Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 018 : Manipulasi Ghaib
Tikkk
Tikkk
Suara keyboard yang berisik sebelum pagi menjelang. Membuat kelima temannya terbangun.
Ardin,Haikal, Desta, Rifki dan Farah membuka mata mereka secara bersamaan. Mereka terbangun dari tidur mereka, karena Aldi.
"Dia gak tidur apa gimana, mas?" tanya Farah menoleh ke samping kanannya, tepat ke arah Rifki.
Rifki sambil masih memperhatikan Aldi di sana pun hanya mampu mengangkat kedua bahunya. Sebagai isyarat bahwa dia pun juga tidak tahu.
"Kayaknya dia lagi sibuk cari sesuatu!" timpal Rifki menjawab pertanyaan Farah.
Farah menganggukkan kepalanya. Haikal yang melihat ketekunan Aldi itu pun memilih untuk berdiri. Dia mencoba menghampiri Aldi yang kini masih sibuk dengan laptopnya. Ketika dia mulai dekat dengan Aldi dan tangannya hampir menyentuh bahu Aldi. Aldi berkata,
"Sudah kutemukan!" ujar Aldi, sebelum Haikal menyentuhnya. Perkataannya itu sontak membuat seluruh temannya terkejut juga bertanya-tanya.
Sebelum Rifki hendak melempar pertanyaan. Di situ, fokus Aldi dari layar laptop kini berpindah kepada seluruh temannya.
"Aku gak tau siapa manusia ini! Tapi, dia yang datang dari cermin. Perempuan itu, sudah menanamkan ajian dasa aksara pada kita!" jelas Aldi.
Mendengar itu, beberapa temannya jelas saja heran. Kecuali, Ardin. Dia justru terdiam lalu menunduk. Dia mengigit bibir bawahnya. Ada satu kisah yang dia ingat perihal itu. Aldi memperhatikan temannya. Hingga tatapannya jatuh pada Ardin.
"Kamu tahu sesuatu, ya?" tanya Aldi pada Ardin. Farah yang duduk dekat dengan Ardin pun menoleh ke arah Ardin.
"Hei!" panggil Farah lembut kepadanya. Di situ Ardin pun menoleh ke arah Farah. Dia tersenyum tipis.
"Kamu, menyuruhku membawamu kemari, kan? Aku tidak terlalu ingat banyak. Tapi, Ajian itu pernah dikisahkan. Kata Kakekku, ajian itu adalah ajian terkuat yang melibatkan alam semesta dan penciptanya. Jika penggunanya berhati bersih. Maka semesta dan Tuhan akan mendukungnya!" jelas Ardin pada Farah.
Penjelasan itu mengingatkan Haikal kini pada huruf-huruf yang muncul di tubuh mereka setelah mereka pingsan. Huruf Jawa itu.
"Huruf Jawa!" kata Haikal, Ardin mendongak ke arah Haikal.
"Itu adalah mantranya, ada satu huruf yang belum kalian temukan! Entah di mana letaknya, tetapi huruf terakhir itu adalah kunci. Huruf itulah yang menjadikan mantra itu aktif. Tanpa huruf terakhir, juga penggunaanya. Maka, mantra itu tidak akan aktif!" jelas Ardin lagi pada mereka.
Rifki menoleh ke arah Ardin kini. Entah mengapa rasanya dia sedikit kesal sekarang pada Ardin.
"Kamu tahu banyak hal, kenapa gak bilang dari awal?!" tanya Rifki kesal pada Ardin.
Ardin menoleh ke arah Rifki.
"Kamu tahu, sebetulnya aku gak mau kembali ke sini! Karena desa ini punya banyak hal yang gak bisa dinalar lewat logika! Aku menjauh, karena aku gak mau kena juga! Tapi..." ucapan Ardin terpotong, tepat ketika dia melihat ke arah Farah.
Sungguh, sebetulnya alasan dia berani masuk lagi ke desa ini adalah karena permintaan Farah. Entah mengapa, sejak pertama kali bertemu dengan Farah. Hatinya merasa terpaut kepadanya.
