Diusir keluarga karena hamil di luar nikah dan ditinggalkan pria yang menghamilinya, Kemala bertahan hanya demi satu alasan, yaitu bayinya.
Namun dua hari setelah melahirkan, putranya menghilang tanpa jejak.
Takdir mempertemukannya dengan Bastian Rothmere, pewaris keluarga konglomerat yang sedang putus asa mencari ibu susu bagi seorang bayi yang kehilangan ibu kandungnya.
Sebagai imbalan, Bastian berjanji membantu mencari putra Kemala yang hilang.
Namun tinggal di kediaman Rothmere justru menyeret Kemala ke dalam perang dingin keluarga kaya raya. Terutama ketika istri sah Bastian terang-terangan menolak keberadaan sang bayi pewaris.
Di tengah rahasia, ambisi, dan perebutan kekuasaan yang semakin berbahaya, Kemala mulai menyadari bahwa hilangnya putranya mungkin bukan sekadar kebetulan.
Hingga suatu malam, Bastian menghantam meja rapat dan berkata dengan suara dingin,
“Siapa pun yang berani menyentuh pewaris Rothmere atau anak Kemala, akan kubuat menyesal telah dilahirkan!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N A R I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Pencarian Bayi Kemala
"Pak Bastian, Anda belum tidur?"
Suara kepala pelayan yang baru masuk ruang kerja membuat Bastian menoleh. Di tangan pria itu masih tergenggam tablet. Layar CCTV ruang bayi masih menyala. Nathan tertidur tenang di boksnya. Sementara Kemala tertidur di kursi samping dengan kepala sedikit miring. Salah satu tangan wanita desa itu masih menyentuh selimut Nathan seolah takut bayi itu kedinginan.
Bastian baru menyadari sesuatu. Sudah hampir sepuluh menit Bastian memandangi layar itu. Bukan karena pekerjaan, bukan juga karena laporan, Bastian hanya memandang.
"Ada kiriman berkas dari Bu Alya yang perlu ditandatangani, Pak," ucap pria paruh baya itu.
"Letakkan di meja," perintah Bastian sederhana.
"Baik."
Setelah kepala pelayan itu pergi, Bastian mematikan layar tabletnya. Namun bayangan Kemala yang tertidur di kursi itu tetap tertinggal di pikiran pria itu.
Pagi harinya. Kemala terbangun dengan jantung berdebar. Sinar matahari sudah masuk melalui jendela. Kemala langsung berdiri dari kursi.
"Astaga …."
Wanita itu panik. Kemala benar-benar tertidur. Sebagai pekerja baru, itu jelas bukan kesan yang baik. Kemala segera merapikan pakaiannya. Saat berbalik, wanita dengan gaun yang masih terlihat lecek itu mendapati seseorang sudah berdiri di dekat jendela.
Bastian sedang membaca laporan di tabletnya. Tampak begitu jelas raut wajah Kemala langsung pucat.
"Maaf, Pak!" seru Kemala yang panik. Bastian mengangkat pandangan.
"Saya tertidur." Kemala sedikit tertunduk karena merasa telah melakukan kesalahan.
"Ya." Bastian hanya merespon singkat.
"Saya tidak sengaja," lanjut Kemala yang masih tergambar di wajahnya sedikit lelah.
"Ya." Lagi-lagi respons yang begitu singkat dari Bastian.
Kemala semakin gugup. "Saya benar-benar minta maaf."
Bastian menutup tabletnya. "Nathan tidur nyenyak."
Kemala hanya bisa terdiam. Karena hanya itu, kalimat sederhana yang hanya keluar dari mulut Bastian. Namun entah kenapa membuat dada wanita itu terasa hangat. Untuk pertama kalinya Bastian mengakui usaha Kemala secara langsung.
"Terima kasih, Pak."
Bastian tak menjawab. Pria itu justru mengambil sesuatu dari meja kecil di sampingnya. Sebuah foto yang berada di genggaman Bastian. Kemala langsung mengenali foto itu. Itu adalah Foto USG, milik Kemala. Wajah Kemala seketika berubah.
"Itu ...."
"Semalam jatuh dari tasmu," ujar Bastian yang sudah menyodorkan foto itu kepada Kemala.
Kemala buru-buru menerimanya. Seolah takut benda itu rusak. Jari-jari lentik wanita itu bahkan sedikit gemetar.
"Terima kasih."
Kemala segera menyimpan foto USG itu ke dalam saku. Bastian memperhatikan semua gerakan Kemala. Cara Kemala memegang foto itu. Bukan seperti memperlakukan kertas belaka. Melainkan seperti sesuatu yang sangat berharga.
"Saya tidak membuka barang pribadi kamu tanpa izin," ucap Bastian agar tak terjadi kesalahpahaman.
