Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. SBR
...~•Happy Reading•~...
Valeri menahan diri tidak membalas Janet. Dia mulai menangkap sinyal ancaman bagi stabilitas kursinya. Oleh sebab itu, dia lebih memilih langkah mundur untuk menyusun strategi hadapi setiap kemungkinan yang akan muncul.
Baginya, kehadiran Janet yang begitu muda dipercaya oleh pimpinan adalah ancaman nyata bagi kelangsungan jabatannya. Karena selama ini, kedekatan dan perlakuan boss sebelumnya mengokohkan kursinya sebagai sekretaris CEO.
Tidak ada yang berani menggoyang, bahkan ada yang mau berikan apa saja padanya. Agar bisa tahu schedule atau bisa mendapat prioritas untuk bertemu CEO.
Sangat berbeda dengan sekarang. Pekerjaannya tidak lebih dari office girl. Print, foto copy dan berikan kepada asisten boss. Bahkan kalau dibanding dengan office girl, Janet lebih baik darinya. Bisa bertemu boss kapan saja, dan dipercaya untuk menyediakan minuman.
Valeri mulai merasa disingkirkan secara perlahan dari pekerjaan yang dikerjakan sehari-hari. 'Tidak bisa seperti ini terus. Lambat laun, foto copy dan print dikerjakan office girl itu juga. Maka habislah pekerjaanku.' Bisik hati Valeri.
"Permisi, Bu. Saya mau menghadap pimpinan." Janet bersikap tenang dan profesional, walau melihat ancaman dan bara api di mata Valeri. Dia langsung mengetok pintu, agar terhindar dari semburan. Valeri meredam geramannya dan terpaksa menyingkir, agar tidak terlihat oleh asisten boss.
"Silahkan." Pintu dibuka Jansen dan mempersilahkan Janet masuk dengan sopan.
Hal itu kembali memanaskan hati Valeri yang sudah suam-suam kuku. 'Dia dipersilahkan masuk dengan sopan, sedangkan aku cuma dibukain pintu. Bahkan kadang tidak diizinkan masuk.' Bisik rasa iri yang ikut memanaskan hati Valeri.
'Aku tidak boleh berdiam diri. Aku harus menyusun rencana untuk menyingkirkan office girl itu sebelum menjadi batu sandungan bagiku.' Suara hatinya mengingatkan untuk bertindak.
'Aku harus menyelidiki siapa office girl itu, sehingga dia dianggap lebih istimewa dariku.' Valeri berjalan ke tempat duduknya dengan tekad sekeras tulang.
~▪︎▪︎
Setelah kejadian itu, Janet mempunyai rutinitas tambahan setiap hari, yaitu membuat minuman buat Gevaro. Sehingga minimal 3 kali sehari dia ke ruang kerja CEO untuk mengambil sachet kopi instan, mengantar kopi dan mengambil cangkir kosong.
Hal itu dilakukan dari hari ke hari, baik pagi, siang, atau sore, jika Gevaro masuk kantor. Tanpa terasa hal itu sudah dilakukan Janet lebih dari dua minggu dan diperhatikan Valeri.
"Jan, ini sudah siang, sebentar lagi kita istirahat. Kau gak bikin minum buat boss?" Tanya Reni sambil berjalan balik ke pantry bersama Janet.
"Aku cuma tunggu perintah, Ren. Kalau diminta bikin, ya, bikin. Kalau gak, ya, kerjakan yang lain." Bisik Janet, tenang. Tapi dia mengeluarkan ponsel untuk memeriksa notifikasi.
Sejak dia sering diminta bikin minuman oleh Jensen, dia selalu membawa ponsel ke mana bekerja. Agar siap, jika dihubungi sewaktu-waktu.
"Ya, udah. Kalau begitu, mari kita rapiin ini, sebelum istirahat." Reni menunjuk peralatan yang mereka bawa. Janet mengangguk, setuju.
Setelah hari itu, Janet tidak pernah menerima notifikasi dari Jensen untuk membuat kopi. Hal itu menimbulkan tanda tanya di hati Janet. 'Apa aku sudah dibebaskan dari tugas itu? Baiklah. Aku akan konsentrasi kerjakan tugas utama.' Janet bertanya dan menjawab sendiri.
~▪︎▪︎
Di tempat lain ; Di rumah sakit swasta terkenal, Gevaro berjalan keluar bersama Jansen. "Pak, duduk di situ, saya mau ke administrasi." Jensen menunjuk kursi di lobby. Gevaro mengangguk lalu berjalan ke kursi kosong.
