NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Orkestra Darah di Lorong Bawah Tanah

(Ini adalah ilustrasi visual detail dari karakter heroine Lyra)

Fanart By : Xian Nying

BOOM!

Suara ledakan sihir terdengar samar dari arah alun-alun kota, disusul suara lonceng besar Aethelgard yang berdentang berkali-kali dengan nada cepat. Tanda bahaya level tinggi. Sirine sihir berdengung panjang, bikin telinga gatal banget. Orang-orang di jalanan yang tadinya jalan gaya sombong pakai baju bagus, mendadak lari tunggang-langgang kayak ayam kehilangan kepala. Babi-babi pengecut. Giliran ada duit dipamerin, begitu denger lonceng bahaya langsung kencing di celana. Semua kemegahan kota ini langsung ilang, ganti jadi muka-muka pucat ketakutan yang gak ada harganya.

"Misi Darurat! Sektor Selatan! Sarang bawah tanah jebol, kawanan monster merayap naik melalui saluran pembuangan utama!" Teriakan staf Guild terdengar histeris di antara kerumunan. "Semua petualang yang bisa memegang senjata, maju ke gerbang bawah tanah! Pangkat tidak dibatasi!"

Gw yang baru keluar dari toko baju cuma berdiri diam, ngeliat kekacauan itu dengan senyum tipis. Senyum iblis. Sialan, ini namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Apocalypse Hunger System di kepala gw langsung berisik, ngasih sinyal lapar yang bikin jantung gw berdegup kencang, kayak mau copot dari dada.

Di bawah tanah sana... ada meja prasmanan raksasa yang nunggu buat gw panen. Rasa lapar tiga minggu yang hampir bikin gw mati di dunia lama seolah manggil-manggil lagi, tapi kali ini bukan buat disiksa, melainkan buat dibuntel amarah.

Gw lirik dua alat gw. Lyra berdiri agak pincang, perban di balik baju terang nuansa support barunya mulai sedikit merembes karena luka bernanahnya belum sembuh total. Tapi matanya tajam, dia tahu apa yang harus dia lakuin tanpa perlu gw perintah. Di sebelahnya, Carmelia mempererat genggaman pada dua belati biru barunya. Saraf-sarafnya tegang, siap menerkam. Anak kecil itu gak ada takutnya lagi, matanya cuma fokus ke gw, nunggu aba-aba.

"Sampah di atas sini biarin lari," kata gw, nada suara gw dingin dan berat. "Kita turun ke bawah. Saatnya ngetes apa barang-barang baru kita ini cuma hiasan atau bisa dipake buat nyabut nyawa."

"Baik, Tuan," bisik Lyra patuh.

Kita bertiga menerobos kerumunan orang penakut dan langsung melompat turun ke dalam gerbang besi saluran pembuangan yang jebol.

TAP!

Begitu mendarat, suasananya langsung berubah total. Gelap, remang-remang, baunya busuk luar biasa—perpaduan air kotor, lumut, dan darah segar dari petualang amatir yang mati konyol duluan di bawah sini. Langkah kaki Lyra kedengaran agak berat. Gw tahu fisiknya belum pulih sepenuhnya, napasnya agak tertahan nahan sakit dari cidera di tangan,telinga yang di carik dulu dan siksaan party lamanya yang belum sembuh beneran.

Monolog gw: "Sialan, barang rusak emang bikin lambat. Kalau dia mati di sini karena gak guna, bakal gw tinggal jasadnya buat dimakan tikus."

Tapi di dalam hati kecil gw yang paling dalam, yang masih ketutup es batu, gw tahu gw gak bakal ngebiarin itu terjadi. Gw benci ngakuinnya, tapi mereka berdua ini udah masuk daftar barang berharga gw. Yang kuat gw jaga, yang lemah gw buang—dan gw bakal mastiin mereka tetep kuat.

Tapi Lyra pintar. Dia tahu posisinya terancam kalau jadi beban. Dia langsung mengambil posisi di tengah, bersandar pada dinding batu yang dingin, lalu memejamkan matanya rapat-rapat. Dia mematikan indra penglihatannya dan memaksimalkan pendengarannya sampai ke level ekstrem. Di dalam kegelapan itu, dia bukan lagi cuma mendengar, tapi membaca gelombang udara.

