Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Kusut
Yura yang seolah menemukan kembali jati dirinya, ia bangkit dan menarik nafasnya kuat-kuat.
"Benar, aku sudah sebesar ini, mengapa harus marah? "
Untuk kali pertama dirinya menerima dengan baik kehadiran Liam. Tidak ada pandangan sinis atau mata melotot yang sering kali menjadi andalannya.
Dirinya kembali masuk keruang tamu, diikuti oleh Liam di belakangnya. Nenek Lea segera meminta nya untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh orang tua nya itu.
Sedang untuk Liam dan Yura a, kedua nya akhirnya pamit untuk kembali ke rumah Liam. Disana Yura akan tinggal sementara waktu sembari menunggu esok hari.
"Ra, nanti kamu harus datang ya, kita tidur sama.. " begitu pesannya pada Yura b.
Setelah menutup pintu, Yura kembali duduk disamping nenek nya. Ia juga menerima salam dari pria yang merupakan calon suami sang mama.
"Saya juga punya putri yang usianya tidak beda jauh denganmu. " ucap nya sambil melihat kearah Yura.
Tidak ada yang aneh dengan caranya berbicara atau pun memandang lawan bicara nya. Sikap nya yang dewasa layaknya seorang Ayah yang penuh wibawa.
"mungkin akan terasa aneh bagimu melihat pernikahan ini nanti, berhubung karena usia kami sudah tidak muda lagi. "
"Jadi, ijinkan saya memenuhi tanggung jawab saya sebagai sosok ayah bagimu mulai sekarang.. "
Yura tidak membantah secara langsung, ia juga hanya diam dan mendengarkan lawan bicaranya.
Namun hatinya tidak bisa bohong, ada ketidak-puasan yang berusaha ia tahan.
"Mengapa tidak sedari dulu? Saat ini aku sudah tidak ingin itu lagi. " Ia menjawab didalam hatinya saja.
Yura yang hanya diam menjadi bingung melihat tatapan semua orang tertuju padanya. Wajahnya mengernyit, mempertanyakan maksud dari tatapan-tatapan itu.
"Calon papamu meminta restumu,, " jawab sang nenek.
"Ya silahkan atuh, tidak perlu begitu.. " jawab Yura to the point.
Menurutnya, kata-kata apapun yang akan keluar dari mulutnya tidak akan bisa mengubah apapun. Ibunya yang selalu cuek padanya dan menganggap nya seperti patung bernafas sudah sangat membuat hati nya secara naluri membentuk batasannya sendiri.
Untuk mencairkan suasana, nenek Lea segera bicara. Jika tidak, kemungkinan besar kalimat tidak sedap akan keluar dari mulut Yura sebentar lagi.
"Nak, ibu minta maaf ya. Ibu tidak bisa datang. Barangkali Yura juga_..
"Yura juga gak bisa datang nek.. " ucapnya mantap.
"Om, Saya sudah besar sekarang. Sudah mampu hidup mandiri. Tidak perlu pikirkan saya lagi. Permisi.. "
Ia segera beranjak kekamar untuk menenangkan diri. Bahkan permintaan Yura a tadi tak lagi ia ingat.
Bohong jika dirinya masih baik-baik saja. "Bukankah seharusnya mereka lakukan saja apa yang mereka inginkan? "
"Mengapa buang-buang waktu hanya untuk meminta restuku.? "
Untuk masalah yang ini, Yura mau terbuka dengan Steven. Ia mengirim pesan itu sebagai ungkapan kekesalannya.
"Walaupun begitu, tetap saja mama Rosa harus bicara sama kamu. Gimana mau bicara, kontak nya saja kamu blokir.. " Balas Steven.
Yura akhirnya termenung, hingga panggilan dari Yura b diponselnya membuat pikirannya teralihkan.
Ia tidak mengangkatnya, dan hanya membiarkan layarnya berkedip-kedip. Dan lagi, terdengar suara pintu kamarnya yang dibuka oleh Rosa.
"Ra, mama minta maaf kalau ada salah.. "
"Kalau ada salah? " Yura berhasil terpancing. Ia mengulang kata-kata ibunya yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu.
"Mama nggak ada salah tuh, mengapa minta maaf? " Tatapan matanya marah.
"Kamu pikir jadi mama itu gampang ra? " tanya Rosa.
"Mengapa tidak dari dulu? Mengapa sekarang datang seolah kata-kata yang keluar dari mulutku itu perlu? "
Kedua nya berdiri berhadapan, saling menonjolkan urat masing-masing. Namun Rosa masih mencoba menahan diri.
"Nggak usah tahan diri deh ma, luapkan saja semua seperti yang udah-udah.. "
"Nenek sudah pasti nggak akan datang, apalagi aku. Lalu untuk apa mama datang lagi? "
"Kalau untuk mengenalkan calon suami mama, aku sudah tahu dari dulu! Nggak perlu perkenalan lagi. "
Sebisa mungkin Yura menahan supaya air mata kesedihannya tidak tumpah. Kalau tidak, seluruh perjuangannya menahan diri sejak dulu akan sia-sia begitu saja.
