NovelToon NovelToon
Gairah Sang Duda Mandul

Gairah Sang Duda Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: By.DarkRose

Bagi Alice Gracellyn, hidup adalah tentang kerja keras dan utang budi. Ia dipaksa menjadi tulang punggung keluarga pamannya yang serakah, dengan dalih membalas jasa karena telah menampungnya sejak yatim piatu. Namun, Alice tidak pernah tahu bahwa paman yang ia hormati adalah dalang di balik kematian orang tuanya demi merebut harta, termasuk rumah yang saat ini mereka tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberanian Kecil Alice

Waktu berjalan dengan lambat dan membosankan di dalam mansion megah Salvatore.

Bagi Alice, dinding-dinding marmer yang menjulang tinggi, pilar-pilar neoklasik yang kokoh, dan hamparan karpet beludru impor di setiap sudut rumah ini tidak lebih dari sekadar dekorasi sebuah penjara yang luar biasa mewah.

Menghabiskan hari demi hari tanpa melakukan apa pun selain duduk atau melamun di dalam kamar mulai mengikis kewarasan pikirannya.

Rasa bosan yang teramat sangat berpadu dengan kegelisahan hati yang tak kunjung usai.

Sore itu, Alice memutuskan untuk turun ke lantai bawah.

Langkah kaki kecilnya membimbingnya menuju area dapur utama, sebuah ruangan luas dengan jajaran meja marmer hitam, peralatan masak perak yang mengkilap, dan lemari pendingin raksasa yang berisi bahan-bahan makanan premium dari berbagai belahan dunia.

Di sana, Mbok Nem sedang sibuk memotong sayuran bersama dua orang asisten dapur paruh baya lainnya.

Mereka tampak terkejut saat melihat siluet Alice berdiri di ambang pintu.

"Nona Alice? Ada yang bisa saya bantu? Apakah Nona membutuhkan sesuatu?" tanya Mbok Nem beruntun sembari buru-buru menyeka tangannya dengan kain bersih, menunjukkan rasa hormat yang mendalam sejak Elvano memberikan perintah khusus untuk merawat gadis itu.

Alice meremas ujung gaun katun kasualnya, merasa sedikit kikuk.

"Mbok... saya... saya bosan sekali tidak melakukan apa-apa. Bolehkan saya membantu di dapur? Maksud saya... bolehkah saya yang memasak makan malam untuk Tuan Elvano hari ini?"

Mbok Nem dan para asistennya saling berpandangan dengan mata membelalak.

Membiarkan seorang tawanan yang kini statusnya sudah seperti nyonya di mansion ini menyentuh pisau dan kompor panas tentu saja merupakan risiko besar bagi keselamatan kepala mereka jika Elvano mengetahuinya.

"Tapi Nona, Tuan Besar biasanya sangat pemilih soal makanan. Menu beliau selalu disiapkan oleh koki bersertifikat internasional dengan bahan-bahan khusus—"

"Saya mohon, Mbok," potong Alice, sepasang mata hazelnya menatap Mbok Nem dengan binar penuh harap yang teramat tulus.

"Saya hanya ingin menyibukkan diri. Lagipula, saya ingin memasak makanan rumahan yang sederhana. Sesuatu yang... biasa saya buat."

Melihat gurat kesedihan yang mendalam di wajah Alice selama sebulan terakhir ini, hati Mbok Nem akhirnya luluh juga.

Wanita paruh baya itu tersenyum lembut dan mengangguk.

"Baiklah, Nona Alice. Tapi biarkan kami membantu menyiapkan bahan-bahannya, ya?"

Alice tersenyum lega, sebuah keberanian kecil yang ia kumpulkan untuk mencoba mengambil hati sang penculik, bukan karena ia telah melupakan kekejaman pria itu, melainkan sebagai strategi bertahan hidup agar ia tidak gila di dalam sangkar emas ini.

Selama dua jam berikutnya, dapur utama mansion dipenuhi oleh aroma yang sangat asing di dapur mewah tersebut.

Alice bergerak dengan cekatan dan lincah, seolah-olah seluruh energinya yang terpendam selama berminggu-minggu akhirnya menemukan saluran pelepasan.

Ia tidak memasak foie gras, truffle, atau steak daging Wagyu seperti yang biasa tersaji di meja Elvano.

Alice memilih untuk membuat masakan rumahan sederhana khas Indonesia yang dulu selalu ia masak untuk adiknya, Doni.

Ia menggoreng ayam ungkep bumbu kuning hingga kecokelatan, menumis kangkung dengan bawang putih dan cabai yang menghasilkan aroma harum menyengat, membuat tempe goreng tepung yang garing, dan yang paling mengejutkan sepasang tangan lenturnya dengan telaten mengulek cabai, bawang, dan terasi di atas cobek batu untuk membuat sambal bajak tradisional.

Ketika jarum jam menunjuk angka delapan malam, seluruh masakan itu telah tertata rapi di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni mewah.

Kontras antara piring-piring porselen bermotif emas dengan menu ayam goreng dan sambal ulek di atasnya memancarkan keunikan tersendiri.

CEKLEK!

Suara pintu depan yang terbuka disusul oleh derap langkah kaki yang berat menandakan kepulangan sang pemilik rumah.

Elvano melangkah masuk ke dalam koridor utama dengan wajah yang tampak teramat lelah.

Gurat frustrasi tercetak jelas di dahi tegapnya, urusan bisnis gelap di pelabuhan dan gesekan wilayah kekuasaan dengan klan saingan hari ini benar-benar menguras energi dan kesabarannya.

Jas hitam mahalnya sudah tersampir di lengan kiri, sementara dua kancing teratas kemeja putihnya dibiarkan terbuka, menampilkan dasi yang sudah dilonggarkan.

