NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK BALIK SANG PENGUASA

Jam digital di dasbor mobil sport hitam milik Alvaro menunjukkan pukul sebelas malam lewat empat puluh lima menit. Hujan deras yang mengguyur ibu kota kini telah berubah menjadi badai angin yang dahsyat. Wiper mobil bekerja dengan kecepatan maksimal, namun pandangan ke depan tetap buram terhalang oleh pekatnya air yang tumpah dari langit.

Alvaro mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, mengabaikan fakta bahwa ia sedang mengemudikan kendaraan seharga miliaran rupiah menerobos genangan air di jalanan sempit kawasan pinggiran. Di dalam benaknya, ego sang tuan muda kini telah lumat, digantikan oleh kepanikan murni yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ia tidak tahan membayangkan sepasang mata bulat Kayla yang menatapnya dengan kebencian absolut seperti di lantai dansa tadi.

Mobil sport itu akhirnya berhenti secara kasar di depan ruko laundry milik keluarga Kayla. Keadaan ruko itu sudah gelap gulita, pintunya tertutup rapat oleh gulungan besi *rolling door* yang kokoh.

Alvaro mematikan mesin mobilnya. Ia duduk terdiam selama beberapa saat di dalam kehangatan kabin mobilnya yang mewah, menatap pintu ruko tersebut dengan napas yang memburu. Tanpa memedulikan fakta bahwa ia tidak membawa payung, Alvaro mendorong pintu mobilnya terbuka dan melangkah keluar, langsung membiarkan tubuhnya yang mengenakan tuksedo mahal basah kuyup dalam hitungan detik.

*Gedor! Gedor! Gedor!*

Alvaro memukul pintu besi ruko itu dengan telapak tangannya berkali-kali, menimbulkan bunyi dentangan logam yang nyaring di tengah suara gemuruh hujan.

"Kayla! Kayla Shaqueena! Keluar kamu! Aku tahu kamu di dalam!" teriak Alvaro dengan suara yang parau, tenggorokannya terasa perih karena harus mengalahkan suara badai.

Tidak ada jawaban dari dalam ruko. Alvaro tidak menyerah. Ia terus menggedor pintu besi itu dengan kepalan tinjunya hingga kulit buku jarinya mulai memerah dan lecet. Rasa sakit di tangannya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sesak yang terus mencengkeram dadanya sejak pesta topeng berakhir.

"Kayla! Tolong keluar... Aku ingin bicara!" nada suara Alvaro perlahan berubah, kehilangan keangkuhannya yang biasa, menyisakan keputusasaan yang sangat kentara. Seorang pangeran utama Nusantara Jaya kini sedang berdiri memohon di depan sebuah ruko laundry tua di tengah badai malam.

Setelah hampir lima menit Alvaro berteriak di bawah guyuran hujan, terdengar bunyi kunci yang diputar dari dalam. Pintu besi ruko perlahan terangkat ke atas setinggi dada, menampilkan sosok Kayla yang berdiri di sana.

Gadis itu sudah mengganti gaun birunya dengan kaus oblong longgar dan celana kain panjang yang sederhana. Rambutnya digulung asal-asalan ke atas. Wajahnya terlihat sangat pucat, dan sepasang matanya bengkak serta memerah karena terlalu banyak menangis. Ketika ia melihat Alvaro berdiri di depannya dengan kondisi basah kuyup dari ujung kepala hingga kaki, ekspresi wajah Kayla mengeras, dipenuhi oleh rasa dingin yang mematikan.

"Mau apa lagi kamu ke sini, Alvaro?" tanya Kayla, suaranya terdengar sangat datar, lelah, dan tanpa emosi sedikit pun. "Apakah menghancurkan harga diriku di depan ratusan teman kayamu tadi belum cukup memuaskan egomu? Kamu ingin membongkar ruko ini juga sekarang?"

Melihat kondisi Kayla yang begitu rapuh namun tetap menatapnya dengan dinding pertahanan yang tebal, Alvaro merasa lidahnya mendadak kelu. Seluruh kalimat intimidasi yang biasa ia gunakan menguap begitu saja.

"Aku... aku ke sini bukan untuk merusak apa pun, Kayla," kata Alvaro, suaranya bergetar karena dinginnya air hujan yang menusuk tulang, atau mungkin karena rasa bersalah yang teramat sangat. "Aku hanya... ingin memastikan kamu pulang dengan selamat. Dan aku... aku ingin meminta maaf atas kejadian di pesta tadi."

Kayla tertegun sejenak mendengarnya. Kata "maaf" adalah kosakata yang paling mustahil keluar dari bibir seorang Alvaro Pramudya. Namun malam ini, di bawah siraman air hujan yang deras, cowok itu mengucapkannya dengan mata yang menatapnya penuh permohonan.

Namun, rasa sakit hati yang teramat dalam membuat Kayla menolak untuk luluh begitu saja.

