NovelToon NovelToon
Introvert Racer And Coldnest Mafia

Introvert Racer And Coldnest Mafia

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Misteri / Tamat
Popularitas:865.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: D and D

Diajeng Anindita Oliver, seorang gadis yang lulus kuliah diumur yang masih muda. Putri dari seorang pembalap legendaris dan model terkenal, yang di dalam dirinya mengalir kental darah seorang pembalap.

Mengorbankan masa depan nya demi keselamatan sahabatnya Mutia. Menikah dengan seorang mafia yang terkenal kejam dan dingin, tapi tidak di hadapannya.

Memiliki kepribadian introvert cenderung membuatnya tertutup dengan perasaannya pada siapapun, termasuk orang terdekat nya.

Akan kah Ajeng lebih terbuka, setelah menikah dengan Griffin seorang coldnest mafia? atau semakin membuatnya menutup dirinya dari dunia luar? Dan akan kah Griffin juga menghangat setelah mengenal Ajeng?

Yuks simak ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D and D, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian

5 hari telah berlalu sejak mereka berjanji untuk bertemu di Cafe Xx. Ajeng tak pernah mendapatkan telpon atau sekedar mendengar kabar dari sahabatnya itu. Sehari sebelumnya, di tengah kesibukannya dalam menjalankan bisnis keluarga, Ajeng menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah Mutia. Berharap bertemu dengan sahabatnya .

Namun yang ia dapat, bukannya bertemu dengan sahabatnya melainkan penolakan dari kedua orang tua Mutia. Yang mengatakan bahwa Mutia tidak ada di rumah, ia sedang pergi bersama kekasihnya. Sungguh alasan yang tak masuk akal bagi Ajeng, ia ingat betul apa yang Mutia ucapkan di telpon 5 hari yang lalu, bahwa sahabatnya tengah menunggu bis untuk menemuinya di Cafe Xx.

Hal itu membuat Ajeng merasa ada kejanggalan dibalik hilangnya Mutia. Bahkan pihak kampus pun mengatakan bahwa ketika wisuda Mutia tidak datang. Padahal hari itu sangat di nanti oleh sahabatnya itu.

Bunyi dering ponsel membuyarkan lamunan Ajeng. Dilihatnya sekilas, hanya nomor tidak dikenal, membuatnya meletakkan kembali ponselnya. Namun rasa penasaran membawanya membuka isi pesan itu.

Deg,

Mutia, Mutia. Gumam Ajeng

Isi dari pesan tersebut adalah foto Mutia dalam keadaan tak sadarkan diri di suatu ruangan, dengan tangan dan kaki yang diikat, dan mulut yang dilakban.

(Datang ke Cafe Xxx Jalan xxx sekarang jika ingin informasi lebih lanjut.....) Begitulah isi dari pesan yang dikirim oleh nomor tak dikenal tersebut.

Tanpa membaca kelanjutan isi pesan tersebut, hanya dengan melihat Foto dan tempat yang ditulis Ajeng langsung bergegas menemui si pengirim pesan. Ia begitu khawatir melihat keadaan Mutia. Apa yang terjadi dengan sahabatnya itu pikir Ajeng sepanjang perjalanan.

Tak butuh waktu lama Ajeng sampai di Cafe Xx, dengan kemampuan balap Ajeng saat berkendara bukan mustahil baginya bisa sampai secepat kilat di tempat tujuan. Apalagi keadaan jalanan yang sangat lenggang, karna Ajeng berkendara di waktu pagi buta.

Ajeng mulai memasuki Cafe Xx, dilihatnya sekeliling masih tampak kosong, sepi tak ada pengunjung. Karena masih pagi mungkin pikirnya. Di pojok sebelah kanan, samping jendela ada seorang pria yang tengah duduk sambil melambaikan tangan ke arah Ajeng. Pria bertopeng, dengan pakaian serba hitam seperti seorang gengster atau semacamnya.

Ajeng duduk di sebarang pria tersebut.

