Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brian
Visual Amanda versi author
Visual Brian versi author ya gaess
****
Mata Amanda terbelalak melihat keberadaan pria yang ada di hadapan saat ini, pria asing yang pernah menghabiskan malam dengannya. Sudah lebih dari satu bulan mereka tidak bertemu, penampilan pria itu semakin membuat Amanda terpana.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa bertemu lagi dengan pria asing itu. Beberapa saat yang lalu bayangan pria itu melintas di pikirannya, kini tiba-tiba dia datang dan mengejutkan dirinya. Saking terkejutnya, Amanda sampai mengira itu hanyalah mimpi, tetapi omelan pria itu begitu nyata, membuatnya sadar saat ini dirinya sedang tidak bermimpi. Batinnya kini bertanya-tanya, dari mana pria itu tahu tempat tinggalnya.
"Kamu --- kamu tahu dari mana aku tinggal di sini?" tanya Amanda dengan keterkejutan yang tidak terbantahkan.
Pria itu menunjukkan ekspresi datar lantas melirik malas ke arah Amanda. "Sudah aku bilang sebelumnya untuk tidak kabur, bukan. Kamu pikir aku tidak bisa menemukanmu. Dasar anak nakal!"
Bibir Amanda mengerucut sebal saat pria asing itu justru mengatai dirinya anak nakal. Ingin memaki, tetapi rasa takutnya lebih mendominasi.
"Mau kamu apa? Aku sudah memberimu semua uangku, jangan ganggu aku lagi!" pinta Amanda.
"Aku tidak mau uangmu," sahut pria asing itu.
"Lalu kamu maunya apa?" tanya Amanda penuh kewaspadaan. Dia sudah bersiap memaki pria asing itu jika meminta yang macam-macam, tetapi jawaban pria itu justru membuat Amanda tidak mampu berkata-kata.
"Kamu," jawab pria asing itu, singkat, tetapi penuh makna.
"Hah, apa?" Wajah Amanda berubah menjadi cengo.
Pria itu lantas turun dari motornya, melangkah mendekati Amanda. Tatapan matanya sangat tajam, tetapi terselip kelembutan yang tidak bisa dijelaskan, membuat jantung Amanda berdegup kencang melebihi biasanya. Jarak semakin dekat, semakin membuat debaran jatung Amanda tidak terkendali. Apalagi saat pria itu tiba-tiba mengusap perutnya yang rata. Amanda membeku seketika, matanya membulat dalam keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan.
Pandangan Amanda turun ke bawah, melihat telapak tangan pria itu berada di perutnya, mengusapnya dengan begitu lembut, menciptakan sensasi yang begitu berbeda, rasa nyaman yang sulit untuk Amanda jelaskan.
Tinggi badan yang berbeda membuat Amanda harus mendongak saat ingin melihat wajah pria itu. Amanda dibuat membeku saat pandangannya bertemu pada satu titik yang sama dengan pria itu, seolah terjebak dalam pesonanya.
Batinnya meronta melihat wajah tampan dan mata yang memancarkan keindahan milik pria itu. Menurut Amanda pria itu adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna.
"Mimpi apa aku sebelumnya sampai bisa bertemu depan pria tampan ini," batin Amanda.
Jantung Amanda kembali dibuat tidak karuan, napasnya serasa terhenti saat pria itu mulai mendekatkan wajahnya. "Ma-mau a-pa?" tanya Amanda dengan suara yang terbata-bata.
Pria itu tidak menjawab, justru semakin mendekatkan wajahnya ke waktu Amanda, mensejajarkan bibirnya dengan telinga Amanda lantas berbisik, "Malam itu aku mengeluarkan semua benihku di dalam sini. Jika nanti tumbuh sesuatu katakan padaku, Amanda," kata pria itu seraya menyentuh perut rata Amanda.
Amanda sendiri kini kembali dibuat membeku dengan pernyataan pria asing itu, tetapi fokusnya adalah bagaimana dia tahu namanya.
"Kamu tahu dari mana namaku?" tanya Amanda dengan ekspresi terkejut.
"Aku tahu semua tentangmu." Pria asing itu kembali menegakkan tubuhnya lantas mencuri satu kecupan di bibir Amanda.
Mata Amanda membulat kemudian menyipit tajam saat menatap pria itu. "Gak sopan main cium-cium orang sembarangan."
Amanda lantas mengusap bibirnya, seolah ingin menghilangkan bekas ciuman pria itu.
