Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Setelah sarapan, Valeska dan ketiga temannya beranjak dari rumah. Kebetulan hari ini, mereka ingin ikut bersama nek Murti, untuk mengambil ikan di empang miliknya.
"Anak-anak, sarapannya sudah selesai?" tanya nek Murti, matanya berbinar penuh haru saat melihat keempat gadis di depannya yang sudah berbalut dalam pakaian sederhana khas anak-anak desa.
Kain jarik melilit dipinggang kecilnya, kaos berlengan pendek, dan rambut yang sengaja dikepang. Tawa mereka pecah sesekali, mengisi udara dengan keceriaan yang tulus. Sepatu mereka disimpan, dan sekarang hanya mengenakans endal jepit sederhana.
"Ayok Nek, kita sudah siap." Jawab Prisha, mewakili teman-temannya. Mereka pun berjalan beriringan, melewati jalan setapak di antara ladang hijau yang dipenuhi aroma tanah basah dan harumnya bungan luar di sekitar mereka.
Valeska dan teman-temannya tidak henti bersyukur saat menatap pemandangan indah yang terbentang luas di depannya. Burung-burung kecil terbang rendah, seakan ingin ikut bergabung bersamanya. Setelah sampai di empang, pandangan mereka disambut oleh air yang tenang, memantulkan langit biru yang cerah.
Prisha melempar batu pipih agar memantul dipermukaan air. "Eh, kok bisa?" tanya Anaya.
"Bisa dong, coba geh, seru tahu." Jawab Prisha.
Satu demi satu, mereka mencoba dan tawa riang pun mulai terdengar saat batu melompat jauh di atas air sebelum tenggelam. Mereka tampak asyik, tanpa peduli pada waktu yang berlalu begitu cepat.
"Nenek mau kemana?" tanya Laksha.
"Nenek mau ngambil rumput liar, sebentar ya, kalian main aja, jangan ikut nyemplung." Jelas nek Murti.
Nek Murti mulai memetik rumput liar yang tumbuh di tepi empang, kemudian menunjukkan kepada mereka bahwa akarnya bisa dijadikan mainan seperti perahu kecil. Nek Murti membuat perahu dari dedaunan dan ranting.
"Lihat Nak, ini mainan kesukaan Nenek waktu dulu," ucapnya sambil tertawa ringan. Setelah selesai di rakit, perahu itu pun berlayar pelan, dibawa arus kecil, dan membangkitkan kegembiraan yang sederhana tapi banyak kenangan.
"Jadi, kita ngambil ikannya gimana, sih?" tanya Valeska sambil berkacak pinggang, matanya menyapu permukaan air yang tenang. Bingungnya jelas terlihat, ini pertama kalinya dia terlibat dalam urusan memancing.
"Pake pancing aja, terus kita kasih pakan sedikit. Nggak perlu banyak-banyak," jawab Prisha sambil tersenyum, lalu menyerahkan segenggam pakan ikan pada Valeska.
"Lho, kita yang mancing sendiri?" Laksha menimpali.
"Gue mana pernah mancing. Seumur-umur, baru kali ini, lho."Prisha hanya menggeleng, tak banyak berkata.
"Nggak usah kebanyakan drama. Udah, ambil semua pakannya.Sebelum Nenek datang, kita harus dapet.
"Setelah membagi rata pakan ikan, mereka duduk bersisian di pinggiran empang.
Sejenak, alam pun terasa ikut diam bersama mereka, menunggu. Sepuluh menit berlalu, lima belas menit, hingga tiga puluh menit. Namun, umpan mereka tidak disambar.
"Sha, ini ikannya nggak ada ya? Kok nggak muncul-muncul?" bisik Anaya, mulai tak sabar.
"Hus, jangan berisik!" jawab Prisha, masih tekun menatap ujung pancingnya.
"Nanti ikannya malah kabur." Laksha mendengus, menghentakkan kakinya ke tanah.
"Pegel banget gue, ikannya nggak mau naik kepermukaan. Kesel banget, deh."
"Tunggu bentar ..." ucap Prisha, tanpa berpaling.
