NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suara mesin mobil van menderu membelah keheningan jalanan kota yang basah oleh hujan.

Brummm.

Di dalam mobil itu, suasana terasa sangat tegang dan mencekam.

Pembunuh bayaran itu akhirnya membuka matanya perlahan.

Dia mendapati dirinya terikat kuat di sebuah kursi besi yang dilas ke lantai mobil.

"Ugh, lepaskan aku keparat."

Pria itu meronta dengan kasar mencoba melepaskan ikatan tali tambang di tubuhnya.

Kriet kriet.

Tali itu bergesekan dengan bajunya tapi sama sekali tidak mengendur.

Sony duduk santai di depannya sambil memutar-mutar sebuah pisau belati bergerigi.

Itu adalah pisau milik pembunuh itu sendiri yang disita oleh Sony tadi.

"Kau sudah bangun rupanya, Tuan Pembunuh."

Sony bersuara pelan tanpa menghentikan putaran pisau di tangannya.

"Lebih baik kau bunuh aku sekarang juga."

Pria itu meludah ke lantai mobil dengan raut wajah penuh kebencian.

"Organisasiku pasti akan memburu kalian semua sampai ke ujung dunia."

Nadhira yang duduk di kursi belakang sedikit beringsut mundur mendengar ancaman itu.

Dia menggenggam erat kameranya dengan tangan yang sedikit berkeringat dingin.

"Mereka tidak akan memburuku jika aku yang mendatangi mereka lebih dulu."

Sony menghentikan putaran pisaunya dan menatap tajam mata pria itu.

"Katakan padaku di mana markas Sindikat Bayangan cabang kota ini berada."

"Siapa nama pemimpin yang menyuruhmu membunuh Dimas malam ini?"

Sony melemparkan dua pertanyaan itu dengan nada suara yang datar namun mengancam.

Pria itu malah tertawa serak memamerkan giginya yang berdarah.

"Hahaha, kau pikir aku akan mengkhianati bosku hanya karena diikat seperti ini?"

"Siksa saja aku sesukamu, bocah."

"Aku sudah dilatih untuk menahan rasa sakit tingkat tinggi."

Sony tersenyum tipis mendengar kesombongan dari tawanan barunya itu.

"Pelatihan menahan rasa sakit ya?"

"Itu terdengar sangat mengesankan untuk seekor anjing peliharaan."

[Sistem Pemberitahuan: Mata Dewa diaktifkan]

[Memindai struktur saraf target untuk menemukan titik rasa sakit paling sensitif]

[Titik kelemahan ditemukan pada simpul saraf di pangkal bahu kanan target]

Sony menatap layar biru transparan yang hanya bisa dilihat olehnya itu.

Dia menyeringai melihat sebuah titik merah kecil berkedip di bahu kanan pria tersebut.

"Mari kita lihat seberapa hebat hasil pelatihanmu itu."

Sony berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati pria yang terikat itu.

Grep.

Sony menggunakan ujung gagang pisau belati dan menekannya kuat ke bahu kanan pria itu.

Tepat di titik merah yang ditunjukkan oleh sistem.

"Arghhh."

Pria itu langsung menjerit dengan suara yang sangat melengking dan menyayat hati.

Matanya mendelik ke atas dan urat-urat di lehernya menonjol keluar seakan mau pecah.

Rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik tegangan tinggi.

"Bagaimana rasanya?"

Sony bertanya santai sambil terus menekan titik saraf itu tanpa belas kasihan.

"Ini baru tekanan ringan dari gagang pisaumu sendiri."

"Aku belum menggunakan ujung tajamnya untuk menguliti sarafmu satu per satu."

Pria itu menggelepar hebat di kursinya dengan nafas yang terputus-putus.

Air mata dan keringat dingin bercampur mengalir deras dari wajahnya.

"Hentikan, kumohon hentikan."

Pria itu memohon dengan suara yang sudah hampir habis karena berteriak.

"Sakit sekali rasanya, tolong lepaskan aku."

Sony menarik kembali pisaunya dan kembali duduk di kursinya dengan tenang.

"Aku akan melepaskannya jika kau menjawab pertanyaanku dengan jujur."

Sony menunjuk wajah pria itu dengan ujung pisaunya.

"Satu kebohongan saja keluar dari mulutmu, aku akan menekan titik itu lebih keras lagi."

Pria itu terengah-engah meraup oksigen sebanyak mungkin ke paru-parunya.

Sombongnya hilang sudah tidak tersisa sedikit pun.

"Baik, baik, aku akan bicara semuanya."

Pria itu menundukkan kepalanya dengan tubuh yang masih bergetar hebat.

