Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Anjing Kecil Bernama Bola
"Felicia harus dibuat takut."
Kalimat itu tidak sampai ke telinga Felicia, tapi suasananya sampai.
Sejak pagi, The Residence terasa lebih waspada. Adi menambah dua personel di gerbang. Pak Budi memeriksa ulang daftar tamu. Kevin menerima tiga panggilan singkat, semuanya dijawab dengan kata-kata pendek yang membuat udara di ruang makan makin dingin.
Felicia pura-pura tidak melihat.
Ia duduk di meja makan dengan semangkuk bubur dan daftar belanja dapur, tapi pikirannya berulang kali kembali pada wajah Madam Liem semalam. Senyum yang hilang. Mata yang dingin. Ancaman yang belum berbentuk.
***"Host, tingkat risiko naik. Disarankan tidak keluar tanpa pengawalan."***
*Aku baru menang satu ronde, langsung naik level musuh. Game ini tidak ada mode easy, ya?*
Kevin yang duduk di seberang meja mengangkat mata sebentar.
"Hari ini di rumah."
"Saya belum bilang mau keluar."
"Wajahmu bilang."
Felicia menunjuk pipinya sendiri. "Mulai hari ini saya akan tuntut wajah saya karena terlalu banyak bicara."
Kevin tidak tersenyum, tapi tatapannya tidak sedingin biasa.
Rencana tinggal di rumah bertahan sampai pukul sebelas siang, ketika suara rengekan kecil terdengar dari taman samping.
Awalnya Felicia mengira itu suara pintu bergesek. Lalu terdengar lagi. Lemah, basah, dan sedih.
"Pak Budi?"
Pak Budi muncul dari dapur. "Ya, Bu?"
"Ada suara dari taman."
Mereka keluar melalui pintu samping. Hujan semalam meninggalkan tanah lembap dan daun-daun basah. Di dekat pot besar, sesuatu yang hitam kecil bergerak.
Felicia berjongkok.
Seekor anak anjing hitam, bulat, kotor, dan menggigil menatapnya dengan mata besar. Tubuhnya penuh lumpur, satu telinganya terlipat, dan perutnya berbunyi pelan.
"Aduh..." Felicia mengulurkan tangan hati-hati. "Kamu dari mana?"
Anak anjing itu mundur sedikit, lalu mencium jarinya.
Pak Budi ikut berjongkok. "Sepertinya masuk dari sela pagar belakang, Bu. Mungkin tersesat."
"Boleh kita bawa masuk dulu? Dia kedinginan."
Pak Budi ragu. "Pak Kevin..."
"Saya yang bicara."
*Lihat mukanya. Bulat banget. Kayak bakso gosong. Tidak mungkin ditinggal.*
Felicia mengangkat anak anjing itu dengan handuk taman. Ia sangat ringan. Terlalu ringan. Anak anjing itu mengeluarkan suara kecil, lalu menyusup ke lipatan handuk seolah akhirnya menemukan tempat aman.
"Mulai sekarang kamu Bola," kata Felicia.
Pak Budi berkedip. "Bola, Bu?"
"Karena dia bulat."
Pak Budi mencoba menahan senyum. "Nama yang... mudah diingat."
Bola dibawa ke area laundry belakang, dimandikan air hangat, diberi susu khusus sementara Pak Budi menghubungi dokter hewan langganan kompleks. Dalam waktu satu jam, makhluk hitam kotor itu berubah menjadi anak anjing hitam mengilap dengan mata seperti minta disayang setiap lima detik.
Felicia duduk di lantai, membungkus Bola dengan handuk kecil.
"Kamu resmi jadi penghuni The Residence."
***"Host mendapatkan side quest: Rawat Bola sampai sehat. Reward: Poin kecil dan peningkatan mood."***
"Mood-ku memang naik."
Bola menjilat jarinya.
Felicia tertawa.
Suara tawa itu membuat Kevin yang baru turun dari lantai tiga berhenti di koridor.
Ia jarang mendengar Felicia tertawa lepas. Biasanya tawanya tertahan, atau hanya muncul dalam hati dengan bentuk komentar aneh. Kali ini suaranya ringan.
Kevin berjalan ke arah laundry.
"Felicia, apa yang..."
Kalimatnya putus.
Bola mengangkat kepala.
Anak anjing kecil itu menggonggong sekali. Suaranya kecil, bahkan lebih mirip cegukan.
Namun tubuh Kevin langsung membeku.
Warna wajahnya berubah.
Felicia masih tersenyum saat menoleh, lalu senyumnya pelan-pelan hilang.
"Mas Kevin?"
Kevin tidak menjawab. Matanya tertancap pada Bola. Bahunya menegang. Satu tangannya mencengkeram sisi pintu begitu kuat sampai buku jarinya memutih.