Dia terdiam saat melihat seorang anak kecil laki-laki berlari ke arahnya. Sontak Gevaro memegangnya dengan kedua tangan. "Hati-hati. Nanti jatuh." Bisik Gevaro sambil memegang erat lengannya.
"Asyel mau lihat Oma." Ucap Asyer dan menarik tangannya dari Gevaro yang diam membeku melihat dari dekat wajah Asyer. Dia jadi ragu melepaskan tangannya.
"Asyer, Papa sudah bilang jangan lari." Andri mengambil Asyer dari tangan Gevaro. "Terima kasih, Pak." Ucap Andri. Tapi dia terkejut melihat Gevaro dan segera menggendong Asyer untuk menyembunyikan rasa terkejutnya.
'Inikah orang itu?' Tanya hati Andri saat melihat ada sedikit kemiripan wajahnya dengan Asyer.
"Minta terima kasih, sama Om." Ucap Andri setelah mengendalikan perasaannya. Dia ingin Gevaro melihat wajah Asyer dengan jelas.
"Telima kasih Om." Ucap Asyer lalu memeluk leher Andri. "Papa, Asyel mau lihat Oma." Pinta Asyer dengan wajah sedih.
"Iya. Kita tunggu Mama. Asyer gak bisa ke ruangan Oma..." Andri menjelaskan, seakan tidak tahu Gevaro sedang menyimak percakapan mereka.
"Pak, sudah beres." Jensen mendekati Gevaro dan melapor.
"Ambilkan minum buat saya." Bisik Gevaro sambil mencari tempat duduk untuk menenangkan detak jantungnya.
'Siapa anak ini? Mengapa dia memiliki garis rahang keluarga kami?' Gevaro membatin sambil terus melihat Asyer dan Andri dari jauh.
'Mengapa dia memanggil Papa? Padahal...' Gevaro tidak meneruskan saat melihat Janet berjalan cepat mendekati Andri dan Asyer.
"Mama kenapa, Mas?" Tanya Janet sambil memegang bahu Andri.
"Mamaaa..." Asyer jadi riang melihat Mamanya. Janet mencium pipinya berulang kali dengan sayang.
"Tunggu Mama bicara dengan Papa Andri, ya. Mama mau tahu kondisi Oma." Ucap Janet sambil mengusap kepala Asyer.
"Gak pa'pa, Dek. Tadi Mama hampir jatuh, jadi kaget dan pingsan. Sekarang lagi periksa jantungnya..." Andri menjelaskan sambil mengusap bahu Janet yang panik.
"Oh, aku sampe lari. Semoga Mama gak pa'pa." Janet berharap sambil mengusap punggung Andri yang mengaminkan harapannya.
"Kalau begitu, Mas lihat Mama dulu. Biar Asyer sama aku di sini. Kita gantian dengan Bibi." Janet mengulurkan tangan untuk mengambil Asyer.
"Asyer gak usah digendong Mama, ya. Sekarang sudah besar." Andri menurunkan Asyer ke lantai. "Jangan berlarian, nanti Mama capek mengikuti Asyer." Ucapan Andri disambut dengan gerakan tangan Asyer di atas alis sambil mengatakan 'siaapp'. Hingga membuat Andri mengusap kepalanya dengan sayang.
Gevaro yang melihat dan mendengar percakapan mereka dari jauh, makin penasaran. Timbul tanda tanya besar di kepalanya saat melihat wajah Asyer mirip dengan Janet.
'Siapa mereka dan mengapa anak itu seperti pusaran yang terus menarikku untuk melihatnya.' Gevaro tidak bisa mengalihkan perhatiannya setelah melihat Asyer dari dekat dan memegangnya.
"Ini minumnya, Pak." Jansen menyerahkan botol minuman.
"Jensen, duduk di sini." Gevaro menepuk kursi di sampingnya. "Kau tahu wajah pemilik mobil yang saya minta selidiki?"
"Iya, Pak." Jensen mengambil ponsel, lalu menunjukan layar ponselnya kepada Gevaro.
"Orangnya sama dengan pria yang sedang jalan di arah jam dua itu?"
Jensen jadi melihat ke arah yang dimaksud bossnya. "Benar, Pak. Itu orangnya." Jensen mengakui dengan yakin. "Eh, kenapa Janet ada di sana bersama anak..." Jensen tidak meneruskan, tapi melihat ke arah bossnya. Berbagai tanya terbesit di benaknya.
"Jangan tanya saya dan jangan dibahas." Gevaro menghindar, sebab pikirannya jadi kusut dan berkabut menyaksikan situasi di depannya.
Muncul banyak tanda tanya kecil mengelilingi tanda tanya besar di dalam kepala, tentang anak yang memiliki tanda khusus milik keluarganya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~○▪︎¤▪︎○~...