"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14.Identitas yang tersembunyi.
Suasana di dalam vila itu terasa sejuk dan tenang, sangat berbeda dengan suasana luar yang panas dan berdebu. Ruang tamunya luas, berlantai kayu mengkilap, serta dihiasi dengan furnitur yang sederhana namun terasa mewah dan selaras dengan suasana alam sekitar. Begitu mereka duduk di kursi empuk, Bibi Nora segera bergerak sigap menuju dapur untuk menyajikan minuman teh hangat dan beberapa jenis camilan tradisional yang masih hangat.
Setelah meletakkan nampan berisi hidangan di atas meja, Larry yang sejak tadi penasaran tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. Ia menatap sekeliling ruangan, lalu menoleh ke arah Bibi Nora dengan nada bertanya, “Maaf, Bibi. Saya tidak salah dengar kan? Bukankah vila ini adalah milik keluarga Dermawan, salah satu keluarga terpandang dan paling berpengaruh di Kota Vale Ria?”
Bibi Nora mengangguk lembut sambil tersenyum ramah. “Benar sekali, Tuan. Ini memang milik keluarga Dermawan.”
Larry semakin mengerutkan dahi, lalu melanjutkan pertanyaannya, “Kalau begitu, sebenarnya kalian ini siapa di antara keluarga itu? Apakah hanya penjaga tempat ini?”
“Bukan begitu, Tuan. Saya hanyalah pelayan pribadi yang sudah mengabdi selama lebih dari dua puluh tahun, sedangkan Nona Ivy… dia adalah putri kandung dari Bapak dan Ibu Dermawan sendiri,” jawab Bibi Nora dengan nada penuh rasa hormat dan bangga.
Mendengar jawaban itu, Larry tertegun sejenak lalu menatap Ivy dengan pandangan yang berubah total. Ia mengira gadis itu hanyalah anak desa biasa atau putri dari keluarga sederhana, tapi ternyata ia adalah pewaris dari salah satu keluarga terkaya di kota itu. Di sampingnya, Rama hanya duduk diam dengan ekspresi datar, namun matanya sesekali melirik ke arah tangga menuju lantai atas, seolah memproses informasi baru yang didapatkannya.
Setelah Bibi Nora pergi sebentar, Larry segera mendekatkan wajahnya ke telinga Rama dan berbisik pelan, “Tuan, ini jadi semakin aneh. Kalau benar dia anak orang kaya, pasti ada maksud tersembunyi mengapa dia bersikap begitu bebas dan mendekati Tuan dengan cara yang tidak wajar. Hati-hati saja, Tuan.”
Namun Rama hanya mendengus pelan dan menggelengkan kepala dengan acuh tak acuh. “Biarkan saja, aku tidak peduli apa tujuannya. Selama tidak mengganggu urusanku, tidak masalah bagiku.”
Sementara itu, Ivy sudah berada di kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia melepas pakaian sederhana yang dikenakannya seharian dan mengenakan gaun katun berwarna krem yang lebih rapi namun tetap terasa santai, sesuai dengan usianya yang baru menginjak delapan belas tahun. Penampilannya tetap sederhana, tidak berlebihan seperti kebanyakan gadis kaya lainnya, namun membuatnya terlihat lebih anggun dan bersahaja.
Beberapa menit kemudian, Ivy turun kembali menuruni tangga dengan langkah ringan. Begitu Rama melihatnya, pandangannya tanpa sadar terhenti sejenak. Di dalam benaknya, kenangan-kenangan singkat namun mengganggu mulai berputar perlahan—saat gadis itu menciumnya secara tiba-tiba, saat ia menggenggam tangannya erat-erat seolah tak ingin melepaskan, hingga saat ia berani melangkah maju dan melindunginya dari kemungkinan amarah kepala desa.
Rama mengusap dagunya, lalu dalam hati ia mulai menyusun kesimpulan sendiri dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ternyata benar dugaan Larry. Gadis kecil ini pasti sudah jatuh cinta padaku. Mungkin dia menyukai pria yang lebih dewasa, berwibawa, dan memiliki pendirian kuat. Itu sebabnya dia bertindak begitu agresif dan berani melampaui batas kesopanan biasa, pikirnya dengan yakin.