Kemala menatap Bastian. Untuk sesaat wanita itu tak tahu harus menjawab apa.
"Terima kasih, Pak."
Bastian mengangguk singkat. Lalu suasana menjadi begitu hening. Anehnya, kali ini Bastian tak langsung pergi.
"Anakmu sudah punya nama?"
Pertanyaan itu membuat Kemala membeku. Mata wanita itu perlahan turun.
"Sudah," jawab Kemala sedikit berat.
Bastian menunggu. "Siapa namanya?"
Lama tak ada jawaban. Kemala menggigit bibir bawahnya. Terlihat tubuh wanita itu bergetar.
"Saya belum sempat memberitahukannya kepada siapa pun."
Suara itu begitu pelan. Bastian melihat seluruh tubuh wanita itu bergetar. Membuat pria itu tak melanjutkan pertanyaan. Namun Kemala justru melanjutkan.
"Dulu saya sering mengajaknya bicara, waktu masih di dalam kandungan." Senyum tipis muncul di wajah Kemala. Senyum yang terasa menyakitkan. "Saya sering memanggilnya Arkana."
Ruangan kembali hening. Nathan masih terlihat tertidur. Kemala hanya menunduk. Sementara Bastian terus memandang wanita itu tanpa berkata apa-apa. Kini Bastian benar-benar melihat luka yang selama ini dibawa Kemala. Dan untuk pertama kalinya, muncul perasaan bersalah dalam diri Bastian, karena hanya melihat Kemala sebagai solusi bagi Nathan.
Menjelang siang. Kediaman Rothmere kedatangan tamu.
"Kalau bukan karena proyek itu, aku tidak akan menginjakkan kaki ke rumah ini," gumam Reynard yang begitu enggan memasuki kediaman Keluarga Rothmere. Reynard Mahendra berjalan memasuki koridor utama sambil menggeleng.
"Atmosfer rumah ini masih sama menyeramkannya," lanjut Reynald bergumam sambil memperhatikan seluruh bangunan kediaman Rothmere. Pelayan yang mengantar Reynald hanya tersenyum canggung.
Saat melewati koridor menuju ruang kerja Bastian. Reynard melihat seorang wanita berjalan dari arah berlawanan. Wanita itu membawa perlengkapan bayi dan beberapa botol ASI. Reynard langsung mengenalinya. Wanita dari layar tablet Bastian kemarin.
"Oh."
Kemala berhenti melihat seorang pria dengan pakaian kasual yang berpapasan dengannya.
"Permisi," ucap Reynald dengan senyum ramah.
Kemala mengerjap kebingungan.
"Reynard." Reynald mengulurkan tangan. "Teman lama Bastian."
Kemala tampak gugup. Namun tetap menjabat tangan dengan canggung.
"Saya Kemala," ucap Kemala.
"Saya tahu," sahut Reynald tertawa kecil. Kemala langsung bingung.
"Tenang. Aku bukan mata-mata," ujar Reynald melanjutkan.
Kemala akhirnya tersenyum tipis. Senyuman kecil yang membuat wajah wanita itu terlihat jauh lebih hidup.
"Salah satu sedikit orang yang masih hidup setelah berani mengejek Bastian," lanjut Reynald berkelakar.
Kemala refleks menahan tawa. Bastian memang satu-satunya orang yang begitu serius yang pernah Kemala temui selama hidupnya.
Sebuah tawa kecil lolos begitu saja di wajah wanita ayu itu. Dan tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan dari ujung koridor. Seorang pria yang sudah berpakaian sangat rapi, Bastian. Tatapan pria dengan setelan lengkap itu langsung mengarah ke Reynard.
"Reynard." Bastian segera memanggil sahabatnya itu.
"Ya?" ucap Reynald yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Bastian.
"Masuk." Bastian berbicara dengan nada suara datar. Namun cukup membuat Reynard tersenyum lebar.
"Baik, Bos."
Reynard berjalan meninggalkan Kemala dan masuk ke ruang kerja Bastian sendirian. Begitu pintu ruang kerja tertutup. Reynard langsung tertawa.
"Itu dia!" seru Reynald yang masih tertawa.
"Apa?" tanya Bastian cukup bingung.
"Wanita yang membuatmu tersenyum di restoran," jawab Reynald yang sedikit menghapus air mata yang keluar karena tawanya.
Bastian langsung membuka dokumen di meja. "Dia ibu susu Nathan."
"Aku tidak bilang apa-apa selain itu," ucap Reynald yang sudah mulai reda tawanya.
Bastian mengangkat pandangan. Reynard menyeringai puas.
"Tapi kau membela diri terlalu cepat," lanjut Reynald yang sudah duduk di depan Bastian.
"Diam," perintah Bastian singkat.
"Oke."
