ao Hai tertawa penuh kemenangan.
"Berpikir untuk sembunyi setelah melukai muridku? Bermimpilah!" Ao Hai tidak lagi memiliki kewaspadaan. Ia berasumsi bahwa Li Canggong adalah pilar terkuat sekte ini, dan formasi pelindung sekte itu sedang melemah atau terbuka karena retakan dari pelarian lelaki tua itu.
"Yang Mulia Kaisar Suci! Pasukan Naga Laut! Maju!" perintah Ao Hai dengan suara menggelegar. "Kita tembus celah formasi itu sebelum tertutup! Hari ini, aku akan mencabut urat nadi orang tua itu dan meratakan seluruh gunung mereka!"
Kaisar Suci sempat ragu. Insting penguasanya mencium sesuatu yang ganjil. Mengapa formasi yang sebelumnya menahan tsunami raksasa kini memiliki celah?
Namun, melihat Ao Hai sudah mengendalikan kereta kura-kura raksasa menembus celah emas tersebut, Kaisar Suci tidak punya pilihan lain. Ia harus ikut, atau ia akan dianggap berkhianat oleh Kuil Naga Laut.
Seribu pasukan elit Kuil Naga Laut, kereta raksasa, dan Kaisar Suci menerjang masuk melewati batas 150 kilometer, menembus selaput emas perlindungan Gunung Bintang Jatuh tanpa perlawanan apa pun.
Mereka tidak sadar, bahwa selaput itu bukanlah dinding untuk mencegah orang masuk. Itu adalah jaring, dan mereka baru saja berenang secara sukarela ke dalamnya.
Di pelataran Aula Bintang Jatuh.
Li Canggong mendarat di depan Lin Xuan. Ia menenggak araknya dalam satu tegukan besar, menghapus sisa darah di bibirnya.
"Mereka memakan umpannya, Ketua," lapor Li Canggong sambil tersenyum lebar. "Seluruh armada mereka, termasuk Kaisar Suci dan si tua bangka dari laut itu, kini telah masuk ke dalam wilayah kita."
Lin Xuan, yang masih duduk santai di kursi goyangnya, mengangguk pelan. Mata keemasannya memancarkan cahaya yang sangat misterius dan mematikan.
Di layar benaknya, notifikasi sistem berdering dengan liar.
[Peringatan: Entitas musuh telah melintasi batas Wilayah Mutlak (Radius 150 KM)!]
[Status Hukum Alam: Diaktifkan.]
[Otoritas Tuan Rumah di dalam wilayah saat ini: KAISAR ABADI (Immortal Emperor)!]
Lin Xuan perlahan bangkit berdiri. Jubah putih Ketua Sekte Abadi yang ia kenakan mulai memancarkan pendaran cahaya suci yang membuat ruang hampa di sekitarnya terdistorsi.
"Kau bekerja dengan baik, Penatua Li. Beristirahatlah," ucap Lin Xuan, suaranya kini dipenuhi oleh gema kosmik yang tidak lagi terdengar seperti manusia fana, melainkan suara dunia itu sendiri. "Sekte kita masih miskin dan kekurangan hewan peliharaan. Karena mereka telah berbaik hati membawakan kita naga air dan kura-kura raksasa, kurasa tidak sopan jika aku tidak menyambut mereka secara pribadi."
Lin Xuan mengambil satu langkah ke depan.
WUSH!
Ia tidak menggunakan teknik terbang atau pedang Qi. Ia hanya mengambil satu langkah, namun ruang di bawah kakinya melipat sendirinya. Dalam satu langkah itu, tubuh Lin Xuan langsung berpindah sejauh seratus kilometer, muncul tepat di udara, menghalangi jalur kereta raksasa Kuil Naga Laut.
Di atas kereta kura-kura, Ao Hai, Kaisar Suci, dan seribu pasukan laut mendadak menghentikan laju mereka.
Mata mereka terkunci pada sesosok pemuda berjubah putih yang melayang sendirian di tengah lautan awan, menghalangi armada mereka. Pemuda itu tidak memancarkan hawa murni atau tekanan kultivasi, namun hanya dengan berdiri di sana, ia membuat seluruh langit terasa runtuh menekan dada mereka.
"Siapa kau?!" bentak Ao Hai, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. "Di mana orang tua bangka berpedang tadi?!"
Lin Xuan menunduk, memandang Ao Hai dengan tatapan yang sangat kosong, sedingin luar angkasa.
"Kalian membobol masuk ke pekaranganku, dan kalian bahkan tidak tahu siapa pemilik rumah ini?" suara Lin Xuan menggema dari segala arah, dari langit, dari awan, dan dari dalam jiwa mereka.
Lin Xuan perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara.
"Selamat datang di Gunung Bintang Jatuh. Di sini... kalian bukanlah dewa, kalian bukanlah kaisar, dan kalian bukanlah naga laut."
Mata Lin Xuan menyala dengan api keemasan mutlak.
"Di sini, kalian hanyalah debu."