NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

Alam Atas – Lautan Bintang Sektor Utara (Garis Depan Tembok Ratapan).

Suara gemuruh pertarungan merobek-robek keheningan abadi luar angkasa. Di bawah bayangan puluhan ribu Kapal Kematian yang terbuat dari tulang belulang dewa kuno, pertahanan Alam Atas perlahan-lahan runtuh layaknya bendungan pasir yang dihantam gelombang pasang samudra.

CRAAAT!

Darah berwarna emas suci menyembur di tengah kehampaan, menciptakan hujan meteor merah yang membakar sabuk asteroid di sekitarnya.

Naga Emas raksasa, Ao Zun, mengaum dalam penderitaan yang menggetarkan jiwa. Tiga cakar naga hitam milik Mo Yuan telah menembus sisik pertahanannya, menancap dalam di perutnya. Racun ungu pekat dari Sembilan Nether dengan cepat menyebar, menghitamkan sisik emas kebanggaan sang Raja Naga.

"Hahaha! Matilah, Naga Sombong!" raung Mo Yuan, melilitkan tubuh raksasanya di leher Ao Zun, mencoba mencekik sisa napas kehidupan sang Raja Naga Sejati. "Darah sucimu sudah tercemar! Alam Atas ini akan berlutut di bawah kaki Tuan Shen Yu!"

Ao Zun memuntahkan darah hitam, namun sepasang mata naga emasnya tidak menunjukkan sedikit pun ketakutan, melainkan tekad untuk binasa bersama.

"Bahkan jika sisikku membusuk dan tandukku patah..." geram Ao Zun, membakar sisa-sisa esensi jiwanya. "Teknik Terlarang Ras Naga: Inti Emas Pembakar Kosmos!"

Tubuh Ao Zun mendadak bersinar seterang ratusan matahari yang meledak bersamaan. Panas yang absolut membuat Mo Yuan menjerit kesakitan, sisik hitamnya meleleh. Kedua naga raksasa itu terguling-guling dalam pusaran api dan racun, saling mencabik tanpa ada yang mau mundur satu inci pun dari perbatasan.

Di sisi lain medan perang, situasinya tidak kalah mengenaskan.

Wuming, sang Pendekar Pedang Gila, kini bernapas terengah-engah. Jubahnya compang-camping, dan puluhan luka bakar menganga di tubuhnya. Lautan bayangan pedang yang tadinya menutupi langit kini tersisa kurang dari seratus. Di depannya, Feng Jiu sang Gadis Phoenix Hitam tertawa melengking, memimpin tiga Penguasa Iblis lainnya untuk mengepung Wuming.

"Tarian pedangmu sudah melambat, Serangga!" ejek Feng Jiu. Sayap apinya membentang, melepaskan ribuan bulu berapi yang melesat bagaikan hujan panah kematian. "Teknik Api Nether: Teratai Pembakar Tulang!"

Wuming menggigit bibirnya hingga berdarah. Matanya yang merah menatap kematian dengan senyum psikopat yang tak pernah luntur.

"Pedangku mungkin patah, tapi Niat Pedangku tidak akan pernah mundur untuk anjing-anjing sepertimu!" teriak Wuming. Dia mengusap darahnya ke bilah Patah Penjagal Dewa, bersiap menyongsong serangan mematikan itu dengan satu tebasan penghabisan.

Namun, sebelum api itu menyentuh Wuming, sebuah pilar petir ungu menyambar dari atas, menghancurkan lautan api Feng Jiu.

BLAAAR!

Lei Shan mendarat dengan keras di depan Wuming. Sang Dewa Petir kini tidak lagi terlihat gagah. Zirah petirnya hancur di bagian dada, memperlihatkan sebuah tombak tulang bergerigi yang menancap tembus dari dada hingga ke punggungnya. Darah emas terus mengucur, namun Lei Shan masih berdiri tegak, memegang trisulanya dengan tangan gemetar.

"Lei Shan! Mundurlah, dasar raksasa bodoh!" Wuming mengutuk, melihat temannya mengorbankan diri untuk menahan serangan itu.

"Sialan kau, Tukang Pedang Gila... Jangan meremehkan ketebalan kulitku," Lei Shan terbatuk, memuntahkan gumpalan darah emas. Napasnya berat. Dia menatap ke arah jutaan pasukan Nether yang terus mengalir tanpa henti dari celah dimensi, dipimpin oleh siluet raksasa Dewa Iblis Shen Yu yang duduk di atas singgasana kapalnya.

