NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU GANG MULAI BERGOSIP

Tia memotret surat ancaman itu sebelum Liza sempat memasukkannya ke plastik.

Menurut Tia, foto diperlukan sebagai dokumentasi. Menurut kenyataan, dua puluh menit kemudian foto itu sudah sampai di grup keluarga, grup warga, grup mahasiswa Tia, dan entah bagaimana grup arisan yang anggotanya tinggal di tiga kecamatan berbeda.

Pagi berikutnya, warung Mak Sendok lebih ramai daripada saat ada final sepak bola.

“Ini jelas ancaman,” kata seorang bapak sambil memperbesar foto di ponsel.

“Bisa saja dibuat sendiri,” jawab orang lain. “Biar bengkel ramai.”

Aku yang duduk tiga meja dari mereka hampir berdiri, tetapi Liza menekan ujung sepatunya ke sandalku.

“Duduk,” katanya.

“Aku cuma mau menjelaskan.”

“Wajahmu mau memukul, bukan menjelaskan.”

Fadli mengaduk kopi terlalu lama. “Kalau suratnya buatan kita, tulisan siapa? Tulisanku lebih jelek, tulisan Binsar lebih panjang.”

Binsar mengangkat tangan. “Aku tidak pernah mengancam dengan satu kalimat. Tidak lengkap.”

“Terima kasih sudah memperkuat alibi,” kata Liza.

Mak Sendok berjalan di antara meja membawa teko. “Kelen boleh debat. Yang belum bayar kopi jangan pakai suara keras.”

Seorang ibu menunjukku. “Bang Jepot memang suka cari masalah. Dulu pesta orang gelap, sekarang satu gang heboh.”

Ibu lain membela, “Tapi lampu kita hidup karena dia.”

“Lampu hidup, tagihan siapa yang bayar?”

“Ya kita.”

“Nah, jangan-jangan listriknya pun diambil dari kita.”

Percakapan pecah menjadi enam arah. Ada yang menyebut Kepling pahlawan pembangunan. Ada yang mengatakan semua proyek lingkungan pasti punya permainan. Ada yang yakin Rinso mengirim ancaman karena persaingan bengkel. Ada pula yang menyalahkan Tia karena mengunggah semuanya.

Tia duduk dekat kasir, wajahnya tidak lagi bangga. “Aku cuma kirim ke grup keluarga.”

Mak Mina menatapnya. “Keluarga kita ada tiga ratus orang?”

“Grup itu tersebar.”

“Bukan tersebar. Kau sebarkan.”

Tia menurunkan ponsel. “Kalau disimpan, nanti bukti hilang.”

Liza memasukkan surat asli ke dalam map bening. “Menyimpan bukti dan menyebarkan bukti itu dua hal.”

Aku menatap tulisan hitam di dalam plastik. Ancaman itu pendek, tetapi berhasil membuat semua orang bicara lebih panjang daripada Binsar.

Kepling muncul menjelang siang. Ia tidak masuk warung. Ia berdiri di jalan dan meminta warga tenang.

“Jangan mudah terprovokasi,” katanya. “Surat tanpa nama tidak bisa dijadikan dasar tuduhan.”

Aku keluar menghampirinya. “Siapa yang menuduh?”

“Tidak ada. Justru saya minta jangan menuduh.”

“Kau cepat kali datang untuk orang yang tidak dituduh.”

Warga mulai mendekat. Kepling tersenyum seperti biasa.

“Saya kepala lingkungan. Kalau warga resah, saya datang.”

“Kalau lampu mati, kau juga datang.”

“Itu tugas.”

“Kalau kotak distribusi ditanya, kau melarang.”

“Itu aset yang bukan kewenanganmu.”

“Nomor meter rumah kosong masih aktif.”

Senyumnya berkurang. “Kau mendapat data dari mana?”

“Dari mata.”

“Jangan main penyidik, Jefri. Teknisi ya teknisi.”

Kalimat itu sama dengan yang kemudian diucapkan Pak Tor ketika kami kembali ke bengkel.

Bapak menunggu di meja kerja. Di depannya ada secangkir kopi yang sudah dingin. Tangannya memegang gelas dengan kedua telapak, tetapi permukaan kopi tetap bergetar kecil.

“Berhenti sampai sini,” katanya.

Aku menutup pintu bengkel. “Bapak sudah bilang.”

“Sekarang aku bilang lagi.”

“Kenapa?”

“Karena kerja kita memperbaiki. Bukan menyelidiki orang.”

“Kalau yang rusak bukan cuma lampu?”

“Laporkan kepada yang berwenang.”

“Kepling adalah orang yang berwenang di lingkungan ini.”

