Tiga tahun lalu, Lin Tian adalah jenius nomor satu di Kota Daun Merah sebelum takdir menghancurkan seluruh meridiannya. Menjadi sampah yang diinjak-injak semua orang tidak membuat pemuda ini menyerah pada nasib buruknya.
Keberuntungan berubah saat darahnya membangkitkan Mutiara Yin-Yang Primordial, pusaka kuno yang menyimpan jiwa Permaisuri Iblis seksi bernama Yue Chan. Di bawah bimbingan sang permaisuri, Lin Tian memulai jalan kultivasi ekstrem melalui pembantaian dan kultivasi ganda.
Dia bukan pahlawan suci, melainkan kultivator bermuka tebal yang sangat realistis. Jika musuh terlalu kuat, dia akan melarikan diri, menyebarkan racun, atau menikam dari belakang.
Namun, siapa pun yang berani menyentuh wanitanya akan menghadapi pembalasan paling kejam. Saksikan kisah Lin Tian menghancurkan surga dan menjadi penguasa tertinggi alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Hujan Darah di Kota
Angin malam berembus cukup kencang membawa aroma tanah basah dari arah perbukitan. Lin Tian menghentikan langkah kakinya tepat di sebuah gubuk tua pinggiran hutan.
Gubuk beratap jerami itu terletak sekitar tiga mil dari gerbang Kota Daun Merah. Tempat ini sangat sunyi dan jarang dilewati oleh para pemburu lokal maupun pedagang.
Lin Tian menurunkan perlahan tubuh Su-er dari atas punggung bidangnya yang kokoh. Gadis kecil itu tampak masih sedikit lemas setelah menempuh perjalanan jauh dari jurang.
“Tuan muda, apakah kita sudah sangat dekat dengan wilayah kekuasaan klan musuh?” Su-er bertanya sambil memandangi kelap-kelip lampu kota dari kejauhan luar jendela.
Lin Tian tidak langsung memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan pelayan kecilnya. Dia justru berjalan menuju sudut ruangan untuk memeriksa kondisi struktur lantai gubuk.
Tangan kanannya bergerak cepat mengambil lima buah batu spiritual tingkat rendah dari kantong. Batu-batu tersebut berkilau memancarkan sedikit riak energi murni yang berwarna hijau muda.
Lin Tian menanam batu-batu itu pada posisi lima penjuru mata angin ruangan. Dia kemudian mengalirkan sedikit qi cairnya melalui ujung ibu jari kanan bawah.
WUSSS
Sebuah lingkaran formasi penyembunyi aura berukuran kecil perlahan mulai aktif menutupi gubuk. Cahaya formasi tersebut berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyatu tersembunyi dengan tanah.
“Kamu harus tetap tinggal di dalam gubuk ini sampai aku kembali menyelesaikan urusan.” Lin Tian berbicara dengan nada suara yang sangat datar namun mengandung kepastian.
Dia menyerahkan tiga buah jimat pelindung tingkat rendah kepada Su-er yang terduduk. Jimat-jimat kertas kuning itu berisi kekuatan pertahanan murni untuk menahan serangan fisik.
Su-er menerima jimat tersebut dengan kedua telapak tangannya yang sedikit gemetar pelan. Dia mengangguk patuh memahami bahwa keberadaannya di kota hanya akan menjadi beban.
“Hamba akan selalu menunggu kedatangan tuan muda kembali di tempat sunyi ini.” Su-er berbisik pelan sambil menggenggam erat kertas jimat pelindung di dalam jemarinya.
Lin Tian membalikkan badannya lalu melangkah keluar melewati pintu kayu gubuk tua. Dia segera mengenakan sebuah kain penutup wajah berwarna hitam pekat misterius itu.
Malam semakin larut ketika sosok Lin Tian mulai mendekati dinding pembatas kota. Tembok pertahanan Kota Daun Merah berdiri kokoh setinggi dua puluh meter ke atas.
Bagi seorang kultivator ranah Pengumpulan Qi biasa, tembok ini sangat sulit ditembus. Namun bagi Lin Tian yang telah mencapai ranah Pembangunan Fondasi, ini sangat mudah.
Dia melepaskan indera spiritualnya untuk memindai posisi para penjaga di atas gerbang. Dua orang prajurit klan lokal tampak sedang bersandar malas memegang tombak besi.
Lin Tian menekuk sedikit kedua lututnya untuk mengumpulkan daya dorong otot kaki. Aliran qi cair mengalir deras menuju meridian bawah menciptakan traksi tanpa suara.
BOOMMM
Tubuh Lin Tian melesat ke atas laksana bayangan hantu malam membelah kegelapan. Dia melewati puncak tembok pembatas tanpa menimbulkan getaran angin sedikit pun di udara.
Kedua telapak kakinya mendarat mulus di atas atap sebuah rumah kosong pinggiran. Lin Tian merayap cepat menyusuri bayangan bangunan menghindari pancaran lampu obor jalanan.