"Udah satu jam, Sha," sahut Valeska. "Masih nggak ada hasil. Kayaknya cuma buang-buang waktu duduk disini."
"Mungkin aja, hari ini ikannya nggak nafsu makan," Anaya ikut berkomentar, berusaha mencari alasan.
"Atau, mungkin dia bosan sama pakan yang selalu dia makan. Siapa tahu, dia ngidam salmon, kayak gue sekarang."
Tak ada yang menanggapi, mereka semua kembali tenggelam dalam diam dan harapan yang kian memudar. Waktu terus berjalan, namun nasib seolah belum berpihak.
"Aduh, Nenek. Tolong deh, ini lama banget. Nenek, ke sini dong." Anaya akhirnya berteriak, frustasi.
Dia bangkit sambil menghentakkan kaki, raut wajahnya penuh kekesalan. Kesabarannya jelas tak lagi bersisa,matanya lelah karena menunggu dalam diam.
"Tungg--"
"Nggak, gue nggak mau tunggu lagi!" Anaya memotong ucapan, Prisha.
"Gue udah capek, Sha. Dari tadi lo bilang 'bentar lagi'. Bentar lagi yang kayak gimana sih?" Ketiganya tertegun, Prisha tak bisa berkata-kata.
Definisi "bentar lagi" rupanya memang bisa berbeda-beda bagi setiap orang.
"Kaki gue kesemutan, kepala gue pusing. Penderitaan macam apa ini," keluh Valeska, memegangi kakinya yang mulai pegal.
"Kapok gue. Demi apa gue kapok!" sambung Laksha, tak kalah frustasi.
"Kalau bisa gofood ikan, gue gofood asli," tambah Anaya, membayangkan kenyamanan yang tak tercapai.
Dan mereka kembali dalam keheningan, terpaut antara rasa putus asa dan ketidakmampuan melepaskan tawa dari kekonyolan yang mereka buat sendiri. Mungkin, empang itu menanti dengan sabar, sama seperti mereka yang berusaha memahami seni dari sebuah penantian.
Nek Murti pun tiba di empang setelah menyelesaikan beberapa kerjaan di ladang. Nek Murti yang sejak tadi menyuruh mereka agar duluan ke rumah, langsung terkejut saat melihat raut wajah ke empat gadis yang sedang cemberut.
"Kalian masih di sini? Apa yang terjadi, Nak?" tanya Nek Murti dengan suara lembut namun penuh tanda tanya.
Mereka hanya saling pandang, bibir mereka terkunci dalam diam.
"Kami habis mancing, Nek, tapi nggak dapat," jawab Anaya lesu, wajahnya menunduk penuh kecewa. Nek Murti menghela napas panjang mendengar penjelasan itu.
"Lho, bukannya Nenek nyuruh kalian buat pulang, bukan mancing."
"Tapi kata Prisha, sebelum Nenek datang, kita harus dapat ikan dulu," sela Anaya dengan suara pelan.
"Ya ampun, Nenek tidak pernah bilang begitu. Mancing itu butuh keahlian dan kesabaran, kalian belum terbiasa," kata nek Murti, menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum.
"Prisha yang suruh, Nek. Pakannya sudah habis, tapi ikannya nggak ada yang tertangkap. Kami benar-benar menyesal, Nek ..." ujar Valeska, menatap pada nek Murti dengan tatapan lelah.
"Duh, padahal Nenek tidak menyuruh begitu. Nenek hanya berpikir nanti yang ambil ikan itu pekerja Nenek saja. Kalian boleh main di sini, tapi tak perlu mancing segala," jelas nek Murti sambil menggeleng tak habis pikir.
"Hihi ... maaf, memang benar kata Nenek. Tapi kan, gue lagi pengen mancing, kebetulan alat mancingnya ada, ya udah gue ajak kalian saja," Prisha mengaku tanpa beban, membuat teman-temannya mengepalkan tangan sambil menatapnya kesal.
"Astaga! Coba ulang lagi, gue kurang dengar, Sha," kata Laksha dengan nada tak percaya.
"Jadi, Nenek nggak menyuruh kita mancing?" tanya Valeska dengan nada tak percaya.