"Nama bosku adalah Viktor, dia pemimpin cabang untuk wilayah Jakarta."

"Di mana dia bersembunyi sekarang?" Sony bertanya lagi tanpa membuang waktu.

"Dia menggunakan sebuah tempat hiburan malam sebagai markas utama kami."

"Namanya Club Malam Obsidian, letaknya di pusat kawasan elit kota ini."

Pria itu menjawab dengan cepat karena takut disiksa lagi oleh Sony.

Nadhira yang sedari tadi merekam percakapan itu langsung bersuara dari belakang.

"Club Malam Obsidian?"

"Aku tahu tempat itu, itu adalah klub paling eksklusif dan mahal di ibu kota."

Nadhira menatap Sony dengan wajah penuh keterkejutan.

"Hanya kalangan miliarder dan pejabat tinggi yang bisa masuk ke sana, Sony."

"Bahkan polisi tidak berani merazia tempat itu karena dukungan dari pusat."

Sony menganggukkan kepalanya pelan meresapi informasi dari Nadhira.

"Tempat persembunyian yang sangat cerdas untuk sebuah organisasi kriminal."

"Mereka bersembunyi di balik keramaian pesta dan uang orang-orang kaya."

Sony kembali menatap pembunuh bayaran itu dengan pandangan dingin.

"Lalu di mana Viktor menyimpan data transaksi penjualan racun sarafnya?"

Pria itu menelan ludahnya dengan susah payah sebelum menjawab.

"Semua data penting disimpan di brankas utama ruang bawah tanah klub itu."

"Tapi tempat itu dijaga oleh puluhan pengawal bersenjata api lengkap."

"Kalian tidak akan pernah bisa masuk ke sana hidup-hidup."

Pria itu masih mencoba menakut-nakuti Sony dengan pertahanan markasnya.

Bugh.

Sony meninju wajah pria itu hingga dia pingsan seketika.

"Aku tidak butuh pendapatmu soal itu."

Sony membersihkan tangannya menggunakan selembar tisu basah.

Dia lalu menoleh ke arah kursi pengemudi di bagian depan van.

"Leo, kau dengar semuanya kan?"

"Saya dengar dengan sangat jelas, Tuan Sony."

Suara berat Leo menjawab dari balik kemudi sambil terus fokus menyetir.

"Kita urus sampah ini di gudang, lalu persiapkan akses untuk masuk ke klub itu besok malam."

Sony memberikan perintah dengan nada suara yang penuh keyakinan.

"Baik, Tuan."

"Saya akan menggunakan aset perusahaan Pratama untuk membuatkan Anda kartu keanggotaan VVIP."

Leo memutar kemudi ke arah sebuah kawasan pergudangan kosong di pinggiran kota.

Keesokan harinya, matahari sudah terbenam menggantikan langit menjadi gelap.

Sony berdiri di depan cermin besar di kamar hotelnya yang mewah.

Dia mengenakan setelan jas desainer berwarna biru dongker yang sangat pas di tubuhnya.

Rambutnya disisir rapi ke belakang memberikan kesan seorang miliarder muda yang arogan.

Klek.

Pintu kamar terbuka dan Leo masuk membawa sebuah kotak beludru kecil.

"Tuan Sony, ini adalah kartu keanggotaan VVIP Club Malam Obsidian atas nama Anda."

Leo membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah kartu berwarna hitam legam dengan lapisan emas.

"Proses pendaftarannya sangat cepat karena saya mendepositkan uang seratus miliar rupiah siang tadi."

Sony mengambil kartu itu dan memutarnya perlahan di antara jari-jarinya.

"Seratus miliar hanya untuk syarat masuk ke sebuah club malam?"

"Viktor ini benar-benar tahu cara mengumpulkan uang panas dengan mudah."

Sony memasukkan kartu mahal itu ke dalam saku jas bagian dalamnya.

"Apakah Nadhira sudah siap di bawah?" Sony bertanya sambil berjalan menuju pintu.

"Nona Nadhira sudah menunggu di dalam mobil, Tuan."

"Tapi dia terus mengeluh soal pakaian yang Anda suruh dia pakai malam ini."

Leo menjawab dengan nada datar yang sedikit menyiratkan nada geli.

Sony hanya tersenyum tipis dan melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.

Beberapa menit kemudian, Sony masuk ke dalam mobil limousin hitam yang menunggu di lobi.

Di kursi penumpang, Nadhira sedang duduk dengan wajah ditekuk kesal.

Dia mengenakan gaun malam berwarna merah marun yang sangat ketat dan terbuka di bagian punggung.

Wajahnya dipoles dengan riasan tebal yang membuatnya terlihat sangat cantik sekaligus menggoda.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!