Suasana Kota Daun Merah tidak banyak berubah sejak kepergian tragis keluarga klan Lin. Namun bendera bergambar lambang serigala milik Klan Zhao kini berkibar di mana-mana.
Pemandangan tersebut tidak membuat emosi di dalam dada Lin Tian bergejolak meledak marah. Dia justru menjadi semakin dingin dan tenang dalam menyusun rencana eksekusi.
'Klan Zhao saat ini memiliki tiga tetua inti ranah Pembangunan Fondasi tingkat awal.' Suara Yue Chan terdengar mengalun memberikan rincian data intelijen di kepala Lin Tian.
'Pemimpin klan mereka berada di tingkat ketiga ranah Pembangunan Fondasi saat ini.' Penjelasan tambahan itu diterima Lin Tian sambil terus melompati beberapa atap rumah.
Lin Tian memutuskan tidak akan melakukan penyerangan terbuka ke kediaman utama klan Zhao. Dia lebih memilih memotong rantai kekuatan mereka secara perlahan dari bayangan malam.
Tujuan pertamanya malam ini adalah sebuah rumah bordil mewah di pusat kota. Tempat itu merupakan area hiburan yang dikelola langsung oleh salah satu sepupu klan.
Lin Tian bertengger sunyi di atas dahan pohon besar samping bangunan rumah bordil. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara tawa sekelompok pria di dalam ruangan.
Di dalam kamar utama lantai dua, seorang pria gemuk sedang minum arak. Pria itu adalah Zhao Peng, manajer logistik sekaligus keponakan dari pemimpin klan.
Kultivasi Zhao Peng hanya berada di tingkat keenam ranah Pengumpulan Qi yang lemah. Dia terlihat sangat lengah dikelilingi oleh tiga orang wanita penghibur pakaian minim.
Lin Tian membuka jendela kamar tersebut dari luar menggunakan aliran qi yang tipis. Gerakan kayu jendela itu sangat halus sehingga tidak memicu kecurigaan siapa pun.
WUSSS
Sosok hitam Lin Tian sudah berdiri tepat di belakang punggung besar Zhao Peng. Ketiga wanita penghibur itu bahkan tidak menyadari kedatangan tamu tak diundang tersebut.
Lin Tian menggerakkan tangan kanannya membentuk cakar elang yang sangat kokoh tajam. Jari-jarinya langsung mencengkeram tenggorokan Zhao Peng sebelum pria itu sempat berteriak minta tolong.
KRAAKK
Suara patahnya tulang leher terdengar sangat renyah di dalam keheningan kamar mewah. Mata Zhao Peng melotot keluar sementara tubuh gemuknya seketika kehilangan seluruh daya hidup.
Ketiga wanita di atas ranjang baru saja akan membuka mulut berteriak histeris. Namun Lin Tian lebih cepat mengibaskan lengan jubahnya melepaskan gas tidur spiritual.
BBUPP
Tubuh ketiga wanita itu langsung terkulai lemas jatuh pingsan di atas kasur sutra. Lin Tian mengambil jasad Zhao Peng lalu memasukkannya ke dalam karung kain.
Dia melompat keluar melalui jendela yang sama kembali menyatu dengan kegelapan malam. Target tempat pembuangan pertama malam ini adalah gerbang utama utara kota Daun Merah.
Lin Tian menggunakan seutas rantai besi tebal yang ditemukannya di gudang kosong. Dia mengikat pergelangan kaki mayat Zhao Peng lalu menggantungnya secara terbalik di gerbang.
Sebuah tulisan besar dibuat Lin Tian di atas dinding tembok menggunakan darah segar. Tulisan itu berbunyi sangat singkat namun padat menceritakan awal dari sebuah pembalasan.
“Utang darah keluarga Lin harus dibayar dengan seluruh nyawa klan Zhao.” Tulisan merah itu berkilau mengerikan di bawah siraman cahaya bulan malam yang redup.
Lin Tian segera meninggalkan area gerbang sebelum fajar menyingsing memecah kegelapan malam. Dia kembali bergerak mencari target kedua dari daftar anggota keluarga inti musuh.
Keesokan paginya, seluruh penduduk Kota Daun Merah digemparkan oleh pemandangan mengerikan di gerbang. Ratusan orang berkumpul melihat jasad Zhao Peng yang tergantung kaku berdarah.
Kepala penjaga kota langsung pucat pasi melihat tulisan dinding yang membawa nama Lin. Kabar buruk ini menyebar laksana api yang ditiup angin kencang ke seluruh penjuru.
Di dalam aula utama kediaman klan Zhao, suasana terasa sangat mencekam menakutkan. Zhao Jingtian, pemimpin klan, menghantam meja gioknya hingga hancur berkeping keping.
