NovelToon NovelToon
Menjerat Istri Lumpuh

Menjerat Istri Lumpuh

Status: tamat
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:636.2k
Nilai: 5
Nama Author: Uffahazz_2

Perselingkuhan membawa Glacia pada kecelakaan tragis yang membuatnya divonis lumpuh. Hebatnya, setelah apa yang ia lakukan, Narendra masih kekeh mempertahankan pernikahan mereka. Alih-alih meninggalkan Glacia yang cacat, Narendra justru berperan baik merawat dan menjaga wanita itu meski berkali-kali dilempari makian.

Glacia benci Narendra, karena dialah sang ayah tak merestui hubungan Glacia dengan pacarnya. Apa yang sebenarnya Narendra pikirkan? Kenapa lelaki itu selalu menolak ajakan bercerai? Padahal Glacia sendiri tahu Narendra memiliki wanita idaman yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uffahazz_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Drama Memuakkan

"Nona, ini pakaian gantinya." Seorang pelayan menyerahkan sebuah dress kepada Glacia.

Dress tersebut diambil dari lemari pakaian milik Glacia di mansion besar itu. Glacia tengah berada di kamarnya untuk berganti baju. Akan tetapi, ia mengalami kesulitan.

"Nona mau saya bantu?"

Glacia berdecak. "Menurutmu? Kau pikir aku bisa memakainya sendiri dengan kondisi begini?" ketusnya sebal.

Pelayan itu menunduk segan. Ia minta maaf sebelum kemudian mendekat untuk membantu Glacia berpakaian. Dress sutera berwarna putih itu tak kalah cantik dengan baju Glacia sebelumnya. Setidaknya warna tersebut masih serasi dengan milik Narendra.

Sebenarnya Glacia tak peduli mau pakaiannya selaras atau tidak. Si pelayan cari aman saja dengan memilihkan dress tersebut, padahal Glacia sama sekali tak meminta.

Usai berpakaian Glacia tak langsung keluar kamar. Ia menyuruh si pelayan pergi sementara dirinya beralih ke balkon dan berdiam diri di sana.

Taman belakang sedikit terlihat dari tempat Glacia. Meski tak begitu jelas, ia masih bisa melihat siluet ayahnya dan juga Narendra yang kini tampak mengobrol dengan keluarga laki-laki lainnya. Entah, mungkin mereka membicarakan bisnis seperti biasa.

Di tengah keterdiamannya, Glacia mendengar langkah kaki dari arah belakang. Ia menoleh dan mendapati Claire berdiri di ambang pintu balkon.

"Lama tidak bertemu," ujar Claire halus. Perempuan itu mendekat dan berdiri di samping Glacia, memandang ke arah yang sama.

Keduanya sama-sama bungkam sesaat, hingga tak lama kemudian Glacia mendengus. "Ada apa? Kau mau membahas sahabatmu lagi?"

Claire tak menjawab, namun Glacia sudah bisa menebak meski rautnya tak menunjukkan pembenaran.

"Bukankah dia sudah bertunangan? Kenapa masih menyuruhmu merecokiku?" lanjut Glacia datar.

"Lizy tak pernah menyuruhku merecokimu," sanggah Claire.

"Lalu?" tantang Glacia.

Claire menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi. "Seharusnya kau sadar tanpa kujelaskan."

Glacia tertawa lirih, merasa lucu dengan perempuan di hadapannya. Ia lalu mendongak dan menatap Claire tajam. "Bukan aku yang tidak ingin bercerai. Tanyakan pada lelaki itu yang selalu menghindar dari perceraian!" tegasnya. "Tanyakan kenapa Naren selalu menghilangkan semua surat cerai dariku!"

Claire terdiam. Keduanya kini sudah sepenuhnya saling berhadapan.

"Memuakkan," desis Glacia lagi. "Keluarga ini benar-benar memuakkan." Ia membuang muka, kembali menatap halaman belakang, di mana punggung Narendra terlihat di sana.

"Lizy sangat patah hati saat Narendra memutuskan hubungan mereka. Ia juga sempat sakit lumayan parah," ujar Claire memberi tahu. Ia turut memandang halaman belakang seperti Glacia.

"Bukan aku yang merebut kekasihnya. Kekasihnya yang mau menikah denganku."

"Karena ayahmu."

"Dan salahkanlah ayahku," tukas Glacia. Ia benar-benar sudah muak dengan berbagai drama recehan ini. "Sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kalau sahabatmu mau, ambil saja. Aku tidak butuh gembel sepertinya. Dia hanya benalu di kehidupanku."

