Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Cerita dibalik Tato kecil.
Setelah selesai sarapan dengan suasana yang hangat, Axel pun mengantar Aruna pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana terasa sangat berbeda.
Kali ini, Aruna memutuskan untuk mengambil alih inisiatif. Ia tidak mau menunggu Axel yang menggodanya duluan, karena ia tahu betul kalau sampai pria itu mulai bertindak, bisa-bisa dia sendiri yang kewalahan dan kehilangan kendali.
Maka dari itu, Aruna memilih strategi andalan: menjadi sangat manja.
"Sayang..." bisik Aruna pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Axel sambil menggeser tubuhnya semakin dekat.
"Mau apa? Katakan saja..." jawab Axel santai, tangannya tetap fokus memegang setir namun matanya sesekali melirik ke arah wajah manja gadis itu.
"Hadiah... kamu kan belum kasih aku apa-apa lho!!" seru Aruna sedikit mendongak, menatap Axel dengan tatapan meminta.
Axel tersenyum paham, seolah sudah menduga permintaan itu akan muncul.
"Iya, bukan karena nggak mau ngasih, Sayang... hanya saja aku belum tahu persis apa yang benar-benar kamu suka." jawabnya jujur.
"Uuuhh... jahat banget sih!" Aruna mendengus kesal, lalu menjawab dengan terus terang apa adanya, "Yasudah aku kasih tahu ya... aku sukanya perhiasan yang mewah-mewah gitu. Pokoknya hal-hal yang indah, berkilau, dan mahal harganya."
Aruna mengatakannya tanpa rasa takut sedikitpun. Ia sama sekali tidak khawatir Axel akan pergi atau ilfeel hanya karena ia menyukai hal-hal yang berharga dan mewah. Bagi Aruna, itu adalah bagian dari dirinya dan ia tak mau berpura-pura. Dan Axel juga tampak tidak keberatan sama sekali.
"Baiklah... nanti aku siapkan semuanya sesuai keinginanmu," jawab Axel santai dan meyakinkan.
"Jadi... sekarang aku nggak bakal dapat apa-apa gitu?" Aruna mulai manyun panjang, bibirnya menonjol manja, matanya memancarkan aura kecewa yang dibuat-buat.
Axel tersenyum singkat melihat tingkah itu. Ia pun mengulurkan tangannya, mencubit pelan ujung hidung mancung Aruna dengan gemas.
"Jadi sekarang maunya apa?" tanya Axel lagi, menyerah pada permintaan gadis itu.
"Beliin aku bunga dong! Buketnya yang gede ya!" tuntut Aruna bersemangat. "Aku paling suka bunga mawar merah... atau bunga peony yang cantik itu."
"Oke, Nanti di depan aku mampir dulu, disana ada toko Bunga." jawab Axel cepat menyanggupi.
"Sama satu lagi..." Aruna belum puas.
"Apa lagi Sayang?"
"Jawab pertanyaanku jujur, dan janji jangan godain aku dulu," syarat Aruna tegas.
"Fine... tanya saja, janji aku nggak akan godain kamu," Axel mengangkat tangannya sedikit seolah bersumpah.
Aruna menarik napas, lalu menatap lekat-lekat manik mata pria itu.
"Apa... kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanyanya pelan namun penuh arti.
Axel terdiam sejenak. Wajahnya yang tadi santai perlahan berubah menjadi lebih serius. Ia memikirkan jawabannya dengan hati-hati.
"Belum pernah..." jawabnya akhirnya pelan. "Sebelumnya aku memang dekat dengan beberapa wanita, tapi itu hanya main-main saja. Tak pernah ada yang berhasil membuatku benar-benar jatuh cinta sepenuhnya."
Aruna mengangguk pelan, lalu kembali bertanya, "Tapi... kamu pernah ciuman kan sama orang lain?"
Axel langsung tersenyum miring, senyum yang terlihat sedikit nakal dan percaya diri.
