SEOLAH SEMUA INI MIMPI!!
YA, INI PASTI HANYA MIMPI!
Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa aku sudah berubah status dari gadis biasa menjadi seorang istri pria tua buruk rupa yang lebih pantas kupanggil paman atau bahkan ayah!!
Namun sial!
Nasibku sejak lahir tidak sebaik nasib kedua kakakku yang cantik jelita dan disayang Ayah dan Ibu. Kelahiran ku tidak pernah direncanakan. Katanya saat aku lahir seluruh bisnis keluarga kami hancur berantakan. Padahal bukan kesalahanku, tapi mereka (ayah,ibu, kedua kakak bahkan sampai nenek buyutnya pamanku) menyebut aku sebagai anak pembawa sial.
Selama tujuh belas tahun hidup, aku diasingkan di gubuk tua yang jauh di belakang rumah. Dan hebatnya, saat aku diasingkan, bisnis keluarga kami kembali membaik. Apa mungkin aku benar benar seorang pembawa sial?
Kesialan itu tidak berakhir, hingga aku dipaksa menikahi seorang pria tua yang datang ke rumah untuk melamar. Kenapa aku dipaksa? padahal aku anak kandung mereka juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Menderita Karena Takdir
Ruby syok, dengan telanjang kaki dia melangkah pergi dari depan pintu itu.
Dadanya terasa sesak, dia tak bisa bernafas, pikirannya kacau dan kepalanya terasa sangat sakit.
Pantas saja Ibunya sangat membenci dia. Setiap melihat Ruby, nyonya Manta selalu terbawa amarah dan kerap memukuli Ruby tanpa perasaan.
Ternyata dia adalah beban yang membuat hidup ibunya hancur. Dia adalah sumber masalah yang tidak diinginkan oleh siapapun, dia adalah seorang anak yang tidak diharapkan kehadirannya, sebuah kesalahan yang tidak seharusnya lahir ke dunia.
Seluruh kehidupan Ruby runtuh. Dia menangis dalam diam, bibirnya berdarah karena dia gigit, dadanya sangat sesak, entah bagaimana bisa dia mengatur pikirannya saat ini.
Dia mendengar semua itu, hatinya hancur berkeping-keping. Dia yang menyebabkan senyum di wajah ibunya memudar seiring waktu berjalan.
"Ma.. Maafkan Ruby, Ma.. Ini salah Ruby karena lahir ke dunia ini, ini semua salah Ruby," ucapnya sembari menyusuri anak tangga perlahan-lahan.
Air mata gadis itu berjatuhan, tubuhnya gemetar hebat. Pasokan udaranya serasa diambil semua, dia merasa dirinya kotor dan tidak layak untuk hidup, dia merasa dia adalah penyebab kehancuran keluarga Magenta.
Gadis itu berjalan tertatih-tatih, tangannya dia letakkan di dinding untuk menahan tubuhnya yang akan segera ambruk. Rasa sesak dan kesedihan nya semakin mendalam.
Dia semakin tidak bisa membenci ibu dan keluarganya. Dia semakin tidak bisa menaruh dendam pada mereka, Karena kehadiran-nya-lah yang menghancurkan kebahagiaan sang Ibu yang adalah korban pelecehan.
"Benar ucapan Mama, sebaiknya sejak awal aku tidak lahir, aku membawa sial, aku membuat mereka semua menderita, pantas saja Mama selalu marah!"
"Hatinya pasti sangat sakit ketika melihat wajah dari anak hasil pelecehan ini hiks hiks hiks... Ini salahku Ma...maaf telah lahir ke dunia ini.." gumamnya.
Gadis itu kembali ke ruangan pengantin perempuan dan duduk di sana sambil menangis sesenggukan.
Satu satunya yang bisa dia lakukan dengan harapan sang Ibu bahagia adalah merelakan dirinya menikahi pria tua yang katanya memiliki kutukan.
Gadis itu mengambil secarik kertas. Dengan segala kemampuan menulis dan membacanya, dia mengguratkan pulpen di atas kertas itu.
Menulis pesan menyedihkan, menulis isi hati seorang anak yang begitu mencintai ibunya meski dia dianggap parasit.