BRAAKK
“Siapa bajingan yang berani melakukan ini di wilayah kekuasaan klan milikku!” Zhao Jingtian berteriak dengan urat-urat leher yang menegang keras menahan amarah yang besar.
Seorang tetua klan maju ke depan dengan tubuh yang sedikit membungkuk gemetar. “Berdasarkan tulisan darah di dinding gerbang, pelakunya membawa nama klan Lin yang musnah.”
Mendengar nama klan Lin disebut, mata Zhao Jingtian seketika menyipit memancarkan kilatan tajam. Dia mengira seluruh keturunan klan Lin telah mati dibantai satu tahun lalu.
“Perketat seluruh jalur patroli kota dan tempatkan lima prajurit di setiap sudut!” Zhao Jingtian memberikan perintah tegas dengan nada suara yang dipenuhi oleh niat membunuh.
Namun semua persiapan keamanan ketat itu sama sekali tidak berguna di hadapan Lin. Pada malam kedua, Lin Tian kembali bergerak laksana hantu yang tidak berwujud fisik.
Target keduanya adalah Zhao Liang, seorang kapten patroli yang terkenal sangat kejam. Pria ini sedang memimpin pasukan melintasi sebuah gang sempit yang gelap gulita.
Lin Tian muncul dari atas atap menjatuhkan diri tepat di tengah formasi pasukan. Pedang Berat Hitam di punggungnya tidak dicabut melainkan hanya menggunakan pukulan tangan kosong.
BBUUGGHH
Satu pukulan telak menghantam dada prajurit depan hingga tulang rusuknya hancur berantakan. Lin Tian bergerak laksana kilat menyambar leher Zhao Liang yang sedang memegang pedang.
Pria itu mencoba menangkis menggunakan bilah senjatanya namun kekuatan fisik Lin terlalu besar. Jari-jari Lin Tian meremukkan bilah pedang besi itu menjadi serpihan kecil hancur.
ZRRTTT
Aliran listrik spiritual murni dari mutiara hitam melumpuhkan seluruh sistem saraf tubuh Zhao Liang. Lin Tian menyeret tubuh kapten itu masuk ke dalam gang gelap meninggalkan sisa pasukan.
Sebelum para prajurit lain sempat menyadari apa yang terjadi, Lin Tian sudah menghilang. Jasad Zhao Liang ditemukan keesokan paginya tergantung di tempat yang sama dengan sepupunya.
Darah segar menetes lambat dari ujung jari jasad tersebut menciptakan genangan di tanah. Fenomena mengerikan ini mulai disebut oleh para penduduk sebagai awal hujan darah kota.
Ketakutan massal mulai melanda seluruh anggota keluarga klan Zhao tanpa terkecuali lagi. Beberapa anggota klan luar bahkan mencoba melarikan diri meninggalkan kota secara sembunyi-sembunyi.
Namun Lin Tian telah menutup seluruh jalur pelarian luar menggunakan indera spiritualnya yang tajam. Setiap orang yang memiliki darah klan Zhao akan menjadi sasaran eksekusi mati.
Malam ketiga dan keempat menjadi saksi bisu hilangnya lima anggota inti klan. Gerbang utara kota kini dipenuhi oleh jajaran jasad yang tergantung laksana jualan daging.
Aroma amis darah yang sangat pekat menguar memenuhi udara di sekitar gerbang utama. Para penduduk tidak ada yang berani mendekati area tersebut karena tekanan aura membunuh.
Zhao Jingtian merasa jiwanya sedang dipermainkan oleh musuh yang tidak terlihat wujud fisiknya. Dia menyadari bahwa pelaku pembunuhan ini memiliki tingkat kultivasi yang sangat tinggi.
'Bocah ini benar-benar memiliki metode penyiksaan mental yang sangat disukai oleh bangsa iblis.' Yue Chan memberikan pujian batin melihat perkembangan situasi kota yang semakin kacau balau.
Lin Tian tidak mempedulikan pujian tersebut karena fokusnya kini tertuju pada sang pemimpin. Umur klan Zhao di Kota Daun Merah secara resmi akan berakhir pada malam kelima ini.
Dia berdiri tegak di atas menara pengawas gerbang memandangi jajaran mayat para korbannya. Angin malam bertiup mengibarkan jubah hitamnya menciptakan atmosfer kematian yang sangat pekat mengerikan.
Langkah kaki pertama menuju pembalasan dendam garis keturunan keluarganya telah berjalan sesuai dengan rencana awal. Kini saatnya memancing sang kepala serigala keluar dari sarang mewahnya untuk eksekusi final.
tapi ini kok aku rasa keterlaluan bersikap dingin kepada semuanya walaupun orang itu baik dan benar-benar setia kepada dia
bahkan terhadap orang yang berbuat baik kepadanya
tak perlu membuang-buang energi hanya untuk menyelamatkan orang yang pernah mencampakkanmu dan memandang rendah pada dirimu👍👍👍