Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Aku tahu ada yang salah saat pria itu melewati pintu masuk hotel. Tak seorangpun keluar-masuk hotel dengan bebas tanpa pengawasan timku, dan aku mempunyai firasat kedatangannya malam ini bukan kebetulan. Dia salah satu anak buah Ernesto, aku tahu itu. Aku merasa cukup percaya diri untuk melanjutkan kencan dengan Millie setelah menyuruh Javer mengawasi gerak-geriknya, kemudian situasinya memburuk dengan cepat.
Begitu Millie beranjak, aku langsung menemui Javer, dan disitulah kami melihat pria itu mengikuti Millie ke dalam lift. Kami bergerak secepat mungkin, tapi setiap detik yang terlewati terasa sangat lama.
Javer buru-buru meminta petugas membuka paksa pintu lift, dan kami mendapati pria itu menahan Millie di dinding sambil menodong pistol ke bagian samping tubuhnya. Dia memutar kepala, seketika menarik diri dari Millie karena terkejut melihat kedatangan kami.
"Hei, bung... Ini tidak seperti..."
Aku menghampirinya, menarik kerah bajunya dan membantingnya ke dinding, lalu menekan lehernya dengan lenganku. "Tidak seperti yang terlihat. Apa itu maksudmu?"
Pria itu tersentak dan mendadak gagap, berusaha menghirup udara. Wajahnya mulai membiru sementara dia berusaha melepaskan diri. "Dia..." Aku melonggarkan cengkeraman, memberinya ruang untuk bicara. "Dia yang menginginkannya."
Seolah ingin membuktikan ucapan pria itu, aku melirik Millie yang dengan cepat menggelengkan kepala. Dia meringkuk di sudut lift, gemetar ketakutan sementara pipinya dibanjiri air mata.
"Tutup mulutmu!" kata Javer, menodong kepala pria itu dengan pistolnya.
Aku bergeser mendekati Millie, membantunya berdiri. "Kau baik-baik saja?" Dia bahkan tidak menjawab, hanya terisak dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Semua keberanian dan kepercayaan diri yang dimilikinya beberapa menit lalu telah lenyap. "Tenanglah, Millie. Kau aman sekarang."
"Siapa kau?" tanya Javer, nadanya tegas dan keras.
"Ernesto yang menyuruhku kesini."
Darahku seketika mendidih mendengar pengakuannya. Ernesto lagi. Dia berbohong tepat di depan mataku. Menyuruh orang untuk mendekati Millie saja sudah suatu kesalahan besar, apalagi melakukannya di tempat usahaku. Aku memberinya kesempatan hari itu, tapi kesalahan tidak boleh terulang kembali. Dan pria ini harus bertanggung jawab sebelum aku menangkap bosnya.
Aku melepaskan Millie, mencengkeram leher pria itu lalu membanting tubuhnya dengan keras ke lantai. Semakin dia melawan, semakin aku mencengkeram lehernya, menikmati ketakutan di matanya. Dia tidak sebanding denganku, tendangan dan pukulannya sungguh tak berarti. Aku mengangkat tangan dan meninju hidungnya, hingga darahnya menyebar kemana-mana. Millie terkesiap di belakang, membuatku tersadar.
"Tidak di depannya, Orion..." Javer mendorong dagu ke arah Millie. Aku benci mengakuinya, tapi dia benar. Ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membunuh pria itu. Orang-orang juga mulai berdatangan untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Dengan ragu-ragu, aku memegang tangan Millie dan menariknya ke lift pribadiku. Aku harus membawanya ke tempat yang lebih aman supaya dia tenang.
Mungkin aku percaya ini kebetulan jika hanya sekali percobaan, tapi Ernesto mengulanginya lagi. Dan tindakan malam ini jauh lebih nekat dari yang kubayangkan mampu dilakukan oleh seekor domba dungu seperti Ernesto. Pasti ada garis yang menghubungkan dia dan Millie, dan aku harus menemukannya. Dan seandainya Millie terbukti berbohong, semoga Tuhan menyelamatkannya.
Millie masih gemetar ketika kami masuk ke griya tawang yang kadang-kadang kujadikan tempat beristirahat.
"Tempat apa lagi ini?" Dia melangkah dengan ragu, suaranya masih bergetar. Dia tidak mempercayaiku, tapi cukup tahu diri untuk tidak membangkang. Setidaknya dia sadar posisinya aman jika bersamaku.