“Ada kantor lain.”

“Dengan bukti apa? Kita bahkan dilarang lihat kotaknya.”

Pak Tor mengusap wajah. “Kau punya keluarga. Punya usaha yang baru berdiri. Jangan rusakkan semua karena ingin terlihat berani.”

“Ini bukan soal terlihat berani.”

“Dari kecil kau selalu bilang begitu sebelum berbuat bodoh.”

Aku tertawa tanpa humor. “Bapak lebih suka apa? Diam sampai rumah orang terbakar?”

“Jaga mulutmu.”

“Bapak yang takut.”

Kata itu keluar cepat. Setelahnya, bengkel mendadak sunyi. Bunyi kipas tua di sudut terdengar seperti mesin besar.

Pak Tor mengangkat wajah. “Apa?”

“Bapak takut. Makanya dari dulu semua disimpan. Utang disimpan. Tangan sakit disimpan. Sekarang lihat kabel ilegal pun suruh diam.”

Mak Mina yang sedang membungkus nasi berhenti. Tia menurunkan ponsel. Binsar dan Fadli saling pandang, lalu sibuk pada pekerjaan yang tidak ada.

Pak Tor berdiri. Gelas di tangannya beradu dengan meja. Getaran jarinya lebih keras daripada biasanya.

Aku melihatnya, tetapi amarah membuatku tetap kejam.

“Kalau semua orang berpikir seperti Bapak, orang macam Kepling bebas terus.”

“Jefri,” kata Mak Mina.

Bapak menatapku. Wajahnya pucat, rahangnya kaku. “Keberanian bukan membuka semua kotak yang kau temui.”

“Dan takut bukan alasan membiarkan.”

Ia mengangkat tangan, mungkin hendak menunjukku, tetapi tangannya bergetar hebat di udara. Ia segera menurunkannya dan memasukkan ke saku.

Marahku surut sedikit, digantikan rasa bersalah yang tidak mau kuakui.

Pak Tor mengambil jaket. “Aku keluar.”

“Pak.”

Ia tidak menjawab. Pintu menutup lebih keras daripada perlu.

Mak Mina meletakkan bungkus nasi. “Kau puas?”

“Aku cuma-”

“Jangan bilang cuma. Pisau pun cuma besi kalau belum dipakai.”

Aku duduk di kursi kerja Bapak. Di meja ada bekas lingkaran kopi dan sebuah baut kecil yang belum selesai dipasang. Aku ingin mengejar, tetapi gengsi menahanku. Lagi-lagi, benda paling bodoh dalam bengkel bukan alat rusak, melainkan kepalaku.

Liza datang satu jam kemudian membawa fotokopi tagihan dari Pak Salim dan dua rumah lain. Ia tidak langsung bertanya tentang Bapak. Dari cara semua orang diam, ia mungkin sudah tahu.

“Aku cocokkan pemakaian tiga bulan,” katanya. “Kenaikannya mulai pada waktu yang hampir sama.”

Ia membuka laptop. Tabel angka memenuhi layar. Nomor meter rumah kosong muncul di baris teratas.

“Bisa karena kebocoran arus?” tanyaku.

“Bisa. Bisa juga ada pemakaian yang tidak tercatat di rumah tujuan. Tapi ada yang lebih aneh.”

Liza membuka laman pengecekan pelanggan yang dapat diakses melalui aplikasi pembayaran. Ia memasukkan nomor meter dari foto semalam.

Nama pelanggan muncul.

RAMLAN HASIBUAN.

Fadli yang berdiri di belakang kami membaca pelan. “Pak Ramlan yang punya rumah kosong?”

“Ya,” kata Liza.

Mak Sendok, yang ikut masuk tanpa kami sadari, menyilangkan tangan. “Dia meninggal dua tahun lalu.”

“Anaknya belum balik nama mungkin,” kataku.

Liza menggeleng. “Aku tanya Pak Salim. Setelah Pak Ramlan meninggal, listrik rumah itu pernah diputus karena tunggakan. Enam bulan lalu aktif lagi.”

“Siapa yang mengaktifkan?”

“Itu yang harus dicari.”

Ia memperbesar detail pelanggan. Tanggal registrasi ulang tercatat empat bulan lalu - tepat ketika warga mulai mengeluhkan kenaikan tagihan dan kotak distribusi baru dipasang.

Tia mengambil napas. “Jadi orang mati punya meter aktif?”

Fadli menjawab, “Di gang kita, orang hidup susah dapat layanan. Orang mati malah cepat.”

Tidak ada yang tertawa.

Liza menatapku. “Nomor meter dalam catatan kita terdaftar atas nama orang yang sudah meninggal.”

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!