"Tadinya Nenek mau pakai jaring biar cepat, tapi ya sudahlah. Lagi pula, ini demi menemani cucu sendiri," kata nek Murti sambil tersenyum maklum.
Prisha makin tersenyum cengengesan. Rasanya seru juga, hari terakhir di desa ini diisi dengan hal-hal yang tak terduga. Apalagi teman-temannya begitu polos mengikuti keisengannya.
"Nek, izinkan kami 'menghukum' cucu Nenek, ya?" kata Anaya sambil langsung mencubit Prisha, diikuti oleh temannya, yang tak kalah semangat.
"Aduh, ampun! Janji ini yang terakhir, nggak akan lagi," teriak Prisha sambil meronta.
"Nggak ada kata maaf, lo sudah bikin kita nunggu lama tanpa hasil," ucap Anaya sambil terus mencubit lengan Prisha.
"Rasakan ini, Sha!" Valeska menimpali dengan cubitan penuh dendam.
"Ampun! Badan gue bisa lebam nanti," teriak Prisha, mencoba menghindar.
"Jangan harap! Ini balasan buat yang sudah kerjain kita!" seru Anaya, ikut mencubit dengan semangat.
Nek Murti hanya tertawa kecil melihat tingkah cucunya dikerjai oleh teman-temannya. Bagi beliau, momen-momen seperti ini adalah hiburan yang mahal, sebuah kenangan yang tak ternilai.
***
Suasana malam di pedesaan begitu sejuk, udara dingin menyelimuti rumah nek Murti, hasil dari hujan deras yang turun sejak sore. Di dalam rumah, keheningan terasa akrab, membawa kedamaian yang mendorong mereka berempat untuk tidur lebih awal, terbungkus hangat di bawah selimut di ruang tamu.
Namun, pukul 21:30, Valeska tiba-tiba terbangun. Rasa sakit di kepala yang begitu intens menyerangnya, sementara perutnya bergejolak, seakan mendesak untuk segera dikeluarkan. Dengan cepat, ia bangkit dan berlari menuju kamar mandi terdekat, menghabiskan sekitar sepuluh menit di dalam untuk menuntaskan urusannya.
Keluar dari kamar mandi, pandangan Valeska tertarik pada jendela yang dibiarkan sedikit terbuka. Ia berdiri disana, memandangi rintik hujan yang masih membasahi tanah, membiarkan pikirannya larut dalam ketenangan yang dibawa oleh suasana malam.
Setelah beberapa saat, ia kembali ke tempat tidur, lalu menarik selimut untuk menghangatkan diri. Saat ia baru saja ingin memejamkan mata, suara notifikasi dari ponsel membuatnya terjaga lagi. Dengan sedikit enggan namun penasaran, dia mengambil ponsel itu, karena takut ada yang penting.
Saat membuka layar, Valeska mengernyit bingung, namun senyum segera merekah di wajahnya. Abangnya mengirim banyak pesan, membuatnya tertawa kecil, apalagi ditambah pesan yang selama ini dia tunggu, akhirnya muncul.
"Abang? Mama, Papa ... ini sungguhan?" gumamnya tak percaya, sambil menatap layar ponsel.
Dengan senyum yang tak kunjung pudar, Valeska membuka obrolan, membaca pesan satu per satu, merasakan hangatnya kasih sayang yang melintasi jarak.
Malam ini, Valeska dibuat takjub oleh beberapa hal. Abangnya yang selalu membuat Valeska tertawa, seorang wanita yang dia sebut mama tiba-tiba mengirim foto waktu Valeska kecil, dan seorang papa yang baru saja memberikan hadiah jam tangan mewah untuk kedua anaknya.
"Sebenarnya ini ada apa? Kok bisa berbarengan kayak gini?" tanya Valeska dalam hati.
***
Valeska melangkah gontai menuju depan rumah nek Murti. Pandangannya kosong, seakan tersesat di antara lamunan dan kenyataan. Pulang dari sini, dia harus menjalani kemoterapi atau pengobatan medis lainnya untuk memantau kondisi tumor yang ada di otaknya, dan mencari tanda-tanda perkembangan atau gangguan lainnya.
