NovelToon NovelToon
The Sweetest Mistake

The Sweetest Mistake

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Office Romance / CEO / Tamat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Polaroid Usang

Bagi Heskala Regantara, kehidupannya di tahun 2036 hanya soal kerja, tanggung jawab, dan sepi. Ia sudah terlalu lama berhenti mencari kebahagiaan.

Sampai seorang karyawan baru datang ke perusahaannya — Aysha Putri, perempuan dengan senyum yang begitu tipis dan mata yang anehnya terasa akrab.

Ia tak tahu bahwa gadis itu pernah menjadi bagian kecil dari masa lalunya… dan bagian besar dari hidupnya yang hilang.

Lalu, saat kebenaran mulai terungkap, Heskal menyadari ...

... kadang cinta paling manis lahir dari kesalahan yang paling tak termaafkan.

•••

"The Sweetest Mistake"

by Polaroid Usang

Spin Of "Gairah My Step Brother"

•••

Bisa dibaca terpisah.

•••

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Polaroid Usang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

•••

Setibanya di daycare, suara tawa anak-anak menyambut. Shala yang pertama kali melihat, langsung berlari kecil sambil melambai.

"Mimiaaa!" serunya, disusul Noa yang membawa ransel di punggung.

Heskal memperhatikan dari dekat. Gerak-gerik mereka, cara mereka bicara, bahkan ekspresi matanya. Semuanya terasa... familiar.

Heskal mengalihkan pandangan pada sekitar tempat penitipan anak itu. Cukup mewah, bahkan biayanya bisa Heskal perkirakan dua kali lipat lebih banyak dari mempekerjakan seorang pengasuh.

Shala tiba-tiba menatap Heskal dengan mata bulatnya, "Om Heskal!"

"Eh?" Aysha langsung menoleh cepat, tapi Shala sudah tertawa, “Om yang waktu itu di cafe, kan?”

Heskal mengangguk, tersenyum. "Iya. Kalian masih ingat?"

Noa menatap dengan wajah serius. "Kenapa Om kesini sama Mimia?"

Sebelum suasana jadi canggung, Aysha cepat menengahi, "Om Heskal minta bantuan Mama, Noa. Nanti kita antar Om Heskal dulu karena mobilnya rusak."

Heskal menatap dua anak itu lagi, lalu bertanya pelan, "Kenapa kalian nggak pakai pengasuh aja di rumah?"

Shala menjawab tanpa pikir panjang, "Mimia nggak mau punya pengasuh. Mimia takut."

Aysha tertegun.

Dan Heskal… matanya perlahan melembut. Ada sesuatu yang terasa janggal di dadanya.

Heskal menatap Aysha lama. "Kamu... takut?" suaranya nyaris berbisik.

Aysha cepat menggeleng, menutupi kegugupannya. "Anak-anak lebih suka disini, Pak. Karena banyak teman."

"Mimia, kita jadi pelgi belanja?" Noa sengaja memotong pembicaraan orang dewasa itu, sengaja menarik Mimia-nya menjauh sedikit dari Heskal, sementara Shala sibuk menatap Heskal dengan mata penasaran.

Aysha tersenyum kecil. "Iya, kamu pasti ada yang mau dibeli, kan?"

Noa mengangguk, "Noa mau beli buku, kalau boleh." Ucap Noa pelan, menggenggam tangan Mimia-nya dengan tangan kecilnya itu.

"Kalau begitu, saya boleh ikut?" ucap Heskal tiba-tiba.

Aysha menoleh cepat, "Bukannya Bapak ..."

"Saya tidak jadi kesana, tiba-tiba makan malamnya dibatalkan." Jelas Heskal lancar, kebohongan-kebohongan lain telah ia rangkai sejak di mobil tadi —untuk mengantisipasi hal seperti ini.

"Sekalian, saya juga butuh beli beberapa barang," tambah Heskal pelan, nadanya tenang tapi tak memberi ruang untuk penolakan. "Lagipula, saya belum makan. Mungkin bisa sekalian cari makan ringan."