Dan di saat ketakutan serta keterdesakan itu memuncak, mana di dalam tubuh Lyra mendadak merespons dengan cara yang aneh.

Lyra membuka mulutnya. Dia tidak berteriak, dia mulai bernyanyi. Sebuah senandung pelan tanpa kata, tapi nadanya bergetar hebat, merambat lewat udara seperti gelombang kejut tak kasat mata.

WUSH!

Seketika, udara busuk di sekitar gw dan Carmelia mendadak terasa seringan kapas. Beban zirah kulit naga hitam gw seolah hilang. Otot-otot gw mendadak diledakkan oleh energi tambahan, dan persepsi waktu gw melambat. Di depan sana, belasan Plague Rats raksasa seukuran serigala melesat keluar dari kegelapan. Tapi berkat frekuensi suara Lyra, gerakan mereka kelihatan lambat kayak siput! Bukan cuma itu, frekuensi tinggi itu bikin telinga monster-monster itu berdarah, menghancurkan keseimbangan tubuh mereka sampai mereka linglung dan menabrak dinding sendiri.

"GELOO!!! BISA GITU JUGA ANJIRRR..TERUSINNN COO GW EKSEKUSI!!!" seru gw sambil melesat maju.

Pedang panjang besi padat gw yang baru langsung gw ayunkan sekuat tenaga. CRACK! Tiga kepala tikus raksasa langsung putus dalam sekali tebas. Rasanya enteng banget! Setiap kali monster mati, gw langsung aktifin Plunder—menyerap inti energi mereka di tempat sampai tubuh mereka menyusut jadi debu.

[Gluttony's Sight Aktif: Mengunci Inti Energi.]

[Plunder Berhasil: +5 Status Kekuatan Fisik, +3 Kelincahan secara Permanen.]

Di sudut lorong bawah tanah yang paling gelap, sesosok mata-mata kerajaan dengan zirah pengintai khusus terpaku di balik bayangan. Napasnya tertahan di tenggorokan. Dia dikirim untuk mengawasi situasi runtuhnya sektor selatan, tapi apa yang dia saksikan justru sebuah kegilaan yang bikin bulu kuduknya merinding.

Di tengah genangan air busuk, gadis demi-human berambut perak itu terus bersenandung. Di mata sang pengintai yang memiliki kemampuan deteksi mana, energi yang keluar dari mulut gadis itu membentuk distorsi udara yang aneh. Gelombang frekuensi itu terisolasi—tidak bisa dibaca oleh indra magis monster ataupun manusia biasa. Itu adalah lantunan yang mustahil dibaca musuh, sebuah kode frekuensi rahasia yang hanya bergaung di jiwa kelompok mereka sendiri.

Dan dampak frekuensi itu pada bocah kecil berambut biru di sana... benar-benar mengerikan.

Bocah itu, Carmelia, mendadak berhenti berkedip. Di bawah pengaruh lantunan suara yang menggetarkan udara, dunia di mata Carmelia mengalami metamorfosis total. Semua warna memudar menjadi abu-abu, kecuali beberapa garis benang tipis berwarna merah darah yang mendadak muncul dan menempel di tubuh monster-monster yang mendekat.

Benang-benang merah itu bergoyang halus mengikuti ritme senandung Lyra. Ada yang menempel di sela-sela batok kepala, ada yang melintang di bawah ketiak, ada yang menusuk tepat di ulu hati monster.

Itu adalah Garis Fatal—titik di mana takdir kematian sebuah makhluk dikunci.

Wush.

Gerakan Carmelia tidak lagi seperti manusia. Dibantu oleh manipulasi tekanan udara dari mana sang penyanyi, bocah itu melesat lurus, meluncur tanpa suara di atas lantai yang basah. Dia tidak perlu berpikir ke mana harus mengayunkan senjata. Dia hanya menuntun mata belati untuk menyusuri garis benang tersebut.

