Perjalan hidup seorang Damar menggapai kesuksesan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Pelajaran Pertama
Sinar matahari pagi menyelinap hangat menerobos celah-celah dinding bambu. Suara gesekan daun pisang yang tertiup angin dari arah sawah mengiringi Damar yang sedang duduk bersila di atas tikar pandan. Di hadapannya, Kitab Tabib Langit tergelar rapi. Meski sebagian besar pengetahuan dasarnya sudah tertanam di ingatan akibat kontak darah kemarin, Damar tetap ingin menelaah setiap babnya dengan teliti agar tidak salah dalam melangkah.
Jemari kasarnya yang penuh kapalan meraba perlahan lembaran kertas kulit yang tebal itu. Lensa kacamatanya yang agak tebal memantulkan bayangan gambar alur-alur saraf dan titik penyembuhan.
"Jadi, alur energi penyembuhan itu tidak bisa dipaksa keluar... harus diselaraskan dulu dengan napas," gumam Damar pelan pada dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi di halaman pertama bab latihan. Damar menarik napas dalam-dalam melalui hidung, menahannya beberapa detik di dada, lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut. Ia mengulangi proses itu berulang kali. Awalnya tidak ada reaksi apa-apa, hanya suara embusan napasnya sendiri yang terdengar. Namun, pada hitungan kesepuluh, sebuah sensasi hangat yang samar mulai menjalar dari ulu hatinya, merayap lembut menuju kedua telapak tangannya.
Damar membuka matanya dengan terkejut. Ia mengangkat kedua tangannya, memandangi jemarinya yang terasa hangat dan agak bergetar halus.
"Astaga... beneran ada hawa hangatnya," bisik Damar dengan mata membelalak di balik kacamata tebalnya.
"Le, Damar! Kamu lagi ngapain di dalam?" suara Bu Rahmi memanggil dari arah dapur kecil, memutus konsentrasi Damar.
Damar dengan sigap merapatkan kembali kitab kuno itu, membetulkan letak kacamatanya, lalu beranjak berdiri. "Ini, Bu! Lagi merapikan buku-buku bekas!"
Ia melangkah menuju dapur. Di sana, ibunya sedang berusaha mengulek sedikit garam dan cabai di atas cobek batu. Muka Bu Rahmi masih agak mengernyit menahan pegal di persendian tangannya.
"Ibu jangan memaksakan diri dulu. Sini, biar Damar saja yang ulek," kata Damar mengambil alih alu dari tangan ibunya.
"Cuma ngulek garam sedikit kok, Mar. Tapi ini jempol sama pergelangan tangan Ibu kok rasanya kaku banget ya dari tadi pagi," ujar Bu Rahmi sambil memegangi pergelangan tangan kanannya yang tampak agak bengkak tipis.
Damar menatap pergelangan tangan ibunya. Ingatan dari Kitab Tabib Langit langsung berputar otomatis di kepalanya. Titik itu disebut titik Taiyuan—penghubung alur darah dan saraf tangan yang sering tersumbat jika terlalu banyak terkena air dingin atau angin malam.
"Coba Ibu duduk dulu di Lincak. Damar lihat pergelangan tangannya sebentar," pinta Damar lembut.
"Mau diapain, Mar? Jangan ditarik lho ya, takut makin kram," sahut Bu Rahmi cemas sambil duduk di bangku bambu.
"Tidak ditarik kok, Bu. Cuma mau dicoba diurut pelan-pelan," kata Damar menenangkan.
Damar berjongkok di samping ibunya. Ia memegang pergelangan tangan Bu Rahmi dengan tangan kirinya, sementara ibu jari tangan kanannya menempel tepat di lekukan pergelangan tangan bawah jempol. Damar mengatur napasnya seperti yang baru saja ia pelajari, menarik napas dalam, lalu mengalirkan hawa hangat dari ulu hatinya menuju ujung ibu jarinya.
Tek.
Damar menekan titik tersebut dengan tekanan yang pas, tidak terlalu keras namun mantap.
"Aduh! Sengkring-sengkring rasanya, Mar!" jerit Bu Rahmi kaget.
"Tahan sebentar ya, Bu. Jangan ditarik tangannya. Ini lagi melemaskan urat yang kram," tutur Damar fokus.
