"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga puluh
Wajah xavier terlihat cerah, saat langkah kakinya turun dari mobil, suasana hatinya langsung berubah.
Di teras, geraldine menunggunya berdiri dengan tatapan tajam menghunjam.
"kamu dari rumah wanita itu?" suara cukup tajam menyambutnya, xavier tak menjawab.
Ia tetap melangkah masuk, meninggalkan geraldine yang misuh-misuh.
"xavi...!"
"ada apa?" xavier tetap melangkah, ia tak menoleh sama sekali.
"apa kamu lupa, kalau aku baru pulang dari rumah sakit?"
Xavier menghempaskan tubuhnya yang penat ke sofa, matanya menatap malas ke arah geraldine yang menghampirinya.
" lalu kenapa kamu kemari?kamu kan baru sembuh"
"kalau aku tak kemari, aku takut kamu lupa janjimu pada papaku!"
"hhhhhhh" dengus xavier malas, "pulanglah aldine, sudah jam 10 malam, kamu juga belum begitu sehat!"
Geraldine menggeleng manja, "aku sudah dapat ijin oma kok, aku tidur di sini malam ini"
Geraldine menyandarkan kepalanya di bahu xavier yang terlihat tidak nyaman.
"kamu tidak lupa janjimu kan, xavi?" suara lembut geraldine, membuat raut wajah xavier berubah seketika.
"kamu janji ke papa, akan bertanggung jawab"
"heum.." sahut xavier pendek, dia malas berdebat dengan wanita ini. Memangnya bentuk tanggung jawab apa yang geraldine dan keluarganya harapkan.
Dia memang mengatakan akan bertanggung jawab, tapi sepertinya makna tanggung jawab yang xavier maksud dan keluarga santoso harapkan sedikit berbeda.
"kapan kamu akan melamarku?" geraldine sedikit menengadahkan kepalanya dari bahu xavier, keningnya berkerut melihat xavier yang terkejut.
"melamarmu?" tanya xavier, mendorong tubuh geraldine, untuk duduk tegak.
"apa maksudmu?"
Geraldine terkesiap, nada suara xavier berubah datar, matanya mengerjab ragu.
"bukankah kamu akan bertanggung jawab?"
Mata xavier menatap tak percaya, ternyata benar arti tanggung jawab versinya dan versi keluarga geraldine ternyata berbeda.
"aldine..!, tanggung jawab bagaimana yang kamu harapkan dariku?" tanya xavier serius, kini kedua tangannya memegang bahu geraldine yang terlihat bingung.
"aku akan memberi kompensasi atas pemutusan hubungan tunangan sepihak itu, kamu bisa meminta apa saja dari—"
"tunggu!" sergah wanita itu cepat, kilat matanya terlihat tajam.
"jangan bilang yang kamu maksud tanggung jawab itu, adalah uang!"
Xavier tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng, ia hanya mengamati geraldine yang marah.
"kau pikir aku wanita matre?"
"bukan" geleng xavier cepat, "aku hanya menawarkan opsi dari beberapa tanggung jawab yang bisa aku berikan padamu, sesuai yang aku ucapkan tempo hari"
"hhhhhh.." dengus geraldine marah, wanita itu serentak berdiri.
"Tapi yang oma dan keluargaku sepakati adalah pernikahan, xavi!"
"pernikahan?" mata xavier memicing sebelah, "aku tidak pernah menawarkan opsi itu sama sekali"
Geraldine menatap nyalang, dadanya turun naik menahan amarah yang hendak tumpah rasanya.
Mengamati pria di depannya ini yang bersikap acuh dan menganggap tak penting pengorbanan yang geraldine lakukan untuk menarik perhatiannya.
"kamu tahu aldine, aku tak bisa menikahimu!"
"cukup..cukuuuup" teriak geraldine histeris, kedua tangannya menutupi telinga.
"aku tak mau dengar alasan apapun darimu!"
Xavier menatap geraldine yang mulai menangis, kedua tangan wanita itu yang menutupi telinga, sedikit menganggu perasaan xavier. Pergelangan tangan kiri wanita itu masih di perban, xavier tahu itu bekas sayatan yang wanita itu buat.
"aldine...!" panggilnya berusaha membujuk, namun tangannya ditepis cepat.
"kalau kamu mengelak dari tanggung jawab itu, aku akan mengiris pergelangan tanganku lagi!"
"aldine....!" bentak xavier marah, wanita itu tersentak kaget.
Mata geraldine berkaca-kaca, tangisan setengah raungan keluar dari mulutnya.
"kau boleh menikahi perempuan itu setelah melangkahi mayatku, xavi!"
"kau gila" seru xavier berdiri,
"yaaa, aku sudah gila" teriak geraldine tak kalah sengitnya, wanita itu juga berdiri dengan kedua tangannya di pinggang.