Elvano melangkah menuju ruang makan, berniat untuk langsung meminta secangkir kopi hitam pekat guna meredakan sakit kepalanya.

Namun, begitu kakinya menginjak lantai marmer ruang makan, langkah tegapnya seketika terhenti.

Hidungnya mengendus aroma makanan yang sangat tajam, gurih, dan penuh rempah, aroma yang sama sekali belum pernah tercium di dalam mansionnya selama belasan tahun ini.

Matanya kemudian beralih menatap meja makan, lalu turun ke sosok Alice yang berdiri dengan gugup di samping kursi makan, masih mengenakan celemek kain tipis di atas gaunnya.

"Apa ini?" tanya Elvano, suaranya rendah, dan terdengar kaku karena rasa terkejut yang tertahan.

Alice menelan ludah dengan gugup, meremas pinggiran celemeknya.

"Saya... saya memasak makan malam untuk Anda, Tuan. Ini hanya masakan rumahan sederhana. Saya harap... Anda tidak keberatan."

Elvano tertegun.

Ia memandangi deretan menu di atas meja, ayam goreng, tumis kangkung, tempe, dan mangkuk kecil berisi sambal merah yang pekat.

Di dunia mafia yang penuh dengan pengkhianatan dan racun, memakan makanan yang disiapkan oleh orang lain tanpa pengawasan ketat adalah sebuah kecerobohan.

Namun, menatap wajah Alice yang pucat namun dipenuhi binar tulus, hati Elvano merasa mendadak terasa tersentuh.

Pria itu meletakkan jasnya di sandaran kursi, lalu duduk dengan anggun di ujung meja.

Ia mengambil sendok dan garpu, sementara Alice dengan tangan yang sedikit gemetar membantu menyendokkan nasi putih hangat ke atas piring porselen milik Elvano.

Elvano mengambil sepotong ayam goreng dan tumis kangkung, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

Secara kasat mata, masakan Alice jelas tidak sekelas dengan masakan koki bintang lima langganannya yang mengutamakan teknik rasa dan penampilan.

Rasanya agak terlalu pedas bagi lidah Elvano, dan bumbunya sangat pekat.

Namun, di balik kesederhanaan rasa itu, ada sesuatu yang belum pernah Elvano rasakan seumur hidupnya, kehangatan sebuah rumah yang nyata.

Setiap kunyahan makanan ini terasa begitu jujur dan tidak dibuat-buat, seperti kepolosan alami yang dimiliki oleh gadis yang saat ini sedang menatapnya dengan cemas di seberang meja.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Elvano terus makan.

Ia menambah nasinya, menyendok sambal bajak buatan Alice dengan berani meskipun dahinya mulai berkeringat karena rasa pedas yang membakar lidahnya.

Ia menghabiskan seluruh makanan di piringnya hingga bersih tanpa sisa, meninggalkan Mbok Nem yang mengintip dari balik pintu dapur dengan mata melotot tidak percaya.

Setelah menyelesaikan makan malamnya dan meminum segelas air putih hingga tandas, Elvano bersandar pada kursinya.

Rasa lelah yang mendera tubuhnya akibat urusan bisnis gelap mendadak sirna secara ajaib, digantikan oleh rasa hangat yang mengalir di dalam dadanya.

Kehangatan ini mulai mengikis lapisan es yang membekukan sifat manusianya selama ini.

Ia menatap Alice yang kini tampak mengembuskan napas lega melihat piringnya yang kosong.

"Kau... memasak ini sendiri?" tanya Elvano, matanya mengunci sepasang manik hazel Alice dengan tatapan yang kian dalam.

"Iya, Tuan. Saya dibantu Mbok Nem untuk menyiapkan bahannya saja," jawab Alice pelan, sebuah senyum tipis yang tulus tanpa sadar terukir di bibir ranumnya, merasa puas karena usahanya dihargai.

Melihat senyum tipis itu, getaran asing di dalam dada Elvano kembali bergejolak, memicu ego posesifnya yang kian hari kian tumbuh menjadi obsesi yang tak terkendali.

Elvano berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja panjang hingga ia berdiri tepat di hadapan Alice.

Ia mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang hangat dan berkulit kasar menyentuh dagu Alice, memaksanya untuk mendongak menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.

"Mulai hari ini, jangan pernah memasak untuk siapa pun selain aku di rumah ini, Alice," ucap Elvano, suaranya merendah, bergetar namun penuh akan kepemilikan.

"Tangan ini, senyum ini, dan semua yang kau lakukan di dalam mansion ini... hanya boleh menjadi milikku. Apakah kau mengerti?"

Alice tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan aura posesif Elvano yang kian mencekik namun anehnya ada rasa melindungi yang dia rasakan.

Di bawah tatapan mata posesif sang Bos Mafia, Alice hanya bisa mengangguk pelan, menyadari bahwa keberanian kecilnya malam ini tidak hanya berhasil menjinakkan sang singa mafia untuk sementara, melainkan juga semakin mengunci dirinya di dalam sangkar obsesi yang tidak akan pernah melepaskannya seumur hidup.

1
Mia Camelia
sah🥰🥰🥰
Enz99
bagus
Qil Qilla
ayoo semangatt untuk up cerita inii sayanggg😍😍
Mia Camelia
tuh kan baru yakin tuh klo itu anak nya🤔
Mia Camelia
ehhm jujur aja sih 🤣🤣🤣
Mia Camelia
hamil kah ??😂😂😂
Mia Camelia
elvano udh serius banget nih🥰
Mia Camelia
ayolah el jangan jdi balok es mulu🤣🤣🤣kaku banget deh😂
Mia Camelia
elvano goood👍👍👍
Mia Camelia
ih jahat banget si paman albert, klo sampe elvano tau, langsung di ceburiin ke laut inimah🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!