Rasa iri Ruby pada dunia, rasa iri Ruby pada kakak-kakaknya, rasa iri Ruby pada hewan-hewan yang juga disayangi keluarganya akan dia kubur dalam-dalam.
Karena dalam lubuk hatinya, dia sadar dirinya tidak layak mendapatkan kasih sayang itu.
Sambil menangis sesenggukan, dia menulis kata demi kata. Hingga kertas itu dipenuhi dengan tulisan Ruby yang berantakan.
"Jika menikah bisa membuat Mama bahagia, maka Ruby rela ma.. Setidaknya Mama tidak akan melihat wajah anak pembawa sial ini,"
"Ruby harap, Mama disembuhkan oleh waktu, Ruby harap Mama bisa tersenyum saat Ruby sudah pergi,"
"Jangan salahkan Papa, biar Ruby yang menanggung kesalahan itu Ma, Karena Ruby sadar sudah seharusnya Ruby tidak hadir dan merusak keluarga Mama dan Papa,"
"Maaf atas kekacauan yang Ruby sebabkan, tapi Mama harus tahu kalau Ruby sangat menyayangi Mama, semoga setelah Ruby menghilang, Mama hidup bahagia, Ruby mencintai Mama dan selamanya akan begitu," tulis nya perlahan lahan dalam kertas itu.
Dilipatnya kertas itu, lalu diselipkannya di meja rias yang sering digunakan nyonya Manta, berharap suatu saat nanti nyonya Manta akan melihat kertas itu.
Ruby mengusap air matanya, wajahnya yang dirias begitu jelek dia biarkan begitu saja. Biarkan agar keluarganya tertawa menatap dirinya, biarkan agar ayah, Ibu dan kedua kakaknya bahagia meski dia dihina dan menderita.
Sungguh dia adalah gadis yang berbeda. Entah terbuat darimana hati gadis muda itu, meski tahu kenyataannya, dia tidak menyalahkan Keluarganya, tidak membenci bahkan tidak menyimpan dendam sedikit pun pada mereka.
Sungguh kasihan dia, siapapun yang melihatnya tak tahu harus menyalahkan siapa atas takdirnya.
.
.
.
Brakkk!!!
Suara pukulan keras terdengar di dalam ruangan kerja Gamaliel Falcon. Wajah pria itu tampak menggelap, hatinya memanas setelah mendengar laporan dari sobatnya Robinson si ahli IT berkedok petani berdasi somplak.
"Kampret, kau membuatku kaget arhhhh hampir copot jantungku bangsat!!" umpat Robinson seraya mengelus dada karena pukulan tangan si singa galak Gama yang hampir membuatnya senam jantung.
"Robin, bagaimana bisa!?" Gama menatap Robin dengan tatapan tak percaya.
"Bro tenang dulu, kau mungkin terkejut, tapi keadaannya bukan keinginnya juga," ucap Robin berusaha menenangkan singa galak itu agar tak lagi mengamuk.
"Dari informasi yang gue dapat, dia memang bukan anak kandung tuan Magenta, tapi anak yang lahir setelah tragedi kelam belasan tahun lalu!"
"itu sebabnya nyonya Manta benci banget sama anaknya, sampai sampai si gadis itu diasingkan di hutan selama bertahun-tahun!" jelas Robin.
Hati perempuan mana yang tidak sakit ketika melihat anak yang lahir karena pelecehan itu tumbuh besar di depan matanya. Tetapi sedihnya,si anak yang malah jadi korban.
Padahal Ruby pun tidak mengingin status seperti itu, tetapi takdir mengirimkannya lahir ke dunia ini karena ada tujuannya sendiri!
“ Pantas saja Nyonya Manta sangat membenci Ruby,” ucap Gama.
“ kalau kondisinya begini, kita juga tidak bisa menyalahkan si Big Mama itu Gam, jelas dia juga menderita karena melihat Ruby, dan Ruby menderita karena takdir yang harus dia jalani sebagai anak yang....” Marco menghentikan ucapannya dan menatap mereka sebagai kode bahwa keduanya paham apa yang dimaksud oleh Marco.
“ Gama, kau sudah mendengar sendiri bukan bagaimana identitas gadis itu, apa kau masih berniat menikahinya? Dia itu.. dia anak haram!!” imbuh Jessica dengan nada tidak suka.
