Di balik pesta megah dan sorotan lampu kristal, ada rahasia yang tak pernah terungkap.
Aga, pewaris muda perusahaan ternama, tampak memiliki segalanya, karier cemerlang, masa depan gemilang, dan keluarga yang berkuasa. Namun satu malam penuh gemerlap mengubah segalanya—malam ketika ia dan Nadia, sahabat masa kecil sekaligus rekan kerja, melakukan kesalahan yang tak bisa dihapus.
Nadia menyimpan rahasia besar, seorang anak yang lahir dari cinta tak direstui. Dipaksa oleh ibu Aga untuk pergi, ia memilih mengorbankan dirinya demi masa depan pria yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di desa, ketika Aga melihat seorang bocah dengan wajah yang begitu mirip dirinya.
Di antara ambisi keluarga, perjodohan dengan putri konglomerat, dan bisikan masyarakat desa, Aga harus memilih: reputasi atau cinta, bisnis atau keluarga. Sementara Nadia harus berani membuka luka lama, mengakui kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
Selama beberapa hari terakhir, hidup Aga terasa seperti diputar dalam kecepatan yang tidak wajar. Sejak keputusan pertunangannya ditetapkan, jadwal kerjanya disusun sedemikian rupa hingga nyaris tidak ada celah untuk bernapas. Mario seolah sengaja memadatkan setiap detik waktunya, mengatur pertemuan, perjalanan dinas, dan negosiasi ke berbagai kota dalam waktu yang sangat singkat.
"Pak, besok pagi kita harus terbang ke Surabaya. Ada rapat kerja sama dengan grup Adiguna," lapor Mario pagi itu. "Sore harinya langsung lanjut ke Makassar untuk meninjau proyek pembangunan. Lusa baru bisa kembali."
Aga hanya mengangguk pasrah, tapi di dalam hatinya ia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai pemimpin perusahaan, ia paham betul alur kerja—tidak ada keharusan untuk menyelesaikan semua urusan itu dalam waktu seketika. Namun setiap kali ia mencoba mengurangi jadwal atau meminta agar rapat diundur, Mario selalu punya alasan yang masuk akal, seolah-olah semua hal itu mendesak dan tidak bisa ditunda.
Hingga suatu hari, saat ia sedang berdinas di Bali, tiba-tiba tidak ada lagi jadwal yang tercatat. Pagi itu kosong, siang pun kosong. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia memiliki waktu luang. Hatinya berdebar kencang—kesempatan ini bisa ia gunakan untuk pulang lebih awal, kembali ke kantor pusat, dan setidaknya melihat keadaan Nadia dari jauh, atau sekadar bertukar kata agar hatinya sedikit tenang.
"Mario, pesan tiket pesawat untuk pulang siang ini juga," perintah Aga dengan nada tegas.
Mario tertegun sesaat, lalu segera mengeluarkan ponselnya seolah akan melaksanakan perintah itu. Namun belum sempat ia menekan tombol apa pun, teleponnya berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan pembicaraan selama beberapa menit, lalu menoleh ke arah Aga dengan ekspresi serius.
"Maaf, Pak. Tadi telepon dari perwakilan di sini. Ternyata pemilik hotel jaringan nasional yang sudah lama kita ajak kerja sama baru saja punya waktu luang dan ingin bertemu dengan Anda sore ini juga. Beliau hanya bisa meluangkan waktu hari ini saja, kalau ditunda kemungkinan besar kesepakatan akan jatuh ke tangan pesaing."
Aga mengatupkan rahangnya. Rasa frustrasi mulai menyelimuti dadanya. Selalu saja ada halangan. Selalu saja ada alasan. Ia merasa seperti sedang dikendalikan, diputar ke sana kemari agar tidak punya kesempatan untuk berpikir jernih, apalagi untuk bertemu dengan gadis yang terus menghantui pikirannya.
"Baiklah, atur pertemuanku dengannya sore nanti," jawabnya pendek, suaranya terdengar dingin namun menyembunyikan kekesalan yang memuncak.
Dia merasa sangat tersiksa. Aga sudah lama tidak bertemu dengan Nadia. Jarak yang dipaksakan ini justru membuat rasa khawatirnya tumbuh semakin besar. Ia tidak tahu apakah Nadia baik-baik saja, apakah wanita itu sudah mendengar kabar tentang pertunangannya yang akan diumumkan sebentar lagi.
Setidaknya, pikir Aga, sebelum kabar itu tersebar luas, ia ingin bertemu, sekadar menjelaskan dan untuk meminta maaf. Menjelaskan meski ia tahu penjelasannya tidak akan mengubah apa pun.
Akhirnya, setelah empat hari berkeliling ke berbagai kota, pesawat Aga mendarat kembali di Jakarta pada siang hari. Langkah kakinya terasa lebih cepat dari biasanya saat ia melangkah masuk ke dalam gedung perkantoran. Ia langsung menuju lantai departemen keuangan, tanpa membuang waktu untuk beristirahat atau membuka berkas apa pun.
Begitu sampai di depan ruangan itu, matanya segera menyapu setiap meja yang ada. Namun pandangannya tidak menemukan sosok yang ia cari. Tempat duduk Nadia kosong, rapi, dan terasa sepi.
Dada Aga terasa sesak. Ia melangkah mendekat, lalu menoleh ke salah satu staf yang sedang duduk di meja sebelah.
"Maaf, di mana Nadia?" tanyanya, berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang meluap di dadanya.
Sejumlah kepala terangkat, saling memandang dengan ekspresi ragu. Salah satu staf yang mengenal Nadia dengan baik akhirnya menjawab dengan suara pelan.
"Pak Aga... Nadia sudah tidak bekerja di sini lagi. Dia mengajukan surat pengunduran diri kemarin, dan hari ini sudah beres semua urusannya."