"Beri tahu aku dimana sahabatku berada," ucapnya to the point.

"Wah wah wah..sabar nona, minumlah dulu nona, ternyata nona sangat peduli dengan sahabat nona itu ya, "jawabnya dengan senyum di bibirnya sembari menyodorkan segelas air dingin.

"Apa maumu? peduli apa kamu dengan persahabatan kami, cepat katakan dimana kamu menyembunyikan sahabatku !" ucap Ajeng seraya menatap tajam kearah pria tersebut.

"Nona... jaga sikap nona, nona ingin informasi bukan? Maka berperilakulah dengan sangat sopan, dan ingat satu hal nona, saya tidak menyembunyikan sahabat nona itu, malah saya mengajak nona untuk saling bermutualisme, saling menguntungkan," ucapnya seraya menatap Ajeng dengan tatapan yang menyeramkan.

"Apa yang menguntungkan?" tanya Ajeng.

"Baca ini nona, setelah itu tentukanlah pilihan nona," jawab pria tersebut seraya menyerahkan dokumen di hadapan Ajeng.

Tanpa perintah dua kali, Ajeng langsung membaca isi dari berkas tersebut. Berulang kali ekspresi wajah Ajeng berubah-ubah, marah, kaget, khawatir dan juga sedih. Namun pria tersebut hanya tersenyum melihat banyak perubahan ekspresi dari gadis dihadapannya.

"A-apakah ini semua benar? Fo-foto ini juga?"tanya Ajeng dengan tergagap, tubuhnya gemetar, matanya mulai memerah menahan tangis. Tangannya mengepal kuat meremas berkas yang dipegangnya.

"Nona sudah membaca semuanya, kan? jadi apa keputusan nona? Terima tawaran saya atau tidak? Ingat nona, sahabat nona bukan di tangan rentenir atau penjahat kampungan biasa, melainkan berada di tangan mafia, yang siap menjual sahabat nona ke pasar gelap," ucap pria itu sembari mengetuk kan jarinya di meja.

"Saya ingatkan kembali nona, sahabat nona berada di tangan mafia, meminta bantuan polisi itu akan percuma nona, yang ada sebelum polisi itu datang, nona sudah berada di tangan mereka, dan menjadi bagian dari gadis-gadis yang ikut dijual," lanjutnya dengan nada yang dibuat menyeramkan, mencoba memprovokasi Ajeng.

"Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Ajeng dengan nafas yang memburu.

"Kita saling menguntungkan saja nona, nona tanda tangani perjanjian ini demi kebebasan sahabat nona, apa nona ingin melihat sahabat nona berakhir di ranjang atau di rumah sakit yang menjual organ dalam manusia?" ucapnya menatap lekat mata Ajeng.

"Apa perjanjiannya?" tanya Ajeng langsung, ia begitu takut jika membayangkan apa yang akan terjadi pada Mutia sahabatnya.

Pria itu langsung mengambil surat perjanjian dari dalam tasnya, dan segera menyerahkannya kepada Ajeng. Ajeng mengambil surat perjanjian dihadapannya itu. Dibacanya satu persatu, dengan kening yang mengekerut.

Terdapat Pihak Pertama dan Pihak Kedua, siapa itu? Dan Pihak kedua lah yang paling dirugikan, Apa ini !! pikir Ajeng di sela-sela ia membaca.

Hal yang paling diingatnya ialah Menuruti semua perintah pihak pertama. Bukankah itu artinya ia adalah pihak kedua, sangat tidak masuk akal. Apa hubungan kebebasan Mutia sahabatnya dengan isi perjanjian itu.

"Aku sebagai pihak kedua? dan pihak pertamanya kamu?" tanya Ajeng dengan mata dan bibir yang masih membaca isi perjanjian itu.

"Ehemm." Pria itu hanya berdehem sambil menganggukkan kepala.