"Aku hanya mau membantu, Farah! Dia juga, diamanahkan padaku sebelum pergi, oleh orang tuanya!" jelas Ardin.
Di situ, Rifki pun berdiri.
"Apa ada lagi yang kamu tahu selain itu? Katakan pada kami! Kami sudah di sini. Kami orang asing. Tapi kamu orang lama. Asalmu dari sini, kamu lebih banyak tahu tentang tempat ini. Tolong katakan, kami juga mau hidup tenang!" ujar Rifki sedikit meninggikan suaranya sekarang.
Di situ Farah merasa tak terima rasanya. Dia juga ikut berdiri sekarang diikuti dengan Ardin yang juga berdiri. Di sini Farah seakan menjadi tameng untuk Ardin. Farah dan Rifki mulai beradu tatap.
"Kenapa kamu bentak dia, Mas?!" tanya Farah pada Rifki. Dia mengikuti nada suara Rifki yang meninggi.
Hal itu membuat Desta membuang nafas kasar. Dia ikut berdiri sekarang. Menghampiri kedua temannya yang berselisih. Sementara Haikal dan Aldi.
Mereka hanya memperhatikan. Bagi mereka yang mengandalkan logika. Ini harus diselesaikan sebelum mereka melangkah masuk ke belantara seberang.
"Sudah!" ujar Desta merentangkan tangannya di antara Rifki dan Farah yang saling tersulut emosi sekarang.
"Aku gak terima, ya! Kamu berani bentak Ardin kayak gitu! Tolonglah, kita semua di sini juga sama-sama cari jawaban. Jangan ngajak main emosi mulu', Mas!" jelas Farah meluapkan rasa kesalnya.
Rifki melirik ke arah Ardin. Sebetulnya dia ingin menjawabi perkataan Farah. Tapi, ada sesuatu dalam hatinya yang menahan dia untuk melakukan itu.
Selain Farah adalah yang terkecil di sana. Farah juga adalah seorang perempuan. Bagi Rifki, kodrat perempuan adalah dijaga, bukan disakiti.
"Oke, aku diam! Tapi, suruh dia ngomong semuanya. Lagian ini juga sudah pagi, seharusnya kita berangkat, kan? Suruh dia ngomong, biar sebelum berangkat. Banyak bekal yang kita bawa tentang belantara itu dan desa di seberangnya!" jelas Rifki, dia mengangkat kedua tangannya lalu mundur.
Ardin memperhatikannya. Dia menarik pergelangan tangan Farah ke arahnya.
"Sudah, Farah!" ujar Ardin, Farah mundur mengikuti arah tarikan tangan Ardin. Namun, sorot matanya pada Rifki masih belum berpindah.
Sementara mereka bertiga sedang berselisih. Aldi mengecek jam tangannya. Di sana dia kembali dikejutkan oleh satu fakta. Aldi menoleh ke arah jendela. Bahkan dari kelambu itu, tidak tembus satu penerangan semesta.
Haikal yang berada di dekatnya pun menoleh juga ke arah kelambu. Dia memilih berjalan ke arah kelambu. Menyibak kelambu itu. Dan ya, langitnya di sana masih gelap!
"Kayaknya, kita gak berada di dunia manusia sekarang!" ujar Haikal sembari menatap ke arah langit.
Sorot matanya memperhatikan sekitar. Dia juga mencoba merasakan hawanya. Hawa di sana. Masih sama, seperti semalam. Keheningan, sunyi senyap masih meliputi area itu.
Dia lalu tersenyum. Haikal, membalikan badannya. Kini seluruh temannya termasuk Aldi memperhatikannya yang berdiri membelakangi kelambu.
"Kita, sudah disesatkan di sini!" ucap Haikal, diselingi gerak tangan kanannya yang membetulkan alat bantu dengar di telinganya.
"Maksudnya?" tanya Farah pada Haikal.