Kayla terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan di telinga Alvaro. "Minta maaf? Seorang Alvaro Pramudya datang ke ruko miskin ini di tengah malam hanya untuk meminta maaf kepada seorang anak laundry? Jangan bercanda, Alvaro! Kamu pikir satu kata maaf bisa menghapus semua siksaan psikologis yang kamu berikan kepadaku sejak hari pertama aku masuk ke sekolah itu?!"

Kayla melangkah satu jengkal lebih dekat ke ambang pintu, menunjuk tepat ke arah dada Alvaro. "Kamu memberiku kartu merah, membiarkan seluruh sekolah memperlakukanku seperti sampah, merusak motorku, dan menjebak keluargaku dengan kontrak gila itu! Dan malam ini, kamu menelanjangi harga diriku di depan semua orang! Kamu tahu apa yang paling membuatku sakit, Alvaro?"

Air mata Kayla kembali menetes, mengalir melewati pipinya yang pucat. "Ibuku... Ibuku mengira kamu adalah orang baik yang dikirim Tuhan untuk membantu pengobatan Ayah. Beliau selalu mendoakan keselamatanmu setiap malam! Jika Ibuku tahu bahwa orang yang dia doakan adalah monster yang menindas anaknya sendiri... hatinya akan hancur, Alvaro!"

Setiap kata yang keluar dari bibir Kayla bagaikan hantaman gada tak kasat mata yang meremukkan seluruh keangkuhan di dalam diri Alvaro. Ia menatap air mata Kayla, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alvaro merasakan matanya sendiri ikut memanas karena rasa bersalah yang teramat sangat.

"Aku tahu aku salah, Kayla! Aku tahu aku sudah bertindak seperti bajingan!" Alvaro akhirnya berteriak, memotong kalimat Kayla dengan suara yang pecah. Ia melangkah maju, mencoba meraih bahu Kayla, namun gadis itu dengan cepat mundur menghindarinya.

Alvaro menurunkan tangannya dengan lemas, membiarkan air hujan terus membasahi wajah tampannya yang kini dipenuhi penyesalan murni. "Aku melakukan semua itu... karena aku tidak tahu cara lain untuk membuatmu melihat ke arahku. Semua orang di sekolah selalu menunduk dan memujaku karena uangku, tapi kamu... kamu menatapku dengan mata yang penuh perlawanan. Aku frustrasi karena tidak bisa mengendalikanmu, dan aku cemburu... aku setengah mati cemburu melihatmu bisa tersenyum begitu lepas saat bersama Devan!"

Pengakuan jujur yang keluar dari mulut Alvaro membuat suasana di depan ruko itu seketika menjadi hening, menyisakan suara gemercik air hujan yang jatuh di atas aspal. Kayla terbelalak menatap Alvaro, tidak menyangka bahwa seluruh perundungan kejam yang ia terima berakar dari rasa obsesi dan cemburu kekanak-kanakan sang penguasa sekolah.

"Mulai besok..." Alvaro menarik napas dalam-dalam yang terasa sangat sesak di dadanya. "Aku akan mencabut kartu merahmu di sekolah. Tidak akan ada lagi yang berani menyentuhmu atau mengganggumu di SMA Nusantara Jaya. Dan untuk kontrak laundry... kamu tidak perlu lagi datang ke istanaku setiap sore. Kerja sama itu akan tetap berjalan, dan uangnya akan tetap ditransfer penuh ke rekening ibumu setiap bulan tanpa syarat apa pun."

Alvaro mundur satu langkah ke belakang, membiarkan tubuhnya semakin jauh dari jangkauan lampu teras ruko. Ia menatap Kayla untuk terakhir kalinya malam itu dengan senyuman pahit yang dipaksakan.

"Aku tidak memintamu untuk memaafkanku sekarang, Kayla. Aku tahu kesalahanku terlalu besar," bisik Alvaro lirih. "Tapi tolong... jangan membenciku dengan seluruh jiwamu. Karena rasa benci darimu adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah sanggup kuhadapi di dunia ini."

Setelah mengatakan hal itu, Alvaro berbalik dan berjalan perlahan menuju mobil sportnya dengan langkah kaki yang terasa sangat berat, membiarkan badai malam menelan sosok tegapnya yang kini terlihat begitu kesepian.

Kayla berdiri mematung di ambang pintu rukonya, menatap kepergian mobil Alvaro yang perlahan menghilang di ujung jalan yang gelap. Di dalam dadanya, rasa amarah yang membara perlahan-lahan mulai surut, digantikan oleh sebuah perasaan asing yang membingungkan. Sang monster sekolah baru saja menunjukkan sisi rapuh dan manusianya yang paling dalam di depannya.

Tanpa Kayla sadari, titik balik itu telah tiba. Roda takdir di antara sang rumput liar dan sang pangeran angkuh kini telah berputar ke arah yang sama sekali baru, di mana batas antara benci dan cinta mulai mengabur di bawah guyuran hujan malam.

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!