Setelah mengatakan itu Glacia berbalik pergi bersama kursi rodanya, meninggalkan pandangan Claire yang menatap rumit punggungnya yang kian menjauh hingga menghilang di telan pintu.

Claire menoleh lagi ke halaman belakang, tepatnya ia menatap Narendra yang masih setia di tempat duduknya. Sesekali ia dapati lelaki itu mengedarkan pandangan. Gesturnya nampak santai, namun ... tidak senyaman saat ada Glacia di sampingnya.

Claire mendengus lalu berbalik meninggalkan balkon.

***

Glacia sudah kembali ke meja makan. Ia tak menghiraukan Narendra yang tak lepas menatapnya sejak pertama kali ia datang. Pria itu seakan ingin mengatakan sesuatu, namun urung saat melihat wajah Glacia yang kurang bersahabat.

Makan malam berlanjut hingga selesai. Selama itu pula Glacia terus bungkam dan seolah menghindari Narendra. Bahkan, saat akan pulang pun wanita itu mendahului Narendra ke parkiran. Narendra yang saat itu masih berpamitan pada Yohanes, cepat-cepat undur diri dan segera menyusul Glacia.

Glacia sudah memasuki mobil, sebelumnya ia dibantu pengawal yang berjaga di depan mansion. Tangannya bersidekap di depan dada, wajahnya angkuh khas Glacia.

Narendra masuk, ia sempat mengamati Glacia sebelum kemudian menyuruh Julian melajukan kendaraan. Mobil membelah jalanan malam yang penuh dengan pendar lampu, dan keduanya masih dilingkupi keheningan hingga mereka tiba di rumah.

Glacia menolak Narendra yang hendak membantunya menduduki kursi roda, namun ia tak membantah ketika Julian yang melakukannya. Sudah jelas bahwa wanita itu menghindari Narendra.

Glacia membawa kursi rodanya memasuki rumah. Bayangannya menghilang seiring pintu lift yang menutup. Narendra sendiri masih berdiri di samping pintu mobil saat Julian mendekat menghampirinya.

"Tuan?" tegurnya pelan.

Narendra sedikit terperanjat, namun ia bisa menguasai rautnya hingga kembali normal. Narendra menoleh dengan alis terangkat pada sang asisten.

"Anda tidak masuk?" tanya Julian.

Narendra diam sesaat sebelum kemudian mengangguk. "Kau boleh pulang. Ingat, besok ada meeting pagi," ujarnya sebelum memasuki rumah.

Julian mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Selamat malam."

Di lantai atas, Glacia baru saja keluar dari lift. Ia mengarahkan kursi rodanya menuju kamar, namun sesuatu seolah menahannya hingga tak bisa bergerak.

Glacia menoleh, lalu memicing saat mendapati Narendra lah pelakunya. Pria itu menahan kursi rodanya dari belakang.

"Apa yang kau lakukan?" kesal Glacia.

Narendra masih bertahan dengan wajah datar. Ia menatap Glacia tepat di matanya. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara berat.

"Apa?" Glacia mengernyit tak mengerti karena Narendra malah balik bertanya.

Narendra tak langsung menjawab. Ia masih saja mengamati Glacia hingga wanita itu risih karena diperhatikan selekat itu.

"Kau terlihat kesal," cetus Narendra.

Glacia membuang muka. "Bukan urusanmu." Ia berniat menjalankan kursi rodanya lagi, namun rupanya Narendra urung melepaskan tangannya.

Hal itu tentu membuat Glacia kesal dan menoleh sengit. "Apa masalahmu?!" serunya keras.

Kesal, Glacia menepis kasar tangan Narendra dari pegangan kursi rodanya. Nafas Glacia mulai terengah menahan emosi. Sejak tadi ia mati-matian menahan diri, tapi Narendra malah memancingnya seperti ini.

"Kenapa kau selalu menolak perceraian?"

Narendra mengernyit samar, terlihat bingung dengan pembahasan tiba-tiba Glacia.

"Kau bertanya kenapa aku terlihat kesal, kan? Kenapa kau selalu menolak untuk bercerai?!"

Glacia tampak hampir frustasi. Ia menatap Narendra dengan sorot lelah yang tak pernah Narendra dapati. Ini pertama kali Glacia menatapnya seperti itu.

"Kenapa, Naren? Apa karena Papa?" tanya Glacia lagi. "Atau karena harta?"

Glacia tidak menyadari, namun raut Narendra berubah semakin datar.

