NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Kembang Api

"Semua." Suara Darren rendah. "Mulai dari Panti Harapan."

Keira tidak tahu kalimat itu pernah diucapkan.

Beberapa hari setelah Rapat Direksi, compound berubah wajah. Lampu dipasang di sepanjang pohon, pita merah emas digantung di pilar, bunga segar memenuhi sudut-sudut aula utama. Staf rumah tangga bergerak sejak pagi seperti pasukan perang yang senjatanya taplak meja dan vas kristal.

Malam tahun baru keluarga Hendrawan.

Ningsih lebih gugup daripada Keira.

"Mbak jangan bergerak dulu. Rambutnya belum kuat."

Keira duduk di depan meja rias Sayap Giok, memandangi pantulan dirinya dengan perasaan aneh. Gaun malam berwarna putih perak melekat di tubuhnya, bahannya jatuh lembut sampai mata kaki. Bahunya tertutup tipis, lehernya terlihat lebih panjang, dan rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai dibiarkan membingkai wajah.

"Ini gaun beli atau sewa?" tanya Keira.

Ningsih memasang anting kecil di telinganya. "Pak Darren yang menyiapkan."

"Berarti mahal."

"Mbak, malam ini jangan tanya harga."

"Kalau aku pingsan karena tahu harganya, kamu tanggung jawab."

Ningsih tertawa, tetapi matanya basah sedikit. "Mbak cantik."

Keira ingin bercanda lagi. Namun ketika berdiri, kain gaun itu bergerak seperti air di sekeliling kakinya. Untuk sesaat, ia tidak melihat anak panti, tidak melihat pelayan cafe, tidak melihat perempuan yang makan daging dengan tangan di meja keluarga Hendrawan.

Ia melihat seseorang yang mungkin bisa masuk ke aula tanpa langsung diusir.

Itu saja sudah membuat dadanya sesak.

Aula utama compound penuh cahaya ketika Keira turun dari tangga.

Suara percakapan mengecil satu detik.

Hanya satu detik, tetapi cukup.

Keira merasakan puluhan pasang mata menilai. Ada keluarga Hendrawan yang ia belum kenal, beberapa tamu bisnis, perempuan-perempuan dengan perhiasan yang bisa membeli satu deret kos-kosan, dan pria-pria yang tertawa rendah sambil memegang gelas champagne.

Mama Lian berdiri di dekat meja utama. Tatapannya berhenti pada Keira lebih lama dari biasa. Tidak ada pujian. Tidak ada celaan. Setelah beberapa detik, ia mengalihkan pandangan.

Keira menganggap itu kemenangan kecil.

Vivienne Jiang malam itu memakai gaun qipao modern warna merah gelap. Cantik, sempurna, seperti sampul majalah yang tahu dirinya mahal. Ia tersenyum kepada tamu, berbicara dengan kalimat-kalimat rapi, tetapi matanya beberapa kali bergerak mengikuti arah pandang Darren.

Darren berdiri dekat jendela tinggi, dikelilingi dua pria tua dan seorang pengusaha asing.

Matanya berada pada Keira.

Hanya sebentar.

Namun cukup untuk membuat Vivienne menurunkan gelasnya setengah sentimeter.

Keira tidak tahu harus bersikap bagaimana di tengah semua kilau itu. Ia tidak mengerti pembicaraan tentang brand Italia, tidak tahu kapan harus tertawa saat seorang tante bercerita tentang liburan ke Swiss, dan hampir mengambil gelas champagne dari sisi yang salah.

Jadi ia menggunakan kemampuan terbaiknya: tersenyum, mengangguk, dan berkata, "Iya, ya."

"Kamu suka couture?" tanya seorang perempuan berkalung mutiara.

"Iya, ya."

"Jakarta sekarang makin panas, ya."

"Iya, ya."

"Kamu biasanya pakai desainer siapa?"

Keira tersenyum lebih lebar. "Yang diskon."

Perempuan itu terdiam.

Keira mundur pelan menuju meja dessert.

Di sana, setidaknya, semua benda jujur. Kue cokelat tidak pura-pura tertarik pada silsilah keluargamu sebelum membuatmu kenyang.

Ia baru mengambil tart kecil ketika suara Felicia terdengar dari belakang rangkaian bunga.

"Bisa didandani, tapi tetap saja anak panti."

Kalimat itu cukup pelan untuk terlihat seperti bisikan, cukup keras untuk sampai ke telinga Keira.

Jari Keira menegang di piring kecil.

Dulu ia mungkin akan membalas. Di warteg, di pasar, di cafe, lidah cepat adalah senjata murah yang bisa dibawa siapa pun. Tapi malam ini, ia melihat pantulan Felicia di kaca jendela: perempuan itu sedang tersenyum kepada tamu lain, menunggu Keira membuat kesalahan.

Keira mengambil satu tart lagi.

Lalu ia berbalik, tersenyum manis, dan berjalan pergi tanpa memberi Felicia pertunjukan gratis.

Ia belajar.

Menjelang tengah malam, para tamu bergerak ke taman untuk melihat kembang api. Musik mengalun dari pengeras suara tersembunyi. Anak-anak kecil dari keluarga jauh berlarian dengan terompet. Lampu-lampu compound menyala seperti bintang rendah.

Keira ikut turun ke taman, tetapi matanya mencari satu orang.

