Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06. SBR
...~•Happy Reading•~...
...Empat Tahun Kemudian...
Hari pertama, minggu pertama di bulan Juni yang cerah, Janet melangkah cepat memasuki gedung perkantoran yang telah menjadi tempatnya bekerja setahun terakhir.
Ada semangat, ada harapan di hari baru setiap kali melihat gedung kantor yang mega di antara pohon yang berjejer rapi dan dia bekerja di sana. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan akan terjadi dalam hidupnya, bekerja sebagai karyawan kantor.
Setelah melahirkan dan anaknya bisa ditinggal, Andri mengizinkan dia bekerja di luar rumah untuk menikmati masa muda yang hilang. Usianya baru 24 tahun, jadi Andri berharap Janet bisa merasakan pergaulan, punya teman, berbicara, berbagi cerita untuk membuka wawasan seperti wanita muda lainnya.
"Pagi Janet..." Terdengar sapaan lembut rekan kerja yang telah menjadi temannya.
"Pagi Reni. Aku kira seperti biasa, last minute and ngos-ngosan." Janet meledek Reni yang sering masuk kantor menit terakhir sebelum disebut terlambat.
Reni jadi tersenyum sambil mendekatkan wajah. "Hari ini aku gak berani seperti itu. Gak mau ngos-ngosan and ada yang mengalir di pelipisku." Bisik Reni sambil menyentuh pinggiran pipi yang tidak berkeringat dan dahi.
"Ada apa? Ditegur Nonya?" Janet ikut berbisik dan membahasakan kepala bagian mereka dengan julukan yang hanya mereka berdua tahu.
"Kau belum dengar, kalau hari ini ada pergantian pimpinan tertinggi setelah goncangan hebat waktu itu? Kita mau punya boss baru."
"Belum. Maklum, sibuk di kantor dan rumah sama serunya." Janet berkata pelan dan meletakan kartu akses.
"Seharusnya tadi malam aku telpon info, supaya kau berdandan sedikit lebih cantik." Reni meledek.
"Astaga Reni, pantas penampilanmu berbeda pagi ini. Kau mau menarik perhatian suami orang?" Tanya Janet dengan mata membulat.
"Siapa yang bilang suami orang? Katanya belum tahu ada pergantian pimpinan." Wajah Reni ditekuk dan menengok ke samping.
"Nebak doang. Biasanya para pimpinan sudah punya gandengan. Perut buncit, dagu double." Ucap Janet bercanda sambil menggerakan tangan di depan perut, hingga Reni tersenyum dan memukul lengannya.
"Astaghfirullah.... Amit amit dah." Reni mengetuk tangannya berulang kali dengan jari.
"Nah, gak mau, kan. Makanya jangan berusaha menarik perhatiannya, nanti diusir keluar dari sini sama Nonya'nya pimpinan atau Nonya kita." Janet mengingatkan sambil menyenggol bahu Reni.
"Kau bikin semangatku jadi surut. Ya, uda'lah. Aku fokus kerja aja. Walau pimpinan baru tampan dan berperut rata, aku cuma lirik dan melengos." Reni pura-pura merajuk dengan menjauhi Janet.
"Kenapa kau makin cantik kalau merajuk?" Janet mencolek pundak Reni sambil tersenyum.
"Kau paling bisa menghiburku." Reni jadi menggandeng lengan Janet dan berjalan riang. Keceriaan yang sangat dinikmati Janet, karena Reni berusia sama dengannya.
"Begitu lebih baik." Janet menepuk jari Reni yang memegang lengannya. "Kita boleh berangan-angan, tapi cukup setinggi pohon tomat. Supaya jatuhnya gak sakit." Bisik Janet sambil tersenyum manis.
"Aku sadar diri, Jan. Cuma mau tampil cantik, agar sedap dilihat pimpinan baru. Yuk, naik tangga. Lift lagi padat merayap." Ajak Reni yang tidak sabar melihat karyawan mengantri di dua lift untuk karyawan.
"Mau naik tangga dengan sepatu ini?" Janet menunjuk sepatu berhak mereka. "Sabar saja. Ayo, kita ngantri." Janet menarik tangan Reni menuju pintu lift untuk berdiri di belakang karyawan lain.
"Ternyata semua karyawan berpikiran sama denganmu. Takut terlambat dan yang wanita tampil cantik juga modis." Bisik Janet. Dia mengakui kebenaran yang dikatakan Reni.