Damar memutar ibu jarinya perlahan, mengalirkan getaran hangat halus yang menyusup masuk ke dalam kulit ibunya. Hanya dalam hitungan detik, gumpalan urat yang tadinya terasa mengeras di bawah kulit Bu Rahmi perlahan melunak. Warna kemerahan segar mulai merayap di kulit pergelangan tangan yang tadinya pucat itu.
"Lho... lho?" Bu Rahmi membelalakkan matanya. Rasa sakit yang tajam mendadak surut, berganti dengan rasa hangat yang sangat nyaman menembus sampai ke tulang.
"Bagaimana rasanya, Bu?" tanya Damar sambil melepas tekanannya dan tersenyum.
Bu Rahmi memutar-mutar pergelangan tangannya ke kanan dan ke kiri dengan raut wajah tak percaya. "Lho, kok langsung enteng begini, Mar?! Tadi digerakkan sedikit saja rasanya ngilu banget, sekarang malah kagak sakit sama sekali!"
"Alhamdulillah kalau sudah enakan, Bu. Berarti uratnya cuma terjepit sedikit tadi," kata Damar merendah, menyembunyikan keajaiban energi penyembuhan yang baru saja ia praktikkan.
"Pintar banget kamu sekarang, Mar. Pijatanmu kok bisa langsung pas begitu di titik sakitnya?" puji Bu Rahmi heran sekaligus bersyukur.
"Kan kemarin Damar baca-baca buku dari peti tua itu, Bu. Ada gambar-gambar titik pijatnya," alibi Damar beralasan.
Setelah memastikan kondisi ibunya membaik, Damar berpamitan untuk keluar gubuk sebentar. Tujuan utamanya kali ini adalah mempraktikkan bagian racikan herbal dari kitab tersebut. Ia membawa sebuah keranjang bambu kecil dan sabit tua di tangannya.
Damar berjalan menyusuri pematang sawah dan semak-semak di pinggiran hutan kecil desa. Matanya yang terlindung kacamata tebal dengan jeli mengamati setiap jenis rumput dan tanaman liar yang tumbuh di pinggir jalan. Selama ini, tanaman-tanaman itu hanya dianggap semak pengganggu oleh warga desa, tetapi di mata Damar, dengan pengetahuan barunya, setiap daun menyimpan khasiat yang luar biasa.
"Nah, ini dia..." gumam Damar begitu menemukan segerombolan tanaman berdaun hijau kecil dengan bunga putih mungil di tepi parit.
"Daun patikan kerbau... di kitab bilang ini bagus banget buat membersihkan racun di paru-paru," bisik Damar gembira. Ia berjongkok dan memetik beberapa helai daun beserta akarnya dengan hati-hati.
Ia melangkah lagi beberapa meter hingga sampai di dekat rumpun bambu yang lembap. Di sana ia menemukan tanaman meniran dan rumput mutiara.
"Kalau tiga tanaman ini dicampur dengan takaran yang pas, direbus pakai air mendidih, lalu diminumkan ke Ibu... batuk menahunnya pasti bisa sembuh total," analisis Damar dalam hati. Seluruh komposisi, dosis, hingga durasi merebusnya sudah terpatri sangat jelas di dalam ingatannya.
Saat sedang asyik memetik akar-akaran herbal di pinggir jalanan tanah, suara langkah kaki dan tawa renyah mengejutkannya. Dari arah tikungan jalan, Jaka dan temannya yang berambut gondrong muncul sambil membawa joran pancing.
"Woi! Kuli rumput!" teriak Jaka kencang sambil tertawa mengejek.
Damar menghentikan tangannya, berdiri perlahan sambil membetulkan letak kacamatanya. "Eh, Bang Jaka."
"Ngapain lu keluyuran di semak-semak sambil metikin rumput gajah begitu, Mar?" tanya teman Jaka yang gondrong sambil menunjuk keranjang bambu Damar. "Mau lu makan sendiri apa buat pakan kambing?"
Jaka terkekeh geleng-geleng kepala. "Halah, palingan mau dijual lagi atau buat pakan kelinci. Lu tuh kagak ada kapok-kapoknya ya, Mar. Kemarin habis bayar utang berlutut-lutut sama Pak Broto, sekarang malah ngumpulin rumput liar lagi. Kagak ada gawean yang lebih kerenan dikit apa?"
