Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meet You
Dengan langkah gontai, Anna masuk ke dalam rumahnya. "Apa yang harus aku lakukan lagi? Ibu dan Ayah pasti tambah benci padaku?" gumam Anna pelan.
Langkahnya terhenti menatap Elama dan Alan yang sudah terlihat rapi dan tengah menunggu Anna pulang. "Dari mana kau?" tanya Alan menatap tajam Anna.
"Aku-?"
"Ah sudah lah tidak penting," potong Alan ketus, lalu memalingkan wajahnya menatap Elama. "Suruh dia ganti pakaiannya, cepat!"
Anna menatap Alan dan Elama bingung, saat Ibunya menarik pelan lengan Anna dan membawanya ke kamar. "" A, ada apa ini Bu?"
Namun Elama hanya diam, tangannya membuka kancing baju yang Anna kenakan. "Ada apa ini Bu?" Anna menarik bajunya menatap bingung Elama.
"Ibu mohon Nak, kali ini kau diamlah." Elama menatap wajah Anna dengan mata berkaca kaca. Satu persatu kancing baju Anna dilepas lalu menggantinya dengan gaun berwarna coklat muda. Anna diam menatap sayang wajah Elama. Untuk pertama kalinya Ibu yang telah melahirkannya mengganti pakaiannya.
Elama tersenyum samar melirik Anna yang membiarkannya mengganti pakaian. Yang seharusnya ia lakukan pada Anna sejak bayi. Tapi Elama melakukannya setelah Anna menginjak usia dua puluh tahun.
"Duduklah." Elama menarik tangan Anna duduk di kursi menghadap cermin. Anna menatap Elama lewat cermin di hadapannya mengikat rambut Anna yang berantakan.
Saat Elama hendak memberikan sedikit polesan lipstik di bibir Anna, buru buru ia menahan tangan Elama. "Tidak Bu, aku tidak mau pakai lipstik."
Elama menatap kedua bola mata Anna, "baiklah." Elama tidak ingin memaksa Anna lebih dari itu. Mau menggantikan Tasya saja sudah lebih dari cukup bagi Elama. "Ayo bangun."
Elama menarik tangan Anna untuk berdiri. "Kita mau kemana Bu?" tanya Anna.
Elama menghela napas dalam, sesaat menatap wajah Anna penuh tanda tanya. "Kau ikuti saja."
Anna kembali diam mengukuti langkah Elama. "Bu.."
Elama menoleh ke arah Anna sesaat. "Ya?
"Boleh aku bertanya?"
"Nanti saja," sahut Elama. Anna kembali diam dan menyimpan semua pertanyaan di benaknya.
"Anna."
Anna menatap Alan yang berjalan mendekatinya. "Aku minta kau menjaga sikap dan jangan banyak bicara."
"Tapi-?"
"Apa kurang jelas?" potong Alan. Menatap tajam Anna.
Anna menundukkan kepala sesaat, menoleh ke arah Elama yang hanya menganggukkan kepala meminta Anna untuk mengikuti apa kata Alan. Kemudian mereka berjalan keluar rumah.
Tasya yang sedari tadi memperhatikan di balik pintu, lalu keluar kamar menatap kepergian Anna bersama orangtuanya. "Maafkan aku, Anna.." ucapnya pelan.
***
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka sampai di halama rumah yang sangat megah. Dengan halaman yang cukup luas, Elama membuka pintu mobil lalu menarik tangan Anna untuk keluar dari dalam mobil.
Anna memperhatikan rumah megah itu, hatinya mulai merasa tak enak. "Ayo sayang."
Elama menggenggam erat tangan Anna lalu mereka berjalan mendekati pintu rumah. Langkah mereka terhenti saat seorang wanita mengenakan seragam asisten rumah tangga menyambut kedatangan mereka.
"Tuan, Nyonya, anda sudah di tunggu." Wanita itu membungkukkan badan sesaat.
Ditunggu? Anna melebarkan matanya menatap Elama lalu beralih menatap Alan. "Ayah, Ibu, aku mau di bawa kemana?" tanya Anna jantungnya berdegup kencang.
"Diam kau," ucap Alan pelan. "Jaga sikapmu."
Anna menoleh ke arah Elama, lagi lagi hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mereka melangkahkan kakinya mengikuti wanita itu dari belakang masuk ke dalam rumah.