"Ya..." jawabnya terus terang tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Kenapa tanya begitu?"
"Hanya bertanya saja..." sahut Aruna santai. "Cara kamu menciumku itu gerakannya bukan gaya orang pemula sama sekali, pasti kamu udah sering lakuin itu."
"Jangan cemburu. Karna hanya yang aku cintai dengan sepenuh hati. Cuma kamu."
Aruna hanya menggeleng pelan. Ia tersenyum tipis.
"Enggak tuh...." jawabnya singkat.
Aruna memang bukan tipe wanita yang mudah cemburu atau mendramatisir masa lalu. Baginya, yang penting adalah masa kini dan masa depan, dan ia tahu betul bahwa saat ini, hati pria di sampingnya itu sepenuhnya miliknya.
"Sekarang giliranku. Jawab pertanyaanku dengan jujur.. dengan begitu baru adil." Ucap Axel kemudian, matanya menatap tajam ke arah Aruna, seolah ingin menembus ke dalam hatinya.
"Hah baiklah.." Aruna mendengus agak kesal, matanya memutar malas namun ada sedikit getaran tak terlihat di suaranya. Ia tahu, pertanyaan Axel pasti bukan hal yang sepele.
"Tato itu.. bukan iseng kamu buat kan?" Tanya Axel serius, suaranya rendah namun tegas, membuat suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi hening dan penuh tekanan.
Aruna tiba-tiba saja murung. Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh semangat kini berubah menjadi pucat dan lesu. Ia sebenarnya tidak mau membahas soal itu, topik itu selalu membawa kembali kenangan yang bercampur antara kebahagiaan dan kesedihan yang mendalam. Tapi ia sadar, mengelak pun tiada guna, Axel bukan orang yang mudah menyerah.
"Ya memang bukan." Jawabnya pelan, suaranya hampir tak terdengar, matanya menunduk menatap lantai seolah mencari jawaban di sana.
"Kalau begitu ceritakan lebih detail padaku.." Pinta Axel lembut, namun nada suaranya tak terbantahkan. Ia ingin tahu segalanya, ingin mengerti arti di balik tato yang terukir indah di kulit Aruna.
"Tapi awas aja kalau kamu marah padaku.." Aruna mengangkat wajahnya, menatap Axel dengan tatapan waspada namun juga penuh permohonan.
Axel tertawa, sebuah tawa yang hangat dan menenangkan. "Tenang saja... aku tidak akan marah.." Katanya meyakinkan, lalu ia duduk lebih dekat, memberikan ruang dan kenyamanan bagi Aruna untuk bercerita.
Perlahan namun pasti, Aruna mulai membuka mulutnya, menceritakan kisah di balik tato itu pada Axel. Ia bercerita jika tato itu dibuat untuk mengenang Kurama, seekor kucing berwarna oranye cerah yang hanya memiliki dua kaki. Pertemuan mereka dibilang cukup unik dan tak terduga.
Suatu hari, saat Aruna sedang berjalan pulang melewati pinggir jalan yang sepi, matanya tertuju pada sebuah gumpalan kecil yang bergerak-gerak lemah, di sela-sela rerumputan. Saat didekati, ternyata itu adalah seekor anak kucing yang terluka parah. Tubuhnya gemetar ketakutan, matanya yang bulat menatap Aruna penuh harap seolah memohon pertolongan. Hati Aruna langsung terenyuh, tanpa pikir panjang ia segera menggendong makhluk kecil itu dan membawanya lari ke klinik hewan terdekat.
Di klinik, dokter hewan mengatakan bahwa luka yang dialami kucing itu sangat serius dan sayangnya, kaki belakangnya harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya. Aruna merasa hancur, air matanya tak bisa terbendung mendengar keputusan itu. Namun ia tahu, itu adalah satu-satunya cara agar kucing itu bisa tetap hidup.