"Lalu, apa sopan seorang wanita masuk ke kamar orang asing lalu mengajak pria asing bercinta?" Pria itu bicara dengan tangan terlipat di dada dan menatap tajam Amanda.
Gerakan Amanda terhenti, sadar jika tindakannya dulu justru lebih buruk dari tindakan pria asing itu saat ini. Amanda lantas menoleh ke arah lain sembari merutuki kebodohannya sendiri.
"Berikan ponselmu!" Pria itu bicara sambil mengulurkan tangannya.
Ucapan pria itu membuat Amanda seketika menoleh ke arahnya.
"Apa?" Amanda bertanya balik, sedikit tidak paham maksud perkataan pria di hadapannya.
Sementara pria itu mengela napas sebelum kembali mengulangi perkataannya. "Berikan ponselmu!"
"Untuk apa?" Amanda yang takut pria itu akan macam-macam memeluk tasnya dengan erat.
"Untuk menyimpan nomorku. Untuk apa lagi," jawab pria itu sedikit kesal karena tingkah Amanda yang merasa dirinya seperti orang jahat.
"Oh, sebentar." Amanda merogoh tasnya, mengambil ponselnya lantas menyerahkan benda pipih itu kepada pria asing yang belum dia ketahui namanya.
Pria itu menerima ponsel yang Amanda berikan lantas mengetikan sesuatu di sana, kemudian kembali menyerahkan ponsel itu pada Amanda. "Ini nomorku."
Amanda menerima ponselnya lau melihat nomor yang baru saja tersimpan di ponselnya. Namun, saat membaca nama yang diberikan oleh pria itu yaitu 'calon suami' membuat Amanda mengubah ekspresi wajahnya menjadi jelek. Rasanya ingin membelah kepala pria itu dan melihat apa isi di dalamnya.
"Kenapa kamu memberikan nama seperti ini," protes Amanda.
"Kenapa memangnya?" tanya pria itu dengan nada tidak suka. "Kamu sudah menyerahkan tubuhmu padaku masih berharap ingin menikah dengan orang lain."
Amanda menggerakkan bibirnya bersiap ingin memaki pria itu, tapi dia urungkan karena pastinya pria itu memiliki balasan yang akan membuat dirinya kalah. Wanita itu memilih menghela napas, mencoba memberikan kesabaran pada dirinya sendiri.
"Baiklah, siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Amanda masih dengan menahan rasa kesalnya.
"Untuk apa tahu namaku?" tanya pria itu.
"Karena tidak mungkin aku selalu memanggilmu pria asing, 'kan," jawab Amanda seraya menekan kalimatnya lantaran merasa gemas dengan pria itu. "Apa kamu berharap aku akan memanggilmu dengan sebutan calon suami?"
"Itu bagus," ujar pria itu yang langsung membuat Amanda berdecih.
Suasana menjadi hening sesaat, keduanya juga masih berdiri saling berhadapan dengan ekspresi berbeda.
"Brian." Pada akhirnya pria itu menyebutkan namanya yang sebenarnya.
Amanda terdiam dengan mata berkedip, mulutnya menganga sembari melihat penampilan pria itu dari atas hingga bawah. Menurut Amanda nama 'Brian' sangat cocok dengan penampilan pria itu.
"Ingat, hubungi aku jika ternyata kamu hamil. Aku akan bertanggung jawab," ucap Brian setelah itu kembali menaiki motornya.
"Eh ---" Belum sempat Amanda bicara, Brian lebih dulu pergi dengan motor sportnya itu. Suara mesin motor itu menggema seakan memenuhi atmosfer malam itu. "Malah dia pergi."
Amanda kembali melangkah dengan ekspresi kesal, ia juga menggerutu, memaki Brian yang bertingkah seenaknya sendiri. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika kata-kata Brian terlintas di benaknya. Sejenak, Amanda menunduk, pandangannya tertuju pada perutnya. Tangannya yang sedang memegang gagang pintu gerbang, perlahan turun menyentuh perutnya yang rata.
"Apa benar aku hamil?" batinnya.
Dalam kebingungan, Amanda mencoba mengingat kembali kapan terakhir dirinya datang bulan. Larut dalam pikirannya Amanda sampai menggigiti ujung kukunya. Beberapa saat kemudian matanya terbelalak saat mengingat kapan terakhir dirinya datang bulan.
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