Sejak awal dia mendengar keputusan Gama akan menikahi gadis yang usianya jauh di bawah Gama, dia sudah tidak suka dengan gadis itu padahal mereka belum pernah bertemu,hanya sekedar melihat foto saja.
Bagi Jessica ini adalah kesempatan besar baginya untuk mencari kesempatan mendekati Gama dengan menyerang menggunakan status Ruby.
“ apa kau tidak takut mengotori namamu jika menikahi perempuan seperti itu? Ayah dan ibumu pasti tidak akan setuju jika mereka tahu ini!” ucap Jessica dengan wajah kesal.
“ Jesika!!” Suara hardikan Gama berhasil membuat bibir gadis itu terdiam membisu.
“je.. jes, kau keterlaluan,” ucap Robin yang tak suka dengan kata kata Jessica barusan.
“ ke.. kenapa? Aku mengatakan realitanya, dia itu anak haram hasil kecelakaan, tidak seharusnya tuan muda Falcon yang terhormat menikahi perempuan rendahan seperti dia, kau bisa memilih orang lain Gama, tapi bukan gadis itu, dia pasti pembawa sial !!” protes Jessica.
Panaslah hati Gama dan Robi mendengar ucapan Jessika, seang Marco hanya menatap datar ke arah Jesika dengan wajah kesal nan jengah atas perilaku temannya sendiri.
Terkadang Jessica menyenangkan tetapi sekalinya sifat egois dan arogansinya keluar, dia akan menjadi perempuan yang sangat menyebalkan.
“ Jessica, tidak ada anak yang haram di muka bumi ini, yang haram itu perbuatan pelaku pelecehan pada nyonya Manta, yang haram itu perilaku buruk dan kata kata tidak senonoh yang keluar dari mulutmu!!”
“aku tidak tahu kenapa kau seperti ini, apa karena rasa sukamu pada Gama, tapi jangan sampai merendahkan orang lain Jes, kau membuatku kecewa!!” umpat Robin yang tak senang dengan perkataan sahabatnya.
“ Bukankah kita sudah berjanji bahwa tidak akan ada percintaan dalam persahabatan kita? Kau membuatku kecewa Jes, ini tidak seperti dirimu, cinta membuatmu buta!!” tambah pria itu lagi.
Setelah mengatakan kalimatnya, Robin pergi dari sana dan berpesan pada Gama,” Sobat, aku tahu kau akan melakukan langkah yang benar, apapun keputusanmu akan ku dukung!” ucap Robin seraya menepuk bahu sahabatnya lalu pergi dan menghilang dari ruangan itu.
Marco pun turut mendekati Jessika,” Jes, seharusnya kau mengatakan hal seperti yang Robin katakan pada Gama, bukan malah menjelekkan calon istrinya, apa kau cemburu? Apa kau iri? Atau mencoba mengambil kesempatan? Sadar jes, kau sedang mempertaruhkan persahabatan kita selama bertahun-tahun!” ucap Marco pada gadis itu.
“Gam, keputusan ada di tanganmu, aku akan selalu mendukungmu sobat,” ucap Marco yang dibalas anggukan terimakasih oleh Gama.
Kini tinggal Jessica dan Gama yang ada di dalam ruangan itu. Suasana hening menyelimuti ruangan itu. Jessica terdiam seribu bahasa, sedang Gama hanya menatap Jessica sambil memasang topengnya.
“ Jes, Kau sahabat kami, jangan rusak hubungan kita dengan perasaan cinta sesaat,” ucap Gama seraya menepuk bahu sahabatnya itu lalu pergi meninggalkan Jesika di sana.
Jesika hanya diam, entah apa yang dia pikirkan saat ini, dia benar benar tidak tahu harus bagaimana, rasa cintanya pada Gama sangat besar, tapi dia terjebak dalam Friend Zone yang tak memiliki harapan untuk berkembang.
“ aku tidak bisa setuju Gam, dia tidak layak untukmu, bagaimana bisa seorang anak haram mengalahkan aku?” ucap Jessica yang menutupi hati nuraninya hanya karena cinta sesaatnya dan obsesinya pada Gama.