Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12.
Haikal berlari ke arah sumber suara dan sekelebat melihat bayangan orang berlari ke arah jalan sempit. Ia mengejar orang tersebut dengan cepat.
Salindra dan Pak Sekuriti sampai terengah-engah mengejar orang itu tapi kalah cepat sehingga tidak terkejar. Mereka melihat Haikal berlari mengejar orang tersebut.
"Tunggu_"
Salindra berhenti sambil mengatur napasnya. "Ada apa, Pak?’
"Kita tidak usah mengejar karena Pak Haikal sudah mengejarnya, lagi pula kita tidak bisa menangkap orang itu, larinya sangat cepat sekali," jawab Pak Sekuriti berdiri dengan tegak pandangannya ke arah jalan sempit di ujung sana.
Salindra mengikuti arah pandangan Pak Sekuriti. Benar saja Haikal sedang berlari mengejar orang itu. Perasaanya takut terjadi sesuatu pada Bosnya.
Ia tidak menyangka akan menghadapi masalah rumit di saat sedang lembur kerja. Salindra ingat wajah pria yang masuk ke dalam lift yang membuatnya takut. Pikirannya tidak bekerja dengan baik, berbagai pertanyaan dalam benaknya.
Salindra merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya saat melihat orang itu tidak langsung bergerak dan menyapa orang tersebut. Pak Sekuriti melihat Salindra merasa aneh.
"Mbak, kenapa?"
“Ah, enggak apa-apa, Pak! Kalau begitu saya pamit pulang dulu," Salindra berjalan menuju tepi jalan menunggu taksi siapa tahu ada yang lewat.
Setelah menunggu lama tidak juga terlihat taksi, ia sendiri tidak kepikiran memesan lewat aplikasi yang ada di dalam ponselnya. Sebuah motor berhenti tepat di depannya. Pengendara membuka kaca helmnya menyapa Salindra.
“Ayo naik, aku antar sampai rumah," katanya memberikan helm kepada Salindra.
Bukannya langsung menerima, Salindra terkejut melihat pria duduk di atas motor, ia merasa mengenal pria tersebut tapi lupa siapa dan di mana. Salindra masih terdiam melihat wajah pria di balik helm, takutnya pria itu penjahat yang akan menyandera dirinya. Salindra melangkah mundur menghindar dari pria tersebut dengan jantung berdegup cepat.
Pria tersebut membuka helmnya memastikan kalau dirinya bukan penjahat. Melihat sikap Salindra menjauh darinya membuatnya merasa sungkan. Salindra tertegun sesaat, benar sekali pernah melihat pria itu kepala Salindra mengingat kejadian sesaat beberapa minggu lalu.
"Kamu _"
"Arya," jawab pria tersebut dengan senyum ramah.
Salindra tidak menyahut justru menjaga jarak agar tidak bersentuhan dengannya karena Arya turun dari motor. Arya bingung harus berkata apa untuk meyakinkan Salindra bahwa dirinya tidak jahat.
"Maaf, jika membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin menolong, di sini tidak ada angkutan umum percuma kalau kamu menunggu sampai besok tetap tidak ada. Ayo naik, aku akan mengantarmu sampai di rumah," tawar Arya.
"Benar, kamu bukan penjahat?" Salindra menelisik wajah Arya lekat.
"Apakah kamu meragukanku, buruan nanti kamu pulang kemalaman," Arya tidak sabar menarik tangan Salindra dan menyuruh naik ke atas motor.
"Jangan tarik tangan ku, aku bisa naik sendiri," tolak Salindra sedikit kasar.
Arya menghembuskan napas kasar melihat sikap Salindra yang sok jual mahal. Salindra duduk dengan rasa tak nyaman di atas motor, kemudian Arya mengalakan mesin dan melaju dengan kecepatan rata-rata.
Salindra terkesiap hampir saja jatuh tangannya langsung memeluk tubuh Arya dari belakang. Arya tidak terkejut bahkan ia memegang tangan Salindra memastikan pegangannya kuat dan tidak jatuh.
Salindra merasakan tubuhnya menghangat saat memeluk Arya. Ia baru pertama kali berboncengan dengan seorang pria dan memeluknya seperti sekarang. Jantungnya berdegup cepat kepalanya menyender di punggung Arya.
Senyum Arya mengembang merasakan degup jantung Salindra. Tangan Salindra hampir terlepas, Arya tahu kalau Salindra tertidur memegang tangan Salindra agar tidak jatuh. Arya baru sadar kalau Salindra belum memberitahu alamatnya. Ia bingung mau kemana.
Arya membawa Salindra ke rumah tantenya. Seseorang berjalan keluar ketika mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya.