Setiap langkah terasa berat, sementara nyeri di kepala seakan-akan bersekutu dengan lelah yang menggelayut di batin. Seperti biasa, malam adalah waktu bagi Valeska untuk merenungi semuanya, dia selalu tidur tengah malam, lantaran isi kepalanya yang berisik. Jika di apartemen, bisa jadi abangnya marah, namun malam ini iamendapat sedikit kebebasan yang begitu berharga bagi dirinya. Bagaimana tidak, setiap malam dia selalu dipantau oleh Kaivandra agar tidur lebih cepat, lantaran penyakit yang di deritanya sering tiba-tiba terasa nyeri pada bagian kepala, disertai muntah.
Udara malam menyentuh kulitnya, memberikan rasa damai yang sulit ditemukan di balik tembok rumah. Ia duduk lesehan di teras rumah, mengamati setiap bintang yang rupanya tidak terlihat jelas di matanya. Tapi disini, hanya ada keheningan, jam segini tidak ada warga setempat yang lalu lalang. Tak jauh dari situ, ternyata nek Murti sedang berdiri di ambang pintu, mengamati seorang gadis yang sepertinya sedang kalang kabut.
Entah kenapa, setiap kali Valeska meluangkan waktu hanya untuk berdiam seperti ini, hatinya selalu tersentuh. Dia membayangkan nasib banyak orang yang menanggung kerasnya kehidupan. Ada yang tampak hampir menyerah, bahkan ada yang diam-diam bertahan dengan cara tersenyum ramah pada orang sekitar. Di sana, ditengah hiruk-pikuk ini, Valeska sadar bahwa dunia bukan hanya panggung bagi deritanya sendiri. Setiap orang pasti membawa beban di pundak, menapaki jalan penuh liku. Dan ia tak lagi merasa sendirian.
Cobaan hidup tak memilih, dan semua orang sedang berjuang dalam diam. Pada akhirnya, mereka semua samaz menyimpan lelah, merangkai harapan, dan mencoba bertahan, hari demi hari. Ada kalanya kita merasa Tuhan tidak adil. Doa-doa yang dipanjatkan seakan terhempas angin, keluh kesah yang dilambungkan terasa tak berbalas.
Di titik sunyi itu, hati sering menyimpulkan bahwa tak ada yang mendengar. Padahal, tidak ada doa yang benar-benar sia-sia. Semua hanya butuh waktu, seperti musim yang menanti puncak mekarnya bunga. Jawabannya datang, tapi tak selalu saat kita menginginkannya.
Di tengah kegelisahannya, Valeska sering mendongak, menatap langit kelabu. "Langit nggak pernah kasih jawaban langsung," gumamnya pelan.
"Tapi dia selalu sediakan ruang untuk berpikir. Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban, tapi jeda."
"Nak, di luar dingin sekali. Kenapa bangun? Bukannya tadi sudah tidur?" tanya wanita paruh baya itu lembut, sambil melilitkan selimut tebal ke tubuh Valeska.
Valeska menoleh, menatap nek Murti yang duduk di sampingnya. Tubuhnya yang semula terasa dingin, kini sedikit menghangat.
"Nek?" panggil Valeska pelan, setengah berbisik.
Di hadapannya, wajah nek Murti tersenyum lembut. Garis-garis usia yang mulai tampak tak mengurangi kecantikannya.
"Kenapa kamu bisa kebangun?" tanya nek Murti, sembari mengusap kepala Valeska dengan kelembutan seorang ibu.
"Suasana di sini tenang ya, Nek. Sunyi, nggak ada kebisingan, nggak ada suara klakson, damai banget," jawab Valeska.
Dia kembali menunduk, menahan rasa haru yang muncul begitu nek Murti menyentuhnya dengan kasih yang sudah lama ia rindukan. Nek Murti memandang wajah Valeska dengan penuh perhatian.
"Rupanya, di antara mereka, cuma kamu yang pandai menyembunyikan perasaan," katanya lirih.
Valeska menoleh, bingung sekaligus tersentuh dengan kata-kata nek Murti.