Damar menyunggingkan senyum tipis yang sangat tenang. Ia tidak lagi merasa sakit hati atau emosi seperti hari-hari sebelumnya. Pengetahuan ajaib yang kini dimilikinya membuat hinaan Jaka terasa begitu kerdil dan tak berarti.
"Cuma buat jamu sendiri di rumah kok, Bang Jaka. Mari, saya duluan ya," jawab Damar santai tanpa melayani ejekan mereka lebih jauh.
Damar melangkah pergi meninggalkan Jaka dan temannya yang saling pandang dengan canggung.
"Lah, si kucel kok sekarang santai amat ya kalau diejek?" gumam Jaka heran memandangi punggung Damar yang menjauh. "Kagak kelihatan melas lagi kayak biasanya."
Sesampainya di gubuk, Damar langsung menuju dapur. Ia mencuci bersih daun patikan kerbau, meniran, dan rumput mutiara yang baru dipetiknya hingga bebas dari tanah.
Ia mengambil kuali tanah liat kecil, sesuai petunjuk kitab yang melarang penggunaan wadah besi agar khasiat herbal tidak rusak, lalu memasukkan tanaman-tanaman tersebut bersama tiga gelas air bersih. Damar menyalakan api dari kayu bakar kering di tungku.
Sambil menunggu air mendidih, Damar berjongkok di depan tungku, memejamkan mata, dan kembali melatih alur napasnya. Sensasi hangat dari ulu hatinya kini terasa mengalir lebih lancar dan cepat menuju ke seluruh pergelangan tangan dan jarinya.
"Pelajaran pertamanya ternyata tentang keseimbangan," bisik Damar dalam hati. "Saraf, ramuan herbal, dan energi... ketiganya harus menyatu."
Aroma harum khas dedaunan herbal mulai menyebarluas di dapur kecil itu ketika air kuali mendidih dan menyusut hingga menyisakan satu gelas cairan berwarna cokelat keemasan. Damar menyaring ramuan itu ke dalam mangkuk seng, lalu membawanya ke kamar ibunya.
"Ini, Bu. Minum ramuan hangat ini selagi panas," kata Damar menyodorkan mangkuk.
Bu Rahmi mengendus aromanya. "Aromanya harum ya, Mar. Kagak bau jamu pahit biasa."
"Iya, Bu. Ini racikan khusus buat pemulihan paru-paru. Diminum habis ya, Bu," tutur Damar tersenyum.
Bu Rahmi meminumnya perlahan hingga tak tersisa. Hanya dalam hitungan menit, rasa hangat yang nyaman menjalar di dada Bu Rahmi, membuat napasnya terasa sangat lega dan tenggorokannya bersih dari rasa gatal.
Damar menatap ibunya yang mulai tampak segar dengan perasaan puas. Pelajaran pertamanya dalam menelaah, mempraktikkan titik saraf, meracik herbal, dan mengalirkan energi penyembuhan telah berhasil dengan sempurna. Langkah awalnya sebagai penerus ilmu tabib legendaris telah dimulai di dalam gubuk sederhana ini.
SKIP and OUT
PENTOL KOREK...!!!
sayangnya terlalu byk main spasi.
percakapan yg hny satu dua kata terasa kaku, terkesan seperti robot.
disinilah letak sesuatu yg harus outhor perbaiki, agar kedepan karya2 outhor lebih terasa hidup, & nyaman dinikmati reader, sehingga menjadikan outhor sbg writer yg paling dicari karyanya.
tetap semangat, pantang menyerah karna komentar yg mengkritik bahkan menyinggung. anggap itu semua sbg pemicu semangat & tangga pencapai suksesmu..💪👍🙏
contoh pembicaraan antara mc & perempuan yg bertemu dgnnya, dan mc dgn nita. tau2 nita nongol tanpa ada info drmn dia tau/ mengenal mc.
dr situ ceritamu akan terasa lbh padat dan berisi, tdk terkesan "hny menjual spasi"💪
kyk makan arum manis..
jd terasa kosong ceritanya