Begitu sampai di ruang tamu, Ivy membawa sebuah map tebal berwarna cokelat yang sudah ia siapkan beberapa bulan terakhir. Ia melangkah mendekati meja dan hendak menyodorkannya ke hadapan Rama, berniat menjelaskan rencana pengembangan desa yang menguntungkan kedua belah pihak.
Namun, sebelum mulut Ivy sempat terbuka, Rama lebih dulu berbicara dengan nada tegas dan dingin seolah menolak sesuatu yang sudah ia yakini.
“Dengar baik-baik, Nona Ivy. Aku menghargai rasa sukamu itu, tapi aku harus bicara terus terang. Aku tidak tertarik pada gadis seumuranmu yang masih terlihat seperti anak ingusan dan belum punya pengalaman apa pun dalam hal hubungan. Jangan buang waktumu mengejarku, karena jawabanku pasti tidak akan berubah.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Rama tanpa ragu sedikit pun.
Seketika itu juga, suasana menjadi hening total. Ivy tertegun membeku di tempatnya, matanya terbelalak lebar karena terkejut mendengar tuduhan yang tiba-tiba itu. Tangannya yang memegang map itu terlepas, sehingga dokumen itu jatuh tergeletak di atas meja.
Di sisi lain, Larry yang sedang menyesap teh sampai tersedak hebat, batuk-batuk keras sambil memukul dadanya. Di dapur, Bibi Nora yang sedang mengelap peralatan dapur mendengar suara itu dan terkejut hingga lap kain yang dipegangnya jatuh ke lantai.
Rasa kesal dan ingin membentak meluap di dada Ivy. Ia ingin sekali memukul dada bidang pria di depannya itu dan berteriak bahwa semua sikapnya bukan karena cinta, melainkan demi menjaga nyawanya sendiri. Namun, ia sadar bahwa jika kebenaran itu terungkap, ia tidak akan punya alasan lagi untuk terus mendekati Rama—satu-satunya sumber “tenaga” yang membuat waktunya bertambah panjang.
Dengan sekuat tenaga ia menahan amarahnya, lalu perlahan membungkuk mengambil map itu kembali. Ia mengatur napasnya, lalu mengangkat wajah dengan senyum yang dibuat-buat sebaik mungkin, berusaha terlihat polos dan malu-malu.
“Wah… Tuan Rama memang pandai menebak. Benar saja, sejak pertama kali kita bertemu, hatiku memang sudah tertarik padamu. Bisa dibilang, Tuan Rama adalah cinta pertamaku,” ucap Ivy dengan nada lembut yang sengaja dibuat manja.
Mendengar itu, Larry yang sudah tenang kembali menyela dengan nada penasaran, “Tapi kalau tidak salah, saat pertama kali bertemu, Nona Ivy justru menghalangi jalan kami dan bahkan membuat kami tersesat di hutan. Apakah itu juga cara menyatakan suka pada pandangan pertama?”
Ivy terkekeh pelan, lalu memukul pundak Rama dengan lembut seolah sedang bercanda. “Itu hanya kesalahpahaman semata. Saat itu aku mengira kalian adalah sekelompok preman yang datang untuk mengganggu warga desa lagi, jadi aku berusaha menjauhkan kalian dari tempat pemukiman. Siapa sangka setelah melihat wajah dan sikap Tuan Rama, hatiku malah berdebar kencang. Jadi, bagaimana? Apakah Tuan memberi kesempatan padaku?”
Rama menatapnya curiga, namun sebelum ia menjawab, Larry kembali menyambung pembicaraan, “Tapi bukankah keluarga Dermawan dan keluarga Cahya sudah memiliki ikatan perjodohan?.”