Reynard mengangkat kedua tangan. Namun senyum pria dengan pakaian kasual itu sama sekali tak hilang. Sementara Bastian kembali melihat layar laptopnya. Entah kenapa, Bastian merasa sedikit terganggu dengan ucapan Reynard.
***
Di sisi lain rumah. Mira baru saja kembali ke kamar Raline.
"Nyonya," panggil pelayan setia Raline itu tergesa.
"Apa?" tanya wanita dengan gaun mewah yang sedang memegang segelas wine.
"Saya melihat Tuan Bastian berbicara cukup lama dengan wanita itu."
Raline mengangkat kepala. "Wanita desa itu?"
"Iya, Nyonya." Mira memasang wajah serius.
"Dan?" tanya Raline sambil memutar-mutar gelas winenya.
"Tuan Reynard juga berbicara dengan wanita itu."
Raline menyipitkan mata. "Reynard?"
Raline tahu bahwa Reynald sudah tak mendatangi kediaman Rethmore lagi, apalagi setelah pernikahan Raline dengan Bastian.
"Iya." Mira mengangguk.
"Mereka tampak akrab," lanjut pelayan itu.
Raline yang biasanya akan marah jika membahas wanita desa yang tiba-tiba masuk kediaman Rothmere, perlahan tersenyum. Senyuman itu tak mengandung kehangatan sedikit pun.
"Menarik." Raline meletakkan gelasnya. "Kalau aku menyerangnya secara langsung, Bastian akan melindunginya."
Mira diam sejenak. "Lalu bagaimana, Nyonya?"
"Kita tidak akan menyerangnya."
Mira bingung terhadap keputusan tuannya yang biasanya sangat impulsif. Raline berdiri dari sofa mahalnya. Tatapan wanita bergaun mewah itu menjadi sangat dingin.
"Kita akan rusak reputasinya."
***
Setelah Reynald sudah tak berada di kediaman Rothmere. Sore hari di ruang kerja utama. Seorang pria berpakaian hitam berdiri di depan meja Bastian. Kepala keamanan pribadi Keluarga Rothmere.
"Laporan pencarian bayi Kemala," ucap kepala keamanan itu sambil meletakkan sebuah dokumen.
Bastian mengangkat pandangan sambil membuka dokumen tersebut. "Lanjutkan."
"Kami menemukan sesuatu," ucap pria berpakaian hitam itu. Bastian langsung fokus.
"Ada mantan perawat dari rumah sakit tempat bayi itu hilang," lanjut pria berpakaian hitam itu. "Dia mengundurkan diri beberapa hari setelah kejadian. Menurut data yang saya dapatkan, perawat itu adalah perawat yang membantu Kemala melahirkan."
Alis Bastian mengernyit. Bastian yang kemudian memperhatikan sebuah foto dalam laporan kepala keamanan pribadi Keluarga Rothmere.
"Di mana sekarang?" tanya Bastian dengan nada semakin serius.
"Kami belum menemukannya."
Bastian menutup map di depannya. "Prioritaskan kasus ini."
"Baik, Tuan."
"Dan jangan bocorkan penyelidikan ini ke siapa pun," perintah Bastian tegas.
"Siap."
Pria berpakaian hitam itu segera pergi. Sementara Bastian menatap keluar jendela. Dari pengalaman pria gagah itu, Bastian bisa merasakan ada hal tersembunyi dibalik kasus itu. Bastian ingin menemukan jawaban atas kasus itu secepat mungkin.
***
Ratusan kilometer dari Jakarta. Jauh dari hiruk pikuk kota. Sebuah rumah kayu sederhana berdiri di tepi jalan tanah. Tangisan bayi terdengar dari dalam. Seorang pria paruh baya keluar dari dapur membawa botol susu.
"Nah, nah." Pria itu menggendong bayi itu dengan canggung.
Tangisan perlahan mereda. Bayi laki-laki kecil itu tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa minggu lalu. Pipinya mulai berisi. Tubuhnya juga tak serapuh dulu. Pria itu menatap wajah bayi tersebut. Tatapan yang berlangsung begitu lama.
"Sial," umpat pria itu tiba-tiba lalu menghela napas. "Harusnya aku membuangmu waktu itu."
Jari kecil bayi itu bergerak. Lalu menggenggam telunjuk pria yang sedang menggendong bayi mungil itu. Pria itu membeku. Tatapannya berubah rumit.
"Aku memang bodoh."
Pria paruh baya itu menggendong bayi itu lebih erat. Lalu memandang keluar jendela. Ke arah jalan tanah yang gelap.
"Kalau mereka akhirnya datang mencarimu ..." suara pria itu terdengar pelan. "Aku harus bagaimana?"
Like+ bunga🌹 , semangat thor ✍️
kalo berkenan mampir juga y😉