"aku pastikan, kamu akan melihatku mati, jika kamu bersikeras menikahi wanita itu"
Mata mereka saling tatap, nyalang dan berapi. Rahang xavier menegang, kedua tangannya terkepal penuh emosi. Sementara geraldine mata nyalang itu berkabut penuh air mata kemarahan.
"ada apa ini?"
Keduanya menoleh, ke arah suara lembut namun tegas itu. Oma wina berdiri mengamati keduanya bergantian.
"xavi..tak mau menikahiku oma" tuding geraldine tepat ke wajah xavier yang menegang marah.
"xavi..!" panggil omanya tegas.
"aku tidak bisa menikahi aldine, oma. oma tahu itu!"
Kepala nyonya wina menggeleng, tatapan matanya memohon pengertian xavier.
"sudah malam aldine, kamu tidurlah, biar oma yang bicara dengan xavi" suruh wanita sepuh itu membujuk geraldine yang masih berdiri tolak pinggang.
"xavi hanya sedang emosi..."
"oma.." sergah xavier cepat tak terima, namun kepala wanita sepuh itu menggeleng cepat.
"xavi pasti akan menikahimu!"
Geraldine menurunkan kedua tangannya, sembari mengusap air matanya ia beranjak pergi, setelah mengatakan sesuatu yang membuat xavier kembali ingin meradang marah.
"sudah xavi!" ujar nyonya wina mengibaskan tangannya meminta xavier diam.
Mata mereka menatap geraldine yang naik ke lantai 2, ke kamar yang selalu disediakan untuk tamu.
"oma..." panggil xavier protes tak terima, wajah tampannya terlihat sangat tak senang.
"oma kan tahu, aku tak mungkin menikahi aldine.."
"xavi..." suara lembut nyonya wina berusaha membujuk, wanita tua itu melambaikan tangan meminta xavier duduk dengan tenang.
"oma tahu kamu mencintai diandra, tapi nyawa aldine saat ini tergantung padamu!"
"hhhhhhhh" dengus xavier kasar, ia menjatuhkan kembali tubuhnya di sofa panjang.
"tapi aku sudah punya killian, oma!, dan aku tak mungkin meninggalkan killian dan diandra demi aldine" keluhnya kesal.
"aku tak pernah mencintai wanita seperti ini, oma. Kumohon oma ngertiin aku, sekali saja"
Wajah nyonya wina terlihat sendu, dia tahu kali ini cucunya itu benar-benar jatuh cinta, dan sebagai nenek dia juga tak ingin menghancurkan perasaan cucu satu-satunya itu.
Ia juga tak membenci diandra, walau jujur ia sempat kesal karena wanita itu menghilang begitu saja.
Namun saat ini, xavier tak bisa ceroboh mengambil keputusan lagi, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Geraldine begitu labil, sangking cintanya wanita itu pada xavier, karena takut ditolak, ia nekad mencoba bunuh diri.
Nyonya wina tak bisa mengambil resiko, karena sudah pasti, kalau wanita itu meninggal karena xavier, grup pratama akan hancur lebur.
"xavi..., oma mohon berpikir dengan kepala dingin, oma tak akan melarangmu mencintai diandra, tapi saat ini nasib grup kita ada di tangan geraldine.."
Xavier mengernyitkan keningnya tak suka, ia paham, paham sekali kemana arah pembicaraan mereka ini.
"kalau sampai aldine meninggal karena kamu, grup yang dibangun opamu dan dibesarkan oleh papamu, pasti akan hancur tak bersisa.."
"oma..." panggil xavier lesu, wajahnya benar-benar putus asa.
"oma tahu xavi, kamu mencintai diandra. Bicarakan baik-baik dengannya semoga dia mau mengerti"
"tega sekali oma meminta diandra untuk mengalah, dia itu wanita yang aku cinta oma, dan apakah menurut oma aku sanggup meminta hal seperti itu darinya?"
Terdengar hembusan nafas keduanya berat, nyonya wina tiba-tiba terpikir sesuatu.
"bagaimana kalau kamu menikahi keduanya, diandra dan killian antar ke luar kota"
Xavier mendelik kaget, bisa-bisanya oma mengusulkan hal sekejam itu.
"maksud oma, diandra jadi istri kedua, gitu?"
Omanya mengangguk cepat, "hanya itu yang terpikirkan di kepala oma saat ini"
"tidak oma," geleng xavier cepat, "aku tak mau menduakan diandra"
"lalu apa yang akan kamu lakukan?"
Xavier terdiam mematung, buntu. Yah isi kepalanya mendadak buntu, ia tak tahu harus bagaimana.
"tak bisakah kalau geraldine kita beri kompensasi, saham misalnya?"
"aldine hanya ingin menikah denganmu, xavi. Dia hanya ingin menjadi istrimu!"
"hhhhhhhh" desah nafas xavier terdengar berat dan putus asa.
Bersambung...