Noa menatap Mimia-nya, lalu berbisik keras-keras, "Mimia, Om-nya lapal. Kasian, ya?"

Heskal menyentuh tengkuknya. Noa itu ... menggemaskan dan menyebalkannya sama seperti ... Zeline.

Shala langsung tertawa, "Kasian, Mimia. Yuk, ajak aja!"

Aysha hanya bisa menarik napas pelan. Dia menatap Heskal tidak enak karena kata-kata Noa, "Baik, Pak. Maafin kata-kata Noa."

Heskal tersenyum, "Nggak masalah. Saya ... juga pernah punya seorang adik yang mirip dengannya.

Adik.

Aysha tersenyum tipis, menahan rasa sesak yang tiba-tiba datang.

•••

Supermarket tak terlalu ramai malam itu. Lampu-lampunya hangat, musik pelan mengalun, dan dua bocah kembar sibuk berlari kecil mendorong troli.

Heskal memperhatikan mereka dengan senyum samar. "Mereka kompak banget, ya."

Aysha hanya tertawa kecil, "Kompak kalau lagi senang aja, Pak. Kalau udah rebutan es krim, bisa perang dunia."

"Shala suka es klim cokelat!" Seru bocah perempuan itu bangga.

"Kalau Noa?" Tanya Heskal menatap Noa yang meliriknya gengsi.

"Noa suka yang vanilla." Jawab Noa pelan.

Heskal menunduk, mengambil beberapa cup es krim dan meletakkannya di troli. "Kalau gitu, Om traktir."

Mata keduanya langsung berbinar.

"Yayyy!" Shala berseru senang, sementara Noa berucap pelan dengan masih menjaga rasa gengsinya, "Telimakasih, Om."

Heskal mengacak rambut Noa gemas.

Dan di detik itu, suasana berubah—hangat, sederhana, tapi anehnya… terasa seperti potongan kecil dari kehidupan yang pernah hilang.

Di lorong makanan ringan, Shala menarik tangan Heskal dan menggandengnya tanpa ragu.

"Om, sini. Yang ini enak loh, Mimia suka juga."

Aysha hendak menegur, tapi melihat ekspresi Heskal yang mendadak lembut, ia justru terdiam. Senyum itu—sama seperti dulu. Senyum yang pernah membuatnya bisa terus bertahan, hanya untuk bisa melihat kembali senyum itu.

•••

•oO Tahun 2025 Oo•

Pov Zeline Aysha Putri — sebelum di danau.

Udara sore itu hangat, langitnya oranye lembut seperti gula kapas. Zeline duduk dihalte yang cukup jauh dari sekolah, sengaja karena tak ingin pulang, biarkan saja supirnya pusing mencarinya.

Dia menatap anak-anak jalanan yang tertawa di seberang, di taman kecil.

Tubuh Zeline masih nyeri. Lengan penuh memar, tapi wajahnya tetap menahan senyum—senyum yang ia pelajari untuk bertahan hidup.

Lalu dari kejauhan, suara riuh terdengar.

Seorang pemuda tinggi datang sambil membawa dua kantong berisi kotak nasi, bajunya sedikit kusut, senyumnya lebar.

“Oiii, bocil-bocil! Udah makan belum?” Teriaknya riang.

Anak-anak di sekitarnya langsung bersorak, menyambut Heskala Regantara—pemuda 22 tahun yang seharusnya sibuk dengan skripsi, tapi malah betah nongkrong di pinggir jalan memberi makan anak-anak kecil.

Zeline hanya menatapnya diam-diam dari jauh. Hingga perlahan, dia bangkit dari duduknya, melangkah mendekat kesana. Berdiri dibalik pagar tanaman.

"Tapi kok mukanya murung banget? Dunia nggak seburuk itu, loh."

Suara pemuda itu terdengar, Zeline mengintip, melihat Heskal yang sedang berbincang dengan anak perempuan yang sedang menangis.

"Kalau sedih, nggak papa bilang sedih. Tapi jangan berhenti senyum, dong? Karena senyum itu, kayak lampu. Kalau cahaya lo mati, gelap semua dunia."