"Iya. Pasti mereka sudah dengar info ada pergantian pimpinan, jadi gak mau dikasih hadiah SPT di hari pertama boss baru bekerja."
"Maksudmu?" Janet jadi penasaran.
"Aku dengar, pemimpin baru kita super sangar dan dingin ngalahin rumah beruang kutub." Bisik Reni.
"Infomu nyeremin. Syukur kita kerja di garis belakang, jadi gak akan bertemu dengannya." Ucap Janet sebelum masuk ke lift.
"Siapa yang bilang, gak akan bertemu? Selagi kerja di satu gedung, kemungkinan bertemu fifty-fifty. Contonya, kita bisa bertemu dengannya di lobby ini." Bisik Reni sambil melihat sekitar. Janet jadi ikut melihat kiri kanan.
"Sudah, gak usah bicarakan itu lagi. Bikin pikiran ngelantur ke mana-mana. Kita fokus kerja saja." Bisik Janet, lalu menarik tangan Reni, agar bisa masuk lift.
Ketika tiba di ruang kerja, Janet dan Reni mengganti sepatu dengan sneakers untuk memudahkan gerakan mereka bekerja. "Jan, mungkin hari ini kita cuma kerja lokal. Gak bisa menjelajah, karna ada acara penyambutan itu." Reni menebak sambil memakai baju pelindung dan penutup kepala untuk melindungi rambut.
"Iya, Ren, kita tunggu perintah saja. Jangan lakukan tugas sendiri seperti biasa. Nanti kita malah ke daerah terlarang." Janet mengakui yang dikatakan Reni.
"Kalian berdua bikin apa di situ? Di cari Bu Litta." Tegur teman office boy yang mendekati mereka dengan pakaian kebesaran, siap bekerja.
"Oh, Hanun. Hari ini kau bertugas di mana?" Reni ingin tahu tugas rekan kerjanya.
"Belum tahu. Belum dikasih tahu. Kita diminta kumpul mau dibriefing Bu Litta...." Hanun menjelaskan sesuai permintaan kepala bagian mereka.
"Ok, kami menyusul. Mau rapiin ini dulu." Reni menunjukan pakaiannya yang belum rapi kepada Hanun.
"Mengapa gak sama-sama saja, Ren? Ini bisa sambil jalan." Janet menunjuk pakaian pelindung Reni.
"Aku mau hapus sedikit lipstikku. Nanti bukannya dibriefing soal kerjaan, tapi dandananku." Ucap Reni sambil memajukan bibirnya yang merah terang.
"Oh, iya. Aku gak mikir. Sini aku bantu, biar cepat." Janet mengambil tissu dari tangan Reni.
Kemudian Janet dan Reni berjalan cepat, bahkan berlari kecil agar tidak dimarahi Bu Litta. Ketika tiba di tempat briefing, ke empat office boy sudah berdiri menunggu di depan Bu Litta yang menatap mereka dengan tidak sabar.
"Kalian semua segera persiapkan aula pertemuan. Tidak boleh ada yang kurang, atau terlewatkan...." Bu Litta memberikan lembaran dena tempat mereka berkerja.
Selesai briefing, mereka segera ke aula pertemuan. "Jan, kita berbeda tempat." Bisik Reni setelah melihat bagian tugasnya dan Janet.
"Iya. Gak pa'pa. Fokus. Lihat seriusnya Nonya ingatin kita."
"Iya. Hati-hati." Reni menautkan tangan mereka, lalu mengambil perangkat kerja.
Mereka berenam membersihkan dan merapikan aula pertemuan dengan cermat dan cepat sebelum ruangan digunakan.
"Hanun, aku bawa itu." Janet menawarkan bantuan, sebab melihat Hanun mendorong tempat penampung air kotor dan alat bersih lainnya.
"Gak usah, aku saja." Hanun menolak.
"Gak pa'pa, aku aja. Mau sekalian ke belakang sama Ren." Janet tetap mau membantu, karena sering dibantu. Hanun mengangguk. "Thanks"
Namun ketika Janet berbalik, dia seperti disengat listrik melihat pria yang berjalan dari depan dan akan melewatinya. Sehingga tanpa sadar, dia tersandung pada alat pel berisi air kotor hingga tumpah ke lantai.
"Hei, matamu ke mana?" Suara wanita galak menegur. "Kau tidak lihat siapa yang mau lewat?"
Janet sontak menunduk, menyembunyikan wajahnya. 'Mengapa Mas Devan ada di sini?' Jantungnya seakan mau copot.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○♡○▪︎~...