Setelah operasi selesai, kucing itu berhasil diselamatkan namun kini hanya tersisa dua kaki depan. Melihatnya berusaha berjalan dengan tertatih, hati Aruna terasa perih namun juga kagum dengan semangat hidupnya yang begitu kuat.
Namun masalah baru muncul. Aruna bingung setengah mati. Ia sangat ingin merawat dan memelihara kucing itu, tapi ia sadar betul bunya memiliki alergi parah terhadap bulu hewan, dan ayahnya sama sekali tidak menyukai hewan peliharaan, apalagi yang berbulu lebat. Ia tak mungkin membawa pulang kucing itu dan memaksakan kehendak pada orang tuanya.
Saat Aruna sedang duduk termenung, bingung memikirkan nasib si kucing, seseorang bernama Zayn datang mendekatinya. Zayn adalah dokter hewan yang menangani operasi kucing itu. Pria itu tampan, tenang, dan memiliki senyum yang menenangkan.
"Kamu tidak perlu khawatir," kata Zayn lembut saat mengetahui keraguan Aruna. "Aku bisa mengadopsinya. Aku janji akan merawatnya dengan baik dan memberinya kehidupan yang layak."
Hati Aruna merasa lega sekaligus sedih. Lega karena ada yang mau merawat si kucing, namun sedih karena harus berpisah dengan makhluk kecil yang sudah ia sayangi itu. Akhirnya, Zayn memberikan nama kucing itu "Kurama", karena bulunya yang berwarna oranye dengan sedikit corak hitam, kombinasi warna yang cukup langka dan cantik, mengingatkannya pada karakter dalam cerita favoritnya.
Sejak saat itu, Aruna jadi sering datang mengunjungi Kurama di tempat tinggal Zayn. Pertemuan demi pertemuan membuat mereka semakin akrab. Zayn ternyata adalah sosok yang perhatian dan baik hati. Namun, lambat laun Aruna menyadari bahwa perasaan Zayn padanya bukan hanya sekadar teman. Zayn mulai menunjukkan sikap yang lebih, bahkan terang-terangan menyatakan bahwa ia menyukai Aruna.
Namun Aruna menolaknya dengan tegas. Bukan karena Zayn tidak baik, tapi karena sifat Aruna yang bebas dan mandiri. Ia paling tak suka dikekang, merasa terikat atau memiliki kebebasannya diambil alih oleh orang lain. Dan itulah, salah satu alasan utama kenapa di awal pertemuannya dengan Axel, Aruna bersikap begitu konyol, dan seolah tak peduli. Ia sedang membangun tembok pertahanan, takut jika lagi-lagi ia akan terjebak dalam situasi yang membuatnya merasa tidak bebas.
Kisah itu terucap perlahan dari bibir Aruna, membawa mereka berdua kembali ke masa lalu, mengungkap sisi lain dari kepribadian gadis itu yang selama ini tersembunyi di balik sikapnya yang keras dan ceria.
Kemudian Aruna melanjutkan kisahnya dengan nada yang mulai terdengar berat dan sendu.
Ternyata, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kurama tak bisa bertahan hidup lama. Makhluk kecil itu hanya bisa bertahan selama dua bulan saja. Selama itu pula ia sangat lemah, bahkan untuk makan pun ia hanya sanggup menghabiskan makanan basah yang disuapkan dengan sangat hati-hati.
Zayn sudah berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk merawatnya, memberikan obat terbaik dan perawatan ekstra, namun sayangnya kondisi fisik Kurama memang sudah sangat rapuh sejak awal. Akhirnya, sang kucing kecil yang pemberani itu menghembuskan napas terakhirnya di pelukan mereka.