"Rumahku. Aku punya satu di setiap hotel untuk memudahkan pekerjaan."
Millie tidak mengatakan apa-apa sementara melangkah ke ruang keluarga, kemudian duduk di sofa dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya, tidak tahu harus memulai dari mana. Sensitivitas bukan keahlianku karena sejak kecil ayahku selalu mengatakan itu hanya membuatku lemah, dan musuh-musuhku akan menggunakan itu sebagai senjata.
Aku tidak tahu bagaimana cara menenangkan Millie, membuatnya merasa lebih baik, dan tidak tahu apakah aku harus menghiburnya sampai aku yakin dia tidak berbohong.
"Apakah dia menyakitimu?"
Millie menggelengkan kepala. "Tidak, untungnya. Tapi... bagaimana jika mereka kembali?"
"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau harus tetap disini, setidaknya untuk malam ini. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjagamu."
"Kenapa kau mau melakukan ini untukku?"
Pertanyaan yang bagus. Kenapa aku mau membuang waktuku yang berharga dan mencoba mencari akar dari permasalahan ini? Di hanya wanita biasa, kan?
Tidak. Aku merasakan sesuatu yang berbeda pada wanita ini, yang tidak pernah kurasakan seumur hidup. Bukan sekedar hasrat sesaat, tapi lebih dari itu. Aku merasa harus membantu Millie, seakan tindakan Ernesto merupakan masalah pribadi, dan aku harus melindunginya.
Aku tahu persis tidak seharusnya aku ikut campur dalam urusan mereka, namun aku tidak sanggup melihat Millie terluka. Dan mengikatnya padaku hanya akan membuatnya semakin berada dalam bahaya. Meskipun pahit, aku harus menjauh darinya demi memastikan keamanannya. Tapi, ada pula bagian dari diriku yang mengatakan ini layak di coba.
"Karena aku tidak suka melihat wanita disakiti, dan Ernesto jelas tahu itu. Dia sengaja mengirim orang saat kau bertemu denganku." gumamku menjelaskan. "Aku harus menemui Javer. Tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar, kan?"
"Jadi, kau tidak mau membicarakan kejadian barusan?" katanya mendengus kasar. Apa dia membentakku?
"Oh, dengan senang hati." jawabku, mengeluarkan tawa sinis. Aku berniat memberinya waktu untuk menenangkan diri, tapi sikapnya membuatku berubah pikiran. "Mari kita mulai dengan pertanyaan dari mana kau mengenal Ernesto?"
"Berapa kali lagi aku harus menjelaskan? Aku sama sekali tidak paham apa yang kau tanyakan."
"Percayalah, Millie, aku sangat ingin mempercayaimu. Demi Tuhan. Tapi yang kita bahas ini bukan manusia biasa. Ernesto memimpin sebuah sindikat mafia Italia dan dia mengincarmu. Tidak hanya satu, tapi dua kali upaya penyerangan, dan salah satunya di tempat usahaku dimana dia tahu ada banyak anak buahku disana. Ernesto tidak mungkin berani melakukan itu jika alasannya tidak cukup kuat."
"Kau lupa yang menjadi penjahat lainnya disini adalah kau. Mungkin ini semua salahmu."
"Menurutmu ini salahku?" balasku, mengerutkan kening. Aku baru saja menyelamatkan hidupnya dan dia justru menyalahkanku.
Millie mengangkat bahu. "Yah, ini bukan salahku. Dan kau sudah berbohong sejak kau memasuki galeriku. Dari mana kau tahu si Ernesto ini? Kenapa kau bisa berhubungan dengannya? Dan kenapa untuk sekali saja, kau tidak mau jujur padaku?"
"Kau menginginkan kejujuran? Baiklah..." Sungguh, aku tidak mau melibatkannya, tapi Millie tidak memberiku pilihan. "Aku tahu Ernesto karena aku pemimpin mafia Italia yang berlawanan dengannya. Hubungan kami tidak pernah baik selama bertahun-tahun, namun tidak sekalipun dia berani mengirim orang untuk mengganggu bisnisku seperti malam ini."
Mata Millie terbelalak. "Kau... apa?"