"Kau takut kehilangan fasilitas jika kita bercerai?"

"...."

"Seharusnya kau tidak perlu khawatir, Papa terlalu menyayangimu untuk melakukan semua itu."

"Hiks, sialan, kenapa aku menangis?" gumam Glacia sembari menyeka air mata yang tiba-tiba keluar. "Aku lelah. Aku lelah dengan semua ini! Kenapa kau tidak menceraikanku saja, Naren? Aku cacat! Aku lumpuh! Dan aku juga selingkuh! Apa kau tidak malu memiliki istri sepertiku?! Seharusnya ini menjadi kesempatanmu untuk melepasku! Kenapa kau tidak melakukannya?!"

Glacia terisak, matanya menantang menatap Narendra yang bergeming. Pria itu sama sekali tak bersuara, hal yang biasa Glacia dapati ketika berbicara dengan Narendra. Glacia bodoh karena meluapkan segalanya di depan pria itu. Toh, semuanya akan sama saja, Narendra bukan solusi dari masalah yang ia punya. Pria itu lebih keras kepala dari dirinya sendiri.

"Kenapa kau tidak seperti Gallen? Akan lebih mudah kalau kau juga meninggalkanku," ujar Glacia parau.

Lama tak bersuara, akhirnya Narendra pun membuka mulut. "Jangan samakan aku dengan sampah sepertinya, dan untuk harta keluargamu, aku sama sekali tak membutuhkannya."

Suara Narendra terdengar tajam, selaras dengan matanya yang juga menyorot Glacia dengan tatapan mematikan. Pria itu marah, Glacia sangat menyadarinya. Terbukti dari rahangnya yang mengatup rapat, juga tangannya yang sedikit mengepal di sisi tubuh.

"Lalu, apa alasanmu tidak mau bercerai?" Glacia menatap Narendra menunggu, namun hingga bermenit-menit berlalu pria itu tak kunjung mengeluarkan suara.

1
Yeti Kosasih
Lizy perempuan penuh tipu muslihat .mengerikaan
Yeti Kosasih
Aaah sungguh cinta yg rumit....
Yeti Kosasih
Klo wanita SDH sakit hati ,mati rasa maka sesal yg di dpt pasangannya..menyesal seumur hidupmu Nareen..kamu pikir Lizy perempuan tulus dan kalem..kamu salah Lizy perempuan yg menakutkan yg penuh dgn sisat dan muslihat ditutupi topeng wanita lemah lembut..sereem
Yeti Kosasih
Aaah Glacy..akupun g bisa nyalahin kamu..pasti kamu murka ya..di bully dipermalukan..eeh Naren mlh cenderung asyeek berduaan sama Livy...
jujur aku mlh berharap kamu sama Rapael deeh...dia Dokter ,lembut dan sepertinya g byk menyimpan rahasia seperti Naren
Yeti Kosasih
Ayolaah Glacy..terimalah Naren..cba deeh turunin egomu berdamai dgn semuanya pasti yg kau rasakan keindahan...🥰🥰
Lia Ernawati
🥰
Ida Rianti
Luar biasa
Ida Rianti
Lumayan
Mujiningsih Mujiningsih
Luar biasa
Zahra Cantik
bagus & seruuu
Nurie
thor terbaik
Desi Asmarani
Luar biasa
Yeyet Agus
duh, novel ini sungguh bnyk misteri, sdkt tegang tp asyiiik. Tks thor, semangat berkarya.
Dysha♡💕
Luar biasa
Dysha♡💕
pasti Narenda ini orang kaya deh,,
Lestari Ratnawati
extra part
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Akhirnya masa² kritis sudah terlewati 🤭
semoga GK ada lg pengganggu kedepannya
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
wkwkwkw jujur utk hal yg berhubungan dgn Gibran ini yg sulit diungkapkan 😆 hayo Naren pelan²
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
akhirnya selesai jg perjuangan Narend membantu melepaskan Glacy, tapi Rafael.. tulus mu bukan pada tempatnya, semoga Tuhan mengampuni dosamu, karna kau kn ga menyakiti Glacy emang. Tapi kau melukai perasaan Naren 🥺
🍃⃝⃟𝟰ˢᴅᴇss𝐀⃝🥀
Rafael menjadi gila karena gelar dokter nya yg menurut nya gak berguna karna gabisa selamatkan nyawa adiknya dari serangan kanker 🤭 jadilah dia main dokter-dokter an sekarang di apartemen dengan fasilitas medis yg sangat lengkap🤣bener² sakit jiwa kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!