Anna memperhatikan seluruh isi di dalam rumah itu. Lalu mereka menaiki anak tangga menuju lantai dua. Langkah mereka terhenti di depan pintu ruangan, wanita itu mengetuk pintu dan membukanya setelah terdengar seseorang dari dalam memintanya untuk masuk. Wanita itu membukakan pintu lalu mwmpersilahkan Alan dan yang lain untuk masuk ke dalam.
Anna melongo menatap sekitar ruangan yang cukup besar, matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya, duduk dengan anggun di sofa. Sepertinya wanita itu bukan orang Indonesia. Lalu Anna mengalihkan pandangannya pada seorang wanita muda dan seorang pria. Mata Anna melebar saat mengetahui pria yang tengah duduk bersama wanita muda itu, pemilik Cafe di mana ia di pecat. "Bukankah dia?" ucap Anna dalam hati.
Sano menatap tajam Anna, ia terkejut melihat gadis di hadapannya yang pernah bekerja di cafe miliknya. "Anna?" Sano menoleh ke arah Aldrien.
"Sayang, bukankah gadis itu yang kau pecat malam itu?" bisik Aldrien.
"Kau benar," jawab Sano.
"Dia anak orang kaya dong? tapi kenapa mau bekerja di cafe?" Aldrien menatap lurus ke arah Anna.
Sano mengangkat kedua bahunya, "orangtuanya sudah bangkrut." Aldrien menganggukan kepalanya.
"Nyonya Haira..tuan muda Sano dan Nona Aldrien..selamat pagi." Alan membungkukkan badan, di ikuti Elama. Anna hanya diam tidak mengikuti Alan ataupun Elama.
Wanita yang bernama Haira itu berdiri, menatap tajam Anna dan menelusuri setiap inci tubuh Anna. "Jadi? gadis ini yang akan menikah dengan putraku?"
"Benar Nyonya.." sahut Alan menunduk sesaat.
Apa? menikah? Anna melebarkan matanya menatap Alan. Namun Alan balik menatap tajam Anna, hingga Anna tidak berani bicara.
"Siapa namamu?" tanya Haira
"Anna."
Haira memalingkan wajahnya menatap salah satu asisten rumah dan meminta putranya untuk datang ke ruangan. Jantung Anna berdegup kencang, kedua telapak tangannya mulai berkeringat.
"Silahkan kalian duduk." Haira kembali duduk dan mempersilahkan Alan dan yang lain untuk duduk di sofa.
Tak lama kemudian seorang pria masuk ke dalam ruangan dengan langkah lebar. Perawakannya tinggi, kulitnya putih bersih. Hidung yang mancung, alis yang tebal dan bibirnya yang tipis. Pria itu duduk di kursi terpisah dengan yang lain.
"Tuan Alan, karena Anda telah menepati janji, maka kami menganggap hutang anda lunas. Dan Anda sudah di perbolehkan menggunakan uang yang kami kirimkan untuk biaya pengobatan putri anda," ucap seorang pria tua menggunakan setelan jas hitam menjelaskan dengan panjang lebar.
Anna menautkan kedua alisnya tidak mengerti dengan situasi yang tengah terjadi. Ia menatap Alan dan Elama namun tidak menemukan jawaban apapun.
"Bagaimana Genzo?" tanya Haira menatap Genzo, kakak dari Sano.
Genzo hanya diam dengan raut wajah tanpa Ekspresi, ia menoleh ke arah Anna. "Wanita sama saja, hanya kekayaan yang di cari. Mudahnya menerima perjodohan ini, lihat saja, apa kau mampu bertahan dengaku satu hari saja," ucap Genzo dalam hati. Tersungging senyun sinis di sudut bibirnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Haira, menganggukkan kepala tanda setuju.
"Jika Anda sudah tidak ada keperluan, silahkan tinggal rumah ini. Tapi tidak dengan putri anda," ucap pria tua itu lagi.
Mendengar kata 'tinggalkan putri anda' membuat Anna semakin bingung. Ia berdiri dan berteriak lantang di depan mereka semua.
"Ada apa ini! beritahu aku!"
Nyonya Haira terkejut melihat sikap kasar Anna, begitu juga dengan Sano dan yang lain. Untuk pertama kalinya di depan mereka ada yang berani bicara kasar. Nyonya Haira berdiri di susul Elama dan Alan.
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun?" ucap Nyonya Haira penuh penekanan.