Brakk!
Seolah ada palu besi yang menghantam kepalanya. Aga tertegun, matanya melebar tidak percaya. Suara di sekelilingnya seolah menghilang, hanya ada dengungan keras di telinganya.
"Berhenti?" ulangnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, bergetar menahan keterkejutan. "Sejak kapan? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Ke mana dia pergi?"
Kali ini mereka terdiam, tidak berani menjawab. Hanya Mbak Ana yang berani menghadapi Aga, dia menatap Aga dengan pandangan kasihan namun juga tetap mempertahankan etiket sopan sebagai bawahan.
"Kami tidak tahu persis alasannya, Pak. Nadia cuma bilang ingin memulai hidup baru di tempat lain. Dan... dia tidak memberitahu saya atau pun yang lainnya kenapa dia tiba-tiba resign. Kami semua juga tidak tahu kemana dia pergi. Dia benar-benar pergi begitu saja."
Aga merasa kakinya lemas. Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan departemen keuangan.
Dia masuk ke area tangga darurat, berhenti di ujung tangga dekat jendela besar yang menghadap ke kota. Tangannya mencengkeram pinggiran jendela agar tidak terjatuh. Seluruh tubuhnya terasa kaku, sementara dadanya terasa seperti terjepit oleh sesuatu yang berat. Ia menoleh tajam ke belakang, tepat saat Mario baru saja datang mengikutinya. Wajah Mario tampak tenang namun matanya terlihat menghindari tatapan bosnya.
"Mario!" bentak Aga, suaranya bergema keras, untungnya tidak ada seorang pun di sana kecuali hanya mereka berdua.
Mario mendekat dengan langkah pelan, tetap berusaha terlihat tenang meski ia tahu badai amarah akan segera meledak.
"Ya, Pak?"
"Kenapa aku baru tahu sekarang bahwa Nadia sudah berhenti? Kenapa tidak ada laporan tentang ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tahu ke mana dia pergi, bukan?" tanya Aga dengan nada yang menggelegar, matanya menyala marah sekaligus penuh kekhawatiran yang mendalam.
Mario menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang sengaja dibuat datar dan netral.
"Saya baru saja menerima laporannya kemarin, Pak. Nadia datang sendiri, menyerahkan surat pengunduran diri dengan alasan pribadi. Semua prosedur sudah ia selesaikan dengan rapi, tidak ada masalah apa pun. Dia sendiri yang memutuskan untuk mengundurkan diri, dan kami tidak punya hak untuk menahannya. Soal ke mana dia pergi, dia tidak memberitahu siapa pun. Dia bilang ingin hidup tenang dan memulai semuanya dari awal."
Aga melangkah mendekat, jaraknya hanya beberapa sentimeter dari Mario, menatap tajam ke dalam matanya seolah ingin menembus kedok yang dipasang pria itu.
"Kamu bohong. Ini bukan kebetulan, bukan? Selama ini kamu memadatkan jadwalku, membuatku terus terbang ke sana kemari, agar aku tidak punya waktu untuk bertemu dengannya. Dan saat aku pergi, kamu datang dan memaksanya pergi, bukan? Kamu pasti mengancamnya, atau membayarnya agar dia menghilang begitu saja, iya kan?" tuduh Mario.
Suara Aga semakin meninggi, emosinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Rasa khawatir berubah menjadi amarah yang meledak-ledak, karena ia sadar bahwa selama ini ia hanya menjadi boneka yang diatur oleh orang-orang di sekelilingnya—terutama ibunya, beliau adalah seluruh sistem yang mengatur hidupnya.
Mario tetap tenang, meski rahangnya mengeras.
"Saya hanya melakukan apa yang terbaik untuk perusahaan dan masa depan Bapak, Pak. Hari ini juga kabar pertunangan Bapak dengan Nona Jenna akan disebarkan ke media. Apakah Bapak ingin di saat seperti ini muncul pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu itu, atau ada gadis yang tiba-tiba datang mengganggu acara itu? Bukankah lebih baik dia pergi dengan sukarela, daripada harus dipaksa pergi dengan cara yang lebih menyakitkan."
Kata-kata itu menusuk jantung Aga. Ia tertegun, merasakan betapa kejamnya kenyataan ini. Ia telah kehilangan kesempatan terakhirnya untuk bertemu, untuk memastikan keadaan Nadia, dan sekarang gadis itu lenyap tanpa jejak, seolah tidak pernah ada dalam hidupnya.
Aga menoleh ke arah jendela, tatapannya kosong. Hatinya terasa hancur, terbelah dua antara tanggung jawab yang harus ia pikul dan perasaan yang terasa semakin menjauh. Ia menyadari bahwa ia bukan hanya kehilangan seseorang, tapi juga kehilangan kesempatan untuk memperjuangkan orang yang dicintainya.
"Kamu sudah memutuskan segalanya tanpa bertanya padaku," bisik Aga dengan suara parau, matanya berkaca-kaca namun ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. "Dan sekarang... dia pergi, tanpa pesan, tanpa alamat. Apa yang akan terjadi padanya nanti? Kalau dia sakit, kalau dia butuh bantuan, di mana aku bisa mencarinya?"
Mario tetap diam, tidak menjawab, karena ia tahu jawaban apa pun tidak akan bisa menenangkan hati bosnya itu.
Di luar jendela besar itu, langit terlihat cerah, namun di dalam hati Aga, semuanya terasa gelap dan kosong. Kabar pertunangannya akan segera tersebar, tapi satu-satunya hal yang paling ia inginkan saat ini hanyalah keberadaan Nadia, gadis yang kini telah menghilang dari jangkauannya, membawa serta rahasia dan rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui.
demi hrga dirimu...