"Aku boss mafia." kataku. "Aku bukan orang yang tepat menemanimu bermain petak umpet, dan aku tidak suka memaksa, tapi jika kau tidak segera mengaku, percayalah kau mungkin lebih memilih mati dari pada harus berurusan denganku." Ancamanku berhasil membuatnya menciut.
"Orion, Demi Tuhan, aku tidak tahu siapa Ernesto. Seumur hidup aku belum pernah melihat orang sepertinya." Dia menangkup wajah dengan kedua tangan. "Tidak seharusnya aku pindah kesini. Jika aku tahu banyak geng mafia disini, aku takkan mau menginjakkan kaki di New York."
"Oh, percayalah, Millie... di Rhode Island juga ada mafia."
Seketika Millie mengangkat kepala dan menatap tajam padaku. "Bagaimana kau tahu aku dari Rhode Island?"
"Aku tahu segala hal yang berhubungan denganmu, Millie. Aku tahu kedua orang tuamu, Susan dan David, kan?" Wajahnya berubah pucat. "Dan adikmu laki-lakimu, Elijah? Dia atlet berbakat. Aku suka melihat permainannya terutama saat dia bertanding bulan lalu. Aku tahu setiap catatan pelanggaran, nilai sekolah, bahkan daftar kunjunganmu ke dokter. Aku tahu kau pernah di tunjuk mewakili sekolahmu untuk lomba lari, aku tahu kau hampir mati karena memakan kue almond di hari ulang tahun salah satu temanmu. Omong-omong, kau harus memberitahu orang lain bahwa kau alergi almond sebelum menerima undangan mereka." Aku tersenyum ketika melihat rona merah muda tipis di pipinya.
"Namun," kataku melanjutkan. "Yang tidak kutemui adalah garis yang menghubungkanmu dengan Ernesto. Kira-kira apa yang diinginkan Ernesto darimu? Awalnya aku mengira ini hanya kebetulan, tapi setelah malam ini, aku tahu persis ada alasan besar dibalik rangkain kejadian yang menimpamu."
Millie bergeser menjauh dariku, rasa takutnya semakin besar. "Orion... tidakkah kau berpikir seandainya aku tahu apa yang mereka inginkan, aku pasti memberitahumu agar kau bisa membantuku?"
Jawaban Millie ada benarnya. Aku satu-satunya orang yang bisa melindunginya dari Ernesto, jadi mana mungkin dia mengambil resiko dengan menyembunyikan motif bajingan itu.
Dia menangis lagi, air mata semakin membasahi pipinya. Aku tidak mempertimbangkan betapa berat bagi Millie melalui semua ini, dan tanpa sadar mungkin aku terlalu keras padanya. Aku sudah kebal dengan masalah semacam ini sehingga terkadang lupa bahwa tak semua orang hidup seperti aku. Untuk beberapa alasan, aku percaya padanya.
"Aku hanya ingin pulang. Bisakah salah satu anak buahmu mengantarku?"
"Baiklah." kataku, menarik napas putus asa. Jika dia tidak mau tahu tentang bahaya yang mengancamnya, maka aku tidak akan memaksa. "Pergi dan lemparkan nyawamu pada mereka. Aku tidak peduli." Ucapanku membuatnya gemetar, dan dia terdiam. "Tom akan menyiapkan mobil untukmu. Selamat malam, Millie."
Aku melangkah keluar, tidak sanggup bertahan lebih lama di dalam. Mungkin aku tidak akan pernah beranjak jika tetap diam semenit lagi. Mungkin aku akan memohon agar dia tetap tinggal demi memuaskan egoku sendiri.
Aku tak punya pilihan selain pergi. Bahkan walaupun aku ingin menghabiskan waktu dengannya, ada tanggung jawab yang menungguku. Setelah menutup pintu, aku langsung menghubungi Javer. "Dimana kau?"
"Kantormu." jawabnya tanpa lama. Aku menutup panggilan dan berjalan ke kantor.
Yang kuinginkan sekarang adalah mendatangi Ernesto dan mematahkan lehernya dengan tanganku sendiri, mengulitinya hidup-hidup sebelum menghancurkan tulang-tulangnya. Aku ingin dia menderita, menyesal karena berani mengganggu tempatku. Aku ingin dia berpikir kembali jika ingin sekedar berpapasan denganku. Aku bersungguh-sungguh saat mengatakan kepada Millie bahwa ini sudah menjadi masalah pribadi.