Untuk kali pertama Yura melihat sang mama menangis. Hatinya tentu ikut merasa teriris, namun apa boleh buat?
Luka hatinya semakin lama semakin mengeras, sudah hampir tidak bisa dilunakkan lagi.
"Kalau begitu, jangan blokir mama ra.. "
Rosa masih mencoba menarik kembali benang yang sudah lama kusut itu. Namun semakin ditarik, tentu nya akan semakin kusut. Sebagai seorang ibu tunggal, ia merasa sudah melakukan semuanya dengan sebaik yang ia bisa demi sang putri agar mendapat kehidupan yang layak.
"Tidak ada guna nya ma. Mama tidak sayang aku, mama hanya memuaskan ego mama sendiri.. ! !"
"Yura, jaga bicara kamu..!! "
Suara nenek dengan lantang membuat Yura terkejut. Tenyata sang nenek sudah lama berdiri dibalik pintu untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tidak semuanya kamu harus salahkan pada mama mu, nenek juga bersalah disini. " jelas sang nenek.
Tubuhnya yang sudah tua ia paksa untuk berpikir keras, membuat pertahanan dirinya hampir saja goyah jika tak ada Rosa yang segera menopangnya.
"Nenek yang salah, seharusnya masalah pribadi nenek tidak nenek teruskan pada keturunan nenek... "
Ia kemudian meraih tangan Yura, menggenggam nya dengan begitu erat seolah takut jika genggaman itu akan terlepas.
"Nenek yang menginginkanmu. Nenek yang ingin memisahkan kamu dengan mamamu. Nenek yang tidak memikirkan perasaan mamamu.. "
Yura yang tidak tahu apapun masalah orang dewasa itu merasakan kepalanya yang mulai sakit.
"Sesulit itukah untuk bicara jujur tanpa bertele-tele seperti ini? "
Dengan berat hati, akhirnya ia meminta sang nenek dan juga mamanya untuk keluar. Biarkan dirinya menangisi masalah yang membuat hati nya terluka.
Sepeninggal mertua dan menantu itu, tangisan Yura akhirnya pecah. Ia sangat bingung masalah apa yang membuat sang mama Hingga memiliki sikap yang sangat tidak biasa itu.
Ia kemudian membuka jendela kamarnya. Dingin nya malam yang tanpa ampun menusuk tulang tak ia hiraukan.
Tanpa suara, Ia menangis sejadi-jadinya di sana, membayangkan akan benar-benar kehilangan satu-satunya orang yang memiliki ikatan darah dengannya.
Sebelum ia sangat membenci sikap sang mama, terlebih dulu ia pernah sangat berharap kehadiran sang mama disisi nya layaknya seorang ibu yang menemani tumbuh kembangnya.
"Jika mama sangat peduli padaku, mengapa mama memaksa hidup menderita jauh dari nenek? "
"Mengapa pura-pura kuat yang malah membuat aku terluka? "
Ia bertanya pada bintang yang cahaya nya sedikit redup, seolah mengerti kondisi hatinya saat ini.
"Mengapa saat aku mulai tenang, mama muncul lagi mengorek luka yang mulai mengeras itu? "
Ia sibuk bertanya seolah akan mendapat jawabannya, sampai ia lupa pada sosok Liam yang seja tadi memandangnya dengan perasaan yang sama terlukanya.
Hatinya begitu sakit melihat warna kesukaanya itu menjadi suram.
Butuh waktu yang lama akhirnya Yura menyadari kehadiran pria itu disana. Sorot mata Liam yang tajam namun penuh luka, memandangnya begitu intens.
Wajahnya yang berantakan serta air mata nya masih mengalir deras membuatnya tak lagi bisa menyembunyikan keadaanya yang selalu ia tutupi selama ini.
Liam dapat melihat dengan jelas leher gadis itu yang bergerak mengikuti irama tangisnya.
Keadaan yang tidak berpihak membuat keduanya hanya mampu saling menatap dengan jarak yang seperti itu.
Dimana Steven yang selalu Yura bangga kan itu? Saat dirinya menangis terluka, pria itu tak lagi bisa datang untuk sekedar menghapus air matanya.
Malah ada pria kesepian yang hidup bukan untuk dirinya disana, ia ingin memberi cahaya namun ia lupa dirinya sendiri juga perlu cahaya.
Dibawah sinar rembulan yang temaram, dibantu oleh lampu hias yang mencoba memberikan semua cahaya yang ia miliki. Ada sepasang manusia yang berbicara lewat sorot mata yang penuh luka.
"Seandainya aku bisa menghapus air mata itu,, "
.
.
.
Bersambung...