Meskipun Tiga Jenderal telah bertarung dengan kegagahan setingkat dewa peperangan kuno, jumlah musuh benar-benar menenggelamkan mereka. Pasukan Alam Atas telah menyusut drastis. Tembok Ratapan mulai hancur berkeping-keping.

Dari atas singgasana tengkoraknya, suara Shen Yu bergema ke seluruh tiga ribu dunia, membawa putus asa yang membekukan jiwa.

"Kalian bertarung untuk tuan yang telah membuang kalian. Kaisar Asura kalian bersembunyi di balik cangkang fananya, membiarkan kalian mati seperti anjing jalanan. Menyerahlah, dan aku akan mengizinkan tulang-tulang kalian menjadi bagian dari kapalku."

Lei Shan mencabut tombak tulang dari dadanya dengan paksa, berteriak menahan rasa sakit yang bisa menghancurkan kewarasan, lalu menancapkan trisulanya ke kehampaan.

"BOS KAMI TIDAK PERNAH LARI!" raung Lei Shan, suaranya menembus hiruk-pikuk peperangan. "DIA HANYA SEDANG SIBUK! JIKA DIA TIBA, KAU BAHKAN TIDAK AKAN PUNYA WAKTU UNTUK MENANGIS, SHEN YU!"

Shen Yu mendengus dingin. Matanya memancarkan niat membunuh yang mutlak. "Kalau begitu, biarkan aku mengirim kepala kalian ke desa fananya sebagai hadiah pertemuan."

Shen Yu mengangkat tangannya. Telapak tangannya berubah menjadi cakar iblis raksasa yang menutupi separuh galaksi, turun perlahan untuk meremukkan Lei Shan, Wuming, dan seluruh sisa pasukan Alam Atas menjadi debu.

Kehancuran tampaknya sudah tidak bisa dihindari.

Dunia Fana – Teras Gubuk Bambu, Desa Angin Lembut.

Berbeda dengan darah dan kematian yang melukis langit tertinggi, angin senja di Desa Angin Lembut bertiup dengan sangat damai. Matahari sore bersinar jingga, membiaskan cahaya keemasan yang masuk melalui celah-celah daun bambu, jatuh tepat di pangkuan Shi Hao.

Pria itu sedang duduk di kursi goyangnya, wajahnya dihiasi ketenangan yang melampaui segala bentuk kehidupan dan kematian. Pisau ukir di tangannya bergerak untuk terakhir kalinya.

Sret.

Debu giok terakhir jatuh tertiup angin senja.

Di telapak tangannya yang kasar, tergeletak sebuah jepit rambut giok putih yang telah selesai dipahat. Bentuknya menyerupai sekuntum bunga teratai yang baru setengah mekar. Meski tidak memancarkan cahaya menyilaukan atau fluktuasi Qi yang menggelegar, benda kecil itu mengandung kemurnian Mortal Dao (Jalan Kemanusiaan) yang begitu kuat, hingga hukum ruang dan waktu di sekitarnya secara sukarela melengkung untuk melindunginya.

"Sudah selesai, Istriku," kata Shi Hao lembut, suaranya memecah keheningan sore.

Gu Qing Yi, yang sedari tadi duduk di sampingnya sambil menahan kecemasan akan perang di Alam Atas, menoleh. Matanya yang biasa sedingin es abadi kini melembut seketika, dipenuhi oleh kehangatan cinta yang meluap-luap.

Shi Hao meraba udara, mencari posisi istrinya, lalu tersenyum.

"Kemarilah. Biar aku pasangkan," ucapnya.

Qing Yi menggeser bangku kecilnya mendekat. Nyonya yang ditakuti oleh para dewa dan iblis itu menundukkan kepalanya dengan sangat patuh di hadapan suaminya.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut melukai helai sutra di kepala istrinya, Shi Hao menyematkan jepit rambut giok teratai itu ke sela-sela sanggul rambut Qing Yi.

"Ini sangat pas untukmu," kata Shi Hao, tangannya masih membelai pipi Qing Yi. "Wangi teratai ini akan selalu melindungimu, bahkan saat musim dingin fana tiba."

Qing Yi menyentuh jepit giok itu. Saat jari indahnya bersentuhan dengan pahatan tersebut, sebuah gelombang kehangatan yang tak terhingga mengalir ke dalam Inti Dao-nya. Semua rasa lelah, cemas, dan luka batin yang ia pendam selama seratus tahun, lenyap tak berbekas dalam satu tarikan napas.