Bola, yang tidak mengerti dosa masa lalu dunia, menggeliat ingin turun dari pangkuan Felicia.
Kevin mundur satu langkah.
Gerakan itu kecil, tapi bagi Felicia terasa seperti kaca pecah.
"Pak Budi," katanya cepat, "tolong pegang Bola."
Pak Budi langsung mengambil anak anjing itu dan membawanya agak menjauh. Bola merengek, bingung.
Felicia berdiri. "Mas Kevin, kamu tidak apa-apa?"
"Jauhkan."
Suaranya serak.
Bukan dingin.
Takut.
Felicia mendekat setengah langkah. Kevin mundur lagi.
Ia berhenti.
*Dia takut. Ya Tuhan, dia benar-benar takut.*
Kevin menutup mata sekejap, seperti marah pada tubuhnya sendiri. "Jangan bawa anjing masuk rumah."
"Maaf. Saya tidak tahu."
"Keluarkan."
Kata itu tajam. Bola merengek lagi dari pelukan Pak Budi. Felicia menoleh ke anak anjing kecil itu, lalu kembali melihat Kevin yang masih pucat.
***"Host..."***
Suara Si Kepo tidak seceria biasa.
Panel kecil muncul di sudut pandangan Felicia.
Foto lama. Halaman luas di Singapore. Anak kecil dengan tubuh kurus. Suara gonggongan besar. Pagar tinggi. Anak itu jatuh, melindungi wajah dengan tangan kecil.
Felicia langsung merasa perutnya dingin.
***"Trauma trigger terdeteksi. Saat usia delapan tahun, Kevin pernah diserang anjing penjaga di properti Wijaya. Luka wajah kiri berasal dari gigitan dan benturan saat ia mencoba melarikan diri."***
Felicia menutup mulut.
Kevin mendengar suara hati yang mendadak kosong.
Lalu ia mendengar satu kalimat yang sangat pelan.
*Mereka melepaskan anjing pada anak delapan tahun?*
Kevin membuka mata.
Felicia berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat, mata berkilat bukan karena takut, melainkan marah.
Marah untuknya.
Itu membuat Kevin lebih tidak siap daripada gonggongan Bola.
"Keluar," katanya lagi, tapi kali ini suaranya lebih lemah.
Felicia mengangguk. "Bola akan saya taruh di area belakang dulu. Tidak akan mendekatimu."
"Aku bilang keluarkan."
"Mas Kevin." Felicia menahan suaranya agar tetap lembut. "Dia bayi. Dia lapar, kedinginan, dan tidak tahu apa-apa. Kalau kamu tidak bisa berada dekat dia, saya paham. Saya tidak akan memaksamu. Tapi jangan hukum dia karena manusia jahat pernah menyakitimu."
Kevin menatapnya.
Ruangan terasa sangat sunyi.
Pak Budi menunduk, memeluk Bola yang kini diam.
*Aku tidak tahu bagaimana menyembuhkan luka seperti itu. Tapi aku bisa mulai dari tidak membiarkan ketakutan menentukan semua hal. Pelan-pelan. Kalau dia belum siap, Bola tidak akan mendekat. Tapi suatu hari, aku ingin dia tahu tidak semua anjing adalah mimpi buruk.*
Kevin mendengar setiap kata.
Sesuatu di dadanya bergerak sakit.
"Terserah," katanya akhirnya.
Ia berbalik dan berjalan cepat menuju tangga.
Felicia tidak mengejar.
Baru setelah langkah Kevin hilang di lantai atas, ia berjongkok di depan Bola. Anak anjing itu menatapnya dengan mata polos.
"Kamu dengar, Bola? Kita punya pekerjaan besar."
Bola menjilat udara.
Felicia mengusap kepalanya. "Pertama, kamu harus sehat. Kedua, jangan kejar Mas Kevin. Ketiga..."
Ia menatap lantai atas.
Di sana, di balik dinding tebal dan pintu ruang kerja, ada pria dewasa yang masih membawa ketakutan anak delapan tahun.
***"Host, emosi marah terdeteksi. Target?"***
Felicia tersenyum tipis. Tidak manis. Tidak lucu.
"Wijaya Group."
***"Peringatan: lawan level tinggi."***
"Aku tahu."
Ia mengangkat Bola ke pangkuannya lagi, kali ini lebih hati-hati.
"Kalau mereka bisa melepaskan anjing pada anak kecil, berarti mereka pantas merasakan dikejar balik."
Di lantai tiga, Kevin berdiri di balik pintu ruang kerja, napasnya belum sepenuhnya stabil.
Ia mendengar sumpah itu.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa masa lalunya hanya miliknya sendiri untuk ditanggung diam-diam.