“Apa yang terjadi?" tanya Nilam merasa curiga, melihat perempuan tertidur di atas motor Arya.
"Dia tertidur dan aku tidak tahu alamat rumahnya, karena belum sempat bertanya,¹" kata Arya turun perlahan dari motor.
"Siapa dia dan apa hubunganmu dengan gadis ini?" tanya Nilam
"Karyawan, Kak Haikal," jawab Arya membopong Salindra masuk ke dalam kamar tamu dan merebahkan di tempat tidur.
“Pulas sekali dia sampai tidak sadar kalau sudah pindah tempat," kata Nilam.
"Sepertinya dia kecapekan," sahut Arya.
Salindra tidak sadar kalau dirinya berada di kamar orang lain, ia meraih guling yang ada di sampingnya dengan nyaman. Nilam dan Arya tertawa melihatnya kemudian keluar kamar.
"Aku pulang dulu , kalau dia bangun suruh tunggu aku datang. Aku akan mengantarkan dia kerja besok pagi," kata Arya berjalan ke tempat motornya dan menyalakan mesin lalu meninggalkan halaman rumah Nilam.
"Hati-hati," pesan Nilam.
...----------------...
Di rumah Jayanti menunggu Salindra pulang sedari tadi, ia merasa khawatir terjadi sesuatu terhadap adiknya. Beberapa kali menghubungi nomor ponsel Salindra tidak ada jawaban sama sekali.
“Lembur sih lembur tapi masa sampai tengah malam belum pulang. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya, semoga saja tidak, Salindra bikin orang khawatir dan cemas saja. Kamu kemana sih?" Jayanti keluar rumah melihat ke jalan utama tapi tidak ada tanda Salindra pulang.
Semakin malam rasa khawatirnya semakin dalam, membuatnya gelisah tidak bisa tidur. “Salindra kamu di mana sih sebenarnya, jangan buat kakakmu sedih,"
Jayanti menghubungi teman dekat Salindra tapi tidak tahu, sedangkan teman kerja saja tidak kenal apalgi nomor telepon membuatnya frustasi.
"Aku harus cari kemana malam-malam begini, mana sudah larut," Jayanti menangis memikirkan nasib adiknya. Sejenak ia berpikir ingin pergi ke tempat kerja siapa tahu Salindra masih lembur tapi mana mungkin lembur sampai tengah malam.
Akhirnya Jayanti dengan putus asa merasa capek dan tertidur di ruang tamu.
...----------------...
Pagi menyapa jendela kamar tempat Salindra tidur, udara hangat menyapa kulit Salindra. Ia mengerjapkan mata dan terkejut saat menyadari tempat tidurnya berbeda.
"Aku di mana?" gumamnya memperhatikan kamar terlihat asing.
Salindra mengingat kejadian semalam kemudian mengumpat kesal. Dalam pikirannya saat ini berada di rumah seorang lelaki yang menolongnya semalam. Salindra turun dari tempat tidur berjalan membuka pintu. Ia terkejut melihat seorang perempuan berdiri di depan pintu dengan senyum ramah.
"Kamu sudah bangun, ayo kita sarapan, sebentar lagi Arya datang dan ia akan mengantarmu berangkat kerja," kata Nilam.
Salindra hanya tersenyum sambil mengangguk. Pandangannya menyapu seluruh ruangan lalu berhenti ketika melihat meja makan sudah ada beberapa hidangan yang siap di makan.
Nilam melihat Salindra tersenyum. “Makan dulu setelah itu bersihkan tubuhmu, Tante punya pakaian sepertinya muat di tubuhmu," kata Nilam sambil mengambil hidangan ke dalam piring.
"Maaf sudah merepotkan anda_"
"Panggil saja Tante Nilam, aku masih saudara dengan Arya," sahut Nilam.
"Terimakasih, Tan... te Nilam," kata Salindra dengan sungkan.
"Ayo makan, tambah kalau kurang," Nilam tanpa merasa canggung.
Setelah menikmati sarapan Salindra membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan oleh Nilam. Salindra berdiri di depan cermin memperhatikan dirinya yang memakai pakaian kerja milik Nilam, pas di tubuhnya dan terasa nyaman.
Di ruang tamu Arya sudah datang sedang berbicara dengan Nilam. Salindri menghampiri mereka dengan jantung berdegup sangat cepat. Ia teringat semalam waktu dibonceng oleh pria di ruang tamu tersebut.
"Sudah siap, ayo kita berangkat," ajak Arya beranjak dari tempat duduk keluar lalu menyalakan mesin motornya. Mereka pun berangkat menuju perusahaan.