Bibir Qing Yi bergetar. Dia menatap wajah suaminya yang masih terbalut kain putih di mata kiri.

"Ini sangat indah, Hao. Ini adalah pusaka paling berharga di seluruh alam semesta," bisik Qing Yi, matanya berkaca-kaca.

Shi Hao tersenyum lebar. Dia kemudian meletakkan pisau ukirnya di atas meja kayu.

Senyum di wajahnya perlahan-lahan memudar.

Bukan berubah menjadi amarah, melainkan berubah menjadi ketenangan yang begitu sunyi, begitu absolut, hingga suara angin, suara jangkrik, dan suara napas kehidupan di seluruh desa mendadak terhenti.

Dunia fana seolah menahan napasnya secara serentak.

Shi Hao perlahan berdiri dari kursi goyangnya.

Tangan kanannya menjangkau tongkat bambu lapuk yang sedari tadi bersandar di dinding. Saat jari-jari kasarnya menggenggam batang bambu itu...

KRETAK... KRAAAK!

Bambu kuning yang rapuh itu mulai terkelupas. Serpihan kayunya berjatuhan menjadi debu emas. Dari balik ilusi kefanaan itu, logam hitam purba yang tidak memantulkan cahaya apa pun mulai menampakkan wujud aslinya.

Tombak Asura Kemanusiaan telah membuka segelnya sepenuhnya. Hawa membunuh yang sangat murni, disatukan dengan ketenangan fana, menciptakan sebuah medan tekanan yang membuat lima Penjaga Teratai di atas atap langsung jatuh sujud mencium genteng, tak mampu mengangkat kepala mereka.

"Istirahatlah di dalam rumah, Qing Yi. Jangan lupa menutup jendela, angin malam ini akan sangat keras," kata Shi Hao, nada suaranya mengalun pelan namun membawa otoritas absolut seorang Kaisar Dewa yang telah kembali menaiki takhtanya.

"Suamiku..." Qing Yi menatap punggung tegap pria itu.

Shi Hao tidak menoleh. Mata berwarna Emas Kehidupan di dahinya mendadak terbuka sepenuhnya. Cahaya keemasan yang menembus segala batas karma dan dimensi meledak dari dahi sang Kaisar, menyorot lurus menembus kubah langit fana, mengoyak selubung dimensi yang memisahkan dunia bawah dan dunia atas.

Shi Hao mengambil satu langkah ke depan. Sandal jeraminya memijak kehampaan.

WUSSS!

Dalam sepersekian kedipan mata, sosoknya menghilang dari teras gubuk, meninggalkan riak spasial berbentuk bunga teratai emas di udara kosong.

Alam Atas – Lautan Bintang Sektor Utara.

Cakar raksasa Shen Yu turun dengan kecepatan kiamat, membawa kekuatan yang siap menghancurkan Lei Shan, Wuming, dan seluruh prajurit yang tersisa menjadi genangan darah. Lei Shan telah menutup matanya, memeluk erat trisulanya untuk menyambut kematian. Wuming tertawa gila, bersiap meledakkan jiwanya.

Jarak cakar itu tinggal sepuluh tombak dari kepala mereka.

Tiba-tiba...

Sebuah suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar bergema di dalam pikiran setiap makhluk yang hadir di medan perang kosmik tersebut.

Tap.

Suara itu terdengar seperti langkah sandal jerami yang memijak genangan air. Sangat ringan, sangat fana, namun secara paksa menghentikan putaran roda waktu di seluruh medan pertempuran.

Cakar raksasa Shen Yu mendadak berhenti di udara, tertahan oleh sebuah dinding hukum tak kasat mata yang sekeras berlian surgawi.

Dari atas langit yang koyak, seberkas cahaya emas turun membelah lautan bintang yang berdarah. Di tengah pilar cahaya itu, sesosok pemuda berpakaian rami kasar berdiri di ruang hampa dengan tombak hitam di bahunya. Kain putih di mata kirinya berkibar tertiup angin kosmik.

Suara yang sangat tenang, dingin, dan dipenuhi oleh kemurkaan absolut seorang raja, mengalun memecah kesunyian alam semesta.

"Aku hanya memalingkan pandanganku sebentar untuk mengukir jepit rambut istriku..."

Mata Shi Hao menatap langsung ke arah Dewa Iblis Shen Yu, membuat sang dewa kematian itu tanpa sadar mundur satu langkah di atas singgasananya.

"...Dan kau berani membuat halaman depanku menjadi kotor seperti ini?"

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!