Darren tidak ada.

Ia melihat Mama Lian berbicara dengan beberapa tante. Vivienne berdiri di dekat kolam kecil sambil menerima pujian. Felicia tertawa bersama dua perempuan lain. Pak Ji memberi instruksi kepada staf dari pinggir jalur batu.

Tapi Darren menghilang.

Keira tidak tahu kenapa kakinya membawanya ke tangga samping gedung utama. Mungkin karena ia sudah mulai memahami pola pria itu. Ketika semua orang berkumpul di bawah cahaya, Darren justru mencari tempat yang lebih tinggi dan lebih sepi.

Rooftop gedung utama compound tidak sebesar Hendrawan Tower, tetapi cukup tinggi untuk melihat lampu Menteng, garis gedung Sudirman di kejauhan, dan langit Jakarta yang mulai dipenuhi percikan awal kembang api.

Darren berdiri di tepi pembatas, sendirian.

Kemeja hitamnya membuat tubuhnya hampir menyatu dengan malam. Cahaya emas dari bawah kadang menyentuh sisi wajahnya, lalu hilang. Ia tampak seperti seseorang yang hadir di pesta miliknya sendiri hanya karena tubuhnya wajib ada, sementara pikirannya berdiri di tempat lain.

Keira berjalan mendekat.

"Pak Darren."

Darren tidak tampak terkejut. "Kamu tidak di bawah?"

"Terlalu banyak orang bertanya soal baju."

"Kamu tidak suka?"

Keira menatap gaunnya. "Suka. Tapi kalau terlalu banyak orang tahu aku cantik, nanti aku sombong."

Darren menoleh.

Untuk sesaat, wajahnya tetap dingin. Lalu sudut matanya melembut sangat tipis.

"Terlambat."

"Maksudnya?"

"Kamu sudah sombong."

Keira menatapnya, tersinggung setengah pura-pura. "Pak Darren baru saja menghina tamu sendiri."

"Tamu saya kuat."

Kalimat itu membuat dada Keira hangat dengan cara yang memalukan.

Mereka berdiri berdampingan. Di bawah, orang-orang mulai menghitung mundur. Sepuluh. Sembilan. Delapan. Suara mereka naik sampai ke rooftop seperti ombak.

Keira menatap langit. Tubuhnya masih menyimpan lelah dari hari-hari sebelumnya, tetapi malam itu angin terasa ringan. Untuk pertama kali sejak datang ke compound, ia tidak sedang berlari, tidak sedang bersembunyi, tidak sedang menahan lapar.

Tiga.

Dua.

Satu.

Kembang api pertama meledak di atas Jakarta.

Cahaya emas membuka langit. Lalu merah. Lalu perak. Suara ledakannya mengguncang dada, tetapi indah. Keira menahan napas. Cahaya itu memantul di kaca gedung jauh, di permukaan kolam compound, dan di mata Darren ketika ia menoleh.

Darren menatapnya, bukan langit.

"Sayang."

Keira membeku.

Di bawah, orang-orang bersorak menyambut tahun baru. Di langit, kembang api pecah berturut-turut. Tetapi bagi Keira, semua suara tiba-tiba menjauh.

Sayang.

Kata itu sederhana. Orang Indonesia mengucapkannya setiap hari. Pasangan, orang tua, teman dekat, bahkan pedagang bisa menggunakannya dengan ringan.

Tapi dari mulut Darren, kata itu tidak ringan.

Ia terdengar seperti sesuatu yang sudah lama mengenalnya.

Api.

Darah.

Suara pria di telinganya.

Jangan pergi.

Keira tidak sadar ia menahan napas sampai Darren sedikit mendekat.

"Selamat tahun baru, Sayang."

Kata kedua itu menghantam lebih dalam.

Keira menatap Darren. Cahaya merah dan emas bergerak di wajahnya. Matanya malam ini cokelat gelap, bukan merah. Tenang, bukan terbakar. Namun di balik tatapan itu, ada sesuatu yang membuat dada Keira terasa sakit, seolah jiwanya mengenali jalan pulang sebelum pikirannya sempat membaca peta.

"Kenapa..." Suaranya nyaris hilang.

Darren mendengar. "Kenapa apa?"

Keira ingin bertanya kenapa kata itu begitu familier. Kenapa ia merasa pernah berdiri di sisi pria ini pada malam yang berbeda. Kenapa dadanya sakit ketika ia bahagia.

Namun yang keluar hanya napas gemetar.

Air matanya jatuh.

Darren tidak bergerak selama satu detik. Lalu ia mengangkat tangan, berhenti sejenak seolah memberi kesempatan Keira mundur. Ketika Keira tidak bergerak, ibu jarinya menyentuh pipinya, menghapus air mata pertama.

"Kamu menangis?"

Keira tertawa pelan, kacau. "Saya juga bingung."

Darren menatapnya lama.

Di bawah mereka, hitungan tahun baru sudah berubah menjadi tawa, pelukan, dan musik yang lebih keras. Di rooftop, hanya ada angin dan sisa cahaya kembang api.

Keira tidak tahu apakah momen ini milik masa kini atau sesuatu yang pernah hilang.

Ia hanya tahu ketika Darren memanggilnya Sayang, ada bagian dirinya yang menjawab sebelum ia sempat mengerti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!