"Apa kalian pikir, jam enam pagi akan segelap ini? Cek jam tangan kalian! Lalu perhatikan langitnya, juga hawanya! Kita, sepertinya tidak berada di alam manusia!" jelas Haikal, ucapan dari Haikal itu segera membuat seluruh temannya secara serentak memperhatikan jam tangan mereka. Kecuali Aldi.
Dan benar saja! Setelah mereka melihat jarum jamnya. Seharusnya langit di sana sudah cerah. Tetapi ini tidak! Langitnya masih sama, sama gelapnya seperti semalam.
"Inilah, yang aku takutin!" ucap Ardin kini.
"Apa maksudnya?" tanya Rifki padanya.
"Mas, aku sudah lama gak pulang ke sini! Ditambah sejak semalam bahkan aku gak melihat orang lain selain kita di sini. Setelah cincin itu kalian pakai. Semuanya, kayak hilang! Bahkan angin pun gak kerasa! Suara binatang-binatang kecil di hutan pun gak kedengaran! Betul, apa kata Haikal! Kita semua sudah disesatkan!" ujar Ardin.
"Lalu kita harus apa, Kak?" tanya Farah, bulu kuduknya meremang sekarang.
Aldi yang sejak tadi duduk pun muak atas semua pertanyaan yang mereka lemparkan satu sama lain. Dia memilih berdiri dari duduknya. Menghampiri Haikal, lalu menghadap ke arah temannya yang lain.
"Kita selesaikan!" kata Aldi. Sejenak dia melipat kedua tangannya. Menatap ke arah mereka sambil tersenyum.
"Kita temukan penggunanya, kita temukan jawabannya. Secara logika, seharusnya hari ini sudah pagi! Perihal orang-orang di desa ini. Aku akan kesampingkan. Tetapi, kita gak boleh berhenti di sini! Mari kita percaya arloji kita dan kita mulai masuk ke belantara terlarang itu!" kata Aldi memberi instruksi.
Sebuah instruksi anti menyerah, khas Aldi memang. Perkataan yang saat itu juga langsung memicu semangat teman-temannya.
"Baiklah, mari kita pergi!" kata Rifki antusias menanggapi.
Sebab percuma jika mereka tetap diam di situ. Maka tidak akan pernah ada selesainya. Mereka memilih untuk meneruskan perjalanan meskipun semua hal di sini sudah sangat ganjal.
Ketika mereka selesai berkemas. Aldi dan Haikal berdiri lebih dulu. Mereka menghadap ke arah pintu rumah yang masih tertutup.
"Bismillah!" ucap mereka berdua sembari mengulurkan tangannya ke arah gagang pintu lalu membukanya secara bersamaan.
Dan apakah kalian tahu? Ada satu hal yang mereka lihat ketika pintu itu terbuka. Itu adalah seekor monyet putih. Yang duduk halaman teras sembari menatap mereka. Ekornya menari-nari bergerak ke sana kemari.
"Bukannya itu perewangannya, Sesepuh?" ujar Haikal teringat.
Aldi terdiam, Rifki, dan yang lain segera mendekat. Farah juga melihatnya. Begitupun dengan Ardin.
"Aku bakalan coba tanya!" ucap Aldi. Dia berjalan ke arah monyet putih itu. Aldi berjalan sambil merogoh sakunya.
Mengeluarkan dadu-dadu yang sisi-sisinya berisi huruf. Sebab dia tahu, bahwa hewan tidak bisa berbicara. Aldi juga tahu, jika monyet ini bukanlah monyet biasa.
Saat itu, ketika jarak antara mereka berjarak lima langkah saja. Aldi berjongkok. Pandangannya fokus tepat ke depan ke arah monyet putih itu. Dia mulai mengocok dadunya sambil berkata,
"Kalau kamu datang untuk menolong kami! Tolong berikan isyaratnya!" kata Aldi pada monyet putih itu.
Namun, monyet itu hanya memperhatikan Aldi. Tetapi tak lama monyet itu mengangguk seakan mengerti apa yang Aldi katakan. Senyum Aldi mengembang saat itu juga. Dia tidak takut. Dia memilih mengocok dadunya. Lalu melemparnya.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