Zeline menunduk, menggigit bibirnya yang pecah.

Zeline kembali menatapnya sisi wajah Heskal lama. Menatap senyuman tulus itu — meski bukan untuknya.

Dan untuk pertama kalinya juga, Zeline ingin hidup lebih lama. Hanya supaya bisa lihat senyum itu lagi.

•••

Tahun 2036

Kembali ke masa sekarang.

Setelah belanja, mereka keluar menuju parkiran. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma hujan dari kejauhan.

Noa dan Shala sudah tertidur di kursi belakang. Aysha sedang menata kantong belanja di bagasi saat Heskal berdiri di sampingnya, memandangi dua bocah itu dari kaca jendela mobil.

"Mereka benar-benar mirip kamu," katanya pelan.

Aysha menegakkan tubuhnya, menatap Heskal dengan hati yang berdebar hebat. "Iya, Pak..."

Mereka terdiam cukup lama, hingga Aysha kembali bersuara, "Bapak pulangnya bagaimana? Ternyata sudah terlalu malam, jadi saya tidak bisa ..."

"Ahh.." Heskal mengangguk paham, "Saya bisa panggil mobil saya nanti, seharusnya sudah selesai diperbaiki."

Aysha mengangguk singkat. Hening kembali datang. Lalu saat Aysha hendak masuk mobil, Heskal sempat menahan pintu, menatap matanya dengan harapan yang semakin besar tergambar disana.

"Aysha,"

Aysha menoleh pelan.

"Kalau saya bilang… saya pernah kenal seseorang yang mirip kamu—bahkan punya senyum yang sama—kamu bakal percaya?"

Aysha menatapnya lama, tak sanggup menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, tapi matanya berair.

"Tidak ada alasan yang membuat saya tidak mempercayai, Bapak." Balas Aysha, bibirnya kembali terbuka, menambahkan untuk terakhir kali, "Tapi yang jelas ... Dia bukan saya, Pak. Kalau misal Pak Heskal masih berpikir seperti itu."

Mobil itu melaju pergi.

Dan Heskal berdiri di sana, menatap lampu belakang mobil yang perlahan menghilang di tikungan, sementara pikirannya berputar di satu nama yang terus memanggil dari masa lalu.

"Zeline..."

•••

1
styandrie
wahhh aku juga rela berpisah sama heskala zeline😭😭😭😭
styandrie: eeh iya😭😭
total 2 replies
styandrie
lucu banget fotonyaaa bajunya couplee ihhh😭😭😭🫶🏻
styandrie
image cool nya langsung ilang ya kal😭🤏🏻
styandrie
ini sepertinya heskal yang menghasut shala buat teriak panggil mimi nya nih😭😭🫵🏻
styandrie
episode ini yang aku tunggu tungguuu🫶🏻🫶🏻
styandrie
aaaaa terharu bangett😭😭😭😭
styandrie
lucu bgt Noaaa😭😭😭
ms. S
up lagi Thor
ms. S
pinter noa melindungi mimia bgt.. walau masih kecil tapi tegas👍👍👍
ms. S
up up lagi kak
styandrie
lanjut thorrrrrrr
@RearthaZ
kak aku sudah baca, semua chapternya seru banget...

oh iya boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe)
boleh cek profil ku ya kak... nama judul ceritanya Pernikahan yang tak terduga
Bu Yudi Wahono
lanjut
styandrie
LANJUT KAAA AUTHORR
PLISSSSSSSS
styandrie
aaaa nangisss.......
😭😭😭😭😭
styandrie
ahhh noaaaa
styandrie
KAK AUTHOR KAMU KEREN BGTTT SEMANGAT TERUS YAA
styandrie
ga bisaaa nahannnn senyuuummmmm😭😭😭🤸🏻🤸🏻🤸🏻🤸🏻🤸🏻
styandrie
SOK SOK NANYA DIH HESKALL
styandrie
ZELL SERIUSS?????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!