"Anna, jaga sikapmu." Alan menatap marah pada Anna. Namun Anna tidak mau diam saja dan menerima semua ini tanpa ada penjelasan. Itu bukan Anna yang menyerah begitu saja.
"Nyonya Haira, jelaskan ada apa?"
"Nona Anna!"
Anna menoleh ke arah pria tua yang tak lain, Pengacara. "Ayah anda berhutang pada Tuan muda, dan dia tidak mampu membayarnya."
Anna memang sudah mendengar hal itu, sewaktu tidak sengaja mendengar pembicaraan orangtuanya. Tapi, Anna tidak menyangka jika orangtuanya menjadikannya sebagai pelunas hutang.
"Tidak! aku menolaknya!" pekik Anna.
"Anna! seru Alan.
" Plak!!"
"Jaga sikapmu!" Alan mendengus kesal, ia merasa telah di permalukan oleh sikap Anna.
Anna menatap Alan dengan mata berkaca kaca, "ayah mencariku hanya untuk membayar semua hutangmu bukan?"
"Tuan Alan, kau sudah membuatku marah." Haira berdiri menatap tajam Alan. Sementara Sano dan Aldrien hanya diam memperhatikan.
Anna berlari mendekati Genzo dan bersimpuh di hadapannya. Melihat sikap Anna di luar dugaan, Alan langsung berjalan mendekati Anna dan menarik kasar lengan Anna. Namun Anna tetap tak bergeming bersimpuh dengan tatapan penuh harap pada Genzo.
"Tuan, aku mohon. Masih ada cara lain selain perjodohan ini.." ucap Anna lirih. "Aku tidak mau menikah tanpa adanya Cinta. Begitu juga dengan Tuan bukan?"
Genzo menatap tajam Anna. "Tuan, aku akan membayar hutang Ayahku. Aku akan mencicilnya setiap bulan."
"Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa melunasinya." Genzo mendekatkan wajahnya menatap Anna.
"Jika harus seumur hidupku, aku akan melakukannya Tuan, percayalah. Aku akan membayarnya."
Genzo menarik tubuhnya lalu bersandar di kursi dengan tatapan lurus ke arah Anna. "Aku pikir, dia akan menerima perjodohan ini. Aku akan beri kau kesempatan, tapi aku yakin. Kau akan memohon untuk menikahimu, aku pastikan itu," ucap Genzo dalam hati.
"Bagaimana Tuan?" Anna masih duduk bersimpuh.
"Baiklah, aku penuhi permintaanmu. Tapi dengan syarat, kau harus membayarnya tepat waktu. Jika terlambat satu hari saja, maka hutang Ayahmu akan bertambah."
Mata Anna berbinar, ia mengusap air mata di pipinya. Tersenyum lebar menatap Genzo. "Terima kasih Tuan..terima kasih.." Anna menundukkan kepalanya sesaat. Lalu berdiri menatap Alan.
"Tidak Anna, jangan mempersulit semuanya, kau dapat uang dari mana?" Alan bersikeras pada pendiriannya. Ia saja tidak mampu membayar hutangnya, apalagi Anna?
"Aku mohon, beri aku kesempatan. Akan aku buktikan semua ucapanku." Anna melipat kedua tangannya. Menatap penuh harap, ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan tempat di hati kedua orangtuanya.
"Tuan Alan, ini keputusanku. Kau tidak perlu ikut campur lagi dalam urusan ini." Genzo berdiri menatap Alan tajam.
"Tuan?"
"Ya, kau pergunakan saja uang itu sesukamu. Urusan ini hanya aku dan dia." Genzo memalingkan wajahnya menatap Anna.
"Baiklah Tuan, terima kasih." Alan menarik tangan Anna lalu melangkahkan kakinya mendekati Elama.
"Ibu.."
"Sayang.." Elama memeluk Anna dengan erat.
"Tuan Genzo, terima kasih." Alan membungkukkan badannya sesaat. "Kalau begitu, kami permisi." Kembali Alan membungkukkan badannya di ikuti Elama dan Anna. Lalu mereka beranjak pergi meninggalkan ruangan.
"Kak, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Sano berjalan mendekati Genzo.
"Anak itu benar benar di luar dugaan." Haira menggelengkan kepalanya.
Genzo hanya diam, lalu ia melangkahkan kakinya keluar ruangan. Berdiri di depan kaca jendela menatap ke bawah, memperhatikan Anna. "Seberapa kuat kau bisa bertahan, Anna."
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