Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.
Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.
Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WARISAN AGUNG DARI MASA LALU
Tekanan spiritual yang meledak dari proyeksi jiwa pria tua itu terasa bagai runtuhan puncak Gunung Kuarsa yang menghantam langsung ke dalam gua. Gelombang energinya begitu padat dan berbobot. A-Lang, yang fondasi fisiknya baru saja pulih, langsung terduduk lemas di atas ranjang giok, napasnya tercekat oleh rasa ngeri yang luar biasa.
Zei merasakan lututnya bergetar hebat. Lantai batu di bawah kakinya mendadak retak akibat beratnya tekanan aura purba tersebut. Namun, alih-alih menyerah atau berlutut bersujud memohon ampun, sepasang mata emas-kecokelatan Zei justru menyala tajam. Ia menghentakkan kaki kanannya, memicu Qi tanah murni yang baru saja memadat di dalam dantiannya untuk mengunci posisinya. Zei berdiri tegak, menolak menundukkan kepalanya di hadapan sang ilusi.
Proyeksi jiwa pria tua itu menatap ketabahan Zei dengan sepasang mata ilusinya yang dalam. Perlahan, tekanan masif yang memenuhi gua mulai menyusut, mengalir kembali ke dalam bayangan asap putih. sebuah senyuman tipis, penuh ketertarikan, terukir di wajah keriput sang tetua kuno.
"Menarik. Seorang anak muda dengan meridian yang baru saja direnovasi oleh esensi kayu kehidupan, namun memiliki getaran Qi bumi sekeras baja murni," suara pria tua itu melunak, bergema dengan nada kepuasan. "Kau memiliki teknik bertarung bumi yang kasar namun efektif, dan yang terpenting... kau mengerti bahwa bumi adalah fondasi, bukan sekadar pelindung."
Zei menarik napas lega saat tekanan itu menghilang, meski tangannya tetap waspada. "Siapa Senior sebenarnya? Dan apa tempat ini?"
Pria tua itu mengelus janggut putih ilusinya, menatap kerangka yang bersandar di sudut gua dengan pandangan penuh kerinduan yang melankolis. "Namaku Xuan Yuan. Ratusan tahun lalu, aku adalah Tetua Agung dari Sekte Bumi Suci—sebuah sekte raksasa yang pernah menguasai Ibu Kota Wilayah ini. Namun, kejayaan kami runtuh dalam satu malam akibat pengkhianatan keji dari aliansi sekte elemen logam dan api yang serakah."
Xuan Yuan melangkah mendekat, tubuh ilusinya melayang tanpa suara di atas lantai gua. "Kerangka di sana adalah jasad fana milikku. Sisa kesadaran jiwa ini sengaja kukunci di dalam cincin spasial ini, menunggu selama berabad-abad untuk seorang kultivator berelemen bumi murni yang memiliki tekad sekeras batu gunung untuk mewarisi apa yang tersisa dari sekte kami. Dan hari ini, takdir membawamu kemari, Pemuda."
Dengan satu lambaian tangan dari Xuan Yuan, kilatan cahaya perak melesat menembus cincin perunggu kuno yang tersemat di jari kerangka tersebut. KLIK. Suara segel gaib yang pecah terdengar samar, diikuti oleh meluncurnya cincin perunggu itu ke udara dan mendarat tepat di telapak tangan Zei.
"Cincin penyimpanan itu kini milikmu. Di dalamnya terdapat sisa-sisa harta terakhir dari Sekte Bumi Suci yang berhasil kubawa lari," ucap Xuan Yuan dengan nada serius.
Zei memusatkan pikiran batinnya ke dalam cincin tersebut. Di dalam ruang hampa cincin spasial yang luas, ia menemukan tiga benda yang memancarkan aura luar biasa:
Kitab Sembilan Transformasi Gunung Purba: Sebuah gulungan giok kuno yang berisi teknik kultivasi dan manipulasi elemen bumi tingkat tinggi, jauh melampaui teknik dasar yang ia pelajari dari Tetua Gu.
Sarung Tangan Penghancur Gunung : Sepasang sarung tangan besi berat berwarna hitam legam yang dihiasi ukiran segel emas kuno. Senjata spiritual ini mampu melipatgandakan daya hancur fisik elemen bumi.
Batu Spiritual: Tumpukan ratusan batu kristal berkilau tingkat menengah yang sarat akan energi murni untuk mempercepat kultivasi.
Zei segera mengeluarkan Sarung Tangan Penghancur Gunung dari dalam cincin dan menyarungkannya ke kedua tangannya. Begitu terpasang, sarung tangan besi itu mendadak menyusut secara magis, melekat pas dan terasa seringan kulit kedua di tangannya, namun Zei bisa merasakan berat massa batinnya meningkat drastis jika ia mengalirkan Qi.
"Terima kasih atas warisan ini, Senior Xuan Yuan," ucap Zei bersungguh-sungguh, membungkuk hormat dengan tulus untuk pertama kalinya.
Xuan Yuan mengangguk perlahan, tubuh ilusinya mulai tampak memudar, bintik-bintik cahaya putih mulai terlepas dari pakaian megah kunonya—tanda bahwa energi jiwanya telah mencapai batas akhir setelah segel cincin dibuka.
"Waktuku sudah habis, anak muda," ucap Xuan Yuan, suaranya mulai terdengar menjauh seperti gema di dalam lorong. "Gulungan kulit binatang di samping jasadku adalah peta jalur bawah tanah kuno. Jalur itu akan membawamu dan sahabatmu menembus perut bumi langsung menuju pinggiran Ibu Kota Wilayah, menghindari seluruh manusia kejam di atas Hutan Kematian. Namun waspadalah, jalur itu dihuni oleh koloni monster bawah tanah."
Bayangan Xuan Yuan kini hampir transparan sepenuhnya. Sebelum benar-benar lenyap, sepasang matanya menatap Zei dengan binar harapan terakhir. "Jika suatu hari nanti kau menjadi cukup kuat dan berdiri di puncak Ibu Kota Wilayah... hancurkan Sekte Taring Emas yang telah memusnahkan sekteku. Jadilah tiang bumi yang menahan langit, Zei..."
WUSH~
Proyeksi jiwa Xuan Yuan hancur menjadi serpihan cahaya murni yang indah, lenyap tak berbekas ke dalam udara gua. Bersamaan dengan hilangnya sang tetua kuno, dinding batu padat di belakang ranjang giok tiba-tiba bergetar hebat, perlahan bergeser terbuka ke samping. sebuah jalur tangga batu gelap yang menurun jauh ke dalam kegelapan perut bumi kini terbentang di depan mereka.
Zei menatap sarung tangan hitamnya yang berkilat misterius, lalu menoleh ke arah A-Lang yang kini sudah berdiri tegak dengan tatapan penuh tekad baru. Panggung Kota Kecamatan telah mereka tinggalkan dengan darah dan air mata, dan kini, kegelapan bawah tanah akan menjadi jalan setapak yang menuntun mereka langsung menuju panggung utama yang jauh lebih kejam dan megah: Ibu Kota Wilayah.
Tanpa ragu, Zei melangkah memimpin masuk ke dalam jalur tangga kuno tersebut, siap menghadapi apa pun yang menghalanginya.