Aruna sangat hancur. Kesedihan yang mendalam itulah yang akhirnya membuatnya memutuskan untuk membuat tato kecil bergambar kucing di dekat telinganya. Sebuah tanda cinta abadi dan kenangan untuk sahabat kecilnya yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
".... Tapi tolong jangan ceritakan ini pada orang tuaku ya, Axel..." ucap Aruna memohon di akhir cerita, matanya menatap pria itu dengan cemas. "Mereka bahkan tidak tahu kalau aku membuat tato. Kalau sampai mereka tahu... entahlah, aku mungkin bisa dibakar hidup-hidup sama mereka!" candanya tapi dengan nada yang sangat serius.
Axel tersenyum melihat wajah cemas Aruna, lalu tangannya bergerak nakal mengusap perlahan dari pipi, turun ke rahang, hingga berhenti mencengkeram lembut dagu gadis itu, memaksanya menatap dirinya.
"Tenang saja... rahasiamu aman padaku. Aku bahkan bisa bungkam mulutku sendiri kalau perlu," kata Axel dengan nada menggoda yang terdengar sangat seksi.
"Caranya?" tanya Aruna memberanikan diri, meski suaranya sedikit bergetar.
Axel menghentikan mesim mobil tiba-tiba, memarkirkan mobil di pinggir jalan, yang sepi. Lalu, mendekatkan wajahnya, ke arah wajah cantik Aruna, hingga hidung mereka bersentuhan. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi tubuh Axel memenuhi indra penciuman Aruna, membuat kepalanya terasa ringan.
"Begini caranya..."
Axel mengecup bibir Aruna dengan rakus namun terkontrol. Ia mengeksplorasi setiap sudut mulut gadis itu dengan ahli, membuat Aruna limbung dan tangan kecilnya refleks mencengkeram kemeja pria itu kuat-kuat. Gaya ciuman Axel selalu berhasil membuat Aruna lupa segalanya, membuat dunia di luar sana seolah lenyap.
Ketika ciuman itu usai, Aruna terengah-engah, pipinya memerah sempurna. Axel menatap hasil karyanya itu dengan puas, matanya berkilat nakal.
"Want more? " godanya pelan. Suaranya berat dan mengoda, membuat hati Aruna bergetar.
"Itu sudah cukup. " Balas Aruna malu-malu. Jelas terkejut, dengan aksi tiba-tiba Axel barusan.
Axel mengangguk pelan, tapi ada satu hal lain yang lebih mengganggu pikirannya saat ini.
"Nama dokter hewan itu... Zayn ya?" tanya Axel tiba-tiba. Suaranya terdengar datar namun tajam. "Apa dia masih menghubungimu?"
"Ya..." jawab Aruna santai. "Beberapa hari yang lalu dia mengirimiku chat, cuma menanyakan kabar. Tapi aku abaikan, tak aku balas."
"Siapa nama lengkapnya Aruna?" tanya Axel lagi, kali ini nada suaranya terdengar lebih mendesak.
"Hah? Mana aku tahu..." Aruna mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku saja abai dan gak peduli sama dia. Ngapain sih kamu tanya-tanya soal dia segala? Aneh deh."
"Namanya... mengingatkanku pada seseorang," jawab Axel pelan, matanya tetap fokus menatap jalanan di depan. "Seorang bos mafia besar yang cukup terkenal di dunia bawah."
"Hm... mungkin itu orang yang berbeda," sahut Aruna santai, tidak terlalu memikirkannya. "Lagi pula Zayn kan jelas-jelas dokter hewan, bukan mafia. Kamu kebanyakan nonton film kali ya?"
"Ya... kuharap begitu," balas Axel singkat.
Namun, di balik wajah yang tampak tenang itu, tatapan mata Axel justru berubah menjadi sangat gelap dan dingin.
Pikiran dan ingatannya langsung melayang jauh. Nama 'Zayn' itu sangat ia hafal. Itu adalah nama musuh bebuyutannya, pemimpin organisasi kriminal yang selama ini ia buru. Dan sekarang, nama itu muncul kembali bersanding dengan nama wanita yang paling ia cintai. Sebuah firasat buruk mulai merayap perlahan di dalam dadanya
***