Ivy mengangguk santai tanpa rasa canggung sedikit pun. “Oh soal itu… memang benar ada kesepakatan itu. Tapi perjodohan itu dengan saudaraku Oliv dan Brian,awalnya perjodohan itu untuk ku tapi sepertinya aku tidak menyukainya aku mau memilihnya sendiri.Tapi setelah bertemu Tuan Rama, aku langsung yakin kalau tuan adalah jodoh dari langit untuk ku. Bukankah ini seperti takdir,Oliv dengan Brian dan aku dengan anda.”
Rama dan Larry saling pandang dengan tatapan tak percaya. Selama ini, mereka hanya bertemu gadis-gadis dari kalangan atas yang selalu malu-malu, menyembunyikan perasaan, dan berbicara dengan sangat hati-hati. Namun Ivy berbeda—ia berbicara blak-blakan, agresif, dan tidak segan menyatakan keinginannya secara langsung.
Tanpa memberi kesempatan Rama berpikir lebih lanjut, Ivy mendekat dan duduk tepat di sampingnya. Rama segera menggeser duduknya menjauh, namun Ivy terus mendekat hingga Rama terdesak ke sudut kursi.
“Sudah, lupakan soal perasaanku sebentar. Coba lihatlah ini. Aku sudah menyusun rencana pengembangan Desa Gemilang selama beberapa bulan terakhir. Di dalamnya tercantum cara mengelola kawasan wisata tanpa merusak alam, serta bagi hasil yang menguntungkan kedua belah pihak—baik untuk perusahaan Tuan maupun untuk kesejahteraan warga desa,” ujar Ivy sambil menyodorkan map itu kembali.
Rama mengerutkan dahi, lalu berkata dingin, “Kembali duduk di kursi aslimu. Kalau tidak, aku tidak akan membaca satu lembar pun dari dokumen ini.”
Ivy mendengus kesal dalam hati, namun tetap menuruti permintaannya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju dapur untuk membantu Bibi Nora menyiapkan hidangan makan siang.
Sementara itu, Rama membuka map itu dan mulai membaca isinya dengan teliti. Di sampingnya, Larry terus mengoceh memberikan peringatan agar tidak terlalu percaya pada gadis itu, namun Rama tidak menyahut. Semakin ia membaca, matanya semakin terbelalak takjub. Rencana yang disusun sangat rinci, perhitungan keuntungannya masuk akal, dan cara pelaksanaannya mempertimbangkan keseimbangan alam—sesuatu yang jarang ditemukan dalam usulan pengusaha biasa.
Ia mengangkat wajahnya dan melirik ke arah dapur, melihat Ivy yang sedang sibuk mengatur piring dengan wajah tenang. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil yang hampir tak terlihat.
“Diamlah, Larry. Jangan terus meremehkan dia. Isi proposal ini jauh lebih rapi dan cerdas daripada pekerjaan yang dihasilkan oleh manajer-manajer di kantorku sendiri,” tegur Rama dengan nada tegas.
Setelah semuanya siap, mereka pun makan bersama dalam suasana yang terasa lebih santai meski masih ada ketegangan halus di antara mereka. Tak lama setelah makan selesai, suara klakson mobil terdengar dari halaman depan—tanda mobil penjemput mereka sudah tiba.
Rama dan Larry berpamitan pulang. Ivy dan Bibi Nora berdiri di teras sambil melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di tikungan jalan. Begitu suara mesin kendaraan tidak lagi terdengar, raut wajah Ivy berubah kembali menjadi datar dan lelah.
“Sudah waktunya kita kembali ke kota, Bibi. Bukankah masa liburanku di desa ini sudah berakhir?” tanya Ivy dengan nada biasa.
Bibi Nora mengangguk setuju. “Benar, Nona. Besok pagi kita bisa berkemas dan berangkat pulang.”
Ivy menatap ke arah jalan yang sama dengan kepergian Rama, lalu bergumam pelan dalam hati, “Kembali ke kota… dan tentu saja, aku akan tetap menemukan cara untuk tetap dekat denganmu, Tuan Rama. Bagaimanapun juga, kau adalah satu-satunya ‘sumber daya’ yang tidak boleh hilang dari pandanganku.”
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