Aku membuka pintu, melihat Javer dan Damien duduk di seberang kursiku.
"Dimana dia?" tanya Javer, mendorong setumpuk foto padaku. Foto yang mengkonfirmasi kecurigaan kami bahwa pria yang menyerang Millie malam ini adalah anak buah Ernesto. Damien mendapatkan melalui perangkat pengenalan wajah.
"Di atas. Dia masih sangat ketakutan, jadi tidak banyak kesempatan untuk bicara dengannya." Aku menyisir rambut dengan jemariku, mempertimbangkan langkah selanjutnya. Tidak penting siapa targetnya, tapi Ernesto salah besar karena memilih restoranku sebagai tempat beroperasi.
"Kita tidak boleh lagi menganggap kasus ini hanya kebetulan." ucap Javer. "Dia menginginkan Millie. Dan kau harus memutuskan sejauh mana kau mau membantunya."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku, apakah dia pantas untuk di bantu? Sudah jelas dia berbohong, dan jika masalah ini murni hanya antara mereka, kita hanya menjerumuskan diri ke tempat yang tidak seharusnya. Kita yang salah."
Aku menertawakan asumsinya. Javer selalu berpikir dengan logis, salah satu hal yang membuat kami cocok. Dia tahu kapan harus menekan sisi diriku yang lembek, dan mendorong sisi kejam yang diperlukan saat berhadapan dengan kekerasan. Sebuah keseimbangan yang sangat berguna. Tapi sekarang, posisiku tidak terlalu menjanjikan.
"Kita tidak salah, Javer. Dari segi manapun. Kita tahu sejarah Ernesto, terutama caranya memperlakukan perempuan. Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara mereka, tapi aku tidak akan duduk diam menyaksikan Ernesto terus mengejarnya. Satu lagi, kita tidak tahu apakah Millie benar-benar berbohong. Satu hal yang pasti adalah dia sangat trauma dan ketakutan karena masalah ini. Dan dia punya alibi yang kuat, jika dia tahu alasan Ernesto terus mengincarnya, kenapa tidak memberitahu kita agar kita bisa membantunya?"
"Karena Millie sadar dia pantas mendapatkannya." Damien menimpali. "Tidak mungkin dia mau membuka aib yang mungkin mempermalukannya."
Aku melemparkan tatapan dingin. Siapa dia berani menuduh Millie seperti itu? "Dua kali hampir di perkosa, keduanya terjadi tepat di depan matamu, dan menurutmu itu pantas? Silahkan keluar kalau kalian tidak mau terlibat."
"Dengar, intinya adalah kita tidak mengetahui apa-apa. Mungkin saja Millie tidak bersalah dan Ernesto murni hanya tertarik padanya, atau mereka memang terikat pada suatu titik, dan itu bukan urusan kita. Jadi, kita akan tetap menjaganya. Ada banyak orang yang bisa melakukannya kalau memang itu yang kau inginkan. Tapi, di luar itu kau harus melepaskannya. Tidak perlu melibatkan diri lebih jauh."
"Oh, jangan memulai." kataku, mengangkat tangan. Sekarang bukan waktunya mendengar ceramah.
"Aku serius. Berhenti mencampuri urusan orang lain." lanjut Javer.
"Aku tidak mencampuri urusan orang lain." balasku, memutar mata.
"Dia bukan gadis biasa yang bisa dirayu dan dibuang begitu saja. Kau menempatkan keluarga kita dalam bahaya hanya karena keinginanmu untuk menidurinya."
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin menidurinya. Aku cuma ingin memecahkan teka-teki apa yang mungkin di cari Ernesto dari seorang seniman muda seperti Millie."
"Alasan yang bagus."
Aku menarik pistol yang kuselipkan di pinggang celana dan menodongkan ke arah Javer.
"Turunkan senjatamu sebelum kau melukai seseorang." Javer bahkan tidak berkedip. "Hati-hati saja, okay? Tak seorangpun gadis yang pantas untuk memulai peperangan."
"Sampai jumpa, Javer." kataku, menghindari kontak mata.
"Dan jangan bekerja semalaman." Javer berdiri, merenggangkan tubuh.
"Sampai jumpa, Javer." dengusku mengulangi. Dia langsung melangkah keluar dan menarik pintu.
Ini akan menjadi malam yang panjang.