"Apa apaan ini, tidak ! tidak !! banyak kerugian yang didapat oleh pihak kedua, katanya saling menguntungkan, kenapa malah aku merasa dirugikan," tolak Ajeng dengan menggebrakkan meja spontan.

"Hei nona, bisa lebih santai sedikit? itu sama-sama menguntungkan nona, saya membantu nona untuk membebaskan sahabat nona, dan nona tinggal mengikuti isi perjanjian itu," jawabnya dengan santai.

"Hah, enak aja, aku punya kehidupan, bukan wanita pengangguran, kau kira pekerjaan ku hanya mengikuti isi perjanjian konyol ini? lagian aku belum sepenuhnya percaya dengan informasi yang kamu berikan, foto-foto ini juga pasti hasil rekayasa, ya kan?" elak Ajeng, walau sebenarnya di dalam hati ia begitu percaya dengan bukti-bukti yang diberikan pria bertopeng itu.

"Terserah apa menurut nona, yang jelas saya sudah berikan informasi itu pada nona, saya juga telah menawarkan barter yang saling menguntungkan. Jika nona percaya diri, silahkan cari sendiri dimana keberadaan sahabat nona. Bukankah nona sudah mencoba menemuinya, namun bukannya mendapatkan informasi malah mendapatkan penolakan" ucapnya, "Huh, dibantu malah tidak tau diri," cibir nya menatap sinis Ajeng.

Ajeng hanya diam, semua yang dikatakan pria didepannya itu adalah benar. Tapi, kenapa orang tua Mutia sampai tega melakukan itu. Mutia kan anaknya, apa mereka rela melepaskan Mutia demi harta benda yang tak seberapa itu.

"Apa yang akan kau berikan jika semua yang kau katakan itu tidak benar?" tanya Ajeng.

"Nona bisa merobek surat perjanjian itu, dan anggap kita tidak saling mengenal, tapi jika yang saya ucapkan adalah sebuah kebenaran, maka jangan harap nona bisa melarikan diri," ucapnya dengan tegas.

"Aku bukan tipe wanita yang mengingkari janji, aku tanda tangani surat perjanjian ini, ingat untuk menepati janjimu tuan," ucap Ajeng dengan menekan suaranya pada kalimat terakhir yang diucapkan.

" Good nona, pilihan yang sangat bijak, terimakasih atas kerja sama nya nona, untuk selanjutnya saya akan kabari nona," ucapnya sembari berlalu meninggalkan Ajeng yang masih duduk termenung di kursinya.

"Apa yang kulakukan sudah benar? apa pilihanku tepat? apa ini sama-sama menguntungkan...," gumamnya pelan "Huh, semangat Ajeng, ini demi sahabatmu, hanya dia yang kamu punya setelah kedua orang tuamu," ucap Ajeng seraya mengepalkan tangannya keatas, mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.

Setelah pertemuan yang melelahkan itu, Ajeng langsung pulang ke rumahnya. Rasanya lelah jika ia masih harus melakukan pekerjaan yang membosankan di kantornya.

Untuk menenangkan pikirannya ia berniat untuk merilekskan tubuhnya dengan hoby balapan nya nanti malam di circuit ilegal. Untuk saat ini ia hanya perlu berendam di air dingin dengan aroma sabun bayi yang ia sukai.

1
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
semoga saja sella dan toni tidak seperti papanya
epifania rendo
siaap yang salah
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
sella sma ansel
epifania rendo
syukurlah
epifania rendo
pengawal bayangannya lambat
epifania rendo
pengawal bayangan mana
epifania rendo
jangan melanggar ajeng
epifania rendo
terharu
epifania rendo
romantis bangat
epifania rendo
buka segel
epifania rendo
tunggu saja di jadikan perkedel sma griffin
epifania rendo
kasian ajeng di bohongi sama paman nya
epifania rendo
lanjut
epifania rendo
😄😄😄
epifania rendo
bucinkan griffin
epifania rendo
makin seruh
epifania rendo
sabar mutia
epifania rendo
mutia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!