"Mungkin kamu bisa berbohong pada orang lain, atau bahkan pada diri sendiri, Nak. Tapi, maaf ya, Nenek tidak mudah ditipu," ujar nek Murti sambil menggenggam tangan Valeska erat.
"Nenek bukan peramal, tapi Nenek bisa membaca hati seseorang lewat matanya," lanjutnya.
Angin malam yang dingin berembus perlahan, memberi jeda di antara kata-kata nek Murti.
"Hidup selalu memberi kita ujian, supaya kita bisa lulus dan jadi lebih kuat. Kalau hidup hanya datar, tanpa tantangan, apa yang bisa kita pelajari?" ujar nek Murti sambil tersenyum mencoba menguatkan Valeska.
"Nek ?" panggil Valeska lagi, kali ini dengan tatapan yang begitu dalam, seolah mencari kekuatan dari sosok di hadapannya.
"Apakah aku bisa sembuh, Nek? Seandainya kemoterapi, apakah ada jaminan penyakit ini akan hilang?" tanyanya dengan senyum tipis.
Hatinya bergejolak, menyadari betapa berat pertanyaan tersebut.
"Aku nggak mau hidup dalam keadaan sakit terus, Nek. Aku lelah. Kenapa Tuhan tidak memberiku tubuh yang sehat, seperti mereka? Kenapa penyakit ini harus ada di tubuhku?" lirihnya.
Air mata Valeska akhirnya jatuh, mengalir deras, memenuhi pipi yang pucat. Kali ini, ia tak lagi mampu menahan tangisnya. Valeska terdiam, hanyut dalam sunyi yang mendadak terasa lebih berat dari kata-kata.
"Aku capek, aku ingin pulang, tapi aku bahkan nggak tahu kemana. Nek, kenapa semua ini semakin terasa berat?" bisiknya, seolah anak kecil yang lelah, mengadu pada orang dewasa yang selalu ia percayai.
Nek Murti menghela napas, memandang Valeska dengan sorot penuh kasih dan rasa simpati yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Nek Murti mengubah posisi duduknya, lalu merengkuh Valeska erat. Dalam dekapan itu, tubuh Valeska gemetar hebat. Setelah sekian lama menguatkan diri, inilah kali pertama ia menangis begitu dalam sejak vonis dokter dijatuhkan.
"Tuhan ... kenapa memberiku ujian seberat ini, Nek? Apa salahku sehingga harus menanggung semua ini?"
"Nak, hentikan. Jangan pernah bertanya begitu pada Tuhan. Jika merasa perjalanan ini terlalu berat, berkeluh-kesah lah, tapi jangan menyalahkan kehendak-Nya. Sampaikan semua yang kau rasakan, jujurlah pada Tuhan. Ucapkan seperti ini. Tuhan, aku merasa hancur. Penyakit ini menggerogoti tubuhku, dan hatiku dipenuhi ketakutan. Aku tahu ini bagian dari rencana-Mu, takdir yang harus kujalani, namun ini sungguh melelahkan bagiku.
"Kau boleh mengungkapkan bebanmu, Nak, boleh menangis dan merasa rapuh. Namun di akhir, serahkan semuanya, ucapkan dengan keikhlasan, Jika memang ini kehendak-Mu, maka aku akan mencoba merelakan. Ingatlah, Tuhan tak pernah meninggalkanmu dalam duka tanpa makna."
Malam itu, dalam dekapan Nek Murti, Valeska melepaskan segala beban yang menghimpit hatinya. Di sana, dia menemukan ruang untuk melupakan sejenak semua ketakutan, berani menanyakan hal-hal yang sebelumnya enggan terucap.
Biarkan malam ini ia menjadi gadis yang lemah, biarkan air matanya mengalir, agar esok ia bisa kembali tersenyum kuat dan ceria. Valeska hanyalah manusia biasa, dengan sisi rapuh yang tersembunyi di balik senyumnya. Dia tak sekuat itu, bahkan mesin yang tak kenal lelah sekalipun bisa rusak jika terus dipaksa bekerja.
Maka, seperti mesin yang butuh perbaikan, Valeska pun perlu istirahat, untuk pulih dan melangkah lagi dengan hati yang ringan.