Jleb! Crack!

Setiap kali belatinya menyentuh benang merah itu, monster raksasa di depannya langsung runtuh seperti boneka tali yang dipotong. Tidak ada perlawanan, tidak ada raungan panjang. Hanya ada suara daging yang terkoyak rapi dengan akurasi seratus persen, sebuah hantaman kritikal yang mematikan. Tiga ekor tikus raksasa yang mencoba menerkam Lyra habis dibantai dalam tiga detik tanpa sisa.

Sang pengintai di balik dinding gemetar sampai giginya bergemeletuk. Mereka bukan sekadar petualang pangkat rendah yang nekat. Mereka adalah sekelompok predator berwujud manusia yang sedang berpesta dengan lahapnya.

[Pemberitahuan Sistem: Anggota Tim (Carmelia) telah membangkitkan Skill Khusus Pasif: "Threads of Fatal Destiny" (Garis Kematian).]

[Efek Plunder Berbagi Aktif: Sebagian sisa energi kematian diserap, Status Kelincahan Yudha +2 secara pasif.]

Gw ngeliat lusinan bangkai monster yang tumbang di sekitar Carmelia dengan luka robek yang presisi banget. Gak ada gerakan yang sia-sia, semua pas di titik paling mematikan. Carmelia mendarat dengan posisi berlutut, napasnya memburu, matanya yang sewarna langit malam itu bersinar kemerahan di dalam kegelapan. Dia kelihatan lapar akan pembantaian berikutnya, gak ada lagi sisa anak kecil lemah...inilah dia... Carmelia...

Gw mendengus puas, lalu berjalan ngelewatin bocah itu sambil menghisap sisa-sisa inti energi monster di lantai hingga jadi abu. Rasa lapar di perut gw sedikit berkurang, kegilaan sistem di kepala gw juga agak tenang, bikin gw bisa mikir jernih lagi.

"Not Bad...Ini yang gw harap dari lu," kata gw dingin sambil melirik Lyra yang terduduk lemas dengan sudut bibir sedikit berdarah karena memaksakan mana. "Gak buruk buat barang yang hampir rusak. Suara lu bikin alat gw yang satu ini jadi makin tajam."

Meskipun omongan gw kasar, tangan gw bergerak reflex ngambil ramuan pemulih dari kantong zirah baru gw, lalu gw lempar ke pangkuannya.

Gw gak mau instrumen berharga gw mati konyol cuma karena kehabisan mana di tempat busuk kayak gini.

Lyra tersenyum tipis, napasnya tersengal tapi tatapannya penuh kepatuhan. "Baik... Tuan. Terima kasih atas kemurahan hati Anda... Saya akan... terus menjadi instrumen terbaik Anda."

"Aku janji, Kak! Aku bakal potong siapa aja yang berani deketin Kak Lyra!" seru Carmelia, nadanya mulai kedengaran dingin, bener-bener meniru gaya gw. Anak ini cepet banget gedenya kalau urusan bunuh-membunuh.

"Bagus. Tahan posisi klean," kata gw sambil membalikkan badan.

Lewat Gluttony's Sight, gw melihat ada sisa-sisa energi sihir hitam buatan manusia di gerbang besi yang jebol.

Sialan, tebakan gw bener. Tempat ini gak jebol sendiri. Seseorang sengaja ngerusak tempat ini buat ngelepas monster-monster ini ke kota...dasar keparat biadab gada akhlak...

.

Ada konspirasi busuk di balik dinding megah Aethelgard. Dan bukan cuma itu... mata gw menangkap ada detak jantung manusia lain yang ketakutan setengah mati di balik dinding batu di kejauhan. Ada lalat kecil yang lagi ngintip kita dari tadi, gemeteran kayak tikus kejepit.

Gw memegang erat hulu pedang besi padat gw, mata gw berkilat kejam di tengah kegelapan lorong bawah tanah yang makin pekat.

"Cyailah Tikus Tikus bedebah ini Ternyata Utusan Raja Tikus (kode buat Carmelia dan Lyra)

 

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!